Kisah Mistis

Kisah Mistis
Tersesat di Desa Alam Ghaib Kuningan-Cirebon#2


__ADS_3

......................


Tak lama itu bapa-bapa itu menepak pundak saya. dan berpesan.


"Ini daerah orang kalau mau apa-apa pamit izin dulu" ucap bapa-bapa berpakaian serba hitam itu, lalu pergi keluar warung.


Teg!...


Seketika kesadaran saya itu baru tersadar.


Saya langsung kaget. "Astaghfirullahaladzim!" Saya memandangi piring makanan yang sedang saya santap itu.


Ternyata itu saya sedang makan di piring, yang saya lihat itu bukan piring melainkan daun pisang. Yang tadinya saya memesan menu telur dadar, orek-orek tempe dan lengkap dengan sambel lalapan. Begitu sangat terkejut ketika saya lihat itu ternyata sebuah tetelan daging busuk, belatung, dan batu yang sudah di haluskan. Makanan saya tuh bukan makanan manusia pada umumnya.


"Wah udah nggak bener ini. Ini nggak bener saya ada di mana ini," Batin saya


Liat jam kok jam saya tiba-tiba mati, gak gerak-gerak jarum jamnya. Akhirnya saya menuju motor. Langsung tancap gas melanjutkan perjalanan. Saya jalan terus mengendarai sepeda motor saya, saya ikutin jalan setapak itu. Jalan ini kok makin masuk makin tambah sepi dimana nih, ngga ada rumah orang satu pun.


Terlihat kejauhan barulah. Terlihat ramai suasananya ada beberapa rumah warga didepan.


"Wah ini udah masuk permukiman warga" batin saya merasakan lega.


Saya berhenti tepat di permukiman warga. dan terlihat ada warga yang masih di luar rumahnya. Lalu saya menghampirinya untuk memastikan alamat rumah Deri.


"Pak punten saya tuh mau cari rumah Mas Deri" Ucap saya.


dengan tatapan dingin dan berwajah pucat bapa itu sempat memandangi ke arah Haris.


"Dari sini lurus aja mas, nanti belok ke kiri lewatin pohon bambu rumahnya ada di ujung" sahut bapa misterius itu.


Setelah mendengar kan penjelasan bapa misterius itu saya sempat berpikir. 'Perasaan setahu saya rumah si Deri itu bukan di ujung dan bukan permukiman seperti ini, atau mungkin dia pindah atau bagaimana saya juga gak paham, ya udahlah karena GPS mati karena sinyal tidak ada, mau menghubungi orangnya langsung juga tidak bisa.'


Setelah sempat berpikir sejenak lalu saya berpamitan kepada bapa itu.


"Oke, baik pak terimakasih infonya. Saya ijin melanjutkan perjalanan kembali."


Bapa-bapa itu tidak merespon dan hanya menunjukan wajah datar dan pucat seperti orang sakit, namun saya tidak mau.


memperpanjang kan hal seperti itu.


Saya kembali melanjutkan perjalanan dengan tenang karena sudah mendapatkan gambaran alamat Deri.


.


.


Sampailah di patokan pohon bambu. Saya tinggal ngambil jalan ke kiri. Rumah paling pojok.

__ADS_1


Lalu saya ambil jalan kiri masuk ke jalan setapak.


Ya Allah kok ini bisa kaya gini, wah pikiran saya udah nggak karuan. Ini dimana tempat apa saya nggak tahu walaupun saya orang Cirebon tapi saya belum pernah ke sini. Sampai disitu udahlah lilahita'ala aja. Jalan lagi saya sambari menenangkan kondisi saya yang saat ini sedang takut sekali.


Maju-maju nah akhirnya terlihat memang betul ada sebuah rumah mewah. Berhenti saya di depan pagar rumah itu. Saya mencoba mencari bel namun tidak ketemu.


"Ini rumah mewah, gede kok nggak ada belinya" batin saya.


Saya mengecek hape saya siapa tau sinyal sudah ada, namun ternyata masih belum mendapatkan sinyal. Saya tengok jam di pergelangan tangan saya dan di hape kok jam segini-gini aja nggak berubah.


Lalu saya duduk depan pager itu. Sembari menengok kiri-kanan. Nggak ada orang sama sekali. Saya ketok-ketok pagarnya.


Sama sekali tidak ada jawaban dari dalam rumah. Lalu saya mengetok kedua kalinya. Barulah terlihat ada orang keluar dari rumah mewah itu, yang penampilannya seperti ART. lalu ia membuka pager sambari menanyakan ke saya.


"Ada apa ya mas?, Mas nyari siapa?" tanya bibi itu.


"Oh. Iya mbak. Saya mencari Mas Deri, saya mau servis motornya Mas Deri saya mau bawa motornya dulu saya servis ke tempat bengkel saya."


"Oh ... Iya motornya itu ada di dalam, tapi Mas Derinya lagi keluar. Lagi nyari makan di warung depan." jawab bibi itu sambari menunjukan ke arah motor Mas Deri.


Perasaan gak enak dan gak karuan. Namun akhirnya saya langsung masuk ke dalam. Memang betul yang saya lihat wujud motornya ada disitu didekat teras. Kelihatannya juga bekas motor kecelakaan yang ringsek.


Pikir saya ini motor saya pretelin dulu asal hidup bisa di pake. lalu saya bawa ke bengkel saya. Dan motor yang saya pake saat ini saya tinggalkan di rumah Mas Deri, siapa tau dia juga mau berpergian memakai motor. Karena motornya sedang saya perbaiki.


