
“Tera ...?”
Panggilan lembut dari ibu Chole sudah langsung membuat Tera tegang. Ia bahkan refleks menjawab kemudian berakhir tersedak. Beruntung, Boy yang masih demam dan tentu saja ia yakini sebagai Brandon, dengan sigap memberi sekaligus membantunya minum.
“Maaf, ya, Mah ....” Tera tersenyum masam, merasa malu sekaligus tidak enak kepada kedua calon mertuanya.
“Enggak apa-apa, ... enggak apa-apa. Santai saja,” yakin ibu Chole masih lembut, tapi ia belum menyadari tengah diperhatikan dengan saksama oleh sang suami.
“Istriku kenapa? Ya ampun, kenapa aku berburu*k sangka. Lumrah kan kalau seorang mamah yang anak-anaknya akan menikah, kasih wejangan,” batin pak Helios berusaha menghabiskan salad di piringnya.
Menu sehat dari Tera yaitu salad dan jus, menjadi hidangan istimewa untuk pak Helios yang sadar dirinya tak lagi muda. Usia yang makin harus membuatnya makin menjaga pola hidup termasuk juga urusan makan.
“Kamu tahu, kalau selama ini, Boy suka ke kamu?” lanjut ibu Chole. “Bahkan gara-gara Boy juga, yang mengaku sekumpulan hadiah pemberiannya justru milik Brandon, perjodohan ini ada,” batin ibu Chole lagi yang sudah langsung ingat adegan yang ia maksud. Kejadian ketika dirinya tak sengaja memergoki Boy diam-diam mengangkut satu kotak besar berisi boneka beruang putih sangat cantik, satu paket cokelat bentuk hati warna pink, dan juga satu buket mawar putih yang tengah-tengahnya dihiasi sekuntum mawar merah.
Kala itu, ibu Chole dan ibu Elena yang baru pulang dari acara arisan, tak sengaja memergoki Boy mengendap-endap dan menaruh semua itu di depan pintu kamar Lentera.
“Sayang, kamu sedang apa?” tanya ibu Chole yang sudah langsung mengenali Boy karena dari cara berpakaian saja, Boy sudah beda dengan Brandon.
__ADS_1
Kala itu, Boy yang terkejut langsung tidak bisa menjawab. Boy hanya tersenyum tak berdosa, bahkan ketika ibu Elena menebak semua itu kiriman atau titipan dari Brandon. Sebab selama ini, yang Lentera suka memang Brandon. Terlebih sejak pulang dari pesantren, Lentera makin sibuk mendekati sekaligus menghibur Brandon. Karena sejak pulang dari pesantren juga, Brandon jadi makin murung, dan layaknya namanya, Lentera menjadi penerang kehidupan Brandon.
Fatalnya, saat itu Boy yang kepergok, hanya tersenyum sambil mengangguk-angguk saking bingungnya. Membuat sederet kado misterius untuk Lentera yang awalnya menjadi tanda tanya, akhirnya terjawab. Kesalahan fatal yang berakhir dengan perjodohan.
Kini, pak Helios sengaja berdeham guna mengakhiri ulah istrinya yang sudah langsung membuat Lentera maupun Boy tampak tidak nyaman. Setelah pak Helios dengan sengaja mengelus kepala ibu Chole penuh sayang, pak Helios juga sengaja menyuapi istrinya.
“Mamah kenapa, sih? Iya, aku salah. Masalahnya, pernikahan tinggal hitungan hari! Aku janji aku akan bertanggung jawab, Mah!” batin Boy sambil terus menatap khawatir sang mamah. Tatapan khawatir yang seketika teralih kepada Lentera.
Lentera meraih sebelah tangan Boy, menggenggamnya erat menggunakan kedua tangan. Malahan kemudian, Lentera sengaja membuat sela jemari mereka terisi oleh jemari satu sama lain.
“Ini memang sangat menyakitkan, Mah. Namun aku janji, aku akan terus maju. Aku akan tetap membahagiakan wanita pilihanku,” batin Boy memaksakan dirinya untuk tersenyum.
