Kisah Mistis

Kisah Mistis
Kisah Melamar Nurjanah#2


__ADS_3

 


...Jangan Baca Kisah Mistis Ini Sendirian!!...


 


“Di bawa ke depan masjid yuk. Kata tukang parkir di sana ada tukang tambal ban. Barangkali bisa betulin motor kamu.” Kata Raga.


Gadis itu mengiyakan. Motor dituntun Raga dibawa ke tukang tambal ban depan masjid. Gadis itu mengikuti dari belakang. Sambil menunggu motor jadi keduanya duduk di bangku beton yang ada di dekat tukang tambal ban, di bawah pohon flamboyan.


“Maaf ya mas sudah merepotkan! O ya mas nama saya Nurjanah” kata gadis itu sambil mengulurkan tangan.


Raga menyambut uluran tangan itu.“nama saya Raga!. Senang berkenalan dengan mu.”


Dan malam pun mulai beranjak larut. Mesin motor sudah bisa dihidupkan. Raga tersenyum mengingat peristiwa itu. Dari pertemuan yang tidak disangka oleh Raga berlanjut saling kontak lewat hp dan facebook, disamping ketemu darat. Dan bahkan keduanya sudah sepakat untuk melanjutkan kejenjang pertunangan.


*

__ADS_1


*


*


“Tok tok tok tok tok!” Raga tergagap. Pintu kamar diketok dari luar.


“Raga udah siang!” Terdengar suara ibunya dari balik pintu kamar. Bergegas Raga bangkit dari tempat tidur. Membuka pintu kamar menuju kamar mandi.


Menjelang maghrib, sepeda motor matic warna merah keluar dari pintu gerbang rumah tua diujung desa. Hari mulai gelap. Gerimis pun perlahan turun. Lampu-lampu jalan dan teras rumah penduduk mulai dinyalakan. Beberapa orang nampak berjalan menuju masjid yang ada di dekat rumah tua itu. Dengan agak terburu-buru Nurjanah melarikan motornya menerobos gerimis yang mulai membasahi jalan desa. Bau wangi yang ditinggalkan menyentak hidung Pak Hasan yang sedang berjalan menuju masjid bersama istrinya.


“Jam segini Nurjanah sudah keluar nih Bu……….” Kata Pak Hasan pada Isterinya. “Kok Bapak tahu?” “Apa Ibu nggak mencium sesuatu?” Kata Pak Hasan balik bertanya. “Iya sih……….” “Ini bau wangi khas Nurjanah………… harum tapi mengandung mistis……..” “Ah Bapak…………… bikin takut aja……….” Kata isterinya sambil meraih lengan tangan kiri Pak Hasan yang memegang payung. Adzan maghrib sudah terdengar dari toa masjid. Malam mulai merangkak pelan.


Tidak begitu lama, sepasang mahasiswa masuk. Keduanya berjalan nampak mesra. Tangan kanan si cewek memeluk pinggang cowoknya. Sedang tangan kiri si cowok merangkul pundak si cewek. Sambil berjalan menuju bangku belakang sesekali kecupan kecil si cowok mendarat di pipi si cewek. Mereka mengambil tempat duduk di pojok belakang. Melihat tingkah mereka dari pojok seberang, Nurjanah senyum-senyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Ah…………… bau apa ini…………?” Tiba-tiba si cewek nyeletuk. Dipandanginya seluruh ruangan. Sepi. “Bau apa sih………?” Tanya si cowok sambil menggerak-gerakkan ujung hidungnya. “Kayak bau…………..”


Cewek itu tidak malanjutkan ucapannya karena dilihatnya ada beberapa mahasiswa yang masuk ruangan. Bulu kuduknya berdiri. Merindnig……..! Kursi-kursi kosong di ruang kuliah itu mulai terisi. Mahasiswa yang masuk belakangan mengambil tempat duduk persis di samping Nurjanah. Beberapa kursi depan dan samping mereka tampak kosong.

__ADS_1


“Hai…………” Sapa mahasiswa itu pada Nurjanah agak berbisik. “Hai juga…………” Jawab Nurjanah. “Kok di belakang?” Tanya mahasiswa itu kemudian. “Pingin aja……” Jawab Nurjanah sekenanya. “Bagaimana kabar Pak Hasan? Masih jadi juru kunci makam?” Mahasiswa itu menanyakan kabar familinya yang sekampung dengan Nurjanah. “Masih…………. Beliau itu orangnya sregep lho………….. tlaten………” Jawab Nurjanah memuji Pak Hasan juru kunci makam di desanya. “Kapan-kapan aku mau ke rumah Pak De, sekalian mampir ke rumahmu ya? Boleh kan……?”


Nurjanah menggangguk. “Lama aku nggak sowan beliau…….” Kata mahasiswa itu melanjutkan. Lelaki separoh baya dengan kacamata tebal masuk ruangan langsung enuju meja yang ada di depan kursi-kursi mahasiswa. Sebelum memberikan mata kuliah ekonomi makro, dipandanginya mahasiswa yang ada di hadapanya. Tiba-tiba dadanya berdetak ketika pandangannya tertuju pada Nurjanah. Sejenak dosen itu menghela nafas. “Astaghfirullah…………” Gumam sang dosen.


