Kisah Kita Belum Usai (Tuan Muda Yang Dianggap Miskin)

Kisah Kita Belum Usai (Tuan Muda Yang Dianggap Miskin)
36 : Mengharapkan Malam Pertama


__ADS_3

Pesta telah usai. Harap-harap cemas makin membuat setiap mereka yang mengetahui misi Boy, termasuk Boy sendiri, makin gelisah.


Di hotel tempat ijab kabul sekaligus resepsi digelar, Boy dan Lentera ditinggal hanya berdua. Lebih tepatnya, keduanya undur lebih awal karena kaki Lentera bengkak parah. Seperti yang Boy khawatirkan, sepatu berheels tinggi nan runcing yang dipilih Lentera menjadi penyebabnya. Begitulah sebagian wanita, tak segan meluka*i dirinya hanya untuk tampil sempurna versi dirinya.


Kamar pengantin yang sudah dihias sangat indah bertabur kelopak bunga mawar merah dan juga sepasang boneka angsa merah, menjadi saksi kesibukan Boy mengurus kedua kaki Lentera.


Sepanjang Boy mengurusnya, Lentera yang masih yakin bahwa sosok yang menikahinya itu Brandon, tak hentinya tersenyum damai memandangi Boy. Meski sesekali, keadaan kedua kakinya yang bengkak, akan membuatnya sibuk meringis. Akan tetapi, dering telepon masuk dari sang papah yang mengkhawatirkannya, membuatnya terpaksa mematikan ponselnya.


“Pah ... ini malam pertama mereka,” ucap ibu Elena kewalahan mengontrol suaminya yang begitu mengkhawatirkan putri mereka.


“Tadi Tera sampai dibopong, Beb. Itu pasti parah banget!” balas pak Rayyan masih saja keras kepala.


Ibu Elena menghela napas dalam sambil menatap tak habis pikir sang suami. Bersama kedua pengawal mereka, mereka masih di lift karena pak Rayyan berniat menyusul ke kamar pengantin Tera dan Boy.


“Ya iya ... Brandon sayang banget ke Tera makanya dia bopong Tera. Sudah sejelas itu, masa masih harus dijelasin? Enggak mungkin Brandon menelantarkan Tera, buktinya saja petugas hotel sudah bilang kalau selain minta disiapkan es batu buat kompres kedua kaki Tera, Brandon juga pesan obat khusus. Ayolah, jangan terus begini karena Tera pasti malu. Belum lagi ini malam pertama mereka. Buktinya, telepon dari Papah ditolak dan ponsel Tera juga jadi enggak aktif kan?” Ibu Elena berbicara panjang lebar. Sang suami yang awalnya tampak sangat keras kepala, berangsur merenung. Biasanya kalau sudah begitu, pak Rayyan akan berubah pikiran dan jauh lebih bisa mengontrol emosi.


Ibu Elena tahu, sang suami sangat mengkhawatirkan Lentera. Terlebih selama mereka menikah, mereka hanya diberi dua orang anak dan itu saja jaraknya sangat jauh. Lentera menjadi anak pertama mereka, sementara ketika Lentera berusia hampir dua puluh tahun, mereka baru mendapatkan anak kedua. Padahal selama menikah, mereka tidak pernah menunda.


“Kita fokus ke King saja. Nanti yang ada bukan hanya King yang nangis karena kita tinggal terlalu lama. Namun juga Tera karena dia malu terus Papah atur segala sesuatunya. Lentera sudah menikah, ingat itu Pah.” Ibu Elena masih sangat sabar menghadapi suaminya.

__ADS_1


Seperti biasa, meski harus drama dan membuat ibu Elena berbicara panjang lebar, pada kenyataannya, ibu Elena memang pawang sejati untuk sang suami. Mereka tak jadi keluar dari dalam lift, meski kedua pintu di hadapan mereka sudah terbuka sempurna. Malahan, pak Rayyan sendiri yang membuat tujuan mereka kembali turun. Meski tanpa sepatah kata pun, setidaknya itu jauh lebih baik ketimbang pak Rayyan rusuh ke kamar pengantin Lentera, apa pun alasannya.


