
“Kemarin, ... sebenarnya Brandon memang sempat ke kampung dekat pondok pesantren kita. Dia mengurus perkara seorang wanita bernama Aini. Namun selebihnya, saya belum tahu hubungan mereka,” jelas paman Syam sangat serius. Selain itu, ia juga menceritakan mengenai dirinya yang sudah sempat menghubungi Boy. Namun, Boy meminta paman Syam untuk tidak mengusik Brandon. Boy berdalih semuanya akan baik-baik saja, termasuk ibu Chole dan pak Helios yang dikatakan sudah mengetahui semuanya.
Paman Syam memang tahu, dulu Brandon sempat memiliki kekasih, sewaktu Brandon tinggal di kampung. Lebih tepatnya, delapan tahun lalu, ketika Brandon menjadi bagian dari pondok pesantren. Hanya saja, perubahan drastis dari seorang Aini yang kini jadi tampak jauh lebih tua dari usianya, membuat paman Syam pangling.
Dulu, Aini itu sangat cantik. Cantik alami karena Hyera termasuk Lentera, tidak ada apa-apanya. Kulit Aini begitu putih dan tampak sangat lembut, mirip melakukan perawatan rutin. Itu kenapa, meski kemarin sempat bersama cukup lama di acara pemakaman mamaknya Aini, paman Syam tetap tidak mengenalinya. Dengan demikian, kenyataan tersebut menegaskan, bahwa cinta seorang Brandon kepada Aini benar-benar tulus tanpa memandang fisik maupun rupa.
“Aini ...?” lirih ibu Chole maupun Hyera jadi was-was.
Hati ibu Chole maupun Hyera sudah langsung dikuasai rasa takut, seiring mereka yang juga tidak bisa untuk tidak berpikir bur*uk. Sebab yang di CCTV bersama Brandon pun, mereka kenali sebagai Aini, ART baru mereka.
“Aini itu yang di CCTV ini. Iya, kan, wanita ini? Ini ART baru di rumah kami, Uncle. Niatnya, nantinya mau dikerjakan di rumah Tera dan mas Brandon. Sejauh kenal meski baru sebentar, anaknya baik. Rajin, santun. Bagus lah pokoknya kerjanya!” ucap ibu Chole sambil menatap saksama kedua mata paman Syam yang masih menyimak dengan sangat serius.
“Jangan-jangan, ... jangan-jangan mas Brand digun*a-gun*a mbak Aini, Mah! Mas Brand kan sudah biasa kena hal magis gitu karena dia sering bengong dan pikirannya kosong. Dulu pun kata mbak Ryuna juga gitu, kan?” heboh Hyera mendadak ngeri. Ia sampai merinding dan menunjukannya kepada ibu Chole maupun paman Syam.
Menghela napas dalam sambil menatap Hyera, paman Syam berkata, “Enggak mungkin hal semacam itu terjadi. Soalnya kemarin Paman lihat, mereka kayak dekat. Dan pas mau Paman kejar, Boy benar-benar melarang. Dengan kata lain, Boy beneran tahu!”
__ADS_1
“Jangan bilang enggak mungkin, Uncle. Mas Brand beneran sudah terbiasa diguna-guna. Apalagi biasanya orang kampung kan masih kental sama yang begituan. Masa iya, mas Brand memilih meninggalkan mbak Tera yang sesempurna itu demi mbak Aini, yang maaf ... lah, kalah jauh!” tegas Hyera berusaha menepis.
Mendengar itu, pikiran ibu Chole jadi makin kacau. Namun ingatan ibu Chole refleks menilai Aini. Dari awal pertemuan, Aini tampak begitu minder. Aini bahkan menitikkan air mata, ketakutan jika didekati ibu Chole.
“Ya Allah, sebenarnya ini ada apa?” batin ibu Chole.
“Kalau begitu, saya pamit untuk cek CCTV sekitar agar bisa menemukan jejak mereka, secepatnya,” ucap paman Syam berangsur pamit. Ia meninggalkan ibu Chole yang sempoyongan lemas sebelum akhirnya kembali di dekap Chole.
