
......................
......................
Sarah adalah seorang wanita yang sekarang tinggal di kota Jawa Barat.
Ia harus pindah ke Kota Kembang itu untuk menuntut Ilmu di salah satu universitas ternama di sana.
Saat pindah ke Bandung, Sarah pergi bersama ayahnya.
Ayahnya mengantarkan Sarah ke rumah kontrakan yang akan dihuni Sarah selama menuntut ilmu.
Di kontrakan itu, Sarah juga akan tinggal bersama dua orang saudara sepupunya yang juga menuntut ilmu di tempat dan angkatan yang sama dengannya.
Saudara tertua bernama Jani dan saudara yang lebih tua dari Sarah bernama Ava.
Sarah merupakan yang paling kecil dari mereka bertiga, maklum baru lulus SMA tahun yang sama.
Selama dua setengah jam di perjalanan, akhirnya ia tiba di Kota Bandung.
Ini adalah pertama kali Sarah tinggal jauh dari orang tuanya. Perasaan campur aduk tentu dirasakan Sarah.
Setelah mobil terparkir, Sarah bergegas turun dan mengambil barang-barang bawaanya.
Sembari mengangkat bawaan, Sarah dan ayah langsung menyusuri sebuah gang kecil.
Berjalan sedikit jauh ke dalam dan sampailah mereka di depan kontrakan itu.
“Assalamu’alaikum!” Kami mengucap salam sembari memasuki rumah yang pintunya memang terbuka.
“Wa’alaikumsalam, Mang!” Sahut A Jani dan Teh Ava.
“Tos dugi gening. Sok atuh sakieu ayana, Sar (Udah sampai. Silahkan begini adanya, Sar),” Ucap Teh Ava kepadaku.
Saat itu Sarah tersenyum dan mengangguk dan melihat sekeliling.
Rumah tersebut adalah rumah tua dengan dua lantai dan sedikit tidak terawat.
Saat itu, Sarah memaklumi hal tersebut apalagi budget yang ia miliki untuk menyewa rumah kontrakan sangat terbatas.
Tangga menuju lantai dua adalah tangga kayu dengan pegangan kayu. Terlihat asal-asalan dibuatnya.
Sarah mendekati tangga dan melihat keatas, diujung tangga tersebut adalah tembok, sebelah kiri ada pintu kecil menuju keluar ketempat jemuran dan talang air.
Dan disebelah kanan terdapat ruangan tanpa pintu yang hanya bisa dimasuki dengan cara sedikit membungkuk.
Ruangan tersebut tepat berada di atas kamar tidur Sarah yang terletak diantara tangga dan kamar Teh Ava.
Jani lebih memilih kamar paling ujung di dalam, sekitar tiga langkah dari tangga tepat disebrang dapur yang merupakan akses menuju satu-satunya kamar mandi di rumah itu.
Terdapat ruangan kosong yang cukup lebar di depan kamar Sarah dan kamar Teh Ava dan ruangan ini nantinya akan jadikan tempat berkumpul dengan alas karpet lusuh.
Lebih lanjut, Sarah langsung membenahi barang-barangnya di dalam kamar baru.
Ada beberapa noda lembab di dinding berwarna coklat dan sebagian terkelupas.
Pantas saja terasa dingin, memang lembab, pikirnya. Tapi sudahlah, tempat ini lumayan nyaman.
Sore pun tiba, ayah Sarah pun berpamitan untuk pulang.
Dengan berat, Sarah melepas kepergiannya karena tak tega membayangkan penghuni rumahnya hanya tinggal Ayah dan Mamahnya saja.
Perlu diketahui, kedua kakak Sarah sudah memiliki kehidupan masing-masing di luar kota.
Tentu sebagai anak bungsu merasa berat untuk meninggalkan orang tuanya.
Singkat cerita, satu bulan menempati rumah tersebut, Sarah tidak merasakan ada yang aneh.
Atau mungkin Sarah mengabaikannya karena sibuk pada ospek dan persiapan kuliah?
Oh ya, Sarah bukanlah sosok yang indigo. Namun, ia terkadang bisa merasakan keberadaan makhluk halus di sekitarnya.
Sampai pada suatu hari, saat itu kegiatan belajar sudah berjalan dan tugas-tugas mulai berdatangan, Sarah harus pulang ke kontrakan sekitar pukul 7 malam dan langsung tertidur.
Setelah lama Sarah tertidur, ia terbangun dengan keadaan sekelilingnya yang gelap sekali.
