Kimora

Kimora
Bab 3


__ADS_3

Rangga dan Kinara duduk di taman di temani kopi dan juga cemilan sambil menikmati pemandangan taman rumah mereka. sore itu Rangga sedang membaca koran dan Kinara memegang iPad nya untuk memeriksa pekerjaannya.


Kimora yang baru saja turun dari lantai dua, ia pergi ke dapur membuat jus buah untuk dirinya. namun bi Latri tak mengizinkannya.


"Biar bibi saja nona"


"Gak usah bi, Mora bisa sendiri koq buatnya lagian Mora bukan anak kecil lagi"


"Tapi nona"


"Udah gak usah bi, bi Latri duduk saja situ yaa, biar Mora yang membuatnya" ucap Kimora tersenyum


Kimora membuat Jus jeruk, ia membuatnya bukan hanya untuknya saja tapi untuk bi Latri juga. bi Latri sudah di anggap keluarga karna bi Latri yang mengurus Kimora dari kecil hingga saat ini. bahkan bi Latri adalah seorang ibu untuk Kimora selain Kinara.


"Ini untuk bi Latri." ucap Kimora dengan memberikan segelas Jus buah jeruk ke BI Latri.


"Untuk nona saja" ucap bi latri dengan mencoba menolaknya karna bi Latri merasa tidak enak dengan Kimora.


"Untuk bi Latri saja, Mora buatnya lebih dan ini khusus untuk bi Latri. di minum ya bi" ucap Kimora tersenyum lalu meninggalkan bi Latri di dapur.


Kimora menyusul kedua orang tuanya yang berada di taman.


"Oh itu mereka" ucap Kimora ketika melihat mommy dan Daddy nya di taman.


"Hay mommy, Daddy" sapa Kimora dengan mencium pipi kedua orang tuanya.


"Hay juga sayang" jawab Kinara dan Rangga serentak.


Kedatangan Kimora. Kinara segera mengakhiri pekerjaannya dan meletakan iPadnya di atas meja, sedangkan Rangga terus melanjutkan bacaannya.


Dengan menggunakan celana jins pendek di atas lutut dan juga kaus oblong membuat Kimora terlihat begitu sederhana dan di tambah dengan ia memakai sendal jepit. namun dengan pakaian sederhana tak membuat Kimora terlihat jelek tapi malah membuat Kimora terlihat lebih cantik dengan kesederhanaannya.


"Gimana hari pertama di sekolah sayang?" tanya Kinara dengan menatap Kimora. mendengar Kinara menanyakan hari pertama Kimora di sekolah membuat Rangga berhenti membaca koran. Rangga langsung melipatnya kembali dan meletakannya di atas meja seperti yang Kinara lakukan.


Rangga dan Kinara lebih mengutamakan keharmonisan keluarga mereka, sesibuk apapun mereka akan meluangkan waktu satu sama lain terutama untuk keluarga dan juga putra putri mereka.


"Bagaimana hari pertama kamu sekolah di sana sayang?" tanya Rangga kembali setelah Kinara menanyakannya ke Kimora.

__ADS_1


"Hmmmm, baik Daddy. siswanya ramah-ramah dan baik" jawab Kimora dengan membayangkan wajah Rere dan ketua kelas yaitu Rio.


"Syukurlah kalau seperti itu, Daddy lega mendengarnya" ucap Rangga menatap Kimora. "Sini sayang" panggi Rangga dengan menepuk pahanya agar Kimora duduk di pangkuannya.


"Apaan sih dad, Mora itu udah gede, gak mungkin Mora duduk di pangkuan Daddy lagi" ucap Kimora dengan menolaknya


"Tapi di mata Daddy kamu tetaplah putri kecil yang Daddy miliki" ucap Rangga dengan masih mengulurkan tangannya.


"Mommy, jelasin Daddy dong kalau Mora itu udah gede" ucap Kimora meminta tolong ke Kinara.


"Apa yang Daddy katakan itu bener sayang, kamu itu tetap akan menjadi putri kecil di mata mommy dan Daddy."


"Aahh..!! mommy sama saja dengan Daddy." ucap Kimora merengek


"Hahahaha..." Rangga tidak bisa menahan tawanya ketika melihat kelucuan Kimora saat merengek.


