
"dimana dia, kenapa lama sekali?" andre terus melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan nya
ya, setelah andre berfikir dengan matang, akhir nya ia memutuskan untuk lebih dulu menemui seseorang yang akan dijodohkan dengan nya, dengan bantuan sang papa akhirnya ia bisa membuat janji dengan wanita tersebut.
andre melirik kesana kemari, melihat jikalau ada orang yang menuju ke arah meja nya namun nihil, tidak ada siapapun yang terlihat menuju meja yang ia tempati, akhir nya andre memilih memainkan ponsel nya dan melihat berbagai e-mail yang masuk, sesekali ia nampak menghela nafas karena banyak nya e-mail yang dikirim kan asisten nya, hingga suara seseorang yang cukup familiar di telinga nya mengalihlan kefokusan nya
"maaf saya terlambat" seru seseorang itu
andre mengangkat wajah nya untuk melihat si empunya suara, dan...
"leodra?" orang yang selama ini ia cari ada dihadapan nya, sahabat yang sudah 6 tahun ia cari kini berada di hadapan nya, ini seperti mimpi
sama hal nya dengan andre, leodra juga merasa terkejut dengan apa yang dilihat nya ini.
__ADS_1
ayah nya tidak mengatakan siapa nama seseorang yang dijodohkan pada nya, tapi iya ingat kata kata ayah nya saat memberi tahu nya janji temu hari ini
meja no 72 atas nama hans prabaswara
prabaswara? ah kenapa ia baru ingat bahwa nama marga andre adalah prabaswara, berarti orang yang akan dijodohkan dengan nya adalah...
"leodra andini pradipta?" masih berusaha meyakinkan asumsi nya, akhirnya andre memberanikan diri untuk bertanya, leodra hanya mengangguk mengiyakan. andre memang sudah curiga sedari awal bahwa yang dimaksud oleh papa nya adalah leodra yang sama dengan yang ia kenal, namun setelah ia fikir lagi tidak mungkin leodra yang ia kenal adalah putri sulung keluarga pradipta
menghela nafas berat sebelum akhirnya mempersilahkan leodra untuk duduk. kini kedua nya duduk berhadapan dengan fikiran yang bercabang, keduanya masih tampak bingung untuk memulai pembicaraan
"gue baik, gimana kabar lo dan gisel?" ah, mengapa ia harus menanyakan perihal gisel juga, ia jadi takut sendiri mendengar jawaban dari andre tentang gisel, seingat nya dulu keduanya adalah sepasang kekasih, ia takut jika ternyata hubungan kedua nya masih terjalin hingga saat ini lalu berakhir kandas karena rencana perjodohan ini
"aku baik baik saja" andre menjawab tanpa melibatkan gisel dalam percakapan kedua nya
__ADS_1
hening...
keduanya masih sangat kaku untuk memulai pembicaraan yang lebih serius, pertemanan yang mereka jalin 6 tahun lalu tidak serta merta membuat keduanya dekat. sekarang setelah 6 tahun tidak bertemu, keduanya harus terlibat dalam pembicaraan serius tentang rencana orang tua keduanya untuk menjodohkan mereka
"jadi.. kamu adalah putri sulung tuan bimo alfano pradipta?" andre masih berharap jika semua ini hanya lah mimpi, ia tidak bisa membayangkan jika harus melukai dua wanita yang ia sayangi sekaligus, leodra dan gisel
leodra mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan andre, lalu ia menatap andre dengan tatapan yang sulit di artikan
"gue akan bilang ke ayah kalo kita ngga saling cocok, perjodohan ini tidak akan terjadi" kata kata yang seharusnya tidak pernah terucap dari bibir leodra kini lepas sudah.
seharusnya ia bahagia karena takdir berpihak padanya dengan mempertemukan ia dan andre sebagai sepasang calon suami istri
"kenapa membohongi kami selama ini?" leodra mengerutkan kening nya tanda tak mengerti
__ADS_1
"dengan mengatakan bahwa kamu tinggal di kampung, dan hidup dalam kesederhanaan, kenapa kamu tidak jujur bahwa kamu adalah putri sulung tuan bimo alfano pradipta, sang pengusaha batu bara terbesar se-asia?" pertanyaan yang sudah ia pendam sedari tadi akhir nya ia tanyakan, ia sangat ingin mendengar jawaban dari semua pertanyaan nya