Di lain sisi, pertemuan Boy dan Lentera, diliputi banyak kecanggungan. Lentera yang awalnya sudah duduk menunggu di ayunan yang ada di kamarnya jadi kehilangan senyumnya. Wajah Boy yang pucat, juga kenyataan pemuda itu yang tak bersemangat melebihi orang sakit, menjadi penyebabnya.
“S-sayang, kamu kenapa?” lembut Lentera yang berangsur berdiri. Ia menyisihkan album foto bersampul pink yang awalnya ia pangku sekaligus ia perhatikan isinya, ke meja kecil di sebelah ayunan. Ia menghampiri Boy, tapi pemuda itu mendadak berlutut.
Lentera tampak jelas haus perhatian sekaligus cinta dari Boy. Boy berpikir, alasan tersebut terjadi lantaran selama ini, Lentera hanya mencintai sendiri tanpa balasan dari Brandon.
“S-sayang ... aku mohon, ... aku mohon jangan bikin aku takut,” lirih Lentera. Saking lirihnya, suaranya malah tertahan di tenggorokan. Terlebih diperlakukan layaknya kini, yang ada justru ia jadi makin terluka. Belum lagi selain ia yang melupakan kejadian satu bulan ke belakang, sampai detik ini dadanya juga tetap tidak berdebar-debar, padahal ia sedang bersama calon suaminya.
__ADS_1
“Aku janji, ... aku janji apa pun yang akan terjadi,” ucap Boy seiring ia yang menengadah hanya untuk menatap wajah khususnya kedua mata Lentera.
Apa yang Boy lakukan membuat Lentera menahan napas. Kali ini Lentera deg-degan khas orang khawatir sekaligus ketakutan. Bukan deg-degan karena cinta.
“Jangan katakan apa pun.” Lentera mundur bahkan membelakangi Boy. Ia terlalu takut yang akan Boy lakukan justru mengatakan salam perpisahan.
“Jangan pernah katakan ataupun melakukan apa pun, jika pada akhirnya ... kamu akan mengakhiri hubungan kita dengan perpisahan.” Air mata Lentera jatuh hanya karena mengatakan itu. Dadanya terasa sangat sesak, sangat sakit. Ia sampai meringis kemudian menggunakan tangan kanannya untuk merema*s dada, demi meredam rasa sakit di sana.
“Apa pun yang terjadi, aku akan tetap membahagiakan kamu. Aku janji, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu, bahkan meski kamu mengusirku!” tegas Boy di tengah kedua matanya yang basah, hingga cairan bening luruh membasahi pipi dari kedua sudut matanya.
Mendengar ucapan Boy barusan, air mata Lentera jadi makin sibuk berjatuhan. Ucapan yang jujur saja harusnya membuatnya bahagia. Meski entah kenapa, rasanya tetap ada yang kurang. Rasanya ia tetap tidak bisa mengobati luka di hatinya. Selain di sana yang telanjur seolah ada ruang kosong lantaran ditinggal penghuninya.
Lentera benar-benar tidak tahu dengan apa yang terjadi, tapi sampai kapan pun hal yang paling ia takutkan ialah kenyataan Brandon yang mengakhiri hubungan mereka dengan perpisahan.
Kini, menggunakan kedua lututnya, Boy melangkah, membuat jaraknya dan Lentera makin tidak ada. Dari samping kanan Lentera, dalam keadaan tetap berlutut, ia mendekap erat kedua lutut pujaan hatinya itu.
__ADS_1
“Aku mencintaimu melebihi semua yang ada di muka bumi ini. Jadi, ketika Brandon mengabarkan dia tidak bisa melanjutkan pernikahan kalian. Ketika Brandon menegaskan ada kisah lain yang lebih harus Brandon perjuangkan, saat itu, meski aku tahu itu menjadi dukamu, detik itu juga menjadi kesempatan tak terulang untukku bisa membahagiakan kamu. Tak peduli meski aku harus menjadi orang lain. Tak peduli meski aku harus menjadi bayang-bayang kembaranku sendiri,” batin Boy seiring ia yang membenamkan wajahnya di sebelah paha Lentera.
Di tempat berbeda, rombongan ibu Chole sudah sampai bandara. Mereka bersiap untuk segera menjalani penerbangan. Dan kota Pontianak di Kalimantan Barat menjadi tujuan mereka.