
Salah satu kota di Kalimantan Barat, menjadi tujuan Brandon memboyong keluarga kecilnya. Di salah satu provinsi pemilik lahan kelapa sawit terluas di Indonesia tersebut, Brandon melangsungkan pernikahan sederhana.
Lokasi pernikahan Brandon dan Aini ada di sebuah KUA, menjadikan Anjar sebagai salah satu saksinya. Mereka menikah dengan wali hakim karena Anjar sebagai satu-satunya kandidat wali nasab Aini, belum boleh menjadi wali nikah untuk Aini, karena Anjar belum 19 tahun. Sementara untuk emas kawin, ada seperangkat alat salat, selain cincin sebagai pengikat dan menghiasi jari manis tangan kanan Aini maupun Brandon.
Bahagia, sedih, nelangsa, Brandon dan Aini rasa dalam waktu yang sama. Namun, keduanya tidak mau berlarut-larut. Keduanya sudah langsung ingin membangun usaha sebagai sarana mereka kembali menemui orang tua sekaligus keluarga Brandon. Itulah janji Brandon yang Aini minta, sebelum akhirnya ijab kabul mereka ada.
Sebuah kontrakan kecil yang memiliki dua kamar menjadi tempat tinggal sementara mereka. Sembari menunggu pembelian rumah KPR yang Brandon lakukan beres, mereka menghabiskan sebagian besar waktu mereka di sana.
Hal yang Brandon lakukan lebih dulu ialah mencari sekolah untuk Anjar. Sekolah terbaik ia pilih agar adik iparnya bisa memiliki kehidupan lebih baik.
“Kamu di rumah saja karena aku pasti dapat kerjaan mapan,” yakin Brandon ketika akhirnya mereka sampai rumah.
Anjar yang melangkah di belakangnya, masih menjadi penyimak baik. Kendati demikian, ia sangat bahagia karena Brandon memperlakukannya layaknya anak. Semua fasilitas untuknya apalagi yang berkaitan dengan sekolah, Brandon sediakan semua. Termasuk juga dengan motor.
“M—mas, aku juga mau kerja paruh waktu, ya. Bengkel-bengkel apa gimana. Sedikit banyaknya, aku paham,” ucap Anjar.
Brandon langsung terdiam serius. Meredam keinginan Aini untuk bekerja saja, ia masih gagal. Ditambah lagi Anjar yang malah meminta kerja paruh waktu. Begitulah kiranya jika ia berurusan dengan orang pekerja keras. Orang-orang yang memiliki keinginan untuk mendapatkan uang demi kehidupan lebih baik lagi.
“Biar aku bisa nyicil motorku sendiri. Mas kan sudah ada Mbak Aini, sementara biaya sekolahku pun mahal,” mohon Anjar lagi.
Karena Brandon hanya diam, Aini sengaja melepas jaket suaminya kemudian membawanya ke dalam, menggantungnya menggunakan hanger.
__ADS_1
“Sayang, kalau aku bukain kalian rumah makan kayak Kim Food, kamu enggak akan cari kerjaan di tempat lain, kan?” ucap Brandon sambil melongok berat ke arah belakang selaku keberadaan sang istri.
“Mau banget! Janji, aku enggak akan cari kerja di tempat lain!” sergah Aini langsung kegirangan. Aini bahkan sengaja buru-buru memeluk Brandon.
“Mbak Aini jadi manja gitu,” led*ek Brandon dan memang sengaja.
“Sudah halal juga. Kan termasuk ibadah kalau gini caranya!” balas Aini dengan santainya sambil tetap memeluk Brandon.
“Obrolan orang dewasa. Aku masih belum cukup umur buat mengetahuinya,” ujar Anjar masih sengaja bercanda, berusaha membuat kebersamaan mereka hidup sekaligus diselimuti bahagia. Ia memutuskan pamit masuk ke kamarnya.
Tanpa Aini sadari, ia mulai terbiasa berbagi kebahagiaan dengan Brandon. Ia bahkan mulai manja dan tak lagi malu memulai keromantisan dalam hubungannya dengan Brandon yang memang tipikal kaku.
Dibegitukan oleh Aini, Brandon langsung tersipu. Ia balas memeluk Aini menggunakan kedua tangannya. Kedua tangan yang sudah tidak mau diam, dan sudah langsung mengelus kepala sekaligus punggung Aini penuh sayang.
