Kita Pernah Salah

Kita Pernah Salah
RASA NYA NANO NANO


__ADS_3

Airin sangat menghormati Nathan. Karena itu, ia tak bisa memutuskan sebelum Nathan setuju dan memberi wewenang.


Airin akan berusaha menyampaikan tawaran dari Sierra tadi malam nanti ketika Nathan sudah pulang.


Beberapa hari ini, Nathan agak pulang malam dari proyek tempat dia kerja sekarang.


" Kak .... " Ucap Airin mengantung ....


" Kenapa ?? " Tanya Nathan bingung


" Aku mau ngomong nih ?? " Ucap Airin dengan perasaan yang rasanya sudah kek nano nano, takutnya Nathan tidak setuju...


" Ngomong aja, Rin. Tumben banget kamu pake izin segala, biasanya juga nyerocos aja !!! " Jawab Nathan ketus.


" Hehe... Gini Kak, aku ditawarin kerja sama temen. " Ucap Airin dengan kepala yang sudah tertunduk ..


" Temen yang mana, perasaan kamu gak punya temen banyak deh ?? " Kata Nathan dengan wajah mengintimidasi sang Adik.



" Itu sih Sierra Pramita, Mahasiswa Trisakti, Fakultas Sastra. Dia punya warung dengan modal patungan kak! " Jawab Airin yang masih tertunduk.



" Baik sekali dia, jangan - jangan ada maunya, " Kata Nathan ketus.


" Jangan begitu Kak, dia tulus kok. " Bela Airin,,,


Nathan tetap acuh. " Berapa lama kamu kenal dia ? "


" Belum lama. Hari pertama aku ngamen sendiri tanpa Kakak. Tapi kak, menurutku untuk menyimpulkan keseluruhan sikap seseorang itu tidak tergantung pada berapa lama kita mengenal. Dalam beberapa hari ini saja, aku sudah bisa menilai seperti apa kira - kira Sierra itu orangnya. " Jelas Airin panjang kali lebar.


" Anehnya, kenapa kamu yang ditawari ? Bukannya orang lain yang lebih dekil dari kita ini banyak ? Toh, enggak kesulitan mencari pengamen wanita . . .


" Mungkin karena ... Hi - Hi ... " Airin malu - malu menceritakan peristiwa dia nangis di bus kota.


" Yaa... Jangan marah terus dong Kak, Pas itu aku ketahuan lagi nangis waktu nyanyi . " Jelas Airin


" Cengeng. Kenapa nangis ? "


" Haru aja karena sendirian, " Jawab Airin sekenanya...


" Terus ? "


" Yaa.. Mungkin aja dia kasihan sama aku hehe😁 Kata Airin sambil nyengir kuda yang menampakan barisan gigi putihnya 🤭

__ADS_1



" Kasihan ? Kamu baru mengerti nilai belas kasihannya kalau kamu sudah diangkut berlayar ke luar negeri dijual sebagai pembantu. Mau ?? Ucap Nathan sekenanya


Deg . . .


Pikiran Airin jadi kalut ...


" Kamu tak pernah berpikir kesitu, kan ? Ucap Nathan,


" Tapi semua itu kan belum pasti, Kak. " Sanggah Airin


" Kepastiannya itu ya pas kamu sudah dijual. " Jawab Nathan ketus


" Sudah - sudah !! Kak Nathan kalau sudah punya pendapat, mana mau menerima pendapat orang lain. Aku kan nanya nya baik - baik. Kalau Kak Nathan tidak setuju, ya sudah. Aku juga enggak keberatan ngamen tiap hari. " Jelas Airin sambil mengerucutkan bibirnya ,,,


Nathan memilih diam menerima semprotan Adiknya, Di teguknya kopi manis yang ada dihadapannya...


" Aku gajian hari ini, Lumayan besar. Kamu yang pegang, ya !!! " Katanya sambil mengulurkan beberapa lembar uang.


" Gaji seminggu ? " Tanya Airin takjub.


" Ya. setelah dipotong uang makan."


" Hehe , Iya Kak tidak apa - apa yang penting kan masih punya Gaji walaupun sedikit tetapi kalau hasil jerih payah sendiri rasanya nikmat banget Kak. "


********


Tak lama setelah dua beradik beda Ayah ini saling bercengkeramah , datanglah sang pahlawan (hehe siapa lagi kalo bukan Andrew😁)


Motor Andrew diparkir di bawah pohon asam deket gubuk mereka tinggal.


