KURZE ZEIT : Waktu Singkat

KURZE ZEIT : Waktu Singkat
8. Koneksi


__ADS_3

Lucie membuka lokernya lalu mengambil name tag miliknya. Setelahnya dia menuju ke ruang kelas namun saat hendak masuk ke dalam kelas, beberapa siswi terlihat mengerumuni kelas 3.1. Dia tidak ingin terlalu penasaran tapi dari belakang Sonya menariknya untuk mengikutinya. Sonya sangat antusias.


"Dia adalah putra dari dokter Leah, dokter Leah itu orang yang berdedikasi pada masyarakat, terutama soal kesehatan dan sosial. Beliau sangat berjasa pada saat perang melawan penjajah, beliau mengobati prajurit yang terluka, dan aku dengar beliau dulunya juga seorang prajurit, hebat bukan?" ucap Sonya.


Lucie mengangguk paham, Sonya kembali berkata "yang paling mengherankan adalah bagaimana dia bisa punya seorang anak yang terlihat muda?" Sonya keheranan, begitupun Lucie yang sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakannya "memangnya kenapa? aku pikir bagus jika dia punya seorang anak yang muda, dia dapat selalu hadir di sampingmu kapanpun kau mau"


"Kamu benar, akan sangat menyenangkan jika hal itu juga akan terjadi pada kita saat tua nanti, kita memang tidak akan kesepian tapi setelah itu waktu kita akan semakin sempit terutama.." Warren datang tiba-tiba, menghalangi pandangan Sonya dari anak dokter Leah.


Warren berbalik ke belakang, mengamati wajah mereka berdua "Saat kematian datang menjemputmu, kau tidak akan dapat melihatnya lagi" ucap Warren.


Sonya terkejut "kau membaca pikiranku?!"


"Ya tentu saja, ini adalah kelebihan ku" Warren memuji dirinya sendiri, Sonya mendengus "itu bukan kelebihan mu, tentu saja bukan. Kelebihan mu itu hanyalah suka mengganggu orang!" Sonya hendak memukul bahu Tama, mengetahui niat Sonya, Tama segera menghindar. Sonya yang sangat jengkel akhirnya mengejar Tama, mereka berdua saling kejar-kejaran, Lucie yang memandang mereka dari kejauhan hanya tertawa.


Lucie tertawa melihat tingkah mereka berdua, sesaat Lucie mendengar seseorang berbisik di sampingnya "tersenyumlah bersamaku, bersamaku akan terasa lebih menyenangkan" namun saat menoleh ke samping, tidak ada seseorang pun selain dirinya di sana.


Sonya mendekatinya "ada apa? apa terjadi sesuatu?" Lucie terdiam, dia melihat Sonya "tidak ada, hanya terpikir sesuatu" ucapnya.


"Pikirkan saja itu, selama yang kamu bisa" bisik seseorang, Lucie kembali mencari sumber suara itu, namun tidak ada seseorang di dekatnya selain Sonya, ini bukan suara Sonya tapi ini jelas suara pria, bisik batinnya.


Matanya bergerak menuju ke dalam kelas, siswi-siswi masih terlihat mengerumuni murid baru itu. Murid baru itu bangun dari kursinya, dia menoleh ke belakang kemudian dia menatapnya selama beberapa detik.


"Kemarin kamu bilang mau menghadap Bu Julia, kebetulan sekali aku juga ingin berbicara dengannya" Sonya menyentuh bahunya, namun masih tidak ada tanggapan darinya. Lantas Sonya mengikuti arah pandangannya.


Kembali ke Lucie, dia masih terfokus pada pria yang entah mengapa dia semakin penasaran dengan jati diri pria itu. Dirinya kembali tersadar setelah Sonya mencubit lengannya.


"Oh maaf, sampai dimana tadi?"


"Aku ingin menemanimu ke Bu Julia, kebetulan aku juga ada urusan dengannya" Sonya menghela nafas "ada apa denganmu? jadi dari tadi aku bicara, kamu sama sekali tidak dengar?"

__ADS_1


"Aku mendengar mu tapi tidak sepenuhnya" ucap Lucie, dia terkekeh geli.


...🌬️🌬️🌬️🌬️🌬️...


Suasana di malam hari itu semakin dingin, membuat tubuhnya mulai menggigil, tangannya mencengkram kuat jaketnya. Lucie terdiam sejenak, dia menoleh ke belakang sebentar lalu kembali melanjutkan langkahnya. Lucie merasa ada seseorang yang mengikutinya, dia semakin mempercepat langkahnya sambil melirik ke belakang lagi sampai-sampai dia menabrak orang lain.


