KURZE ZEIT : Waktu Singkat

KURZE ZEIT : Waktu Singkat
2. Kejadian semalam


__ADS_3

Lucie meminum minuman pesanannya, sedang dihadapannya ada Mr. Antoine yang baru saja sadar dan juga ada temannya. Diam-diam Lucie melirik ke Mr. Antoine lalu ke temannya, " Namaku Nikolas, senang bertemu denganmu " Lucie tersedak minumannya, ia segera mengambil tisu lalu kembali menatap wajah lawan bicaranya " Nama saya Lucie, senang bertemu dengan anda juga " ucapnya.


" Karena anda sudah datang kesini jadi saya rasa saya harus pergi " ucapnya sopan. Lucie hendak bangun dari kursi, Nikolas langsung menghadangnya " Mau aku antar? " tawar Nikolas.


Antoine tertawa " Dengar dia itu murid ku, jadi tolong berhenti membuat masalah " ucapnya.


" Kenapa aku harus peduli?. Lagipula itu sama sekali tidak ada hubungannya denganku, " Nikolas mengulurkan tangannya ke Lucie "jadi gimana Lucie?" Lucie menghiraukannya, ia hanya berkata " Maaf mengganggu pak, tapi saya harus pergi sekarang " ucapnya sopan, kemudian pergi meninggalkan mereka, Nikolas tercengang.


" Dia murid yang pintar " Antoine menyeringai, ia melihat Nikolas " Jika dia memilih mengikuti mu, Aku akan membawamu ke polisi. "


Nikolas menoleh " Kamu pikir aku pedofil? " dia kembali duduk di tempatnya. "


" Ya " Antoine bangkit, pandangannya mengarah ke segala arah, semua mata tertuju pada mereka " Ayo keluar dari sini " ucapnya.


" Oke " Nikolas mengikutinya dari belakang, sedangkan beberapa pasang mata mengawasinya dari dua meja dibelakang mereka.


Sesampai di rumah Becca, Lucie menaruh jaketnya, ia mencuci tangannya kemudian membasuh mukanya. Pundaknya dipukul dari belakang, " Darimana saja kamu? aku dari tadi menunggumu " Becca kesal padanya, sementara Lucie memandang Becca dengan termenung, ia kembali melihat wajahnya dalam cermin " Menurutmu apa aku ini terlihat seperti wanita penggoda? " tanyanya.


" Apa?! tentu saja tidak, memang siapa yang berkata seperti itu? " teriak Becca. Lucie menutup mulut Becca dengan cepat, " Shh.. pelankan suaramu, tidak ada yang mengatakan itu padaku. Aku hanya bertanya karena penasaran dengan pendapatmu "


" Becca! dimana Lucie?! " panggil Ibunya Becca.


Baik Becca maupun Lucie, mereka menjawab secara bersamaan, " Kami akan segera kesana Ibu " Becca mendorong Lucie keluar dari kamar mandi, Lucie berbisik " Lupakan apa yang kutanyakan tadi, dan jangan katakan pada siapapun "


Becca mengangguk paham " Aku akan anggap kau menghayal "


" Makanannya sangat enak " Lucie hendak ingin menambah sup labu lagi, tapi Becca mencegahnya,


" Kamu tidak boleh makan terlalu banyak nanti kamu jadi gendut " Becca terkekeh.


Lucie menarik baju Becca, " Tante, kami mau mengerjakan tugas kelompok dulu, ayo Be "


" Tapi ingat Becca jangan sampai terlalu malam " Mereka menganggukkan kepala.


.


.


"Omong-omong tadi kenapa kamu berkata seperti itu?" bisik Becca.


" Sebelum aku sampai di rumahmu, aku bertemu dengan Mr. Antoine di persimpangan jalan " ia mengambil buku dari dalam tasnya " dan dia terlihat buruk " lalu memberikan bukunya ke Becca.


" Apa yang terjadi padanya? "

__ADS_1


Ia menoleh menghadapnya " Dia mabuk, sangat mabuk sampai-sampai tidak sadarkan diri. "


" Terus kamu menemaninya sampai sadar? "


" Aku menghubungi temannya, begitu temannya sampai aku langsung pergi " ucapnya, Becca menutup mulutnya.


" Jangan berpikir yang aneh-aneh, selama temannya belum sampai tidak terjadi apapun diantara kami " ia memang berkata jujur, tapi Becca terlihat tidak percaya.


" Tidak mungkin " Becca menggelengkan kepalanya.


" Terserah kamu mau berpikir seperti apa, yang jelas aku mengatakan yang sebenarnya "


" Oke, mari lupakan tentangnya dan sekarang kita harus segera menyelesaikan tugas kita. " Becca menyerah.


" Nah.. itu terdengar lebih baik "


Selepas kepergian Lucie, beberapa pasang mata melihat kedua pria yang sebelumnya bertikai tentang status muridnya dan hasrat temannya. Nikolas yang menyadari itu langsung duduk kembali, sedang Antoine yang masih pusing berusaha untuk bangkit berdiri. Nikolas menghadangnya, dia berbisik "Ada yang ingin aku katakan."


"Katakan saja sekarang" ucapnya.


