
Ibu Chole sudah berusaha menghubungi nomor ponsel Brandon. Namun, ibu Chole hanya memiliki nomor ponsel sang putra yang lama. Nomor tersebut masih bisa dihubungi, tapi ibu Chole tak kunjung mendapatkan balas.
“A—assalamualaikum, ... M—Mas ...?” panggil ibu Chole harap-harap cemas di balkon depan kamarnya.
Sepoi angin menemani pagi menjelang siang kali ini yang tak seterik hari kemarin. Sebab mendung tengah menghiasi beberapa sudut langit, terlepas dari semilir angin yang terasa basah. Biasanya, jika keadaan sudah begitu apalagi sampai dilengkapi aroma tanah kering yang menguap, hanya tinggal menunggu waktu, hujan pasti akan turun.
“W—waalaikumsalam, Mah. A—aku masih bareng Tera, Mah. Mamah, ... baik-baik saja, kan?”
Balasan dari seberang dan sempat membuat ibu Chole berharap, perlahan membuat ibu Chole lemas. Suara Boy dan Brandon memang sama, meski jika dari nada dan gaya, akan tetap berbeda di beberapa kesempatan. Namun jika suara serius barusan dan sangat khas Brandon justru mengaku sedang bersama Tera, itu bertanda bahwa yang menerima telepon bukanlah Brandon, melainkan Boy.
“Mas ... Mamah kangen Mas Brand. Bagi nomor ponselnya dong Mas. Setidaknya meski enggak bisa ketemu secara langsung, menjaga komunikasi menjadi hal yang harus Mamah termasuk kamu jaga.” Ibu Chole yang merasa sangat nelangsa, berangsur menunduk dalam. Ia memilih duduk di kursi kayu yang ada di sana dan tak jauh dari pintu.
Layaknya keyakinannya, pada akhirnya hujan memang turun mengiringi kesedihan yang meluap di hatinya. Namun hujan itu bukan lagi dari langit, melainkan dari kedua sudut matanya yang perlahan membasahi pipinya. Karena kebetulan, kali ini ia tak memakai cadar.
“Aku beneran enggak punya, Mah. Karena sejak sepakat, kami beneran masing-masing. Mas Brand hanya kasih nomor hapenya ke aku karena ada beberapa hal yang harus aku kerjakan juga lewat nomornya. Namun setelah ini, aku bakalan cari nomornya lewat email apa gimana nanti aku cari. Coba Mamah telepon Aini.”
Di balik tirai, Lentera yang tengah dibantu oleh seorang wanita selaku petugas butik untuk melepas ritsleting gaun bagian punggungnya langsung terusik. Nama Aini tak ubahnya senjat*a tajam yang detik itu juga membuatnya meringis menahan sakit. Karena hanya karena mendengar nama itu saja, hatinya layaknya disaya*t-say*at.
__ADS_1
“Aini ...? Ada apa dengan nama itu?” pikir Lentera yang sudah langsung membuat otaknya berpikir keras. Yang membuat Lentera makin tidak baik-baik saja, adegan samar dan Lentera yakini sebagai Brandon yang tiduran di pangkuan seorang wanita berkerudung, justru menghiasi ingatannya.
“Sssstttt, itu lagi!” lirih Lentera masih kesakitan di dalam hatinya.
Sampai saat ini Lentera masih meringis, menahan kesakitan di dalam dadanya. Kedua tangannya pun ia gunakan untuk merema*s bagian dadanya, berharap rasa sakit di sana segera usai meski hasilnya tidak mengalami perubahan.
Tanpa pamit kepada wanita muda yang membantunya, Tera bergegas menyibak tirai. Ia menghampiri Boy dan berdiri di hadapan pemuda itu. Boy yang awalnya masih berbincang melalui sambungan telepon, refleks bengong dan itu Lentera yakini karena terlalu terkejut.
“Ya sudah ya Mah, habis dari sini kami langsung pulang. Nanti kita ketemu. Assalamualaikum,” ucap Boy sengaja mengakhiri sambungannya. “Ada apa?”
