
“M—mah ....”
Brandon bermimpi, dalam mimpinya, ia kembali pada adegan ketika ibu Chole meninggalkannya. Tanpa tatapan hangat apalagi pelukan yang biasanya sudah menjadi kebiasaan mereka, wanita yang selalu memanjakannya itu meninggalkannya. Jujur, itu sangat melukainya meski saat kejadian, ia hanya diam dan memang berusaha menerima. Hanya saja, nyatanya itu malah menjadi mimpi bu*ruk dalam kehidupannya.
“Sesakit ini, aku seperti kehilangan sebagian nyawaku,” batin Brandon yang akhirnya terduduk. Layaknya di mimpi, ia juga sudah menangis bahkan tersedu-sedu.
Aini yang memang terusik dan turut bangun, segera melongok wajah suaminya. Ia mendapati keadaan sang suami, baik itu tangis maupun kesedihan mendalam.
“M—mas ...?”
“Namun aku juga lebih tidak bisa tanpa Aini, atau setidaknya membiarkan dia ada di antara kami di situasi sekarang yang memang tidak baik-baik saja,” batin Brandon sambil menatap dalam kedua mata Aini.
Brandon belum bersuara apalagi memberikan jawaban berarti, tapi Aini sudah mendekapnya hangat.
“Tadi Mas mengigau. Mas panggil-panggil mamah Mas. Mas mimpi bu*ruk, ya?” lembut Aini sesekali mengec*up pipi maupun kepala sang suami. Sampai detik ini, Brandon masih bertahan di dekapannya.
__ADS_1
“Iya ...,” jawab Brandon tanpa menjelaskan lebih rinci.
Aini paham, posisi Brandon sangat berat. Dihadapkan dengan pilihan antara mamah yang selama ini selalu memperlakukannya penuh cinta, atau istri yang sangat dicintai, bukanlah hal mudah. Bahkan meski Brandon berusaha adil, sampai kapan pun manusia biasa tidak bisa melakukannya. Terlebih level adil setiap orang berbeda-beda.
Mereka berpelukan terbilang lama. Namun, Brandon berangsur tiduran di pangkuan Aini. Kedua tangannya menggenggam kedua tangan Aini yang sesekali ia elus mesra.
“S—sayang ...,” lembut Brandon.
“Iya ...?” Aini mendapati tatapan sang suami justru kosong. Jelas suaminya masih sangat terluka. Luka tak berdarah yang justru selalu berkali lipat lebih menyiksa.
“Ayo kita punya anak ....” Sampai detik ini, Brandon belum menatap Aini. “Biar aku punya kesibukan baru. Setiap saat lihat kamu sama anak-anak, ... baru membayangkannya saja, aku sudah sangat bahagia,” lembut Brandon layaknya orang tak memiliki tenaga. Sebab seperti keyakinannya, sebagian nyawanya pergi bersama kepergian sang mamah.
Kini, Aini sudah langsung mengabsen wajah sang suami menggunakan kecu*pan. Termasuk leher maupun tangan sang suami juga menjadi bagian dari kesibukan bibirnya. Terakhir, kedua tangan Brandon mengakhiri genggaman tangan mereka, tapi tangan kokoh itu tak melepaskannya begitu saja. Sebab menggunakan kedua tangannya, Brandon dengan mudahnya membuatnya duduk di perut suaminya itu.
“Mas mau apa ... apa pun itu, aku pasti akan bantu, berusaha mengimbangi agar aku bisa mewujudkannya untuk Mas,” ucap Aini yang sudah langsung mengungkung tubuh Brandon. Sesekali, di tengah kedua matanya yang bertatap inten*s dengan kedua mata sang suami, ia juga akan menyelipkan anak rambutnya yang tergerai dan sebagiannya menimpa wajah Brandon, ke belakang telinganya.
__ADS_1
“Aku cuma mau kamu. Dan aku yakin, aku tidak akan pernah menyesali keputusanku,” lembut Brandon masih menatap inten*s kedua mata Aini.
“Kalau begitu, ... mulai sekarang, aku akan jadi yang terbaik. Aku akan jadi sumber kebahagiaan Mas. Apa pun ... aku akan melakukannya untuk Mas,” ucap Aini sambil tersenyum lembut dan membingkai wajah Brandon menggunakan kedua tangannya. “Termasuk membuat keluarga kita kembali bersama-sama, ... aku juga akan melakukan itu,” batin Aini yang mulai membisikkan kata-kata cinta di sela ciu*man lembut yang ia lakukan di bibir Brandon.
Diam-diam Aini juga berpikir, melalui anak-anak mereka, jalan mempersatukan mereka dengan keluarga Brandon akan terasa lebih mudah. Meski sisi lain dalam hatinya juga mengingatkan untuk tidak terlalu berharap agar luka-luka yang sudah ada, tak makin mengenaskan.
Di tempat berbeda, tak ubahnya Brandon, ibu Chole juga mimpi buru*k. Wanita itu tersedu-sedu karena memimpikan perpisahan sangat menyakitkan antara dirinya dan Brandon.
“Maaf Mas ... Mamah benar-benar minta maaf.” Ibu Chole tersedu-sedu. Jangankan pelukan hangat, sekadar tatapan saja, tidak ia lakukan. Kenyataan yang malah membuatnya sangat menyesal.
“Mamah kenapa?” tanya pak Helios yang memang turut terbangun. Layaknya Aini, ia juga berusaha menenangkan sang istri. Ia mendekap ibu Chole penuh cinta, tapi kenyataan tersebut malah membuat istrinya itu menangis meraung-raung.
“Rasanya sakit banget ...!” isak ibu Chole sambil merema*s dadanya. Padahal, ia sudah dipeluk erat oleh sang suami, tapi beban dan juga rasa sakit akibat penyesalannya, sama sekali tidak berkurang.
“Mas Brand ... maafin Mamah ya. Mamah salah. Maaf banget. Semuanya memang hanya soal waktu, tapi rasanya sesakit ini. Rasanya sangat menyiksa!” batin ibu Chole lagi.
__ADS_1
“Katakan kepadaku, ... apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang kamu rahasiakan dariku? Apa?” lirih pak Helios berangsur menatap saksama kedua mata sang istri. Kedua tangannya menahan kuat kedua lengan ibu Chole.
Ditodong begitu, segala kekacauan yang terjadi dalam hidupnya, mendadak memenuhi benak sekaligus ingatan ibu Chole. “Andai aku enggak cerita, aku bisa gi*la. Dan mas Helios sebagai papahnya anak-anakku pasti akan jauh lebih marah. Mas Helios pasti akan sangat kecewa kepadaku!” batinnya mendadak merasa gamang. Antara jujur dan kemarahan suaminya pasti akan memberinya solusi, atau berbohong tapi bisa membuatnya jatuh sakit sepanjang waktu bahkan parahnya, gil*a.