Ksatria Terakhir : Perjalanan Menuju Gunung

Ksatria Terakhir : Perjalanan Menuju Gunung
Chapter 7 Jebakan


__ADS_3

Pada saat gagang laci dari lemari tersebut ditarik ke depan dengan sangat cepat oleh tangah Alex tersebut. Tiba-tiba keluarlah sebuah anak panah meluncur dengan bebasnya dari laci tersebut.


Yang membuat Rieza berbicara, “Huft... Hampir saja, kalau reaksi aku tidak cepat, mungkin lengan aku akan tertancap oleh anak panah tersebut yang melesat dengan cepatnya.”


“Maka dari itu, tadi aku sudah memperingati kamu agar menjauh dari jangkauan laci ini, karena di dalam lemari ini banyak sekali jebakan yang telah ayah pasang untuk melindungi harta berharga yang ia simpan di dalamnya,” ujar Alex dengan mengelap keringat yang mengucur dengan derasnya dari atas kepalanya.


“Harta berharga? Itu seperti apa, Ka? Aku jadi penasaran dengan harta yang kakak maksud itu,” ujar Rieza bersemangat dan mulai bergerak menuju ke arah lemari tersebut.


Tetapi untuk berjalan pun sedikit susah, karena setiap Rieza ingin melangkah keramik yang terbuat dari batu-batuan alam ini berubah posisi selalu dan membuat Rieza berpikir sejenak.


“Ini kenapa keramik di lantai kamar selalu berubah tempat, apa ini salah satu rahasia lagi dari kamar Rolland Xander yang harus aku pecahkan secara cepat?” gumam Rieza bertanya-tanya.


“Hei, kamu jangan melamun saja, di kamar ini apapun bisa jadi sebuah jebakan, jadi kau harus lebih berhati-hati lagi dalam berjalan di keramik kamar ini, Rieza,” ujar Alex mengingatkan kembali.


“Apa ini yang Rolland maksud dengan harta karun tersebut? Jadi sebelum aku mendapatkan harta karun yang sesungguhnya, diriku harus memecahkan jebakan ini terlebih dahulu,” ujar Rieza berpikir kembali tentang segala kemungkinan yang akan terjadi.


“Oke, aku akan membuka semua teka-teki untuk mendapatkan harta karun yang berada di dalam kamar ini,” meyakinkan kepada dirinya sendiri.


“Kau kenapa, Rieza? Kok tiba-tiba melamun seperti itu, Rieza, kamu sepertinya sudah punya rencana untuk memecahkan teka-teki yang telah dibuat oleh ayahku ini,” tanya Alex karena melihat wajah Rieza yang senang seperti itu.


“Aku belum menemukan pola dari teka-teki ini, Ka tetapi kalau dari yang aku perhatikan itu, setiap aku injak salah satu keramik ini pasti posisi keramik ini berubah, Ka. Jadi aku ambil kesimpulan bahwa ini pasti mempunyai pola berubah yang tetap,” jelas Rieza panjang lebar kepada Alex.

__ADS_1


Yang antusias mendengarkan penjelasan dari Rieza yang mulai memahami pola dari perpindahan keramik-keramik yang terpasang di lantai kamar tersebut.


“Jadi, menurut kamu seperti itu pola yang diciptakan oleh ayah,” tegasnya Alex karena tidak percaya bahwa Rieza mengerti pola yang diciptakan oleh sang ayah itu.


“Aku pun tidak mengetahui dengan jelas tentang jebakan ini, tetapi ada beberapa keramik yang cukup menarik perhatian aku, Ka,” ujar Rieza seraya menunjuk salah satu keramik yang ia maksud.


“Lihatlah Ka keramik yang berpola berbeda itu deh, apabila kakak menginjak keramik tersebut pasti pola di lantai ini akan langsung berubah,” lanjut Rieza yang tetap masih menunjuk ke keramik yang ia maksud itu.


Setelah Rieza berbicara seperti itu, ia langsung menginjak keramik yang dimaksud agar Alex melihat tebakannya adalah benar.


Tidak lama kemudian setelah keramik itu diinjak oleh Rieza, pola dari lantai tersebut berubah kembali. Ternyata benar yang dibicarakan oleh Rieza tentang keramik ini.


