
“Aku pernah melihat gaya arsitektur yang seperti ini sebelum. Aku pernah melihat gaya ini di dalam mimpiku. Disitu aku diberitahu oleh seorang pria matang tentang beberapa gaya arsitektur dari sebuah rumah,” ujar Rieza yang menjelaskan mimpi yang ia alami tersebut.
“Di dalam mimpi aku juga, pria matang tersebut, usianya sekitar empat puluh tahun berambut putih dan memiliki wajah yang tampan, ia membawa kertas gambar beserta pensil yang selalu ada di tangannya itu,” lanjut Rieza menjelaskan tentang mimpinya tersebut.
“Pria yang berumur empat puluh tahunan ya dan selalu membawa kertas beserta pensil gambar?” gumam Alex kepada dirinya sendiri.
“Apa? Jangan-jangan yang dimaksud itu adalah ayah ya? Ciri-ciri yang disebutkan oleh Rieza hampir sama dengan ayah, tetapi bagaimana Rieza mengenal ayah sedangkan ayah kan sudah meninggal?” pikir Alex semakin dalam tentang mimpi yang diceritakan oleh Rieza.
“Rieza, apa pria itu seperti foto yang ada di dalam sini?” tanya Alex kepada Rieza seraya mengulurkan telepon selulernya untuk menunjukkan foto pria yang ia maksud.
“Iya benar, Ka. Memang dia itu siapa, Ka? Kok kakak bisa mendapatkan fotonya di dalam telepon seluler, Alex?” cecar Rieza karena ia sangat antusias dengan pria matang tersebut.
“Pria tersebut bernama Rolland Xander, dia adalah ayahku, Rieza. Kamu sepertinya sangat mengagumi ayahku ya, apa itu benar Rieza?” selidik Alex kepada Rieza karena melihat matanya yang berbinar pada saat ia menyebutkan nama dari sang ayah.
“Memang benar, Ka. Aku sangat bersemangat sekali kalau membicarakan tentang pria itu, apalagi sekarang aku bisa berjumpa dengan anaknya secara langsung karena dia pernah datang ke dalam mimpi aku dengan mengeluarkan sebuah pedang katana yang sangat bersinar terang,” jelasnya secara detail.
“Pedang katana? Kamu juga mengetahui tentang pedang itu juga, Rieza?” tanya Alex untuk memastikan pendengarannya.
“Kalau mengetahui secara detail si tidak, Ka, tetapi aku hanya melihat pedang katana yang dipegang oleh pria matang itu saja. Aku tertarik dengan pedang bercahaya itu karena dari pedang tersebut seperti memanggil-manggil diriku untuk menyentuhnya,” jelas Rieza yang masih heran dengan reaksi yang ditampilkan oleh Alex.
“Karena dari pedang tersebut seperti memanggil-manggil diriku itu, sedangkan lelaki pria matang tersebut memandang ramah kepada diriku dan ia juga mengulurkan tangannya yang sedang memegang pedang itu ke hadapan diriku,” jelas Rieza lebih lanjut tentang mimpinya ini.
__ADS_1
“Ayah ingin memberikan pedang tersebut kepada anak ini? Berarti benar aku membawa anak ini ke rumah. Alex harus membantunya pergi ke Gunung Lost Drago itu. Mungkin dengan aku ikut ke sana, Alex akan mendapatkan petunjuk dari tempat tersebut tentang kematian dari ayah ini,” gumam Alex yang memikirkan kemungkinan yang terjadi sekarang.
“Rieza, ikut dengan aku yuk,” ajak Alex sambil menggandeng tangan Rieza agar mengikutinya.
Belum juga Rieza menjawab tetapi tangannya telah ditarik oleh Alex agar ia mengikutinya ke lantai dua, Alex mulai menaiki tangga dengan tergesa-gesa akhirnya tiba di sebuah pintu kamar yang terletak di ujung lantai dua tersebut.
“Ini kamar siapa, Ka? Kok kakak tiba-tiba menarik aku ke depan kamar ini? Apa yang kakak ingin tunjukkan dari kamar ini?” cecar Rieza kepada Alex yang terus menerus memandangi pintu kamar tersebut.
