
......................
Kakek tersebut berada jauh dari motor mereka, posisinya di sebelah kanan jalan & berjalan membelakangi Sarah dan Gerald.
Semakin lama semakin mendekat, hingga di pertigaan SMA, kakek itu mengambil jalan ke kanan, persis seperti yang akan mereka lakukan.
Setelah kakek itu belok kanan, dalam hitungan dua detik mereka pun mengambil jalan yang sama dengan si kakek.
Tapi saat motor berbelok, tidak ada siapa-siapa di sana.
Jalanan sepi, tidak ada satu orang pun pejalan kaki. Sontak Sarah terkesiap otomatis mencari si kakek.
Jalan komplek itu lurus tanpa ada belokan lain atau pun gang.
Tidak mungkin kakek itu bersembunyi.
Gerald menyadari keganjilan gerak gerik ku.
“Kunaon, Nong?” (Kenapa, Nong?) Tanya Gerald.
“Tadi aya aki2 belok didieu saeuncan urang belok! Naha euweuh?” ucapnya.
(Tadi ada kakek2 belok disini sebelum kita belok. Kenapa ga ada?) tanya Sarah panik.
“Tong ngalamunlah! Euweuh sasaha titatadi ge!” (Jangan ngelamun! Ga ada siapa2 dari tadi juga!” Seru Gerald.
Karena sudah mengalami kejadian aneh hari ini, Sarah mulai terbiasa.
Akhirnya ia mencoba membicarakan banyak hal dengan Gerald untuk menepis rasa takut sepanjang perjalanan.
__ADS_1
Jalan menuju Lembang saat itu masih banyak berupa pohon-pohon lebat di kanan kiri jalan.
Saat itu, tepat di tanjakan sebelum Kafe yang akan mereka datangi, Sarah melihat seekor kucing hitam melintas di tengah jalan dekat sekali dengan lintasan mereka.
Tetapi Gerald sama sekali tidak memperlambat kecepatan motor. Reflek Sarah menepuk pundak Gerald sambil berteriak..
“Rald!! Ucing!! Launan!!”(Rald!! kucing!! Pelanin!!) Teriak Sarah sedikit tertahan sambil menunjuk-nunjuk kucing tersebut.
Tanpa babibu Gerald malah tancap gas membuat Sarah sedikit terjengkang.
“Cicing siah, Nong!! Euweuh nanaon!”(Diem kamu, Nong!! Ga ada apa2) Balas Gerald sewot.
Sarah kemudian bengong dan berbalik kebelakang melihat ke arah kucing tersebut duduk dan memang tidak ada apa-apa disana.
Kosong, dan ia pun shock karena jelas-jelas kucing hitam tadi bukan halusinasi.
Lanjut, mereka pun akhirnya sampai di Kafe.
Sarah memesan teh manis panas, sedangkan Gerald memesan kopi.
Sebenarnya, saat itu Sarah masih gelisah karena kejadian terakhir.
Tapi, mereka sudah sepakat tak mau membahas dan berusaha mencari topik obrolan lain.
Sarah pun lupa karena larut dalam suasana malam yang dingin.
Langit cerah berbintang ditemani minuman hangat rasanya nikmat sekali.
Tak terasa waktu imsak datang, tanda mereka harus segera pulang agar bisa menunaikan salat subuh.
__ADS_1
Kami meminta bill, saat waitress datang menyerahkan bill, dia bertanya.
“A, Teh, bade uih ayeuna leres?” (A, Teh, mau pulang sekarang ya?) tanyanya.
“Iya A” Jawab Sarah dan Gerald berbarengan.
“Hemmm, yakin?” Sahutnya menyelidik.
“Iya A biar keburu salat subuh” Gerald membalas.
“Sok atuh, hati-hati nya dijalan” Ujarnya.
“Iya A nuhunnya” (iya A makasih ya) Sahut Sarah.
Mereka berjalan menuju kasir dan terjadi lagi percakapan yang serupa, kasir tersebut meminta Sarah dan Gerald untuk berhati-hati.
Tanpa curiga, mereka pun membayar dan pergi ke parkiran.
Tukang parkir menghampiri mereka. Dan tebak? Percakapan yang sama terulang lagi.
Berujung tukang parkir tersebut meminta mereka untuk berhati-hati.
Seketika Sarah dan Gerald pun saling pandang, paham akan perasaan tidak enak yang sekarang mereka rasakan.
Dan ternyata.. beberapa kejadian yang Sarah alami sebelum berangkat hanya ‘intro’.
Kalau saja ia tidak cuek dan lebih memperhatikan tanda-tanda.
Kalau saja Sarah tidak memaksakan pergi setelah mengalami dua kejadian pertama. Sarah dan Gerald tidak akan mengalami kejadian ini.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...