Saat Sarah melihat jam, ternyata saat itu sudah pukul dua malam.
Ia sedikit merinding dan berusaha tidur kembali, tapi kantuknya sudah hilang.
Jadi, Sarah memaksakan untuk menutup mata dan pikirannya melayang kesana kemari.
__ADS_1
Seketika ia teringat, bukankah saat pulang tadi ia membuka pintu utama dan langsung menyalakan lampu ruang depan?
Sarah sangat ingat betul jika ia langsung masuk kamar, ganti baju lalu tertidur.
Dia tidak memadamkan lampu itu, bahkan lampu itu selalu menyala setiap malam dan menjadi satu-satunya sumber cahaya di malam hari.
Lalu kenapa sekarang padam?
Sarah hanya bisa berusaha tenang, dan memastikan ingatannya
Saat hendak bangun dari tidurnya dan menyalakan lampu kamar, tiba-tiba Sarah mendengar suara lirih sekali dari balik pintu kamarnya “Hihihihi...”
DEG! Detak jantung Sarah saat itu serasa berhenti.
Seketika ia mengurungkan diri untuk berdiri. Sarah hanya duduk di atas tempat tidur sambil memegang erat selimut.
Sarah diam dalam posisi waspada, ragu antara yakin mendengar suara tawa dan berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa ia hanya salah dengar.
Ia terus berusaha fokus, tapi yang didengar hanya hening.
Pelan-pelan Sarah kembali ke posisi tidur. Berhati-hati sekali seakan-akan membangunkan sesuatu yang ia pun tak tau apa.
Suara langkah kaki kecil berlari melintas di depan kamarnya.
Otak Sarah langsung merespon jika itu adalah tikus.
“Tikus! Ya itu tikus! (Atau mudah2an tikus),” dipikirannya.
Belum selesai ia meyakinkan diri sendiri, suara lain membuatnya kaku sekaku-kakunya.
Dug.. Sreeekkkkk.. Dug.. Sreeekkkkk.. Suara sesuatu diseret.
Seperti orang yang berjalan pincang dengan satu kaki diseret, berkeliling di ruangan depan kamarnya.
Sesekali mendekati ke arah kamar Sarah ke arah kamar Teh Ava dan berputar lagi.
“Hihihihi...” Suara tertawa lirih itu muncul lagi.
Kali ini, Sarah yakin jika ia tidak salah dengar.
Dengan ketakutakan, Sarah menutup seluruh tubuhnya dengan selimut sembari memejamkan mata rapat-rapat.
Keringat membasahi bajunya.
Terbesit dalam pikirannya untuk bangun dan menyalakan lampu kamar.
Pikirnya kalau terang ia akan lebih tenang? Tapi disisi lain, Sarah merasa takut jika dengan menyalakan lampu ia malah akan melihat sosok-sosok yang sedang mengganggunya.
Entah berapa lama Sarah diam dalam posisi yang sama. Tidak bergerak dan suara-suara itu tidak kunjung pergi.
Ia tidak berani membuka selimut, takut justru mereka akan muncul di depan mukanya. Padahal kondisinya saat itu sudah basah kuyup oleh keringat.
Mungkin karena tubuh Sarah lelah setelah tegang dalam waktu lama, akhirnya ia pun tertidur dengan sendirinya.
Sarah terbangun saat adzan subuh berkumandang, suara-suara aneh itu sudah hilang.
Meski sedikit lega karena ada suara-suara orang di gang berjalan menuju masjid untuk salat subuh, tapi rasa takut Sarah masih sangat besar.
Ya.. itu adalah momen pertama Sarah ‘berkenalan’ dengan penghuni kontrakan.
Walau tidak bertatap muka langsung, tapi perkenalan itu membekas hingga sekarang.
Ia tidak akan menceritakan kejadian tersebut kepada kedua saudaranya.
Bukan apa-apa, Sarah sendiri takut menceritakan ulang saat dirinya masih tinggal di rumah itu.
Dan mereka mengontrak selama 1 tahun, artinya Sarah harus bertahan selama 11 bulan kedepan.
Setelah kejadian itu, ia hanya merasakan beberapa gangguan-gangguan ‘kecil’ menimpanya seperti barang berpindah tempat sendiri, selimut ditarik saat tidur, atau melihat sekelebat bayangan melintas.
Singkat cerita, bulan Ramadhan telah datang, gangguan kecil itu mulai berkurang, meski tidak 100 persen hilang
Lebih lanjut, Gerald adalah tetangga Sarah yang bertempat tinggal di ujung gang.