“Ini sebenarnya kamar siapa, Ka? Kok kakak tidak menjawab semua pertanyaan aku. Ada apa, Ka?” lanjut Rieza bertanya ke Ka Alex.
“Ini adalah kamar dari ayahnya kakak, dia adalah Rolland Xander dan di sini pula tempat kerja ayah kalau berada di rumah,” jawab Alex dengan tatapan yang seperti menahan tangis seperti ada rasa sesak di dadanya setiap melihat kamar ini.
“Kakak, tidak apa-apa kan? Atau kita lebih baik turun saja dari lantai dua ini,” ajak Rieza yang mencemaskan Alex karena sepertinya dia masih belum bisa memaafkan masa lalunya tersebut.
“Aku tidak apa-apa, Rieza. Karena aku pun ingin menunjukkan sesuatu kepada kamu yang ada di dalam kamar ini dan hanya di kamar inilah barang itu tersimpan,” ungkap Alex kepada Rieza dengan nada bicara yang sedikit bergetar di bibirnya tersebut.
Seperti menahan semua gejolak emosi yang telah berkumpul menjadi satu di dalam dadanya dan ia juga seakan-akan ingin berteriak sekencang mungkin untuk menghilangkan semua rasa sesak yang berada di dadanya tersebut.
Melihat bahwa Alex dengan segitu kuatnya menahan semua rasa yang telah menjadi satu di dalam dirinya. Rieza diam dan hanya akan mengikuti semua keinginan yang akan disampaikan oleh Alex tersebut kepadanya.
Dengan segenap kekuatan yang telah terkumpul di dalam diri Alex, ia akhirnya mencoba untuk memegang pintu tersebut dan mulai mendorongnya ke dalam kamar.
__ADS_1
Perlahan-lahan cahaya dari kamar menerangi sekitarnya dan akhirnya cahaya tersebut mengenai kedua pria yang berada di ambang pintu masuk kamar itu.
Ternyata cahaya yang mengenai mata mereka sangatlah menyilaukan mata mereka berdua sehingga tangan masing-masing dari mereka berusaha melindungi mata agar bisa melihat dengan fokus dan tidak terhalang oleh lampu-lampu yang bersinar.
“Kriet” Suara pintu yang telah lama tidak pernah buka sama sekali.
Dekorasi kamar dari Rolland ini sangatlah memanjakan mata, dihiasi dengan warna dominan putih, di sisi sudut kamar terletak sebuah lemari kayu jati yang kokoh berdiri dengan berdampingan jam dinding dengan bandul di bawahnya.
Setiap satu jam sekali akan berbunyi sesuai dengan jumlah jam yang ditunjukkan oleh jarum jam tersebut.
Rieza mulai mendekati lemari jati tersebut ia tidak sabar untuk menyentuh kayu dari lemari yang masih kokoh berdiri meskipun dilihat dari usianya, pastilah lemari tersebut sudah berumur puluhan tahun yang lalu atau bahkan bisa lebih dari itu.
Ia mulai mengelus-elus kayu yang menjadi bahan utama dari lemari yang terdapat di dalam kamar tersebut.
Hingga ia menghirup aroma kayu yang memiliki khasnya sendiri di hidung Rieza tersebut.
“Kayu ini sangat harum sekali, Ka. Apa ini adalah kayu jati yang telah kakak import ke dalam kota ini?” tanya Rieza untuk memastikan keberadaan dari kayu lemari ini.
“Kayu ini memang dipesan oleh ayah untuk dijadikan lemari pakaian yang tentu saja telah di desain khusus olehnya dengan segala keunggulan yang dimiliki oleh lemari ini,” ungkap Alex seraya membuka salah satu laci dengan sangat hati-hati.
“Rieza, kau menyingkirkan terlebih dahulu jauhi lemari ini, aku akan menunjukkan sesuatu yang sangat bagus untuk kamu pelajari,” anjur Alex kepada Rieza, agar secepatnya ia meninggalkan tempat dimana dia berdiri sekarang.
__ADS_1