
Tersedu-sedu ibu Chole masih bertahan membenamkan wajahnya di kedua lutut pak Helios. Ia sudah menceritakan semuanya, selain ia yang jadi tak hentinya meminta maaf. Rasa bersalah yang membuncah membuatnya layaknya sekarang yaitu diliputi banyak penyesalan.
“Maaf karena aku gagal jadi orang tua yang baik, Pah!”
Pak Helios yang sedari awal hanya diam, dan tampak sangat terpukul sekaligus bingung, berangsur berkata, “Papah pikir, Brandon memang memilih Lentera. Karena saat tahu dia di yayasan, Papah sengaja minta dia saja yang dikirim ke sini. Karena sebenarnya, dulu Brandon pernah cerita mengenai hubungannya dan Aini dan kebetulan Papah masih paham wajah Aini meski Aini yang sekarang dengan yang dulu mengalami banyak perubahan. Hingga ketika Aini sudah ada di rumah ini, Papah sengaja mendekatkan mereka biar mereka membereskan kisah mereka.”
Terkejut, ibu Chole langsung merasakannya ketika sang suami mengatakannya. Bahwa meski selama ini selalu tampak diam-diam saja, nyatanya Brandon malah sudah menceritakannya kepada pak Helios. Keduanya yang memiliki sikap sekaligus watak sama nyatanya jauh lebih mudah dekat dari yang dikira bahkan olehnya. Karena tampaknya, keduanya sudah terbiasa mencurahkan segala sesuatunya, satu sama lain.
Menghela napas dalam, pak Helios yang sengaja menengadah demi menahan air matanya agar tidak berlinang, berkata, “Syukurlah kalau Aini sudah tidak terlibat dalam hubungan dengan laki-laki mana pun. Lebih syukur lagi karena ternyata Aini belum menikah. Selanjutnya, biarkan mereka yang menentukan mau bagaimana. Namun dalam waktu dekat, untuk sementara kita memang terpaksa berpisah dulu. Meski paling tidak, kita wajib mengabari mereka. Ini akan menjadi babak baru mereka menjalani kehidupan yang sebelumnya sudah sangat mereka idam-idamkan.”
Pak Helios percaya, seberat apa pun anak-anaknya apalagi sekelas Brandon yang selama ini selalu mandiri, dalam menjalani kehidupan di luar sana, pasti bisa.
Sejak kecil, anak-anak pak Helios sudah didik mandiri, dibiasakan berbisnis, selain pak Helios yang yakin, akan jadi kebahagiaan tersendiri ketika anak-anaknya sukses dengan cara mereka tanpa campur tangannya. Meski tentu, sebagai orang tua, dirinya akan tetap ikut serta mengantar setiap anak maupun keluarganya ke gerbang kebahagiaan sekaligus kesuksesan.
“Kisah di masa lalu tak sepenuhnya terulang. Karena saat di masa lalu, Cinta tidak pernah serius apalagi tulus kepada Papah. Cinta bahkan memanfaatkan Papah untuk segala kepentingannya, termasuk ketika dia mencelaka*i Nina. Sementara kini, Aini maupun Tera Papah yakini mereka wanita-wanita tulus. Tinggal sanggup tidaknya menerima kenyataan, tapi harusnya mereka sanggup apalagi sejauh ini yang mereka butuhkan hanyalah ketulusan sekaligus keseriusan,” ucap pak Helios yang pada akhirnya tetap saja menangis seberapa pun keras ia menahan air matanya.
__ADS_1
“Mamah yakin, bukan hanya Brandon yang bisa bahagia bersama Aini. Karena Boy juga bisa bahagia bersama Tera. Awalnya memang menyakitkan, tapi pada akhirnya mereka pasti saling sayang. Bismilah ...,” ucap ibu Chole. Ia yang masih membenamkan wajah di lutut sang suami berangsur mengelus kepala sang suami. Pak Helios sudah langsung mengaminkan harapannya dan itu benar-benar sudah lebih dari cukup, ketimbang ia tetap diam dan membuat suaminya tidak tahu apa-apa.