“Enggak mungkin. Selain aku terbiasa aktif dan mendadak santai bisa bikin aku setr*es bahkan sakit, aku juga harus bisa sukses. Paling tidak, bersama kamu aku wajib jadi orang lebih baik lagi. Itu kenapa aku ingin cari kerja. Setidaknya, kita bisa mencontoh orang tua kamu,” lembut Aini meyakinkan sambil tetap memeluk erat pinggang suaminya menggunakan kedua tangan.
Kenyataan Aini yang menengadah hanya untuk menatap wajah khususnya kedua mata Brandon, membuat wanita itu menemukan perubahan ekspresi yang begitu mencolok di setiap ia membahas orang tua sekaligus keluarga Brandon.
“Cepat atau lambat, giliran aku yang menyatukan kamu dengan orang tua sekaligus keluarga kamu, Mas!” batin Aini yang kemudian membingkai wajah sang suami. Setelah sampai berjinjit, ia sengaja mengec*up bibir suaminya.
Brandon langsung mendelik, menatap sang istri penuh peringatan. Terlebih biar bagaimanapun, sampai detik ini ia masih cacar.
__ADS_1
Ketakutan Brandon akhirnya terbukti ketika mereka masuk kamar dan Aini melepas kerudungnya. Ada bentol cacar di leher bahkan dada dan tubuh bagian lain Aini.
“Nah ... aku baru mau sembuh,” ucap Brandon yang menatap saksama setiap bentol merah berair di dada istrinya. Ia juga segera membenarkan ikat rambut istrinya. Dengan sangat hati-hati, ia mengikat tinggi rambut Aini.
“Panas, gerah, gatal ini. Mana di sini enggak ada AC,” ucap Brandon yang memang akan sangat perhatian bahkan lembut jika itu kepada Aini. Bahkan kepada mamah atau saudara perempuannya saja, ia tak mampu begitu.
“AC alami saja, Mas. Buka jendelanya,” balas Aini menyikapi dengan sabar.
“Kalimantan enggak ada bedanya dengan Jakarta atau kampung kamu. Di sini bukan puncak!” ucap Brandon masih mengikat rambut panjang sang istri.
“Omong-omong puncak, aku mau ... kita bisa cari puncak terdekat buat honeymoon kecil-kecilan!” lanjut Brandon yang menjadi malu-malu hanya karena mengatakan itu.
Sempat menertawakan sang suami yang juga sudah langsung membuatnya tersipu malu, Aini sengaja meminum sisa obat milik Brandon. Namun, lagi-lagi suaminya itu memeluknya dari belakang. Brandon begitu takut ia terluka bahkan sekadar berpikir serius.
“Ni, kamu jangan khawatir, ya. Sejak kecil, aku dan saudaraku sengaja dilatih berbisnis. Alasanku membawamu ke sini karena diam-diam, aku sudah memiliki lahan sawit yang selama ini aku kelola tanpa sepengetahuan keluarga. Ini bisa menjadi ladang rezeki kita. Andaipun andai kamu dan Anjar mau bekerja, ... ya oke. Aku juga akan tetap bantu. Makin banyak pekerjaan, makin baik juga buat kita asal kita tetap jaga kesehatan,” ucap Brandon masih sangat lembut.
Ulah Brandon sekaligus apa yang pemuda itu katakan sudah langsung membuat Aini berbunga-bunga. Bahagia, terharu, tapi juga tetap nelangsa karena mereka telah memisahkan diri dari keluarga tercinta.
Mengenai lahan sawit, keesokan harinya setelah Anjar pulang sekolah, Brandon yang awalnya sibuk dengan ponsel maupun laptopnya, memboyong keluarga kecilnya untuk berkunjung ke lahan yang luasnya membuat Aini apalagi Anjar melongo.
“Mas, ... aku kerja di sini saja, Mas! Tetangga kita yang pada transmigrasi juga kerjanya di sawitan kan, Mbak? Jangan-jangan, yang kerja di sini masih tetangga kita!” heboh Anjar dan lagi-lagi tak diizinkan bekerja apalagi jika di sawitan.
__ADS_1
“Kerja di sawitan berat. Kalau memang mau kerja, nanti bikin warung apa rumah makan saja. Kita sewa ruko di dekat keramaian,” ucap Brandon. Tangan kanan merangkul punggung Aini, tangan kiri menggandeng tangan kanan Anjar.