Kimora

Kimora
Bab 7


__ADS_3

"Okey bagus" ucap seseorang yang sedang memotret


"Okey kita break" teriak seorang pria.


Dari kejauhan seseorang berjalan menuju ke pria yang baru saja selesai memotret.


"Hey, ku dengar kamu akan kembali?" tanya seorang pria bernama Reno


"Yoi bro, aku akan kembali" jawab seorang pria tak lain adalah Aditya


Aditya tinggal di Luar Negeri dengan meneruskan hobby nya yaitu sebagai fotografer. iya lebih memilih jadi fotografer dari pada harus terjun ke perusahaan.


"Terus bagaimana dengan meraka?" tanya Reno lagi dengan menunjuk semua cruw.


"Semua sudah ku urus tenang aja" jawab Aditya dengan santai.


Aditya berencana akan kembali ke kota kelahirannya, ia benar-benar merindukan kedua orang tuanya dan juga adik bungsunya.


Namun Aditya akan kembali dengan tidak memberitahukan kepada kedua orang tuanya, ia ingin memberikan kejutan ke mereka. sebelum tanggal keberangkatannya akan tiba ia mencoba menyelesaikan pekerjaannya.


******


Kimora mendapatkan undangan untuk kedua orang tuannya perihal kejadian di sekolah hari ini, Kimora tidak ingin kedua orang tuanya khawatir dan tidak ingin identitasnya di ketahui.


Kimora mencoba mengompres pipinya yang terlihat memerah, ia tidak ingin Rangga marah dan datang ke sekolah. bi inem yang mengetahuinya pun membantu Kimora.


Kimora memohon kepada bi inem agar membantunya dan tidak memberitahu ke Rangga dan juga Kinara.


"Kenapa pipi nona sampai seperti ini?" tanya bi inem khawatir dengan mengompresnya


"Panjang ceritanya bi, nanti Mora ceritakan"


Bi inem begitu khawatir sehingga dalam pikirannya ia ingin melaporkan ke Rangga namun ia begitu kasian melihat wajah Kimora yang memohon padanya.


"Gimana bi, pipi Mora masih merah gak?" tanya Kimora khawatir kalau pipinya masih terlihat merah


"Udah gak nona" jawab bi inem


"Oh iya bi, besok bibi datang ke sekolah ya" ucap Kimora dengan memberikan sebuah kertas


"Apa ini nona?" tanya bi inem bingung


"Baca aja bi, itu undangan untuk mommy dan Daddy agar datang ke sekolah besok"


"Bibi mengerti, nona kecil takut kan memberikan undangan ini ke mereka? tenang aja bibi akan membantu nona kecil dengan memberikannya ke mereka

__ADS_1


"Bukan itu maksud Mora bi"


"Lah, trus apa?"


"Bibi yang harus datang gantiin mommy dan Daddy"


"Gak nona, bibi gak berani nanti tuan dan nyonya marah" ucap bi inem yang menolak permintaan Kimora.


"Ayolah bi, demi Mora" ucap Kimora dengan wajah memohon sambil kedua tangannya di katup di depan bi inem


"Tapi nona kecil"


"Bibi tenang aja, mommy dan Daddy gak akan tau" jelas Kimora menggenggam tangan bi inem


Keesokan paginya bi inem datang kesekolah putri majikannya, ia berperan sebagai ibu Kimora yang terlihat sederhana.


bi inem di undang ke ruangan kepala sekolah di sana sudah ada ibu Veronika. ketika bi inem masuk ia di pandangi dari ujung rambut sampai ujung kaki oleh Veronika dan juga kepala sekolah.


Bi inem mencoba menyapa dengan mengulurkan tangannya namun uluran tangannya tidak sambut oleh kepala sekolah dan juga ibu Veronika. merasa tidak enak wali kelas Kimora menggenggam tangan bi inem.


"Terima kasih Bu sudah datang, mengganggu kesibukan ibu " ucap wali kelas Kimora yaitu ibu Rini


"gak apa-apa bi Rini, ini sudah tanggung jawab saya sebagai orang tua" ucap bi inem dengan tersenyum.


