KURZE ZEIT : Waktu Singkat

KURZE ZEIT : Waktu Singkat
9. Setelah kejadian


__ADS_3

Perlahan Lucie membuka matanya, samar-samar ia mendengar suara langkah kaki. Lucie mengalihkan pandangannya ke sekelilingnya, segalanya nampak buram. Ia hendak bangun, namun rasa sakit di kepalanya yang masih sangat terasa membuatnya mengurungkan niatnya. Kemudian suara pintu terbuka, semakin terdengar jelas suara langkah kakinya, Lucie cepat-cepat menutup matanya.


Seorang wanita berpakaian seragam pelayan masuk ke dalam ruangan, kedua tangannya dengan hati-hati membawa nampan yang berisi semangkuk bubur ayam dan air hangat. Setelah sampai di depan meja, dia meletakkan keduanya lalu bergegas keluar dari ruangan. Mendengar suara langkah kaki semakin menjauh, Lucie kembali membuka matanya. Hidungnya mengendus aroma makanan, pandangannya langsung tertuju ke meja di sampingnya. Tiba-tiba perutnya berbunyi, tangannya bergerak menuju ke meja, seketika ia tersadar. Kepingan kejadian kemarin malam mulai bermunculan di kepalanya, ia baru teringat kejadian semalam yang menimpanya sangat mengerikan. Bayangan sekelompok orang yang menghampirinya, melakukan kekerasan padanya, hingga ia tidak sanggup melakukan perlawanan lagi, tubuhnya melemas dan yang ia ingat terakhir kali adalah ia terkapar di trotoar dan penyelamatnya muncul disaat yang ia harapkan.


Tiba-tiba tirai terbuka, sinar matahari langsung masuk menyinari ruangan, dan menampilkan sosok pria yang nampak tidak asing di matanya.


"Silahkan dimakan"


"Siapa kamu??" tanyanya.


"Aku Ivan, siswa baru. Kita bertemu setelah upacara kemarin, kamu tidak ingat?"


Lucie kembali mengingat, dan ia baru ingat "Maaf Ivan, aku baru ingat" ia melihat sekelilingnya "Dimana aku?" ucapnya.


Tiba-tiba perutnya berbunyi, Lucie melihat ke segala arah "Suara apa itu tadi?" ia berpura-pura tidak mendengar. Ivan tersenyum "Itulah menariknya dirimu" bisiknya.


"Apa yang kamu katakan barusan?"


Ivan menggelengkan kepalanya "Tidak, aku tidak mengatakan apapun"


...🩸🩸🩸🩸🩸...


Nikolas memegang undangan pesta pernikahan Hera, Antoine melihat wajah Nikolas yang terlihat bimbang


"Datanglah kesana besok, dia akan sangat sedih jika kamu tidak datang" ucapnya.

__ADS_1


Nikolas memasukkan undangan itu ke dalam saku jaketnya, dia meminta saran Antoine "Menurutmu siapa yang harus menemaniku pergi kesana?" dia tidak tertarik untuk hadir di acara itu, Antoine mengerti namun dia masih memaksanya "Datanglah bersamanya"


"Bagaimana caranya?"


Julian tersenyum sambil menaruh dua cangkir berisi teh hangat di meja. Dia berkata " Berikan apa yang paling dia inginkan"


Sonya tau apapun tapi masih tidak mau mengatakannya, namun Lucie tak habis akal, dia merayu Sonya dengan menawarkan nomer milik Ivan dan akhirnya Sonya masuk ke dalam perangkapnya. Dia kembali memancing Sonya dengan pertanyaan lain, hingga berikutnya dia mendapat jawaban yang tidak terduga olehnya.


"Sebelumnya Aku meragukan ini, tapi setelah melihat keseriusan wajahnya sepertinya dia sungguh-sungguh menyukaimu"


Lucie terkekeh, "Tidak mungkin, dia itu punya banyak penggemar yang bahkan lebih cantik daripada aku jadi jelas tidak mungkin dia punya perasaan padaku" Lucie menggelengkan kepalanya, dia kembali memakan mienya.


"Tapi kemarin saat aku bertemu dengannya di depan gerbang sekolah, dia bertanya padaku tentangmu" mendengar perkataan Sonya, Lucie langsung tersedak


"Katakan saja, apa yang dia tanyakan?"


"Dia tanya apa kamu pernah merasa diikuti oleh seseorang, maksudku semacam penguntit" ujar Sonya sembari mengaduk mie lalu memakannya. Lucie memandang Sonya dengan bingung, "Penguntit katanya?" ucapnya.