"Maaf, saya tidak sengaja. Maafkan saya" Lucie menundukkan kepalanya sambil menahan malu.


"Tidak masalah,"


"Ah ya Lucie kebetulan sekali bertemu denganmu. Ada seseorang yang sedang menunggu kita sekarang" ucapnya, Lucie terkejut lantas dia menengadahkan kepalanya dan menemukan wajah 'murid baru' yang baru saja terlintas di pikirannya.


Lucie heran, ia bertanya padanya "Bagaimana bisa kamu tahu namaku?"


"Ada name tag mu yang masih menempel di sana" tangannya menunjuk ke dada Lucie.


Lucie melihat ke dadanya dan ya dia benar name tag nya masih melekat di sana. Lucie buru-buru melepas name tag nya kemudian memasukkan ke dalam tasnya.


"Bu Julia" ucapnya.


Diam-diam Lucie melirik ke arahnya "Ehm.. jadi siapa namamu?"


"Ivan" ucapnya.


"Hi, aku Lucie" Lucie tersenyum sambil mengangkat tangannya, dia hendak mengajaknya berjabat tangan namun Ivan menolaknya.


Dia berkata "Aku sudah mengenalmu sejak awal, lagipula ini terlalu formal" Lucie tergelak mendengar jawabannya, lantas dia berbisik


"Apakah aku membuatmu malu?" matanya menyipit.

__ADS_1


Ivan berbisik tepat di telinganya "Tidak, aku justru kesenangan dapat menyentuhmu" ucapnya terus terang.


Lucie bergidik, dia membalas ucapannya "Ah baiklah, ya lagipula ini terlalu formal untukmu. Tidak, lebih baik tidak kulakukan"


Ivan tersenyum sambil mengangguk "Ya kamu benar," dia terdiam sebentar, matanya mengamati wajahnya dari dekat. Dia berkata padanya dengan lembut "Jangan kamu lakukan itu selain denganku, aku bersungguh-sungguh dengan perkataan ku"


"Maksudmu menjabat tangan orang lain? selain kamu?" Lucie menatap wajahnya, sangat dekat hingga dia melihat warna matanya, warna biru muda yang indah. Lucie terdiam, begitupun dengan Ivan.


Ivan menyentuh pipinya yang bersemu kemudian beralih ke dahinya "Tunggu sebentar, tidakkah kamu kedinginan?" tanyanya.


Lucie mengedipkan kedua matanya berulang kali, dia kembali tersadar "Bagaimana dengan Bu Julia?" tanyanya.


"Tunggu sebentar" Ivan membuka ponselnya, setelah itu dia melihat Lucie yang sedang menunggunya.


"Bu Julia terburu-buru pulang karena anaknya terjatuh dari sepeda motor"


Lucie mengangguk paham "Baiklah, jadi aku akan langsung pulang saja" Lucie hendak pergi namun tangannya mencengkram erat tangannya, dia berkata "Aku akan mengantarmu pulang".


"Aku bisa pulang sendiri, jadi tidak perlu repot mengantarku pulang" dia melepas tangannya lalu pergi meninggalkannya yang mematung.


Setelah Lucie sampai di tempat parkir, dia mengambil sepedanya kemudian membawanya pulang bersamanya. Saat di tengah perjalanan tiba-tiba seseorang menarik pundaknya dari belakang, membuatnya jatuh tersungkur, kepalanya cukup kencang membentur tanah. Lucie mengerang kesakitan, dia berteriak meminta tolong namun sayangnya tidak ada siapapun di sana.


Pandangannya semakin menggelap, tepat sebelum dia benar-benar hilang kesadaran, ada suara pria yang anehnya pernah dia dengar sebelumnya. Setelah itu kesadarannya menghilang sepenuhnya.


"Hei Vera, bawakan aku pakaian wanita yang bersih dan juga air putih" Ivan menggenggam erat tangannya sambil mengamati wajahnya yang cantik.


"Baik Tuan" Vera segera keluar dari kamar tuannya.


Ivan membuka lemarinya lalu mengambil sebuah mahkota yang sederhana nan indah, dia berkata pada Lucie yang masih belum sadar

__ADS_1


"Seberapa besar harapan ini masih ada, sampai sekarang pun aku bahkan tidak dapat melakukan apapun untukmu" ucapnya sendu.


Ivan mendekatkan dirinya pada Lucie, dia berbaring di sampingnya sambil menatap wajahnya "Aku tidak akan pernah membuka hatiku untuk siapapun, aku berjanji"


__ADS_2