Ksatria Terakhir : Perjalanan Menuju Gunung

Ksatria Terakhir : Perjalanan Menuju Gunung
Chapter 13 Pria Misterius


__ADS_3

"Apa yang terjadi sebenarnya ini? Kenapa Pedang Katana aku ini tidak dapat mengalahkan jurus dari guru ini? Apa ada yang salah ya, dalam aku menyerang jurus tersebut?" pikir Rieza karena ia telah mengikuti anjuran dari pedangnya itu tetapi ternyata tidak berguna sama sekali.


"Bukan kamu yang salah, tetapi memang kekuatan dirimu masih belum sanggup untuk mengalahkan jurus dari gurumu itu," jelas Pedang Katana yang melihat bahwa Tuan Rieza belum dapat menguasai diri dari Pedang Katana ini sepenuhnya.


"Apa aku masih belum sanggup ya, untuk menguasai Pedang Katana ini. Karena mungkin kalau aku sudah dapat mengalahkan jurus dari guru ini, berarti aku juga sudah dapat menguasai Pedang Katana ini," pikir Rieza dengan segala kemungkinan yang terjadi pada saat ini.


"Hei, Hydra. Apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi jurus dari guru aku ini. Karena aku pakai jurus dari Pedang Katana ini, ternyata tidak mampu untuk sekedar menghalaunya," tanya Rieza kepada Hydra yang terdapat dalam dirinya ini. 


"Hah…? Guru…? Emang orang yang kamu sebut dengan panggilan 'guru' itu sudah menerima kamu sebagai muridnya?" tanya Hydra yang heran kepada Tuan Rieza karena memanggil orang tersebut dengan panggilan 'guru' itu. 


"Hehehe…"


Hanya ditanggapi dengan sebuah tawa aneh dari Rieza atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Hydra itu.


"Aku tanya sekali lagi, Tuan Rieza? Apa orang itu sudah menerima kamu sebagai 'murid' nya? Atau emang keinginan kamu saja, Tuan. Untuk memanggilnya dengan panggilan 'guru' Tuan Rieza?" cecar Hydra sekali lagi dengan pertanyaan yang sama kepada Rieza itu.


"Belum menerima diri aku sebagai muridnya, Hydra. Memang ada apa Hydra? Kenapa kamu menanyakan hal seperti itu kepada diriku, Hydra?" tanya Rieza heran karena menanyakan hal yang sama selalu. 

__ADS_1


"Karena kamu mendapatkan keistimewaan, Tuan Rieza. Serangan ini sebenarnya adalah sebuah uji coba terhadap mental kamu Tuan. Sejauh mana kemauan kamu untuk menjadi murid dari orang yang belum bertemu sama sekali dengan diri kamu," jelas Hydra ini karena dia melihat orang ini sangat bersungguh-sungguh untuk melatih dirimu itu.


"Hah…? Melatih diriku…? Kenapa dia ingin melatih diriku dengan hanya menggunakan jurus ini, Hydra? Memang jurus itu sebenarnya adalah jurus apa?" cecar Rieza bertanya, yang heran karena Hydra berbicara seperti itu. Seolah-olah Hydra tahu tujuan dari jurus ini untuk melatih dirinya.


"Iya benar, Tuan. Memang tujuan dari dikeluarkan jurus itu adalah ingin melatih kekuatan tubuh dan mental dari Tuan Rieza, seberapa kuat mental Tuan dalam menghadapi seluruh masalah yang ada," lanjut Hydra menjelaskan seluruh petunjuk yang telah diberikan oleh Rieza ini.


Setelah mendapatkan sedikit petunjuk dari Hydra, Rieza langsung mendapatkan ide untuk menghadapi kekuatan dari jurus orang yang telah dia panggil sebagai 'guru' itu. 


"Kalau aku yang menghadapi jurus itu secara langsung, apakah jurus itu akan langsung menghilang ya?" pikir Rieza dengan pilihan yang akan langsung dijalaninya. 


Seberkas cahaya yang berwarna merah tersebut masih tetap mengincar dirinya. Walau ia sudah mengeluarkan berbagai jurus yang dia kuasai ini.