"Baiklah kita langsung saja, karna masih ada yang harus saja kerjakan" ucap kepala sekolah


"Putri ibu sudah melanggar beberapa aturan sekolah, yaitu mengganggu siswa kelas dua, dan" ucapan kepala sekolah terhenti karna Kimora membuka suaranya.


"Kimora tidak menggangu mereka, tapi merekalah yang menggangu Kamari kelas satu" ucap Kimora dengan menjelaskan ke kepala sekolah


"Ibu sudah lihat kan bagaimana sikap putri ibu" ucap kepala sekolah menatap bi inem dan Kimora bergantian.


"Tapi Mora gak bohong Bu, mereka yang ganggu Kimora dan teman-teman Mora" jelas kimora menatap bi inem


"Saya tau anak saya seperti apa, dia tidak mungkin melakukan semua itu"


"Satu lagi yang perlu saya beritahukan ke ibu kalau putri ibu sudah berani mencuri dompet milik guru" jelas kepala sekolah


Ibu Rini yang melihat sikap kepala sekolah merasa tidak enak ke Bi inem selaku orang tua Kimora.


"Bohong Bu, Kimora gak tau kenapa dompet itu berada di tas Kimora"


Bi inem menatap Kimora dengan wajah sendu, ia tidak menyangka nona kecilnya di tuduh dan di permalukan seperti ini di sekolah.


"Apapun tentang putri saya, saya tetap percaya padanya, dia tidak mungkin melakukan itu" ucap bi inem membela Kimora . karna ia tau seperti apa nona kecilnya itu

__ADS_1


"Jadi kamu menuduh saya yang menjebak putri anda?" ucap Veronika dengan marah


"Saya tidak menuduh, saya hanya membela putri saya kalau dia tidak akan melakukan itu, dan saya tegaskan lagi saya tidak akan mbiarkan putri saya di tuduh dan hina seperti ini" ucap bi inem dengan beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja sambil menggandeng tangan Kimora.


"Gimana nona kecil?" tanya bi inem yang memegang dadanya


"Bibi keren loh, bibi lihat gak wajah mereka?"


"Bibi udah gak lihat nona kecil, karna bibi ingin menampar wajah perempuan yang berani menuduh nona kecilku ini"


"Gak apa-apa bi, tadi bibi keren loh beneran." ucap Kimora tertawa puasa dengan mengangkat kedua jempolnya di hadapan bi inem.


"Apa nona kecil yakin masih mau sekolah di tempat ini?" tanya bi inem sambil melihat gedung sekolah


"Awalnya Mora hanya penasaran aja bi, tapi sekolah ini membuat Mora lebih bersemangat lagi karna penghuninya" ucap Kimora menghela nafas.


"Baiklah, tapi nona kecil harus hati-hati yaa, bibi khawatir"


"Tenang aja bi, Kimora akan baik-baik saja" ucap Kimora dengan menyuruh bi inem masuk ke dalam taksi


"Ya udah bibi pulang dulu yaa, hati-hati dengan mereka" pamit bi inem.


Kimora masuk ke dalam kelas, kedua temannya begitu khawatir dengan Kimora.


"Bagaimana?" tanya Elinda


"Bagaimana apanya?" tanya Kimora


"Kamu gak di keluarin dari sekolah ka" sambung Rere dengan bertanya


"Memang salahku apa, kan bukan aku yang nyuri dompetnya" jelas Kimora


"Benar juga ya, mereka gak mungkin ngeluarin kamu" ucap Elinda dan Rere berfikir.


"Udah aahh, gak usah di bahas" ucap Kimora.


Larasati menemui ibu Veronika.


"Gimana Bu?" tanya Larasati


"dari penampilan ibunya sih, sepertinya mereka dari keluarga miskin dan gak punya sopan santun" jelas ibu Veronika


"trus di beri hukuman gak Bu?" tanya Larasati lagi


"Belum ada keputusan dari kepala sekolah"

__ADS_1


"Sial, koq bisa dia masih lolos sih" ucap Larasati dengan kesal karna Kimora tidak di keluarkan dari sekolah.


__ADS_2