Saya utik-urik motor Mas Deri, akhirnya hidup. Lalu saya coba jalanin dulu seputaran daerah rumah Mas Deri.


Saya coba muter-muter di daerah itu. Posisinya komplek perumahan dekat perkampungan warga juga.


Kok rumahnya nggak ketemu-ketemu dengan rumahnya. Padahal saya sudah berada di patokan jalan pertama kali masuk di dekat pohon bambu dan belok kiri.


Namun kok malah balik lagi ke jalan awal.


...Tersesat dan ingin pulang...


Akhirnya saya jalan lagi, Muter lagi ke awal. Jalan lagi, dibalikin ke awal.


Sangking capeknya saya parkiran motor lalu saya duduk di samping motor itu.


Terlihat ada seorang menghampiri saya. Wujudnya itu seperti orang Arab hidungnya mancung. Setelah menghampiri saya lalu ia berkata.


"Mas jangan duduk di sini, ini tempat saya. Duduk di sana aja" sambil telunjuknya mengarahkan ke tempat lain.


"Ya udah, pak maaf" sambil saya beranjak ke tempat duduk lain dan pindah.


Lalu saya duduk di sebelahnya. Ada lagi orang datang dengan wajah yang hampir mirip dengan bapak-bapa tadi menyuruh saya pindah dari tempatnya. Dan anehnya juga ia mengatakan hal yang serupa.


Saya akhirnya pindah lagi di dekat pohon randu(Kapuk) Besar dan akhirnya saya memilih duduk di sana sambil merenung kecapean.

__ADS_1


"Astaghfirullahaladzim, Ini cobaan kok kaya gini amat ya. Udah kerasa cape banget, udah pusing, pegal, pengen pulang. Ini nyariin rumah Deri nggak ketemu-ketemu." Batin saya.


Posisi saya duduk sambari menyenderkan punggung ke pohon kapuk tanpa disadari saya tak kuasa menahan kantuk dan tertidur.


Belum lama terlelap akhirnya ada orang yang membangunkan saya.


"Bangun kamu, jangan tidur di sini!. Cepat bangun, cepat jalan. Jangan lupa juga baca Istighfar." serunya.


Lalu saya terbangun. Dan saya liat yang membangunkan saya itu ternyata bapak-bapak yang ada di warung, dia sempat menyadarkan saya ketika sedang menyantap makanan di warung tadi. bapak-bapak itu dengan berawalan besar memakai pakaian serba hitam, jubah hitam dan sorban hitam.


Di situ saya mulai merasakan kejanggalan. Ketika saya melihat ke arah motor yang saya pakai itu seharusnya motor Deri yang saya pakai saat ini, namun ternyata. Itu adalah motor saya sendiri.


"Loh, kok motor saya?, tadi kan saya pakai motor Deri, dan motor saya masih di rumah Deri." Batin saya.


Lalu saya menghadap lagi dimana posisi bapak itu berada tadi. Namun dengan kagetnya bapak itu tiba-tiba menghilang seketika.


Saya heran. Aneh. Karena takut tak berpikir panjang saya langsung naik motor dan tancap gas. Sambari ber istighfar di jalan.


Ketika mengendarai sudah lumayan jauh. ternyata balik lagi ke dekat pohon kapuk besar itu. Dimana tempat saya tertidur tadi.


"Ini ada apa sebenarnya saya tuh ya Allah, kenapa kok kaya gini. Saya tuh niat mau menolong orang. Tapi kok bisa kaya gini. Wah ini ada yang gak beres" batin saya berbicara seperti itu.


Saya di sesatin seperti ini. Seperti dikerjain sama Oyod Mimang (Kepercayaan orang Cirebon pada malam Jum'at Kliwon).


Saya beristirahat sejenak. Saya baca Istighfar dan baca ayat kursi. Lalu saya ingat di jok motor itu ada botol mineral lalu saya akhirnya mengambilnya karena haus juga


Selesai minum saya melihat di pohon kapuk besar itu. Saya melihat ke atas ada sosok bermata merah yang sedang menatap ke saya.


Di situ saya langsung bergegas pergi. Di perjalanan tak lepas sambil ber istighfar.


Ternyata memang benar waktu itu saya di sasarin oleh maps. Jadi awalnya muasalnya seharusnya saya lurus, ini saya malah belok ke kiri.


Alhamdulillah setelah hampir berhasil keluar. dan tinggal menuju pertigaan mau ke arah kota Cirebon itu saya melihat jam 03.00pagi. Namun ketika saya berada di hampir keluar di jalur itu. Tiba-tiba saya merasakan tarikan motor saya tuh terasa berat sekali. Tambah lama, tambah berat.


Seolah-olah saya seperti sedang membonceng seseorang berbobot gemuk. Lalu terdengar bisikan dari belakang.


"Nanti didepan arah ke Cirebon, kamu ambil ke arah kanan. Di depan lurus aja, nanti dipertigaan ada kali, turun kan saya di sana. Kamu tinggal lurus saja melanjutkan perjalanan."


Bisikan itu terasa pelan namun berada suaranya, dengan menggunakan bahasa Cirebon halus. Dan dengan penuh kesadaran saya mengikuti bisikan itu.


.


.


.


Sesampai di kali dengan penuh kesadaran. Saya berhenti sejenak. terasa sekali motor serasa bergerak seperti ada yang turun dari tumpangan.

__ADS_1


"Terimakasih ya!" terdengar suara itu tapi tidak memiliki wujud.


......................


__ADS_2