
Kini saya memegang kendali handphone yang sedang menyiarkan siaran langsung. HT saya ambil, lalu saya kaitkan di pinggang. Lalu stabilizer sudah saya genggam dan langsung terjun ke lokasi kuburan cina.
Sepanjang perjalanan sembari menuju kuburan, saya sangat berhati-hati ketika melangkah waspada takut ada yang terinjak khususnya binatang buas, seperti kalajengking, ulat bulu, atau yang lebih mengerikan yaitu ular. Walaupun area kuburan terlihat elit namun semak belukar yang panjang masih sangat terlihat di berbagai sudut maupun di area jalan setapak. menggunakan kamera depan lalu saya berinteraksi dengan penonton di room, saya sapa dan memperkenalkan diri.
Sudah sampai di area kuburan cina, melanjutkan langkah kaki saya sekitar 7 meter terlihat di samping kanan ada pohon sirsak tidak terlalu tinggi namun daunnya sedikit rimbun, saya merasakan kejanggalan.
Dengan penuh sadar saya memperhatikan pohon sirsak itu menggunakan senter dan ternyata benar. Terlihat oleh kedua mata saya dari segi jenisnya itu ular piton sedang melilit di atas batang pohon sirsak yang berukuran sangat besar, saya memundurkan langkah saya untuk menjaga jarak saya dengan ular itu.
Saya pencet tombol HT lalu berkomunikasi dengan para team.
"Cuy-cuy... ada ular piton besar njir.. sebesar bantal guling badannya, melingkar di batang pohon sirsak!. Keliatan nya panjang ukurannya.. badannya aja sebesar bantal guling, ini yg terlihat setengah badanya aja kepalanya ada di atas pohon."
Tak lama itu team membalas kan komunikasi.
"Eleg sia, Kade ah hati-hati Ki. sok sorot weh ku senter terus arah keun kamera ka oray na(waduh gimana kamu, hati-hati aja. Silahkan arahin menggunakan senter untuk pencahayaan dan jangan lupa kamera on kearah ular itu) ." sahut team (menggunakan bahasa Sunda)terdengar melalui HT.
Lalu live yang masih posisi kamera depan saya rubah menggunakan kamera belakang. Saya sorot senter ke arah pohon sirsak dan kamera on ke arah pohon itu.
Saya syok ketika ular itu menunjukan kepalanya lalu ia menatap ke arah tepat dimana saya berdiri, ternyata kepala ular itu berbentuk hampir menyerupai kepala tikus namun badan besar nya itu nampak seperti ular piton. Yang lebih terkejut lagi ketika saya melihat ke arah layar handphone yang sedang menyiarkan secara langsung itu, tidak terlihat sama sekali wujud ular besar itu.
Lalu saya menjelaskan apa yang saya liat dan apa yang di tangkap oleh kamera hp kepada team menggunakan HT.
__ADS_1
Team menyampaikan kepada saya, untuk tidak melanjutkan live agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Namun saya menolak untuk mundur, saya meyakin kan diri sendiri untuk terus melanjutkan live malam ini dan meyakin kan juga kepada team.
Dengan hati-hati saya melewati pohon sirsak itu sambil memasang badan takutnya mahkluk jelmaan ular itu tiba² menyerang.
Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa..
Ular itu hanya melihat saja tanpa ada gerakan sama sekali, ku susuri lagi jalan setapak di kuburan cina ini hawa negatif mulai terasa, dada terasa sesak. Bahu dan tengku mulai berat.
Melawan rasa takut saya mencoba untuk berinteraksi dengan para penonton yang dilobby saya sapa. Seketika bau aneh semeliwir di area penciuman, seperti bau di pasar area toko daging. Namun baunya tidak karuan lebih ke aneh bau amis darah yang betul-betul mengganggu perut.
Kamera Handphone yang sedang menyiarkan siaran langsung mengarah kedepan, seketika seperti ada sekelebat berwarna hitam, 3 orang yang berlalu-lalang, melewat dengan cepat. Penonton pun menanggapi kejadian itu.
Namun saya hanya berfokus ke satu arah kuburan yang megah dan terlihat mewah seperti rumah tanpa tembok. Ketika saya memperhatikan dengan seksama di bantu oleh pencahayaan senter dan handphone live sedang on ke arah tersebut.
Kaget setengah mati, terlihat seperti bantal yang miring 95°. Ternyata pocong... wajah terlihat jelas pucat namun warna kulitnya seperti hitam gosong, mata dan hidungnya itu tidak ada terlihat seperti tengkorak.
Disana saya takut setengah mati ketika sudah berhadapan dengan pocong.
Team pun langsung menanyakan kondisi saya, saya pun menyampaikan butuh bantuan langsung terjun ke lokasi, setelah berkomunikasi melalui HT. Team pemantau langsung bergegas menjemput ke lokasi saya berada.
Dengan penuh was-was saya tengok lagi ke kuburan megah itu sudah tidak ada pocong. saya berputar-putar melihat sekeliling sudah aman, sedikit lega.
__ADS_1
Penonton banyak yang bertanya-tanya di komentar, dan ada yang menyarankan untuk menggunakan kamera depan saja.
Ketika saya mengalihkan dari kamera depan menjadi kamera belakang, sosok pocong itu sedang mengintip di balik pohon besar. Warna matanya merah berkilau seperti mata kucing. Di sana saya membaca ayat-ayat pendek beristigfar seingat saya dikala itu.
Bukan nya pergi saya melihat dari layar handphone sosok pocong itu, malah ia seperti menggerakkan kepalanya ke kiri-kanan. Dipikir dengan logika seluruh badan terikat namun ia bisa mengintip dengan posisi 45° dari permukaan tanah tanpa terjatuh.
Ketika saya memberanikan diri untuk menoleh ke arah sosok pocong itu, dia dengan cepat menghilang, namun yang menonton di layar handphone begitu jelas melihat sosok itu menghilang.
Saya mencoba menenangkan diri sambil duduk di tengah jalan setapak itu sambil menunggu team untuk menjemput. Selang tiga menit team penjemput datang dan menanyakan kondisi saya sekarang, ketika sudah okay saya beserta team penjemput lalu bergegas ke tempat team berada.
Kini kami bertiga menyusuri jalan menuju tempat team yang lainnya berada, di tengah perjalanan di area pohon sirsak tadi tercium seperti bau bunga Kamboja dan bau kemenyan bercampur aduk di hidung kami. tiba-tiba kabut muncul di setiap sudut kanan kiri di area kuburan. kabut itu tidak begitu tebal namun terlihat mengganggu pandangan jauh.
***
Sampailah kami di tempat lokasi team berada, saya meminta untuk mengambil alih stabilizer yang masih saya genggam. Bang Fauzi meraihnya tanpa menghiraukan para penonton di lobby room bang Fauzi pun mengajak mereka ngobrol-ngobrol.
Kini energi saya terkuras habis gara-gara ketemu sosok pocong tadi. Para team menghampiri saya memberikan sebotol air mineral dan mencoba menenangkan saya.
Waktu kali ini menunjukan sudah pukul jam sebelas malam, keadaan sepi suasana sunyi terdengar dari tempat kediaman team ada suara seperti gadis mengoceh-mengoceh setengah berbisik namun suaranya terdengar dengan di akhiri ketawa khas kuntilanak.
Kami yang sedang berkumpul saling beradu tatapan satu-sama lain.
__ADS_1