Kisah Kita Belum Usai (Tuan Muda Yang Dianggap Miskin)

Kisah Kita Belum Usai (Tuan Muda Yang Dianggap Miskin)
37 : Kejujuran Boy


__ADS_3

“Aku punya banyak alasan untuk menunda melakukannya meski aku juga sangat mau. Bukan hanya perkara kaki kamu yang sakit, tapi juga mengenai amnesia kamu. Karena aku maunya, kamu ingat semuanya, baru kita melakukannya. Biar adil dan kamu enggak merasa dirugikan,” ucap Boy yang kemudian duduk di sebelah Lentera.


Kedua mata Boy menatap dalam kedua mata Lentera. Ia juga berangsur memangkunya, mendekapnya mesra, kemudian menarik ritsleting di gaun bagian punggung Lentera.


“Maksud kamu bilang begitu, berarti amnesia yang aku alami. Satu bulan terakhir, ... kita bermasalah?” lirih Lentera menatap tak percaya kedua mata Boy.


Boy terdiam sejenak. “Dibilang masalah, aku enggak yakin kamu akan merasa itu memang masalah. Namun jika dibiarkan begitu saja, aku yang enggak bisa karena bagiku, itu masalah.”


Namun, penjelasan dari Boy, malah membuat Lentera bingung. “Kamu baik-baik saja, kan? Pasti aku yang salah, ya?” Kali ini, ia tidak bisa untuk tidak sedih. Suaranya bahkan tertahan di tenggorokan.


“Percayalah, aku yang salah.” Boy yang jadi berucap lirih, sengaja meyakinkan. Namun, di tengah air matanya yang berlinang, Lentera langsung menggeleng.


“Enggak mungkin, ... pasti aku yang salah. Sayang, ... katakan padaku, ... apa yang harus aku lakukan agar aku bisa membahagiakan kamu.” Kali ini Lentera benar-benar memohon. Ia menunduk dalam dan berakhir menyandarkan kepalanya ke dada Boy.

__ADS_1


“Beri aku waktu satu minggu. Jika selama itu aku tidak bisa membahagiakan kamu, berarti aku gagal,” ucap Boy.


“Kenapa harus menunggu satu minggu? Buat aku, satu minggu untuk menunggu semua yang berkaitan dengan kamu, itu terlalu lama! Kenapa harus menunggu lagi, jika sekarang saja, aku merasa sangat bahagia dan itu karena kamu!” isak Lentera tersedu-sedu menatap Boy.


Boy ikut menangis mendengarnya.


“Terbangun dan dikatakan aku mengalami amnesia, yang langsung aku khawatirkan hanyalah dirimu. Dalam hatiku aku selalu bertanya-tanya, aku ketakutan. Karena saat tidak amnesia saja, kamu selalu diam di setiap aku tanya, apakah aku sudah bikin kamu bahagia?”


“Satu hari, dua hari, hingga satu minggu pasca kecelakaan, aku terus bertanya-tanya, adakah yang aku lupakan tentang dirimu? Adakah yang aku lupakan tentang kita dan itu bisa melukai kamu? Bahkan nama Aini yang sudah langsung membuat hatiku terir*is sakit mendadak jadi tanda tanya besar dalam hatiku karena aku percaya, hati ini enggak bisa bohong meski aku lupa semuanya! Namun karena kamu bilang, Aini bukan siapa-siapa. Karena cintaku ke kamu yang begitu besar, aku membun*uh rasa bahkan hatiku sendiri dan sepenuhnya percaya kepadamu!” yakin Lentera sambil berlinang air mata.


“Jangan pernah membu*nuh rasa apalagi hati kamu karena mereka memang tidak pernah berbohong ...,” ucap Boy di tengah tatapannya yang kosong dan air matanya tak hentinya berlinang. Namun, ketika ia menyadari sang istri kembali menatapnya, ia juga balas menatap. Tatapan Lentera kepadanya menjadi penuh terka.


Apa yang Boy katakan membuat Lentera mulai meyakini, memang ada yang tidak baik-baik saja dan itu mengenai hubungan mereka berikut amnesia Lentera. “Aku banyak belajar dari mamah. Mamahku, maupun mamahmu. Bahwa ada yang harus kita kesampingkan seiring kita yang makin dewasa terlebih jika kita memasuki ranah pernikahan. Karena jika sudah menikah, bukan lagi aku, tapi kita. Jadi memang harus ada yang dikorbankan karena sempurna bukan lagi untuk satu orang, melainkan sama-sama.”

__ADS_1


“Jadi, apa pun itu yang aku lupakan, yang penting sekarang dan ke depannya, kita jadi lebih baik lagi. Ayo kita sama-sama belajar,” ucap Lentera yang ingin lebih bisa menjadi istri baik. “Maafkan aku yang dulu, yang terus memaksamu romantis ke aku.”


“Aku bukan Brandon ... itu alasan utama aku enggak mau sentuh kamu karena saat ijab kabul saja, niatnya sudah salah.” Akhirnya Boy jujur. Terlalu sakit jika ia harus membiarkan Lentera mencari kesalahan sekaligus menyalahkan dirinya sendiri.


Detik itu juga, jantung dan hati Lentera yang awalnya seolah tenggelam mati tanpa kabar, tiba-tiba berdentam-dentam. Suaranya terdengar sangat kencang, berisik, bahkan mengganggu di benak Lentera sendiri.


“Hah ...?” batin Lentera tak bisa berkomentar. Ia menatap tak percaya kedua mata Boy, dan detik itu juga, dunianya seolah berhenti berputar. Terlebih ketika akhirnya Boy bersumpah.


“Aku berani bersumpah. Rasa dan hatimu yang benar, mereka tidak bisa berbohong.”


“Brandon pergi tak lama setelah kamu kecelakaan. Dia menyusul Aini, masa lalunya yang akhirnya dia nikahi. Jadi sejak itu juga, drama ini aku jalani.” Boy tahu, meski apa yang ia katakan sudah langsung menghancurkan dunia Lentera, itu jauh lebih baik ketimbang Lentera sibuk menyalahkan dirinya sendiri.


“Brandon tidak salah. Karena selama ini aku yang salah. Selama ini, aku yang mengirimkan semua hadiah itu kepadamu. Brandon dan kamu korban dari aku yang tidak memiliki nyali mengungkapkan rasa cintaku selama ini. Terlebih selama ini, kamu selalu terang-terangan mencintai Brandon ....” Boy tak kuasa melanjutkan ucapannya lantaran Lentera sudah langsung turun dari pangkuannya.

__ADS_1


“Dalam kasus kita, benar-benar aku yang salah. Aku benar-benar minta maaf meski permintaan maafku tidak mungkin bisa mengubah keadaan, Ra.”


“Apakah karena itu juga, saat aku dinyatakan amnesia, hati dan jantungku tak berdebar lagi?”


__ADS_2