Alex yang telah mengetahui kebenaran tentang keramik di lantai kamar sang ayah ini. Jadi semakin penasaran dengan jebakan yang telah disiapkan oleh sang ayah.


“Hah? Pintu? Pintu apa itu sebenarnya?”  teriak Alex dan Rieza.


Keduanya mendekati pintu yang tiba-tiba muncul di depan mata mereka. Dengan langkah perlahan, mereka mendekati pintu tersebut.


Diantara Rieza maupun Alex sangat penasaran dengan ruangan yang berada di belakang pintu tersebut. Akhirnya Alex memberanikan diri untuk memegang gagangnya dan mulai memutarnya.


“Krek” Suara pintu itu terbuka.

__ADS_1


Dari dalam ruangan, cahaya yang menyilaukan mata mulai mengenai mata keduanya dan mulai tercium aroma yang sangat harum dari dalam ruangan tersebut.


“Itu seperti bau alkohol? Apa ayah kakak seorang peminum dan kenapa udara yang keluar dari pintu ini sangat dingin sekali?” tanya Rieza yang masih heran terdapat bau alkohol dan udara yang keluar dari ruangan tersebut dingin.


“Sepertinya yang kamu bilang itu benar deh Rieza, memang itu adalah aroma alkohol, yang tadi kita hirup adalah aroma anggur yang telah difermentasi selama ratusan tahun di dalam botol, yang disimpan di dalam ruangan tersebut deh sama ayah,” jelas Alex yang membenarkan ucapan dari Rieza.


“Itu bukan sembarang alkohol Rieza, tetapi adalah minuman kelas langit, yang telah disimpan oleh pria itu selama ini, dalam perjalanannya menjelajahi dunia kultivasi ini,” jawab naga yang terdapat di dalam dirinya.


“Hah? Kau? Ini kamu Hydra? Kenapa kamu bisa bangkit sekarang?” tanya Rieza kepada dirinya sendiri.


Alex yang melihat Rieza berbicara, hanya bisa tercengang mendengar pembicaraan yang dilontarkan oleh Rieza kepada dirinya sendiri.


“Hai Rieza, kamu berbicara apa tadi? Alkohol kelas langit? Pil bumi tingkat atas? Itu semua apa, Rieza dan kegunaannya untuk apa pula?” cecar Alex yang tidak sabar mendengar penjelasan tentang informasi yang ia dapatkan sekarang.


Rieza yang tiba-tiba ditanya seperti itu, hanya bisa menggaruk-garuk kepala, karena ia pun sebenarnya tidak mengetahui apapun tentang masalah alkohol maupun pil tersebut.


“Kalau Rieza tidak mengetahui tentang hal itu, kenapa dia bisa berbicara tentang alkohol kelas langit dan pil bumi tingkat atas seperti ini? Apa ini dia mengetahuinya karena kekuatan yang terpendam itu, sehingga dia dapat mengetahui isi di dalam ruangan itu ya,” pikir Alex dengan segala kemungkinan yang terjadi.


“Hehe... Kakak kenapa memandangi diriku seperti itu? Ada yang salah ya sama wajah aku ini?” tanya Rieza seraya memeriksa wajahnya dan seluruh tubuhnya.


“Oh... Tidak... Tidak... Wajah kamu normal kok, tidak ada yang kotor maupun luka yang terdapat di wajah kamu maupun di tubuh kamu itu, tetapi aku hanya sedikit heran dengan cara kamu bisa mengetahui isi dari ruangan ini,” ujar Alex dengan miring kanan kepalanya dan memandang wajah Rieza dengan seksama.

__ADS_1


“Oh... Kalau masalah itu, aku masih belum bisa memberitahu kakak tentang hal itu karena aku pun masih belum yakin kepada diriku ini,” jawab Rieza dengan menundukkan kepala dan mendadak lesu.


“Ayolah, Rieza. Aku yakin dengan kamu. Kau pasti bisa mengendalikan kekuatan yang terdapat di dalam diri kamu itu dengan baik,” hibur Alex dengan mengangkat wajah Rieza agar ia dapat bertatapan dengannya.


__ADS_2