Dia adalah anak band yang gaul dan cocok berteman dengan Sarah karena kepribadiannya yang asyik.
Sejak pertemuan pertama mereka jadi semakin akrab, hingga akhirnya pada suatu malam mereka memutuskan untuk sahur bersama di salah satu kafe di Lembang.
“Gerald jemput jam 9 ya, Nong!” Ucap Gerald sebelum menutup telepon.
Nong adalah panggilan Sarah dari Gerald. Rencana sahur malam ini hanya akan ada mereka berdua karena teman-teman yang lain tidak bisa ikut.
__ADS_1
Tak masalah, bagi mereka suasana alam terbuka dan hawa yang dingin adalah favorit mereka.
Saat itu, Sarah baru saja selesai meeting dengan anak-anak band.
Ia bergabung menjadi salah satu vokalis di band tersebut.
Hobby Sarah memang bernyanyi dan kebetulan band Sarah dan band Gerald ada dalam satu basecamp.
Basecamp yang dimaksud adalah rumah di daerah Buah Batu milik Horis, salah satu personil band.
Gerald tidak ikut meeting karena suatu hal. Sehingga ia memutuskan untuk pulang diantarkan oleh drummernya.
Sesampainya di rumah, Sarah segera berbuka dan salat magrib.
Masih lelah, ia mengunci pintu dan berbaring sambil membaca pesan yg masuk. Dan Sarah pun tertidur..
Dalam tidurnya, Sarah bermimpi bertemu Gerald
“Ayok berangkat!” Ajak Gerald.
Sarah menggeleng enggan pergi, entah kenapa ia tau jika sedang bermimpi.
Tiba-tiba Gerald berubah menjadi menyeramkan dan berteriak marah
“AYO PERGI!!” teriaknya.
Seketika ia langsung terbangun dari tidur karena kaget.
Dan dalam keadaan masih sangat mengantuk, mata Sarah tertuju pada seseorang yang duduk menunduk di ujung kasur dekat kakinya.
Seorang laki-laki memakai topi mirip Gerald.
Mata Sarah semakin berat, rasa kantuknya semakin tak tertahankan. Tidak biasanya ia begitu.
Ia kemudian menutup matanya dan tiba-tiba ingat jika pintu kamarnya sudah dikunci sebelum Sarah tidur!
Lalu bagaimana Gerald bisa masuk? Tetoott.. Tetoott.. Suara ringtone HP Sony Ericsson tanda telepon masuk berbunyi.
“Halo? Nong! Gerald bentar lagi jemput! Udah siap kan?” Cecar Gerald bersemangat.
“Rald, lo tadi kekamar gue?” Tanya Sarah mengabaikan pertanyaan Gerald.
“Ga tuh! Gerald baru pulang ini langsung telepon kamu!” Sarah diam dengan Kantuk yang mendadak hilang.
Sarah langsung berdiri menyambar pegangan pintu dan masih dalam keadaan terkunci.
“Nong woy!!” Teriak Gerald di telepon.
“Iya 15 menit lagi jemputnya, gue shalat isya dulu.” Sahutnya.
Ia tutup telepon dan segera keluar dari kamar.
A Jani sedang bersila diruang depan kamar Sarah sambil bermain HP.
“A, tadi Gerald kadieu teu?” (A, tadi Gerald kesini ga?) Tanya Sarah.
“Teu aya,” (Ga ada) jawab A Jani tanpa berpaling dari HP nya.
“Nu baleg?” (Yg bener?) Ujar Sarah kembali berusaha meyakinkan.
“Baleg ih, sadinten ieu teu aya tamu.” (beneran ih, seharian ini ga ada tamu) yakin A Jani.
Sarah terdiam dan berusaha mengabaikann. Mungkin mereka lagi iseng.
Sarah segera mengambil wudhu dan salat.
Setelah selesai salat, ia bersiap-siap untuk segera pergi ke Lembang.
Karena Lembang sangat dingin dan mereka pergi menggunakan motor, Sarah memakai jaket yang paling tebal, tidak lupa syal rajut kesayangan warna pink.
Gerald sudah datang, mereka pun pergi menuju Lembang tanpa tau sesuatu sedang menunggu mereka.
Motor yang mereka tumpangi berjalan pelan karena masih di dalam komplek perumahan.
Mereka tidak berbicara satu sama lain dan hanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Ketika mendekati sekolah SMA, Sarah melihat seorang kakek berjalan pelan
Sarah terus memperhatikan kakek tersebut tanpa sadar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...