
Hyera masih kebingungan dan belum bisa menyudahi ketegangannya. Gadis itu sampai gemetaran hanya karena keadaan sekarang. Kemudian, tatapannya refleks tertuju ke Pinky sang kucing yang sudah duduk menunggu persis di depan pintu bercat pink dan itu memang pintu kamar Hyera.
Masih sulit untuk Hyera percaya, gara-gara Pinky kucingnya, ketegangan kini terjadi. Kehangatan yang selalu membersamai mereka seolah langsung sirna hanya karena keadaan sekarang.
“Mamah enggak akan pernah maafin kamu, kalau kamu enggak kasih tahu Mamah di mana mas Brandon sekarang, Mas. Atau setidaknya, bawa mas Brandon ke sini, secepatnya dan bila perlu, hari ini juga!” tuntut ibu Chole masih tersedu-sedu.
Ibu Chole memilih pergi sebagai wujud dari ketegasan sekaligus kemarahannya.
“M—mah ...,” refleks Hyera berusaha menahan, tapi ia tak kuasa melakukannya. Tak semata karena sang mamah langsung menuruni anak tangga dengan sangat cepat, melainkan ada Brandon yang ternyata Boy, dan memang alergi bulu kucing yang harus segera ia rawat.
“Aduh Mas ... ini gimana? Mas, ... Mas, Boy, kan? Kita ke kamar Mas Boy karena di sana ada semprotan pereda bengek.” Hyera susah payah memapah Boy yang memang jauh lebih tinggi darinya.
Sementara Boy hanya diam karena terlalu bingung. Meski sampai sekarang, ia masih bengek dan memang sudah lemas.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Brandon di mana? Apakah dia baik-baik saja? Kenapa Boy sampai menggantikannya?” Di dalam kamarnya, ibu Chole terus berpikir keras. Ia yang baru sampai, terduduk lemas di pinggir sofa panjang yang ada di depan tempat tidur.
Tatapan ibu Chole yang masih basah berangsur nanar. Namun, menunggu Boy untuk jujur malah membuatnya makin tidak baik-baik saja. Karenanya, ia memilih kembali meninggalkan kamarnya. Dengan langkah cepat sekaligus buru-buru, ia menaiki anak tangga menuju lantai atas. Kamar Boy sudah langsung menjadi tujuannya. Dan meski tertutup rapat, Boy maupun Hyera memang ada di sana.
__ADS_1
Boy sudah tiduran dan napasnya masih tersengal-sengal. Di sebelahnya, Hyera masih memegang semprotan khusus untuk bengek milik Boy.
“Tolong jangan begini. Tolong selesaikan dengan baik-baik,” pinta Hyera lirih dan memang karena takut. Ia melirik takut sang mamah, yang sebelumnya belum pernah ia pergoki marah bahkan seperti sekarang.
“Hyera tolong tinggalkan Mamah dan Mas Boy. Ah ... enggak usah. Kamu tetap di sini saja, dan pastikan, ini rahasia!” ucap ibu Chole cepat.
“Aku tidak tahu di mana mas Brandon. Aku benar-benar minta maaf, Mah. Namun aku yakin, mas Brandon memiliki alasan kuat kenapa dia sampai melakukan ini,” ucap Boy tak berani menatap sang mamah.
Hyera yang memang lebih takut, memilih menjadi pendengar baik, selain ia yang juga terus menunduk. Baginya, keadaan kini jauh lebih mengerikan dari ketika ia dikejar-kejar pria yang selalu ia tolak cintanya, tapi juga terus saja memak*sa.
Ibu Chole terus menatap kecewa Boy. Nyaris lima menit lamanya, hingga akhirnya putranya itu menatapnya.
Boy kembali menunduk dalam. “Maaf, Mah.” Ia tetap tidak mau mengingkari janjinya dan sang kembaran.
“Sejak kapan kamu menjadi Brandon, Mas?!” desak ibu Chole lagi. “Kalian tega ke keluarga kita? Kalian tega ke keluarga Lentera? Kamu tega ke Lentera?” lanjut ibh Chole. Ia yang awalnya hanya berlinang air mata, berangsur tersedu.
“Biarkan aku menggantikan mas Brandon, Mah!” yakin Boy dan kali ini menatap sang mamah dengan memohon.
__ADS_1
Ibu Chole menggeleng. “Enggak semudah itu! Enggak semudah itu mengatasi keadaan karena meski kalian kembar, kalian tetap orang berbeda!” tegasnya.
“Mas Boy!” sergah ibu Chole lagi lantaran Boy hanya diam.
Kecewa, itulah yang ibu Chole rasakan. “Seenggaknya kalian bilang ke Mamah!” isaknya lagi masih mendesak Boy.
Tak kunjung mendapat jawaban yang ia inginkan, ibu Chole memilih pergi. Kenyataan tersebut menjadi kekhawatiran tersendiri untuk Boy maupun Hyera. Jangankan Boy, Hyera yang tak tahu apa-apa, memilih menyusul sang mamah. Ia tak mau mamahnya yang sedang sangat emosional sampai kenapa-napa.
Ibu Chole sudah langsung menghubungi paman Syam. Pria yang memakai pakaian serba hitam itu segera datang ke rumah sakit Tera sempat dirawat.
“Kemarin pas Tera dirawat di sini, mendadak ada pasien yang namanya Brandon, perasaanku beneran enggak enak, Uncle. Apalagi kemarin memang ada yang mirip Brandon!” Ibu Chole menceritakan semuanya kepada paman Syam yang sudah langsung mengaitkannya kepada apa yang Brandon lakukan untuk Aini.
“Ya sudah lihat CCTV, harusnya kan terekam, Mah!” ucap Hyera yang hanya berani berbisik-bisik. Demi memastikan sang mamah baik-baik saja, ia sengaja ikut serta.
“Pastikan pihak Tera, jangan ada yang tahu dulu sebelum kasus ini benar-benar terungkap!” tegas ibu Chole wanti-wanti kepada Hyera maupun paman Syam yang kali ini disertai dua orang pria berpakaian serba hitam juga layaknya pria itu.
Saking ingin semuanya tertata rahasia, ibu Chole sengaja menyumpah semua yang ikut dengannya.
__ADS_1
“I-iya, Mah. Sumpah ... janji!” takut Hyera yang jadi ingin mengomel kepada Brandon maupun Boy. “Dua orang ini, sebenarnya apa yang terjadi, sih? Gil*a saja, enggak ada satu minggu lagi, harusnya mas Brand sama mbak Tera nikah loh. Kalau aku jadi mbak Tera, mendadak ditinggal di detik-detik menuju hari H. Duh ... stre*s ... setre*s. Mana mbak Tera sebucin itu ke mas Brand ...,” batin Hyera terdiam tak percaya ketika apa yang sang mamah khawatirkan, benar adanya. Karena di CCTV rumah sakit yang mereka datangi, dan kemarin sempat menjadi tempat Tera dirawat karena Hyera saja setiap hari mampir sebagai rasa hormatnya kepada Tera, Brandon benar-benar pernah menjadi pasien di sana!