Keesokan harinya, Boy dan Lentera mencoba pakaian pengantin mereka. Semuanya serba putih dan ada sentuhan warna emas sekaligus merah muda. Warna pilihan Lentera dan para mamahnya. Sebab sepanjang persiapan, Brandon memang menolak terlibat terlalu jauh. Toh yang menginginkan pernikahan ada memang Lentera maupun mamah-mamah mereka. Namun kini, Boy yang ikut serta tak hanya diam.
Boy layaknya orang kehilangan akal, mendadak bengong tak lama setelah tirai tempat Lentara mencoba gaun pengantin dibuka.
“Kenapa? Gimana? Bagus apa mengecewakan ...?” takut Lentera. Kondisi yang selalu ia rasa lantaran sejauh ini, Brandon selalu membiarkannya ada di posisi itu. Selalu merasa harus mati-matian menjadi sempurna di mata Brandon.
“Cantik banget!” ucap Boy yang meski tersenyum, tetap saja tidak bisa menahan air mata bahagianya. Karena meski tahu yang orang-orang pikir dirinya Brandon, tekad Boy sudah bulat untuk membahagiakan Lentera.
Untuk pertama kalinya Lentera juga menitikkan air mata dalam senyum bahkan tawa kecilnya. “Ini aku harus seneng apa nangis? Ini beneran, kamu muji aku?” ucap Lentera yang berakhir merengek. Sambil menepis tatapan Boy yang berdiri lurus di hadapannya, jarak mereka hanya sekitar tiga meter, ia sengaja menggunakan jemari kedua tangannya untuk mengelap asal air matanya.
Boy yang sudah memakai setelan jasnya segera maju menghampiri Lentera. Ia yang awalnya terpukau dengan kecantikan Lentera setelah tirai ruang ganti dibuka, kini sengaja memeluk Lentera.
“Paket komplit banget sih hari ini. Enggak apa-apalah dadaku tetap enggak berdebar-debar, asal setiap saat diperlakukan penuh sayang begini, ini sudah lebih dari cukup,” batin Lentera segera membalas dekapan Boy yang sampai detik ini belum ia ketahui kebenaran jati dirinya.
__ADS_1
“Ini ...,” lirih Lentera yang lebih terdengar merengek. Sebab selalu diperlakukan manis oleh Boy juga membuat sifat manja dalam dirinya selalu menonjol di setiap kebersamaan mereka.
“Kenapa?” lembut Boy yang kemudian mendapati, Lentera kurang merasa nyaman karena gaun bagian pinggangnya agak longgar. Menandakan, wanita yang sudah ia cintai sejak lama itu telah diet sangat ketat.
“Dikecilin lagi masih bisa sih. Masih ada waktu,” ujar Lentera yang memang akan meminta desainernya untuk melakukannya.
“Dikecilin lagi bagaimana? Ini, yang perlu kamu lakukan justru wajib banyak makan. Kamu sudah tergolong kurus banget. Habis ini kita mampir ke restoran, yah. Kita makan yang banyak!” yakin Boy tapi langsung mendapat tatapan tak setuju dari Lentera.
“Aku enggak mau tulang-tulang kamu patah hanya karena aku menggenggam tangan kamu,” yakin Brandon dan sudah langsung membuat Lentera tertawa geli.
Kemudian, Brandon sengaja menuntun Lentera untuk duduk di kursi yang tersedia. Ia hendak membantu calon istrinya itu memakai heels yang juga sudah Lentera pesan secara khusus.
“Ada yang enggak setinggi ini, enggak?” tanya Boy sambil mengelus-elus kaki kanan Lentera. Padahal awalnya ia sudah memakaikan heelsnya. “Setinggi ini loh, ngeri. Kaki kamu bisa luka parah.”
“Tapi aku mau. Desainernya bikin itu khusus buat aku. Sesuai desain aku,” yakin Lentera karena semua konsep gaun dan sepatunya memang buatan khususnya. Boleh dibilang, semuanya serba sesuai yang Lentera impikan. Tentunya, Boy yang paham Lentera karena dirinya bukan Boy, tak mungkin melarangnya.
__ADS_1
“Tapi besok kalau capek, pakai sandal saja. Yang lain pasti maklum. Tamu kita banyak,” yakin Boy masih sangat lembut.
Lentera yang awalnya akan menolak, sudah langsung tidak jadi hanya karena senyum yang Boy berikan.