Sambil memberikan mata kuliah sekali kali pandangan mata dosen itu melirik Nurjanah. Ada rasa tak percaya dalam hatinya. Apakah betul yang dilihatnya malam ini? Selama menjadi dosen baru kali ini ia melihat sosok mahasiswanya yang begitu lain. Betulkah ia seorang mahasiswa? Rasa takut bercampur heran dipendamnya.


Selesai memberikan mata kuliah sang dosen sengaja tidak langsung meninggalkan ruangan. Sambil solah-olah mengemasi buku-bukunya ia amati satu persatu mahasiswa yang keluar ruangan. Keluar paling akhir mahasiswa yang tadi duduk disamping Nurjanah. Tapi di mana mahasiswa yang satu itu? Di luar hujan mulai turun. Dingin menembus kulit. Dan bau bunga melati mengisi ruang kuliah.


Jarum jam di dinding ruang tamu sudah menunjuk angka sembilan. Gerimis yang turun sejak tadi pagi belum juga reda. Dari ruang tamu, di dekat jendela, Raga menatap jalan yang membetang di depan rumahnya. Jalan yang setiap hujan sedikit saja selalu tergenang air. Seperti pagi ini. Hujan yang turun selama sekitar satu jam kemaren sore meninggalkan genangan air di sepanjang jalan depan rumahnya. Termasuk jalan di wilayah rt tetangga. Yang lebih parah, bagi rumah-rumah yang ketinggian lantainya sama atau lebih rendah dengan jalan, rumah itu pasti akan kemasukan air. Dan air itu baru akan surut setelah satu minggu. Sedang musim hujan belum pasti kapan akan berhenti.


Situasi seperti ini sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu. Berbagai upaya dari warga untuk mengatasi masalah itu sudah banyak dilakukan. Dari membersihkan saluran, membuat sodetan sampai meninggikan/mengurug jalan dengan biaya swadaya. Semua sudah ditempuh. Bahkan yang terakhir melalui kepala desa warga sudah mengajukan bantuan perbaikan saluran kepada pemerintah kabupaten, tapi sampai sekarang belum ada kabar beritanya. Banjir masih setia menemani warga di lingkungan rumah Raga.


Raga menghela nafas. “Kapan ya lingkungan ini akan bebas dari banjir………..?”Gumamnya. “Besok kalau kamu jadi bupati………….” Tiba-tiba ibunya yang sudah beberapa lama berada di belakang Raga nyeletuk. “Ah Ibu………….. bikin kaget aja………….” Sahut Raga sedikit terkejut. “Habis kamu sih…….. pagi-pagi sudah ngelamun……….” Timpal ibunya sambil duduk di kursi tamu. Raga mengikuti duduk di hadapan Ibunya. “O ya………. bagaimana kabar hubunganmu dengan si Nur………”


Tanya ibu Raga sambil sesekali tangan kananya menggosok-gogokkan tembakau susur ke giginya. Perempuan yang bertubuh kecil itu memang gemar “nginang”. Hingga meskipun usianya sudah hampir tujuh puluh lima tahun giginya masih kelihatan kokoh. “Ya……….. masih lancar…………” Jawab Raga biasa-biasa saja. “Maksud Ibu………. apakah kamu serius dengan si Nur…………?” Raga tidak segera menjawab. Ditatapnya wajah ibunya lekat-lekat. “Kasihan Ibu………. diusianya yang sudah uzur beliau belum bisa menimang cucu dari anaknya sendiri” kata hati Raga. “Kalau kamu memang sudah cocok dengan si Nur mbok ya sekali-kali anak itu diajak kemari.” Lanjut Ibunya. Raga masih diam.


Memang, sejak bertemu dengan Nurjanah, sampai dapat dibialang sudah menjadi pacarnya, sama sekali Raga belum pernah mengajak Nurjanah ke rumahnya. Apalagi memperkenalkan gadis pujaannya itu kepada orang tuanya. Bukan karena Raga tidak serius menjalin hubungan dengan Nurjanah. Raga sedikit masih trauma dengan masa lalunya. Tapi sebenarnya ia sudah pernah ngomong-ngomong soal keseriusan hubungannya dengan Nurjanah. Dan Nurjanah tidak keberatan. Hanya saja hal ini belum Raga ceritakan kepada ibunya.

__ADS_1


“Apa kamu masih trauma dengan masa lalu………….?” Tanya ibunya lebih lanjut, seolah mengerti apa yang Raga pikirkan. “Anggap saja itu cobaan. Gusti Allah sedang memilihkan jodoh buatmu yang lebih baik.” Lanjut ibunya. “Bulan depan usiamu sudah kepala tiga lho……………. Jangan sampai nanti kalau anak-anakmu masih butuh perhatian kamu sudah uzur……….. Dan lagi Ibu kan sudah pingin nimang cucu……….” Kata Ayahnya yang tiba-tiba muncul dan nimbrung pembicaraan ibunya. “Iya………… yang pingin nimang cucu cuma ibu, ayah tidak……” Jawab ibunya yang disambut tawa.


Di luar gerimis sudah agak reda tapi mendung masih menutup langit. Dan pembicaraan keluarga kecil itu masih berlanjut sampai adzan dhuhur berkumandang.


__ADS_2