KURZE ZEIT : Waktu Singkat

KURZE ZEIT : Waktu Singkat
Prolog


__ADS_3

Melissa Boone, nama yang Antoine ingat dari seorang pelajar wanita pemalu. Wajahnya berseri-seri saat ada seseorang yang memujinya, malam itu di depan Roussel Restoran. Senyumnya dan sikapnya yang manis teringat jelas di pikirannya. Antoine meraih wajahnya, menyentuhnya selama yang ia inginkan.


"Antoine.. bagaimana hasilnya?"


Antoine menoleh "ckck.. mengapa kau selalu menggangguku?" ia menyerahkan secarik kertas kepada Julian, "tidakkah kau bosan bersamaku?" tanyanya.


"Ya sedikit, tapi Aku akan tetap memilih bosan daripada harus menanggung siksaan ayah anda" Julian menggelengkan kepalanya, "Tidak.. sampai Aku bebas dari tugasku, anda sungguh ingin mengusirku?"


"Ada apa denganmu?" Antoine mendekatkan wajahnya pada Julian


"Apa aku melarangmu melakukan sesuatu hal lain?"


Julian hanya diam melihatnya, Anton bangun dari kursinya, ia berjalan mendekatinya "Kamu tau kamu itu bukan budak, yah aku tau kalau kamu memang pernah dijadikan budak oleh ayahku tapi bukan berarti kamu harus selalu berada di sampingku" ia berdiri dihadapannya sambil memegang pundaknya "kamu bebas melakukan apapun yang kamu mau. Ingat, hanya saat ada ayahku saja kamu harus ada di sampingku" ucapnya.


Julian menganggukkan kepalanya, dia memperlihatkan senyuman manisnya. Seketika bulu kuduknya berdiri "Berhenti memasang ekspresi itu" raut wajah Julian berubah datar, Anton menghela nafas "maksudku, berhenti memakai ekspresi itu di hadapanku"


"Apa ada kabar?" Anton berbalik kembali ke meja kerjanya.


"Sejauh ini belum ada tanda-tanda pergerakan yang mencurigakan" Julian memelankan suaranya.


"Ada apa?" Anton menoleh ke Julian.


Julian berbisik "Sepertinya ada orang yang penasaran" mendengar perkataannya Anton tidak terkejut.


"Apa aku boleh melakukannya?" Antoine kembali meraih bolpoin hitamnya, Julian menoleh "apa maksud anda?"


"Kamu hanya perlu duduk disana" tangannya menunjuk ke arah kursi kosong di dekat kasurnya, "diam saja, sampai aku berkata sudah selesai" ia menatapnya tajam "sudah lakukan saja" bisiknya.


Julian mengikuti perintahnya, dia segera duduk di kursi kosong itu.


Dari luar pintu terdengar suara orang mengutuk, Anton tersenyum puas, ia mengeraskan suaranya "Oke, geser ke kanan sedikit" Julian menurutinya.


Setelah tidak mendengar suara dari luar, Julian berdiri lalu menuju ke arah pintu "Mau kemana?" Anton menatapnya.


Julian mendengus "Berjaga-jaga diluar, tadi anda bilang kalau saya bebas melakukan apapun"


Anton terkekeh melihat ekspresi Julian sebelum akhirnya dia keluar dari ruangannya.


Antoine kembali menulis beberapa kalimat yang sempat terputus sebelumnya. Julian telah mengabdi sebagai pelayannya selama berpuluh-puluh tahun, dibawah tekanan, sekaligus ancaman dari ayahnya ia tau kalau dahulu Julian terpaksa menuruti keinginan ayahnya termasuk menjadi pengawalnya. Kini ia menganggapnya sebagai sahabat.

__ADS_1


Anton mendengar suara dari dalam lemarinya, ia bergerak ke arah lemari sambil berkata "Aku sungguh penasaran, apa yang sedang kau lakukan saat ini" sosok itu membuka pintu, dia segera keluar dari lemari setelah keberadaannya telah diketahui, matanya mengamati sekelilingnya dengan saksama "cukup buruk untuk kamar seorang pelajar, apa kau tidak tertarik untuk menghias kamar mengerikan ini?" matanya menilai dari ujung hingga ke sudut lainnya kamar Antoine.


"Terima kasih atas pujiannya, saudariku" Antoine tersenyum lebar.


Saudarinya mendekatinya, dia menatap matanya tajam.


"Kamu masih membenciku?" tanyanya.


"Tidak, sebenarnya aku ingin melihat Julian, tapi dimana dia, aku pikir dia disini tadi"


"Apa yang ingin kamu katakan?"


"Tadi pagi.. Aku melihat seorang wanita cantik, dia terduduk sendirian di kursi taman. Awalnya aku pikir dia sedang menunggu seseorang, tapi setelah aku mendekatinya, aku menemukannya dalam kondisi mengenaskan. Perutnya terdapat luka tusukan yang cukup dalam, dan darahnya terlihat masih segar. Aku pikir dia baru saja dibunuh, tidakkah itu mencurigakan? "


Antoine tertawa "Hahaha.. aku melahap habis jiwanya, memangnya kenapa saudariku?"


Ola mendengus "Kenapa ucapanmu terdengar menyebalkan"


"Ada pergerakan" Julian kembali masuk ke dalam, berjalan menuju ke arahnya, "dia membunuh seorang wanita."


