
"Hallo adikku yang paling ku sayang melebihi sesuatu yang ada di muka bumi ini" Sapa seorang laki-laki di seberang telfon.
"Hahahahaha lebay banget sih kak Adit" jawab Kimora dengan memutarkan bola matanya.
Aditya Wijaya adalah kakak kedua Kimora. kakak yang begitu menyayanginya namun Kimora sedikit males kalau ketemu Aditya. Aditya selalu menjahili Kimora di mana pun mereka berada bahkan dari Kimora kecil.
"Gimana sekolahmu dek, baik-baik saja?" tanya Aditya
"Kenapa sih pada nanya tentang sekolahku, aku baik-baik saja kak Adit. bahkan lebih menyenangkan dari pada belajar di rumah" ucap Kimora sedikit kesal
"Kata Daddy kamu sekolah di sekolah pada umumnya dan gak mau belajar di rumah lagi dengan guru private dan juga guru les"
"Iya karna Kimora udah besar kak Adit, udah. bisa jaga diri sendiri"
"Buahahhaaha, besar gimana. kamu tuh masih kecil bahkan kamu tuh masih bayik" ucap Aditya tertawa lepas mendengar ketika Kimora mengatakan dirinya sudah besar.
"Udah aahh, ngomong sama kak Adit gak asyik" ucap Kimora lalu mengakhiri panggilannya
Setelah panggilan itu berakhir Aditya melanjutkan pekerjaannya yaitu sebagai fotografer. yang saat ini Aditya lakukan yaitu memotret setiap model pengiklanan.
*****
Keesokan paginya seperti biasa Kimora berangkat sekolah dengan di antar oleh supir yang Rangga utus.
"Makasih ya pak" ucap Kimora dengan turun dari mobil.
Setelah turun dari mobil Kimora berjalan kaki ke sekolah, ia meminta di turunkan lebih jauh dari sekolah karna ia tidak ingin identitasnya di ketahui.
Sesampainya di depan pagar sekolah. Kimora mengatur nafasnya karna ngos-ngosan berlari. Kimora hampir saja terlambat, keberuntungan masih berpihak padanya sehingga hari ini ia bisa melewati hukuman dari sekolah.
Kimora duduk bersama dengan sahabatnya yang ia kenal beberapa hari ini, mereka begitu asyik mengobrol tapi tiba-tiba di depan kelas mereka begitu ribut, sehingga obrolan Rere dan Kimora terhenti.
"Ada apa di depan kelas kita koq semua pada keluar sih" tanya Kimora dengan terus menatap ke arah pintu.
"Gak tau, coba kita lihat" ajak Rere agar keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Ketika Rere keluar lebih dulu, ia terkejut melihat apa yang terjadi tepat di depan matanya. Kimora pun terkejut melihat kejadian itu namun yang membuat ia bingung saat melihat Rere terkejut.
__ADS_1
"Ada apa Rere ?" tanya Kimora. namun ia tidak mendapatkan jawaban dari Rere
Rere berjalan mendekati ke arah siswa yang mendapatkan perlakuan tak adil itu, ia mencoba membela sahabatnya yang tak lain adalah Elinda.
"Berhenti..,!!" teriak Rere sambil menatap Larasati dan teman-temannya yang menyiksa Elinda
"Kamu sedang apa di sini? kamu belum pulih Elinda" tanya Rere penuh khawatir dengan menatap sendu ke arah Elinda. sedangkan Elinda terlihat begitu acakan dengan pakaian sekolah yang sudah terlihat kusut.
Kimora pun berjalan mendekati Rere dan juga Elinda.
"Ada apa Rere? " tanya Kimora dengan menatap Larasati dengan tatapan ingin membunuh
"Ck, punya nyali juga kamu" ucap Larasati dengan begitu percaya diri sambil mendekati Kimora
Melihat perdebatan itu Elinda langsung menatap Rere. Rere pun mengerti dengan tatapan Elinda.
"Iya benar, dia yang ku ceritakan waktu itu" ucap Rere sambil menganggukkan kepalanya.
Elinda pun langsung menatap Kimora yang saat itu sedang berhadapan dengan Larasati.
