Kisah Mistis

Kisah Mistis
Kisah Melamar Nurjanah


__ADS_3

 


...Jangan Baca Kisah Mistis Ini Sendirian!!...


 


...Awal Cerita Kisah Melamar Nurjanah...


Di luar Mall gerimis mulai turun. Di dalam, Raga ( bukan nama sebenarnya) agak gelisah. Sesekali ia melihat jam yang melilit pergelangan tangannya. “Jam 20.30 menit…………. sebentar lagi mall akan tutup…..” gumamnya. Di hadapannya seorang gadis sedang asyik melihat-lihat pakaian yang terpajang. Suasana mall sudah agak sepi. Satu persatu pengunjung mulai keluar.


Raga menarik nafas pelan. Dipandangnya gadis yang sedang asyik membolak-balik pakaian. Ini untuk kali ketiga Raga mengajak jalan-jalan sang pujaan sejak mereka berkenalan. Meskipun sudah hampir tiga bulan berkenalan Raga merasa belum percaya kalau ia bisa bertemu dan berkenalan dengan gadis yang dihadapannya itu. Rasa ketidak percayaan itu muncul karena selama ini Raga hampir putus asa soal wanita.

__ADS_1


Diusianya yang hampir kepala tiga, sudah dua kali ia mengalami kegagalan cinta yang serius. Bukan karena wajah yang kurang tampan atau ekonomi yang tidak mapan. Kegagalan demi kegagalan cinta Raga ia alami karena “musibah”. Dan kedua-duanya itu terjadi saat menjelang pertunangan.


Terbayang dalam benak Raga bagaimana ia menjalin cinta pertama dengan teman sekelasnya. Cinta anak SMA yang penuh warna bunga. Saling sayang tanpa dicampuri gejolak nafsu. Yang ada hanya rindu untuk selalu bertemu. Dan bunga-bunga cinta yang mekar itu terus bersemi sampai keduanya tamat dari SMA. Namun impian mereka untuk hidup bersama betul-betul hanya impian. Bahtera cinta kandas tertumbuk karang.


Ya, kegagalan cinta pertamanya ia alami dua tahun setelah lulus sekolah. Waktu itu Raga sudah menentukan hari pertunangannya dengan gadis yang menjadi pacarnya sejak kelas 2 SMA. Tapi malang tak dapat ditolak. Hanya gara-gara Raga tidak kuliah dan hanya karena penerus usaha orang tuanya sebagai petani gurem, cinta keduanya kandas ditengah lautan. Tertumbuk batu karang orang tua sang gadis yang notabene sebagai “saudagar”.


Sejak kegagalan cinta pertamanya, Raga fokus membantu usaha orang tuanya. Waktunya betul-betul disibukkan untuk menekuni perjalanan usaha orang tuanya antara sawah dan rice mill. Ia tak tega melihat kondisi orang tuanya yang sudah mulai uzur harus bolak balik ke sawah dan rice mill. Dan ini berjalan hampir tiga tahun. Andai saja anak pemilik rice mill itu tidak mengejar-ngejar cinta Raga mungkin ia tidak akan mengalami putus cinta yang kedua kalinya.


Kegagalan cinta yang tragis. Gadis anak pemilik rice mill itu meninggal setelah kecelakaan. Mengalami gagar otak dan pergi untuk selama-lamanya. Cinta sudah terkubur. Barangkali itulah perjalanan cinta yang harus ia alami. “Mas……… sudah mau tutup…….” tiba-tiba security sudah berdiri di hadapannya. Raga tergagap. Segera ia menarik lengan gadis itu, keluar dari mall. Di luar malam semakin larut. Dingin menggigit kulit dan gerimis masih terus menetes. Sesekali harum melati melintas di hidung Raga.


Meskipun tidak begitu terang karena terhalang gorden yang transparan, cahaya lampu ruang tamu yang sedikit redup dapat menembus jendela kaca yang ada di kanan kiri pintu utama. Lampu taman yang berada di sudut kanan rumah menyorot ke arah hamparan rumput taman dan jajaran tanaman hias sejenis pinang.

__ADS_1


Di sisi kiri rumah tampak lorong yang menuju halaman belakang, agak gelap. Di pojok halaman belakang, persis dibawah sinar lampu, meskipun samar, terlihat mainan sejenis ayunan yang terbuat dari kayu. Agak ke kanan pohon kamboja bali berdiri kokoh. Tidak jauh dari rumah itu yang dibatasi beberapa petak sawah terdapat makam umum milik desa.


“Mampir dulu mas…………” Pinta gadis itu kepada Raga sebelum ia membuka pintu gerbang. “Lain kali aja……………. udah malam. Gak enak sama tetangga.” Jawab Raga sambil membukakan pintu gerbang yang terbuat dari besi. “Ya udah…………….. hati-hati di jalan ya……….?! Raga mengangguk. “Kamu juga hati-hati……….. rumah sepi.” Ucap Raga sambil menutup kembali pintu gerbang.


Gadis itu berlalu meninggalkan Raga yang berdiri di luar pintu gerbang. Sesekali ia menoleh ke arah Raga. Raga melambaikan tangan. Harum bunga melati kembali melintas di hidungnya. Malam terasa sunyi. Dari kejauhan terdengar lolong serigala. Bulu kuduk Raga sekejab berdiri. Segera dihidupkannya mesin motor ketika dilihat sang pacar sudah masuk rumah.


Dalam perjalanan pulang Raga sempat merasakan ada yang aneh suasana malam itu. Tidak seperti beberapa waktu yang lalu ketika pertama atau yang kedua kalinya ia bertandanang ke rumah sang pacar. Saat itu suasana begitu terang. Gemerlap lampu mengelilingi rumah tua itu yang hanya dihuni sang pacar dengan seorang pembantu, karena kedua orang tua dan tiga adiknya tinggal di Jakarta.


“Ah! Ini hanya perasaanku saja……….! Maklum ini kan malam jum’at” Tepis Raga menghibur diri sendiri. Motor terus melaju. Menyusuri jalan desa yang berlubang dan tergenang air. Sepanjang jalan desa itu dirasanya seperti tak ada tanda-tanda kehidupan. Sunyi, sepi dan mencekam. Hanya lampu-lampu jalan yang berjajar diam yang menghantarkan laju motornya.


Selama perjalanan dari rumah sang pacar di jalan desa itu hanya tiga kali Raga berpapasan dengan pengendara motor lain. Itupun setelah hampir sampai di jalan raya.

__ADS_1


Sisa gerimis dari hujan yang turun menjelang subuh masih menari di hamparan pagi. Dingin leluasa menggigilkan tubuh. Daunan basah. Jalanan hambar tertutup air.


Jarum jam di dinding kamar sudah menunjuk angka enam. Raga belum beranjak dari tempat tidurnya. Tidak seperti biasanya, sehabis sholat subuh Raga langsung melakukan aktivitas-aktivitas kecil untuk menunggu matahari terbit. Tapi pagi ini ia tidak melakukan itu. Selesai sholat subuh ia kembali ke tempat tidur. Udara dingin membuat Raga enggan menanggalkan selimut tidurnya. Pikirannya melayang, menembus waktu beberapa bulan yang lalu, saat bertemu kali pertama dengan gadis yang semalam diantarnya pulang.


__ADS_2