“Kita siap-siap pulang. Enggak jadi ke restoran. Nanti aku masak buat kamu saja di rumah karena sepertinya ada hal penting yang ingin mamah bahas. Jadi sekarang kamu pikir-pikir mau makan apa, nanti sebisa mungkin aku masakin. Oke?” ucap Boy lembut.
Lentera yang menyimak dan sampai menengadah hanya untuk menatap dalam kedua mata Brandon berkata, “S—ayang, ... Aini itu siapa? Hatiku sudah langsung sangat sakit hanya karena mendengar namanya kamu sebut.” Lentara akhirnya jujur, dan ia mendapatkan perubahan drastis dari kedua mata Boy dalam menatapnya. Tatapan Boy jadi sulit ia artikan tapi cenderung penuh luka.
Boy tidak mungkin tidak menjawab karena ia paham watak Lentera. Ada dua kepribadian dalam diri seorang Lentera. Pada kenyataannya, Lentera merupakan wanita yang sangat baik. Lentera wanita lembut yang juga sangat setia layaknya ibu Elena. Namun kadang kala Lentera juga bisa sangat kera*s bahkan posesif atas watak Lentera yang didapat dari pak Rayyan.
“Awalnya dia mau kerja di rumah kita setelah kita menikah. Namun karena ibunya meninggal, dan dia jadi pulang kampung.” Mengatakan itu, Boy merasa tak sepenuhnya membohongi apalagi melukai wanita yang sangat ia cintai. “Kita enggak bisa memaksa orang untuk tetap bersama kita termasuk itu dalam urusan pekerjaan, kan?”
__ADS_1
“Tergantung. Karena enggak semua orang bisa menuangkan rasa peduli termasuk cintanya dengan hal manis maupun lembut. Apalagi kalau posisinya tidak mendukung. Meski tetap saja, berjuang dan mempertahankan semuanya tetap wajib diakhiri jika hasilnya hanya tetap menyakiti,” lembut Lentera yang masih menatap intens kedua mata Boy. “Jadi sekarang aku juga ingin tanya, hubungan kita enggak nyakitin kamu, kan?”
Mendapatkan pertanyaan barusan, jantung Boy mendadak berhenti berdetak. Ia bahkan refleks menghindari tatapan Lentera dan ia sesalkan kenapa ia sampai melakukannya karena menepis tatapan juga sudah bagian dari kesempatan.
“Kita coba dulu, ya. Kalau memang setelah menikah pun aku tetap enggak bisa bikin kamu bahagia, ya sudah ... aku menyerah,” lirih Lentera sungguh-sungguh. Terlalu menyakitkan bahkan untuknya sendiri jika hubungan terlebih sebuah rumah tangga, hanya ia yang menjalani sekaligus memperjuangkan. Belum lagi jika mereka sampai punya anak, meski Lentera juga sempat berpikir, Brandon akan mulai tulus mencintainya jika ia hamil dan melahirkan anak Brandon, layaknya kisah romantis nan manis yang ia baca di novel-novel.
“Aku enggak akan menyerah!” yakin Boy sambil menatap kedua mata Lentera penuh keseriusan. Mata yang awalnya menatanya penuh harap itu berakhir berair sekaligus bergetar.
Di tempat berbeda, Aini dan Brandon tengah sangat bersemangat membersihkan ruko yang mereka sewa. Dibantu oleh Anjar yang baru mengganti seragam sekolah, ketiganya siap menyulap ruko tersebut menjadi rumah makan yang membuat setiap pengunjung betah.
“Nanti bisa ditaruh fotoku Mas, Mbak ... biar pembeli makin terngiang-ngiang,” ujar Anjar dengan semangat mengepel setiap lantai.
Aini yang dipanggul Brandon, menempel setiap stiker ke dinding agar lebih menarik refleks mesem.
“Ini mau bikin pembeli betah loh Dek. Bukan umpan usir tikus!” ucap Brandon dengan santainya sengaja bercanda, tapi sukses membuat Anjar maupun Aini tertawa sampai lemas.
Ternyata sekelas Brandon bisa bercanda, dan baik Anjar bahkan Aini benar-benar baru mengetahuinya.
__ADS_1