"Sudahlah Laras beri dia pelajaran, sepertinya dia harus di beri sedikit pelajaran" ucap teman Larasati.
"Coba saja kalau berani" tantang Kimora dengan melipatkan kedua tangannya dan mengangkat wajahnya.
Larasati yang tidak suka dengan sikap Kimora, ia pun mengangkat tangannya dan ingin menampar Kimora. melihat Larasati mengangkat tangannya Elinda berjalan maju untuk membela Kimora namun langkah Elinda terhenti ketika melihat tangan Larasati di pegang oleh Kimora.
"Jangan berani menyentuh wajahku jika kamu tidak ingin kehilangan tangan cantikmu" ucap Kimora dengan memberikan peringatan kepada Larasati. "Ingat itu"
Kimora berbalik dan langsung mengajak Rere dan Elinda masuk ke kelas. siswa-siswa yang melihat itu pun terkejut dengan keberanian yang di miliki Kimora. dan serentak mereka memberikan tepukan tangan. namun tepukan tangan itu seketika terhenti karna tatapan dari Larasati.
"Lihat saja akan ku balas kamu" ucap Larasati menatap punggung Kimora. lalu ia pergi begitu saja dengan teman-temannya.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Kimora ke Elinda
"Aku gak apa-apa koq" jawab Elinda sambil tersenyum
"Baguslah kalau begitu, oh iya kenalin aku Kimora"
__ADS_1
"Aku udah tau koq, Rere udah cerita banyak tentang kamu"
"Benarkah ? tapi yang baik-baik kan yang Rere katakan ke kamu" ucap Kimora dengan menatap Rere lalu mereka tertawa
"Gak koq, Rere bukan orang seperti itu" jelas Elinda menatap Rere.
Elinda begitu bersyukur memiliki sahabat seperti Rere. yang selalu ada untuk dia dan tidak pernah meninggalkan dia walau dia hanyalah putri dari tukang bersih-bersih sekolah dan orang miskin.
"Eehh jangan lupakan aku dong" ucap Kimora ketika melihat Rere dan Elinda saling menggenggam satu sama lain.
"Kamu gak malu berteman dengan kita, hanyalah anak miskin, anak yang tak memiliki apa-apa seperti mereka" ucap Rere
"Aahh sama aja kali, pokoknya yang aku tau kalian adalah sahabatku yaa" ucap Kimora lalu mereka tertawa lepas.
Bel berbunyi dengan begitu nyaring nama Kimora di panggil oleh seseorang ke lapangan basket.
Seluruh siswa di kelas terkejut bahkan Rere dan Elinda. mereka tau pasti jika sudah di undang ke lapangan basket semua tau kalau orang itu sudah membuat kesalahan yang begitu fatal melawan Larasati.
"Eehh itu siapa yang ngundang aku, kenapa harus ke lapangan basket sih" ucap Kimora dengan penuh keheranan.
Rere dan Elinda saling menatap, lalu menatap Kimora.
"Kamu gak apa-apa ? tanya Elinda
"Kamu gak perlu mendengar mereka, dan kamu gak usah kesana" ucap Rere
Kimora menatap dua sahabatnya itu, lalu ia tersenyum.
"Aku gak apa-apa koq, lagian kalian tau kan aku gak salah" ucap Kimora meyakinkan kedua sahabatnya itu.
"Ya sudah aku pergi kesana dulu" pamit Kimora dengan melangkah keluar dari kelas dan menuju ke lapangan basket.
Sepanjang jalan menuju ke lapangan basket semua siswa menatap Kimora dengan tatapan sedih, dan kasihan. namun Kimora hanya mengangkat kedua pundaknya seolah dirinya tidak tau ada apa dengan mereka.
Sesampainya di lapangan basket, Kimora berhenti dan menatap di depannya sudah ada Larasati bersama dengan teman-temannya dan juga Dirga bersama dengan teman-temannya. Bass saat ini sedang bermain dengan bola sambil memantul-mantulkan ke lantai.
"Itu dia yang sudah berani menghinaku di depan yang lain" ucap Larasati mengadukan Kimora ke Dirga
__ADS_1
Kimora yang melihat Larasati mengadu ke Dirga membuat dirinya tertawa lepas, dan semua orang yang melihatnya terdiam.