Kisah Kita Belum Usai (Tuan Muda Yang Dianggap Miskin)

Kisah Kita Belum Usai (Tuan Muda Yang Dianggap Miskin)
24 : Kebohongan yang Terungkap


__ADS_3

Tak semestinya, itulah ungkapan untuk apa yang ibu Chole rasakan. Kegelisahan tiada henti yang membuatnya sakit pikiran bahkan hati. Ini mengenai Brandon dan Boy, dan harusnya bukan sebuah masalah. Terlebih Boy memang sudah dijadwalkan untuk melanjutkan S2 di luar negeri. Putranya itu mendapatkan beasiswa. Namun karena kesibukan mereka, selain tidak bisa mengantar, rencananya, memang baru bulan depan ia sekeluarga mengunjungi Boy. Lebih tepatnya, mereka baru akan mengunjungi Boy sekalian liburan, setelah pernikahan Brandon dan Lentera.


“Jelas-jelas Boy yang pergi. Yang di sini bahkan tidak memiliki tahi lalat, dan harusnya itu memang Brandon. Namun, kenapa rasanya yang pergi justru Brandon? Jangan sampai aku kecolongan, sementara pernikahan Brandon hanya tinggal hitungan hari!” batin ibu Chole benar-benar emosional. Matanya masih kerap mendadak basah di setiap ia merindukan kehadiran Brandon, merindukan kedua putranya yang kembar.


Ibu Chole melangkah buru-buru keluar dari kamar megahnya yang ada di lantai bawah. Terdengar bersin-bersin dari lantai atas. Itu Boy yang tampak rapi dan siap pergi. Setelan jas dan juga dasi, selain aroma parfum maskulin yang begitu kuat—semua itu memang gaya Brandon.


Ibu Chole sempat khawatir putranya sakit.


“Pinky emang paling gemesin! Beruntung mas Boy yang alergi bulu kucing sudah pergi, jadi aku bisa pelihara kamu dengan leluasa!” Hyera yang masih menggerai rambut panjang indahnya, dan tampangnya jauh berbeda dari wanita di keluarganya yang sudah serba berhijab, melangkah riang memasuki rumah. Kucing berbulu lebat warna putih dan ia pakai gaun pink, ia ajak lari menaiki anak tangga.


“Ayo Pinky, kamar kita ada di lantai atas dan aku juga sudah pesenin kamu rumah cantik!” girang Hyera masih memimpin lari.


“Ya ... ya ... ya ... Astaghfirullah ... innalilahi ... ternyata kamu yah, Dek yang bawa kucing ke sini. Kamu kan tahu, Mas alergi bulu kucing!” keluh Boy dan tentu saja keceplosan. Sebab perihal alergi memang sangat sulit ia tahan-tahan, apalagi ia sembunyikan dalam misi sekaligus penyamarannya.


Boy tak hentinya bersin bahkan nyaris tergolong bengek karena ia sampai lemas. Ia sungguh tidak bisa berhenti bersin dan sampai berakhir terduduk di lantai.

__ADS_1


Bukan hanya Hyera yang bengong menatap tak percaya keadaan sang kakak. Karena ibu Chole juga jauh lebih dari Hyera.


Dada ibu Chole kebas. Ia seolah tersambar petir di siang bolong hanya karena keadaan sekarang. Karena dengan kata lain, kekhawatiran sekaligus ketakutannya memang benar. Bahwa yang di rumah bukan Brandon, melainkan ....


“Boy ...?” panggil ibu Chole sembari bergegas menghampiri ke lantai atas.


“B-oy, ... kamu baik-baik saja?” ucap ibu Chole yang kali ini sudah kembali berlinang air mata.


Dada ibu Chole berdebar-debar, seolah di sana ada yang akan meledak bersama ketakutan yang akhirnya terbukti.


“Iya, Mah ... lemes banget ...,” refleks Boy nyaris kehabisan napas.


Bukannya tidak ibu, tapi alasan Hyera hanya diam karena gadis itu terlalu terkejut sekaligus bingung. Bukan hanya karena sang mamah yang memperlakukan Boy, tapi juga kenyataan Boy dan mereka ketahu merupakan Brandon.


“Ini terlalu membingungkan,” lirih Hyera. Bergegas ia lari menghampiri Brandon sambil menyelinapkan anak rambutnya ke belakang telinga. Jarak mereka memang hanya sekitar dua meter, tapi kebingungan yang ia rasa, membuat jarak mereka seolah berkali lipat lebih jauh.

__ADS_1


“Mas?” lirih Hyera akhirnya bisa merengkuh Boy. Ia berangsur memapah sang kakak.


“Brandon ke mana?” tanya ibu Chole benar-benar berat. Malahan, bersama sesak yang memenuhi dadanya, tangisnya pecah. Ia menangis tersedu-sedu bersama tatapan tak berdaya yang ia dapatkan dari Boy.


“Brandon ke mana, Boy? Sebenarnya kalian apa-apaan, sih?” lanjut ibu Chole makin tersedu-sedu.


“Ini kenapa, sih?” lirih Hyera yang jadi ikut menangis.


“Innalilahi ... aku ketahuan ...?” batin Boy yang berusaha menguasai diri. Ia berangsur menghela napas, dan berkata, “M—mah ....”


“Kamu Boy!” sergah ibu Chole menolak didekati Boy. Ia mundur, sementara kedua matanya yang tak tertutup cadar, menatap Boy penuh kecewa.


“A-aku, ... aku, Brandon, Mah!” yakin Boy berusaha semaksimal mungkin di tengah kenyataannya yang lemas tak berdaya.


“Bohong! Berani kamu berbohong lagi, Mamah benar-benar marah kepadamu, Mas!” tangis ibu Chole meronta-ronta.

__ADS_1


Detik itu juga dada Boy kebas. Langit kehidupannya seolah langsung runtuh, dan ia sungguh bingung harus berbuat apa lagi.


__ADS_2