Seberkas cahaya merah itu langsung dihadapi dengan tinju yang telah ia latih sendiri dalam ruang hampa ciptaan dari Hydra itu. Pada saat kedua kekuatan itu saling bertemu, terjadi ledakan cukup hebat mengguncang seluruh ruangan yang didominasi dengan warna putih tersebut.


Setelah efek dari ledakan cukup hebat itu berhenti sesosok bayangan terbentuk di dalam kepulan asap berwarna putih. Sosok bayangan itu adalah seorang pria dengan tubuh yang tinngi menjuntai ke atas langit-langit di dalam ruangan hampa yang berwarna putih. 


Memiliki bentuk tubuh yang atletis serta tangan dan kaki yang sangat kekar sekaligus kuat dalam hal mencengkram. Ia memiliki rambut yang panjang dan sedikit ikal dibagian ujung-ujung rambutnya itu.

__ADS_1


Setelah kepulan asap itu sedikit menghilang, sosok dari bayangan itu mulai terlihat oleh mata indah Rieza. Dia seorang pria matang dan terlihat garang pada saat bertemu. 


Dihadapan Rieza, pria ini terlihat dingin dan sorot matanya sangat mengerikan. Tatapan matanya sangat tajam dan mengintimidasi siapapun yang melihatnya. 


"Ha-hallo… Per-perkenalkan… Nam-nama saya adalah Rieza," Rieza berusaha memperkenalkan dirinya dengan tenang dihadapan pria dingin ini. Karena kondisi dirinya sekarang sangat tegang, harus berhadapan langsung dengan sesosok pria matang yang mungkin akan menjadi gurunya kelak.


"Apa kau yang tadi dapat menghancurkan jurus "Cahaya Benang Sutra" milikku?" tanya pria misterius yang tiba-tiba muncul di depan dirinya dengan menatap matanya dengan sangat tajam seperti sebilah pisau yang siap untuk dihujamkan ke dalam tubuhnya.


"I-iya… I-itu ad-adalah diriku, Tuan. Aku lah yang berhasil menghancurkan jurus "Cahaya Benang Sutra" milik Tuan, karena cahaya itu selalu mengincar diriku kemanapun aku berada," ujar Rieza gemetaran dan tidak berani bertatap mata langsung dengan pria yang telah hadir di depan dirinya itu. 


"Hah…? "Cahaya Benang Sutra" milikku itu dengan mudahnya kamu hancurkan hanya dengan sebuah tinjuan dari tangan kecil kamu itu," pria misterius itu kaget karena anak kecil yang ada dihadapan dirinya ini, dapat dengan mudahnya menghancurkan jurus kelas menengah miliknya itu. 


Membuat dirinya tercengang dengan kenyataan bahwa ada seorang anak kecil dapat menghancurkan jurus kelas menengah miliknya tersebut dengan tangan kanan, tetapi tidak lama kemudian dia tersenyum karena dia telah menemukan anak kecil yang sangat jenius. 


Dia bisa menjadikan dirinya sebagai muridnya, guna meneruskan generasi dari semua jurus-jurus yang ia miliki sekarang. Karena memang dari awal dia ingin mencari penerus, yang dapat melanjutkan semua jurus-jurus yang telah ia kuasai sekarang.


"Hai, anak kecil, siapa nama kamu? Dan dari mana kamu berasal anak kecil? Aku sungguh-sungguh penasaran dengan dirimu, anak kecil," ujar pria misterius ini jujur kepada Rieza yang ada di depan dirinya itu.

__ADS_1


"Hah…? Kau bersedia untuk menerima diri aku sebagai murid kamu, wahai pria misterius ini. Apakah kamu tidak salah memilih diriku ini, sebagai murid kamu karena diriku ini masih belum menguasai jurus tinjuan yang tadi aku lancarkan," ucapnya bangga sekaligus malu karena ia belum sanggup menguasai sepenuhnya dari jurus tinju yang tadi digunakannya.


"Haha… Tidak apa-apa kok, anak kecil tapi tadi kamu belum memperkenalkan diri kamu, anak manis. Perkenalkan nama aku adalah Liu Bei. Aku lah yang akan jadi guru kamu mulai sekarang," jelas Liu Bei kepada Rieza tentang siapa dirinya tersebut.


__ADS_2