"Koq malah ketawa dad" ucap Kimora ngambek


Rangga berdiri dengan mendekati Kimora yang sedang ngambek. ia langsung memeluk Kimora dan mengangkat putri bungsunya itu dan memindahkannya duduk di pangkuannya.


"Daddy...!!" teriak Kimora


Kinara tersenyum bahagia melihat suami dan juga putrinya begitu akur.


Kimora menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia begitu malu ketika duduk di pangkuan sang Daddy. namun Rangga terus menjahili putri bungsunya itu.


******


"Gimana keadaan Elinda pak?" tanya Rere kepada ayah Elinda.


"Elinda sudah membaik ia bisa pulang besok ke rumah kata dokter yang menanganinya" jawab pak Zaki. ayah Elinda.


Elinda tersenyum bahagia mendengar kabar itu, lalu ia menggenggam tangan Elinda. namun Elinda memalingkan wajahnya dari Rere. saat ini Elinda terus menatap ke arah jendela.


"Aku punya kabar untukmu" ucap Rere


"Hari ini ada seorang siswa masuk ke kelas kita, sepertinya dia anak baik dan lebih gilanya lagi siswa baru itu memiliki keberanian, hari ini dia memberikan pelajaran ke Dirga dan Larasati." jelas Rere

__ADS_1


Elinda mengerutkan keningnya lalu mengalihkan tatapannya ke arah Elinda.


"Apa dia tau siapa Dirga dan Larasati?" tanya Elinda dengan menatap ke Rere


"Sepertinya dia tidak mengetahui siapa mereka" jawab Rere sambil menggeleng-gelengkan kepalanya


"Beritahu dia berhenti berurusan dengan mereka, dan suruh dia agar menjauhi mereka kalau tidak hidupnya akan tidak baik-baik saja, masa depan dan juga mentalnya akan terganggu" ucap Elinda yang tidak ingin ada korban lagi selain dirinya, cukup dirinya saja.


"Sudah terlambat Elinda. dia sudah berurusan dengan mereka bahkan dia mempermalukan Dirga dan Larasati di kelas dan di kantin"


"Benarkah?" tanya Elinda tidak percaya kalau siswa baru itu memiliki nyali.


"Iya, dan aku tidak ingin dia dalam masalah tapi aku bingung apa yang harus aku lakukan" ucap Rere.


"Aku akan datang ke sekolah, dengan kehadiranku mereka akan berhenti mengganggu siswa baru itu. dan aku tidak akan membiarkan ada korban lain seperti aku" ucap Elinda dengan mengepalkan kedua tangannya.


"Tapi Elinda, jika kamu datang ke sekolah mereka akan memperlakukan seperti kenarin-kemarin"


"Gak apa-apa Rere. aku sudah terbiasa tapi dia?! dia anak baru Rere. aku takut mentalnya akan terganggu nanti" ucap Elinda dengan mata berkaca-kaca.


"Tapi Elinda aku tidak mau kamu menjadi mainan mereka lagi, sudah cukup mereka menyiksamu dan mempermalukanmu di depan anak-anak lainnya."


Elinda yang mendengar ucapan Rere. ia tersenyum dan begitu bahagianya ia mendapatkan sahabat seperti Rere yang begitu baik terhadapnya.


******


Di kediaman keluarga Larasari mereka sedang duduk di ruang tamu sambil mengobrol. lalu Larasati memulai obrolan itu dengan siswa baru kelas satu.


"Papa, tadi ada siswa baru kelas satu dan Larasati tidak menyukainya karna dia tidak memiliki sopan santun sama sekali" ucap Larasati dengan mengadu ke orang tuanya.


"Jika dia berani melawan putri papa, tampar dia dan permalukan dia di depan orang banyak" ucap tuan Rendra ayah Larasati


"Larasati sudah melakukannya tapi dia begitu berani melawan Larasati Pa."


"Terus kamu mau papa melakukan apa?" tanya tuan Rendra


"Gak ada Pa, belum saatnya papa turun biarkan Larasati melakukan apa yang harus Larasati lakukan"

__ADS_1


"Bagus, itu baru putri papa" ucap tuan Rendra.


__ADS_2