"Julian.."


Julian terpukau, mereka saling memandang "Ola kamu bilang tadi mencarinya" Anton berdiri dihadapan Ola, sengaja menghadang pandangan mereka.


Ola terkekeh "Oh ya! aku mampir mau memberimu kenang-kenangan, ini.." dia mengeluarkan foto-foto miliknya bersama dengan saudarinya, temannya, keluarganya, dan foto masa kecilnya yang memalukan.


"Aku tidak menyangka kau masih mengingatnya" desis Antoine.


"Wah sepertinya aku tidak bisa berlama-lama disini karena aku ada janji dengan seseorang" Ola memegang kepalanya, kemudian dia bergegas keluar dari ruangannya.


Anton menoleh ke Julian, "Ada apa denganmu?"


"Aku hanya ingin mengatakan apa yang aku lihat" ekspresi wajahnya serius.


Antoine membuka jendela, ia memejamkan matanya sambil menghirup semilir angin yang masuk ke dalam ruangannya.


Julian membuka ponselnya, disana tertulis dua pesan tanpa nama baru saja masuk "Ada sesuatu yang ingin aku katakan."


"Seseorang baru saja mengirim pesan singkat padaku, dia berkata bahwa dia merasa pernah melihat buku itu sebelumnya" Julian menjeda kalimatnya lalu dia membaca isi pesan di dalam ponselnya "Jika kau ingin bertemu denganku, temui aku di Cafetaria Wallace dari M" ucap Julian, Anton teringat perkataan Julian, ia menduga apa mungkin orang ini kembali berulah.

__ADS_1


"M? jadi dia meninggalkan inisial namanya" Anton menulis alamatnya di kertas, ia mengamati nama alamatnya "Aku mengerti, baiklah. Aku harap kita selangkah lebih maju dari mereka."


...🍷🍷🍷🍷🍷...


"Dewa yang dirindukan setiap manusia" katanya lirih. Seorang pria tampan di sampingnya berseru "Kau terlalu serakah."


"Ya, aku sangat ingin menjadi serakah" matanya menggelap "semua makhluk akan berubah setelah mereka mendapatkan apa yang diinginkan, mereka akan menjadi sangat serakah" dia berdiri lalu berjalan memutari mejanya. Putrinya melihatnya "apa yang telah kau katakan Ayah?" tanyanya.


"Kau tidak perlu mengerti, cukup lakukan apa yang aku perintahkan padamu" dia memegang tangannya sambil mengelusnya, "kau putriku, permata ku. Aku tidak akan biarkan dirimu terluka, pernahkah aku mengecewakanmu sayang?"


Ola menggelengkan kepalanya "tidak ayah" dia memeluknya erat, dan ayahnya membalas pelukannya.


"Pergilah sebelum ada yang melihatmu" serunya.


Ola pergi keluar dari ruangan pribadi ayahnya dengan gembira, senyumnya kembali merekah setelah melihat ayahnya yang sangat peduli padanya dan menyayanginya. Dia akan melakukan apapun yang diperintahkan oleh ayahnya.


"Apa yang telah mereka katakan padanya? sekarang lihatlah, Ola dengan suka rela menjadi budaknya" Antoine berbisik pada Julian "aku yakin dia merencanakan sesuatu, kau pasti berpikiran yang sama denganku."


Julian membalasnya dengan tenang "Ya, saya berpikir demikian"


"Menurutmu apa yang harus kita lakukan?" tanyanya, Julian mendekatinya sambil berbisik "Kita harus menemukannya sebelum Tuan Eden" Antoine mengangguk tanda setuju "Ya, semoga kita berhasil."


"Aku pikir kurang tepat jika kalian tidak melakukannya bersamaku" seseorang muncul dibelakang mereka sambil membawa keranjang belanja.


Antoine menoleh ke belakang, dia menatap lawan bicaranya dengan tajam "Denganmu? kau ingin terlibat dalam urusan kami sedangkan kau masih menjadi kaki tangan ayahku," Nikolas maju selangkah ke depan "dan ini apa? untuk siapa?" Julian mengintip isi belanjaannya.


"Ini wine, kue rol kayu manis untuk ayahmu" matanya Nikolas melirik ke Anton.


"Tuan Nikolas" Julian menyapa dengan ramah, Nikolas membalasnya sambil tersenyum "Oh Julian, lama tidak bertemu denganmu."


Nikolas mendengus "Berhenti berpura berkata sopan, panggil saja aku seperti biasa"


"Kau terlalu berlebihan Julian, santai saja dia kan bukan majikan mu" Antoine menyenggol lengan Julian.


"Lihat, bagaimana kau bisa diajak kerja sama jika kau masih setia pada ayahku?!" Antoine menepuk pundaknya "Dengar, apapun urusan kami aku sarankan kau untuk tidak ikut terlibat, dan jangan katakan pada ayahku tentang ini. Aku yakin kau telah membaca seluruh isi pikiranku, maka aku harus pergi sekarang" Antoine pergi dari sana diikuti Julian dibelakangnya.


Nikolas menyeringai, Apa yang akan kau lakukan saudaraku? aku ragu jika rencananya akan berhasil, tapi setidaknya kau telah berusaha untuk menemukannya.


"Aku harus menemukannya, ini satu-satunya cara untuk membuatnya bicara" kata Antoine dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2