Sementara itu, di dalam kamar pengantin, yang membuat Lentera bahagia ialah karena gadis itu memikirkan malam pengantinnya bersama sang suami. Lentera mendambakan malam pengantin yang romantis bagaimanapun prosesnya. Baik itu mengenai fakta bahwa melakukan hubungan se*k*s untuk pertama kalinya, dikata sangat sakit. Juga kenyataan kedua kakinya yang malah bengkak sekaligus lecet parah. Kedua kenyataan tersebut tak menyurutkan niat Lentera menjalani malam pertamanya, malam ini juga.


Jas putih milik Boy sudah tergeletak di sebelah Lentera duduk. Karena Boy yang memakai kemeja lengan putih, sengaja melepasnya agar bisa mengurus Lentera dengan leluasa. Kini saja, kedua lengan kemejanya disingsing asal hingga siku karena kesibukan mengompres kedua kaki Lentera, membuat tangan dan sebagian pakaian Boy basah.


“Oke. Kedua kaki kamu sudah agak kering dan salepnya juga sudah mulai meresap. Sekarang aku bantu kamu lepas gaun. Bentar, kamu mau pakai baju ganti yang mana?” ucap Boy berangsur berdiri.


Menggunakan kedua tangannya, Lentera meraih kedua tangan Boy dan menggenggamnya.


Detik itu juga jantung Boy seolah loncat, selain rasa gugup yang membuat Boy tak berani menatap Lentera lama-lama.


“Aku enggak boleh menyentuh Lentera karena niat nikah kami saja, sudah enggak bener. Meski untuk buku nikah kami, aku sudah mendaftarnya dengan nama sekaligus identitas asliku. Jadi, aku dan Lentera baru boleh melakukannya setelah kami ijab kabul lagi dan itu atas namaku,” batin Boy.


“Ayo ...,” rengek Lentera lagi masih berusaha. Kedua tangannya berangsur membuka setiap kancing kemeja Boy.


“Tunggu kamu lebih mendingan, takutnya kamu makin sakit,” yakin Boy yang kemudian membingkai wajah Lentera. Ia tak mungkin menolak secara terang-terangan, apalagi jujur mengatakan siapa dirinya sekarang. Boy, masih butuh waktu untuk jujur, terlebih sakitnya kedua kaki Lentera bisa menjadi alasannya mengulur waktu. Sementara jika ia menolak secara terang-terangan, itu akan melukai harga diri Lentera.


“Aku beneran bisa,” rengek Lentera lagi yang memang mengharapkan malam pertama.

__ADS_1


Boy memang mengabsen wajah Lentera menggunakan ciu*man, tapi dalam hatinya, Boy berharap agar Allah memberi alasan untuknya menunda malam pertama mereka.


“Ayo, pelan-pelan. Soalnya besok-besok, takut keburu datang bulan. Jadwal mens-ku sudah dekat,” rengek Lentera lagi.


“Kalau bisa sih malah memang sedang datang bulan,” batin Boy masih balas menatap Lentera yang begitu memohon kepadanya.


Boy membiarkan Lentera melepas setiap kancing kemejanya. Seperti yang ia khawatirkan, menolak malam pertama yang Lentera lakukan sama saja melukai wanita yang sangat ia cintai. Apalagi Lentera juga berusaha memulai, menuntunnya untuk melakukannya.


“Kamu belum jadi istriku,” batin Boy terpaks*a melu*mat bibir Lentera. Keterpaksaan yang ia lakukan karena mereka belum menikah secara resmi, meski jika tidak memikirkan itu, Boy sangat ingin melakukannya.


Di tempat berbeda, di dalam mobilnya, ibu Chole duduk bersebelahan dengan sang suami. Layaknya sang suami yang baru saja ia rangkul dan juga tengah menatapnya dalam, ia juga bertasbih, memohon yang terbaik untuk anak-anaknya, juga mereka semua.


“Semoga niat baik anak-anakku dilancarkan,” batin ibu Chole. Ia berdoa khusus untuk Boy, agar bisa menjalani misi tanpa halangan berarti.


“Malam pertamanya besok saja yah, kalau kita sudah beneran resmi,” ucap Boy masih membingkai erat wajah Lentera.


“Hah? Sudah resmi gimana? Kita kan sudah ...,” lirih Lentera terheran-heran.


“Sebenarnya,” ucap Boy berusaha menjelaskan. “Aku enggak mungkin jujur sekarang. Aku juga enggak mungkin menolak terang-terangan,” batinnya lagi benar-benar gamang.

__ADS_1


__ADS_2