"Dia telah meninggal"


Matanya tiba-tiba menggelap, ia mengumpat " Aku akan menemuinya " ia bergegas pergi, tapi sebelum itu terjadi tangannya dicekal,


" Ya, Oh sial! jadi kemana lagi aku harus pergi? tolong jangan hentikan aku, biarkan aku pergi"


Antoine mendekatinya, matanya menatapnya tajam,


" katakan padaku, apa yang harus aku lakukan setelah mendengar kematiannya? "


Nikolas terdiam.


" Aku mengerti " Antoine segera pergi menjauh dari hadapannya.


Nikolas tertawa keras, tangannya mengepal kuat hingga urat-uratnya terlihat menonjol daripada kulitnya " Tidak, dia bahkan tidak menyadarinya. "


Antoine melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia memukul keras setir mobilnya, " Bajingan itu, aku akan membunuhnya " ia terus mengulang perkataannya sampai seseorang muncul di tengah-tengah jalan.


Nikolas tiba-tiba berada dihadapannya, Antoine mendadak menghentikan mobilnya, " Menghalangiku hah? " desisnya.


Antoine membuka jendela mobilnya, kepalanya keluar dari jendela, " apa lagi sekarang?! " dia berteriak marah.


" Aku tidak akan membiarkanmu mati sia-sia dihadapan ayah " ucap Nikolas.

__ADS_1


Dia mengatur nafasnya, berusaha setenang mungkin


" Oke, baiklah. Aku akan kembali ke rumah " ucapnya.


Kemudian ia kembali menjalankan mobilnya. Sekarang emosinya telah menghilang, ia menoleh ke samping, dan menemukan kursi disampingnya kosong. Antoine bertanya-tanya "Dimana dia?."


Dari kejauhan Nikolas merutuki kebodohan Antoine "Apa-apaan dia, main pergi begitu saja. Kenapa aku selalu mendapat kemalangan saat bersamanya" ucapnya frustasi.


...🍷🍷🍷🍷🍷...


Lucie pulang dengan membawa banyak hadiah tangan dari keluarga Campbel. Hari ini setelah kunjungannya ke rumah Becca yang terasa menyenangkan, ia merasa sangat bersyukur memiliki teman seperti Becca. Mereka keluarga yang sangat ramah, pikirnya.


Setidaknya bebannya sedikit berkurang.


Berjalan di atas trotoar yang kini terlihat sunyi membuatnya mempercepat langkahnya. Lucie mengamati lingkungan sekitarnya dengan waspada.


" Mr. Antoine?! "


Pandangannya dikejutkan oleh sosok yang terlihat mengerikan, " Apa aku terlihat mengerikan? Lucie? " matanya melebar, dia semakin gugup, " Pak, suatu kehormatan bisa bertemu dengan anda. " dia membungkukkan sedikit tubuhnya dengan sopan.


Dia tersenyum ringan, " Tidak, anda tidak terlihat mengerikan " Lucie menggelengkan kepalanya, dia berhasil menutupi kegugupannya.


Antoine terkekeh, " eum.. berhentilah berbohong Mrs. Secio, katakanlah dengan jujur. Saya sungguh membenci orang yang berdusta, saya pikir anda bukanlah orang yang pantas saya benci, benar tidak? " Antoine berusaha menjaga keseimbangannya, dia berjalan tertatih-tatih, namun sayangnya dia kembali terjatuh. Antoine mengerang kesakitan, " Ah sepertinya Aku merusak lututku, hahaha " dia tertawa keras.


Lucie merutuki dirinya yang pulang terlalu larut, jika dia tidak pulang semalam ini mungkin dia tidak akan bertemu dengan Mr. Antoine. Dia terlihat buruk dan sangat mabuk, ia dapat mencium aroma wine yang sangat kuat dari tubuhnya. Ini bukanlah kondisi yang bagus untuk berbicara dengannya. Tapi bagaimana dia bisa berada disini, atau mungkin dia baru saja mengunjungi temannya.


Lucie menekuk kakinya, sekarang posisinya sejajar dengannya, " Pak, berapa nomor ponsel teman bapak? " tanyanya ramah.


" Apa yang ingin kamu lakukan? meminta nomor ponsel rekanku? " keningnya berkerut, lalu dia tersenyum-senyum seperti orang bahagia.


" Saya pikir saya perlu meminta bantuannya karena rekannya saat ini sangat membutuhkan pertolongannya sebelum hal buruk terjadi padanya " ujarnya.


Lucie menatap wajahnya, matanya terpaku melihat warna matanya, miliknya berwarna hijau dan terlihat lebih cerah daripada milik Becca. Dia berdehem, " eum.. Pak, dimana ponsel anda? bisakah anda memberikannya pada saya? "


Mata hijaunya bergerak mencari sumber suara dan menemukan wajah Lucie yang terdiam memandangnya. Wajahnya merah merekah seperti buah apel, Antoine tersenyum


" Wajahmu cantik "


" Apa? " keningnya berkerut.


Tangannya meraih wajahnya, dia menyentuh permukaan halus itu dengan hati-hati dan penuh perhatian " Kau terlihat seperti adikku, " ujarnya tersenyum " ramah dan polos " ia terkekeh.


Wajahnya semakin memerah.

__ADS_1


__ADS_2