Kisah Kita Belum Usai (Tuan Muda Yang Dianggap Miskin)

Kisah Kita Belum Usai (Tuan Muda Yang Dianggap Miskin)
30 : Keadaan yang Belum Baik-Baik Saja


__ADS_3

Hyera menatap berat kedua mata Brandon di tengah air matanya yang terus berlinang. Ia ingin berucap, setidaknya mengatakan selamat tinggal dan tentu saja, melontarkan kata bahwa ia sayang sang kakak yang selama ini melakukannya dengan bengis. Sang kakak yang selalu memperlakukannya dengan sangat berbeda dari kakak-kakaknya yang lain. Karena ketika bersama, mereka ibarat kedua kutub magnet yang sama. Mereka akan saling bertolak jika disatukan, tapi pada kenyataannya mereka satu kesatuan karena jenis, mereka saja sama—saudara sedarah yang tak pernah tidak bisa untuk tidak merindukan.


Waktu seolah berputar lebih lambat karena keadaan kini. Semuanya kompak diam dengan luka sekaligus ego masing-masing. Mereka benar-benar belum siap, dan tidak bisa menerima kenyataan karena kini mereka harus terjebak dalam perpisahan.


Melihat satu sama lain sambil berlinang air mata, itulah yang mereka lakukan. Aini saja sulit untuk berkata-kata hingga akhirnya ibu Chole dan rombongan pergi. Dengan kata lain, ini menjadi akhir dari kebersamaan mereka. Kebersamaan yang entah kapan akan terjalin lagi.


“Maafkan aku karena gara-gara aku, Mas seperti dibuang oleh keluarga Mas. Aku tahu bahasa ini kurang tepat, tapi jarak dan waktu yang memisahkan, setelah apa yang terjadi dan kita wajib bersembunyi, ini akan membuat Mas layaknya dibuang,” sedih Aini.


Sambil terus bergandengan sekaligus merangkul, melepas rombongan ibu Chole, obrolan lirih itu terjadi.


“Enggak apa-apa. Ini sudah jadi konsekuensi. Terlebih posisinya, aku memang salah,” lirih Brandon yang sungguh pasrah menerima nasib. Asal ia bersama Aini dan sang mamah juga sudah mengetahuinya, ia yakin semuanya akan baik-baik saja.


Mendengar itu, Aini kembali menangis. Ia menengadah menatap wajah khususnya kedua mata sang suami. “Aku yakin, ... kita akan sukses. Kita akan bahagia. Selain, aku yang juga yakin, sebenarnya tadi mamah Mas sangat ingin mengakui atau setidaknya memeluk kita. Dan suatu saat kita akan kembali bersama-sama!” Aini serasa dicek*ik hanya karena mengatakan itu.

__ADS_1


Karena Aini sampai tersedu-sedu, Brandon yang sebenarnya juga tak kalah sedih, mencoba menyikapi dengan jauh lebih tegar. “Iya ....” Meski karena kesedihan yang ia rasakan, suaranya tertahan di tenggorokan. Ia mengangguk-angguk, kemudian membawa sang istri masuk kontrakan.


Pada kenyataannya, memang tidak ada yang siap dengan apa itu perpisahan apalagi kehilangan. Namun dari semua itu, masih ada yang tak kalah sulit yaitu memulai agar semuanya segera berlalu. Brandon dan semuanya termasuk Aini, tengah merasakan itu.


“Kita salat dulu, habis itu kamu ikut aku. Anjar sekalian diajak juga enggak apa-apa, kita makan di luar sambil urus klien.” Brandon memboyong Aini masuk di tengah suasana yang makin gelap.


Adzan magrib terdengar berkumandang seiring ketakutan yang Aini rasakan. Bagaimana nasib anaknya nanti? Apa yang harus Aini katakan ketika mereka akhirnya punya anak sementara anak mereka bertanya perihal keluarga mereka?


“Ternyata memang benar, semuanya enggak baik-baik saja. Sedihnya ...,” batin Anjar menatap berat Aini dan Brandon. Ia sengaja ke belakang, pura-pura sibuk di dapur agar keduanya yakin, sedari tadi ia tidak tahu apa yang terjadi. “Kasihan, ... apa yang harus aku lakukan agar aku bisa membantu dan tentunya berguna untuk mereka,” pikir Anjar yang benar-benar ingin berguna.


“Brandon, Boy ... ini ujianku ... kejujuranku bisa mematahkan hati Boy anakku. Ini memang tidak adil untuk Tera, tapi andai Boy bisa sepertiku kepada papahnya dulu, aku yakin Tera akan menjadi wanita paling bahagia. Terlebih, sepertinya adanya keadaan pelik ini juga karena kecerobohan aku dan Elena. Kami mengira semua pengorbanan Boy justru dari Brandon ... astaga, serumit ini,” renung ibu Chole yang masih berlinang air mata. Hanya saja, ketika ia menoleh ke sebelahnya dan itu Hyera, kenyataan anak gadisnya yang juga berlinang air mata menatapnya sangat khawatir, membuatnya segera meyakinkannya. Ia mendekap Hyera penuh kasih. Pelukan mereka tanpa kata tapi diikat oleh isak yang terasa sangat menyiksa.


Paman Syam yang ada di sebelah setir jadi tidak tega. Kini mereka hanya berempat, sebab mereka meninggalkan seorang pengawal di sana. Untuk diam-diam mengawasi Brandon sekeluarga.

__ADS_1


“Karena kini, mengirim orang untuk selalu mengawasi sekaligus menjaga mereka dari kejauhan, menjadi satu-satunya cara memastikan Brandon sekeluarga baik-baik saja,” batin Chole sambil terus memeluk Hyera.


“Karena cinta, keluargaku jadi bercerai begini. Namun aku jadi berpikir, aku punya andil buat menyatukan mereka. Dan aku menyesal, kenapa tadi aku hanya diam,” batin Hyera jadi menyalahkan dirinya sendiri.


Mereka langsung menjalani penerbangan kembali ke Jakarta. Penerbangan yang boleh dibilang menjadi penerbangan terakhir hari ini. Sekitar pukul sembilan malam, akhirnya mereka sampai. Dan yang membuat mereka tercengang, Santy mengabarkan bahwa Lentera sudah di sana sejak pukul tujuh malam, yang mana Lentera tengah belajar masak untuk Brandon yang tentu saja Boy. Pak Helios yang baru pulang kerja juga menjadi bagian dari makan malam dan kini memang masih berlangsung.


Di sebelah Boy, tampak Lentera yang memang menyuapi pemuda itu. Boy jatuh sakit karena rencananya sudah diketahui oleh Chole.


“Mah ...? Ra ...?” sapa Lentera ramah di tengah keadaannya yang memang masih kurang sehat.


Lentera menyapa setelah pak Helios melakukannya lebih dulu kepada ibu Chole dan Hyera. Malahan, pak Helios memang jauh lebih peka dan dengan cepat menyadari kehadiran ibu Chole dan Hyera.


“Mamah mau bicara penting, ... khususnya ke B—brandon.” Ibu Chole tak hanya berucap tegas sangat serius. Karena tatapannya yang fokus kepada Boy juga menjadi terlihat menakutkan. Bukan hanya terasa oleh Boy. Karena Lentera yang duduk di sebelah Boy juga merasakannya.

__ADS_1


“Ya Allah tolong, hamba mohon jangan akhiri misi ini,” batin Boy.


__ADS_2