"Ya, dia bertanya seperti itu padaku"


"Aneh sekali, mengapa tiba-tiba dia begitu peduli padaku?" Lucie merasa ada yang janggal, ia menyipitkan mata melihat Sonya yang masih menyantap mienya. Sonya langsung menghabiskan mienya dengan sekali suapan besar, lalu ia mengintip dari balik mangkuk "Ada satu hal lagi yang belum aku katakan padamu, dan yah ini berhasil mengganggu pikiranku semalaman" ucap Sonya.


Lucie meminum air putihnya, segelas hingga dua gelas air kemudian melihat wajah Sonya berubah serius "Aku baru ingat, dia berbisik di sebelahku tepat sebelum dia benar-benar pergi. Dia bilang, jangan dekati Alvin atau dia akan celaka" Lucie mengangguk paham, kemudian Sonya kembali berujar "Apa mungkin yang dimaksud 'dia' itu adalah kamu?".


"Aku rasa dia terlalu berlebihan, tapi kalau dipikir-pikir kami baru saja saling mengenal dan juga kami tidak begitu dekat jadi bagaimana dia berpikir seperti itu? atau jangan-jangan dia merencanakan sesuatu?" Lucie mulai menaruh curiga, Sonya malah membentaknya "Dia itu khawatir, dan tentu saja sebagai teman itu wajar saja." selang beberapa menit baik Sonya maupun Lucie terdiam, Sonya mengerutkan keningnya, "Tapi.. siapa Alvin?" tanya Sonya.

__ADS_1


"Aku tidak tau" ujar Lucie.


Lucie melihat bayangan dirinya dari gelas, samar-samar dia melihat bayangan orang lain didalam bayangan dirinya, Lucie bingung, ia mengedipkan matanya lagi seketika bayangan itu menghilang.


"Kenapa Lusi?"


"Nggak papa" ujarnya, Lucie terpaku pada kalung yang menggantung di atas cerminnya, sesaat ia terpikir akan lebih baik jika ia mengambil kalung itu dan kemudian mengembalikan ke pemiliknya. Tetapi kali ini entah mengapa setiap ia melihat kalung itu seperti ada sesuatu yang menariknya untuk memilikinya, rasa penasarannya semakin menjadi saat ia mulai menyentuh setiap jengkal ukiran kalung cantik itu, perlahan jarinya menekan kalung berbentuk kotak hingga terbuka, dan ia menemukan gambar yang terlihat mirip dengan seseorang yang ia kenal.


"Dimana dia?" Antoine membongkar seluruh isi rak mejanya, kemudian mencari ke dalam lemari, hingga ke seluruh ruangan tapi hasilnya nihil, kalung yang akan dia berikan padanya telah hilang.


"Apa yang kamu cari?" Julian muncul dari belakangnya, dia cukup kaget melihat barang-barangnya berantakan.


"Buku, aku mencari buku untuk bahan mengajar hari ini" Anton tersadar, ia melihat barangnya berada dimana-mana "Maaf, nanti akan aku rapikan lagi" ucapnya.


"Oke, tidak masalah" Julian mengamati raut wajah Antoine yang kembali tidak tenang.


"Aku pikir kamu menjatuhkannya di suatu tempat, misalnya seperti kemarin malam kamu pergi kemana?" Nikolas datang setelah mendengar suara berisik dari seberang kamarnya, "Terima kasih, kalian berhasil mengganggu waktu tidurku." keduanya menoleh secara bersamaan, Antoine menyipitkan matanya "Oh oke, maaf mengganggumu. Tapi aku benar-benar membutuhkannya, sekarang juga" ucapnya.


"Sekarang ingat lagi dimana kamu menaruhnya terakhir kali!" tegur Nikolas, Julian melirik ke Antoine yang nampak frustasi.


"Anton, sepertinya kamu tidak membawanya bersamamu" ujar Julian, Nikolas menoleh "Gimana kamu bisa tau kalau kalungnya tidak dia bawa?"


"Aku hanya menebak, karena.. aku merasa pernah melihatnya di suatu tempat" Julian menoleh ke Nikolas kemudian ke Anton.


"Dimana kamu pernah melihatnya?" Anton kembali mencoba mengingat semua hal yang ia lakukan kemarin, sesaat terbesit ingatan semalam saat ia keluar berbelanja "Aku rasa aku tau dimana aku menjatuhkannya" ucapnya.

__ADS_1


__ADS_2