Kisah Kita Belum Usai (Tuan Muda Yang Dianggap Miskin)

Kisah Kita Belum Usai (Tuan Muda Yang Dianggap Miskin)
29 : Kisah yang Terulang


__ADS_3

Kedatangan Brandon sudah langsung membuat Aini menghampiri. Aini melakukannya dengan sangat santun. Ia menyalami tangan kanan Brandon. Suaminya itu sudah terlihat sangat tidak nyaman. Brandon yang pendiam, makin jadi diam, terlihat sangat sedih, takut, tapi juga cenderung tak mau ditinggal olehnya. Beres salaman saja, suaminya itu tak mengizinkannya melepaskan tangan kanan Brandon.


Air mata Aini langsung jatuh ketika akhirnya, tangis suaminya pecah. Hati Aini teriris karenanya. Keadaan kini benar-benar menyakitkan. Bukan hanya untuk mereka, tapi juga semuanya.


Brandon memang tak berucap sepatah katapun, tapi tangan kirinya yang tak menyalami erat sebelah tangan Aini, membingkai wajah Aini yang kemudian ia kecu*p mesra. “Jika memang semuanya harus berakhir, akhiri saja asal kami selalu sama-sama, ya Allah!” batin Brandon yang kemudian berbisik. “Bersumpahlah kamu tidak akan pernah meninggalkan aku, apa pun alasannya!”


Mendengar itu, bukan hanya air mata Aini yang jadi makin sibuk berjatuhan. Karena wanita itu juga mengangguk-angguk di tengah keseriusannya membalas tatapan sang suami.


Dari pinggir pintu kontrakan yang masih dibuka sempurna, Anjar mengintip. Anjar menatap penuh terka kebersamaan di sana. Terlebih bukan hanya Aini dan Brandon yang menangis. Karena tiga orang yang Aini sebut sebagai keluarga Brandon dan sampai sekarang masih bertahan di teras kontrakan, juga.


“Jangan bohong ...,” rengek Brandon masih belum bisa melepaskan wajah Aini.


Aini yang masih berderai air mata, berangsur mengangguk-angguk. Namun, Brandon membalasnya dengan menggeleng.


“Katakan sesuatu ... berjanjilah ...,” isak Brandon.

__ADS_1


Aini menghela napas dalam, tapi kenyataan tersebut justru membuat semuanya makin menyakitkan. Benar-benar bukan hanya sesak yang teramat memenuhi dadanya dan itu sangat menyiksa.


“Ni ....” Brandon masih merengek.


Menggunakan tangan kiri yang tak dijabat erat layaknya tangan kanannya oleh Brandon, Aini mengunci pipi kanan Brandon. “Mas harus jadi anak yang baik. Aku ikhlas ....”


Apa yang baru saja Aini katakan dan terdengar sangat menyakitkan bahkan di telinga Aini sendiri, membuat Brandon yang langsung sesenggukan, makin sibuk menggeleng.


Ibu Chole tak sanggup menyaksikan pemandangan tersebut. Ia yang sudah berlinang air mata, memilih angkat kaki dari sana. Aini langsung panik ketika menyadari kenyataan tersebut. Kenyataan ibu Chole melewati mereka begitu saja.


“I-ibu ... saya benar-benar minta maaf!” Aini mengejar ibu Chole. Brandon yang masih menjabat tangan kanannya erat, otomatis terbawa karena suaminya itu tetap tidak mau melepaskannya.


Ibu Chole berangsur menghentikan langkahnya tepat di depan mobil mewah yang ia sewa. “Terlalu berat. Terlalu menyakitkan, rumit. Apa pun keputusan yang diambil hanya berakhir melukai. Butuh waktu untuk menerima semua ini. Sana sini sama-sama anak. Yang Mamah anggap benar, belum tentu sama untuk kalian. Di lain sisi, ada Lentera yang akan sangat terluka apalagi dia wanita. Namun jika Mamah memikirkan Lentera, Mamah juga akan melukai kalian. Dalam hubungan ini tidak ada yang bisa adil. Hubungan ini hanya berisi luka. Maaf jika selama ini, Mamah tidak peka.” Ibu Chole melangkah berat sembari menahan sesak. Ia yang kembali menangis, memeluk dirinya sendiri.


“Aku benar-benar minta maaf, ... Mah. Namun aku pastikan, aku akan bahagia dengan keputusanku. Aku akan tetap membuat papah mamah sekaligus keluarga kita bangga, meski semuanya aku bangun di atas luka dan dusta,” ucap Brandon sesaat setelah ia berlutut.

__ADS_1


Aini yang masih dijabat tangan kanannya oleh Brandon, juga berangsur berlutut.


Senja sore ini menjadi saksi, ada kisah penuh luka yang tengah merintih restu demi menuju bahagia. Namun meski restu tampak sedikit berpihak, luka-luka yang memenuhi hubungan mereka memang butuh waktu.


“Maaf jika Mamah jadi orang tua kejam. Mamah hanya butuh bukti kalian. Bahagia dan sukses lah, agar keputusan kita mengorbankan Lentera ... tidak sia-sia.” Tangis ibu Chole pecah. Ibu Chole merasa sangat nelangsa. Karena sadar, setelah ini, mereka tidak bisa bersama-sama.


“Biarkan Boy memperjuangkan cintanya kepada Tera. Selama ini Boy sangat mencintai Tera. Karena dia juga, hubunganku dan Tera ada. Selama ini kalian salah paham, memaksaku bersama Lentera padahal harusnya yang dengan Lentera dari awal itu Boy,” mohon Brandon.


“Biarkan Boy melanjutkan kisah sekaligus perjuangannya. Meski ini sangat merugikan Tera, percayalah Boy bisa membuat Tera menjadi wanita paling bahagia. Tolong jangan batalkan rencana pernikahan yang sudah ada. Tolong beri Boy kesempatan!” lanjut Brandon.


Ibu Chole benar-benar terkejut mendengar itu. Begitu juga dengan Hyera dan paman Syam. Apalagi sejauh ini, Boy yang periang, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda terluka ketika Lentera bersama Brandon.


“Sering kali alasan orang lain berusaha membahagiakan kita memang karena orang itu ingin dibahagiakan juga oleh kita. Selama ini sebenarnya Boy juga terluka, tapi demi kita yang selalu heboh pada hubunganku dan Lentera, dia pura-pura bahagia. Dia sampai mengejar beasiswa S2 bertepatan dengan hari yang harusnya menjadi pernikahanku dan Lentera.” Mengatakan semua itu, Brandon merasa jauh lebih lega.


“Hah ...? Kisah lama telah terulang? Boy kepada Tera, sama saja ketika aku nekat menggantikan Cinta di pernikahannya dengan mas Helios hingga aku yang menikah dengan mas Helios,” batin ibu Chole—baca novel : Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta yang Kejam.

__ADS_1


__ADS_2