“Duh ... jadi enggak nap*su makan kalau gini caranya. Sedihnya deep banget. Enggak kuat, ... padahal aku cuma lihat, bukan yang menjalani,” batin Hyera yang mendadak butuh pelukan, agar kekhawatiran sekaligus luka-lukanya sedikit berkurang. “Pah ....” Ia tak segan merengek manja kepada sang papah, memohon pelukan.
“Kamu kenapa? Sakit juga?” Pak Helios buru-buru merengkuh kemudian memangku Hyera. Tubuh Hyera ia rasakan agak demam. “Kok pada sakit, sih? Besok pagi saja, kakak-kakak kalian datang. Aqwa sama Ara datang, Kak Lista juga buat acara nikahannya mas Brand dan mbak Tera. Mas Boy saja harus absen karena kuliahnya di luar negeri.” Pak Helios memijat-mijat lengan kemudian kepala Hyera.
“Hyera pasti merasa sangat tertekan karena kasusku dan mas Brand ...,” batin Boy merasa sangat bersalah.
__ADS_1
“Tera, ... ini sudah malam. Kamu nginep saja, ya. Nanti mamah kabari mamah kamu lewat WA, tapi kamu juga harus kabari mamah kamu. Kamu bawa sisa obat kamu yang harus diminum, kan? Kalau urusan pakaian ganti, gampang.” Ibu Chole masih bersikap sangat lembut. Kecolongan yang ia rasa atas kasus putra kembarnya, membuatnya berusaha menjadi mamah yang lebih baik lagi.
Kali ini Lentera sudah langsung tersenyum. Senyum lepas yang ia bagikan kepada semua orang di sana kecuali Hyera. Karena sampai detik ini, Hyera masih meringkuk dalam dekapan sekaligus pangkuan pak Helios. Hyera membenamkan wajahnya di dada pak Helios.
Malamnya, kedatangan ibu Chole ke kamar Brandon, sudah langsung mengusik Boy. Karena menjadi Brandon juga membuat Boy tidur di sana. Namun yang membuat Boy merasa sangat bersalah karena ibu Chole sudah langsung menangis ketika tatapan mereka bertemu.
Kemudian, ibu Chole menoleh ke sebelah, pintu kamar Boy. Kini, di sana ditempati oleh Lentera.
“M—mah ...,” lirih Boy.
“Jangan terus-menerus menyalahkan dirimu. Sudah telanjur, jadi apa pun yang terjadi ... majulah! Kamu harus bisa membahagiakannya. Pastikan dia akan selalu menjadi wanita paling bahagia karena memilikimu. Buat dia makin berharga karena menjadi bagian dari kamu!” lirih ibu Chole tersedu-sedu sambil membingkai wajah Boy menggunakan kedua tangannya. Kini, jemarinya yang di sana juga jadi sibuk menyeka air mata sang putra. Karena tak beda dengannya, Brandon juga jadi tersedu-sedu.
“Mah ....”
“Enggak apa-apa. Kamu harus tetap maju. Bahkan ketika nanti dia dan dunia tahu kemudian membalasmu dengan banyak luka. Jangan pernah melepaskannya, cukup buktikan keseriusan kamu!” yakin ibu Chole lagi. Sembari mengabsen wajah putranya menggunakan kecu*pan, ia berkata, “Maafkan Mamah karena sudah membiarkan ini semua terjadi. Mamah benar-benar meminta maaf, tapi Mamah yakin, semuanya hanya perkara waktu. Semuanya akan indah pada waktunya! Nanti, dan bila perlu secepatnya, ... kita pasti bisa bersama-sama.”
“Ini yang dinamakan, kasih sayang seorang ibu tidak ada batasnya,” batin Boy sudah langsung memeluk erat sang mamah. “I love you, Mah! Mamah enggak perlu meminta maaf karena sejauh ini, Mamah selalu kasih aku maupun anak-anak bahkan semua orang yang ada dalam hidup Mamah, yang terbaik!” ucapnya.
__ADS_1