" Gimana kabarmu, Rin ? " Sapa Andrew pada Airin.


" Aku baik - baik saja, Ndrew. Bagaimana dengan mu ? "


" Aku juga baik. Oh ya , kapan kalian mulai ngontrak lagi ? " Tanya Andrew


" Kata Kak Nathan nungguin hari dia libur, Ndrew ."


" Oh begitu ...


Andrew menyandarkan punggungnya ke tiang dinding gubuk mereka.


" Aku bisa tetap main kan, kalau kalian sudah ngontrak nanti ? " Tanya Andrew.

__ADS_1


" Kenapa enggak ? Nanti kamu ngikut aku ke tempat kontrakan baru itu ya, Sudah dibayar Kak Nathan kemarin, Jadi tinggal nempatin aja. " Ucap Airin


Andrew hanya ber - O saja, kerut - kerut di wajahnya menyimpan kesan dan perasaan.


Keduanya kemudian mengobrol. Seperti biasanya, Andrew menceritakan banyak keluhan tentang kehidupan pribadinya. Mulai dari tentang Orang tuanya, tentang saudaranya, juga tentang hidupnya yang ia rasakan sangat tak bersahabat.


" Karena kamu memusuhi hidupmu, Ndrew. sehingga kamu merasakannya sebagai musuh, " Komentar Airin.


" Kalau kamu bisa sedikit bersikap dewasa, lebih mau memiliki hidupmu dengan berbagai kemauan untuk menyeberanginya, kamu tentu akan mendapat yang lebih berharga dari sekedar keluhan. " Nasihat Airin.


Andrew terlihat begitu meresapi ucapan Airin .



" Dengan apa ??? " Tanya Andrew dengan polosnya.


" Yang bisa menentukan tentunya dirimu sendiri. Bagaimana pun, kamu adalah subjek nya. Aku sih hanya sekedar penonton saja. " Jawab Airin dengan tersenyum.


" Tapi semua tidak mendukung, Rin. Obsesi besar yang bagaimana yang bisa menggelombangi karier mamiku, perasaan papi, profesi Ghea . . . " Kata Andrew pasrah.


" Kenapa mesti begitu ? " Tanya Airin bingung


" Sebab, setiap aku memulai sebuah langkah, mereka seperti mencibir ku. Dan cibiran itu akan berubah menjadi tawa saat aku tergelincir, " Suara Andrew pelan, tapi masih di dengar oleh Airin.


" Itu karena kamu kurang sabar, Ndrew. Masih banyak lagi yang memiliki kesempatan namun tak punya kemampuan. Ada juga yang punya kemauan tapi tak mampu " Ucap Airin


" Maksudmu apa ? " Tanya Andrew bingung


" Kamu memiliki keduanya, Ndrew. Bayangkan !! Aku ingin papi saja yang bekerja, sedangkan mami di rumah. Toh, gaji papi cukup untuk sekedar biaya hidup. Mami fokus mengurus rumah, yang bisa menjadikan sebuah keluarga lebih harmonis lagi. Tapi sekarang kamu lihat sendiri. Masing - masing dari mereka membangun puncak kesuksesan nya sendiri dan saling berlomba mencapai puncak tertinggi. Sedangkan aku terpisah di balik tembok yang aneh. Aku memang mendapat jatah uang. Tapi apakah aku hanya butuh uang saja ? " Jelas Airin.


" Lalu ?? " Tanya Andrew.


" Kau pikir apakah aku bisa bertahan hidup dengan begini terus ? Aku yakin kau bisa bertahan dan bisa mengubah nya, Ndrew . "


" Sampai kapan, Rin ??? " Ucap Andrew frustasi.


" Sampai kamu menjadi lelaki sesungguhnya . " Terang Airin


Tutur kata yang keluar dari mulut Airin, seketika membuat Andrew melongo kaget .


Airin sempat terkekeh geli melihat ekspresi Andrew, secepatnya dia meralat ucapannya..


" Maksudku, sampai kamu mempunyai keberanian untuk memerangi kerapuhanmu tersebut. Dan sebelum itu, kamu akan tetap begini terus . "


Andreww , no komentar seperti meresapi kata - kata Airin ...

__ADS_1


...****** Mohon maaf apabila ceritanya kurang memuaskan kalian semua🙏🙏 Author masih belajar menulis novel yang baik dan benar 😁😁...


...,,, Mohon bantuannya ya Jangan lupa Vote, Like dan Komentar nya biar Author lebih semangat lagi ... Terimakasih🤗🤗~~...


__ADS_2