KURZE ZEIT : Waktu Singkat

KURZE ZEIT : Waktu Singkat
10. Setelah kejadian


__ADS_3

"Aku rasa aku tau dimana aku menjatuhkannya"


Nikolas mengangguk "Baguslah, kalau gitu aku bisa tidur lagi"


Anton menyipitkan mata "Pergi sana!!" usirnya, sementara Julian memakai jaketnya, dia akan pergi tapi Anton mencegatnya "mau pergi kemana?" tanyanya.


"Belanja" dia melewati Anton yang mematung, lalu pergi keluar.


.


.


Anton mengambil pakaiannya dari dalam lemari, setelah memakainya, ia mengambil jam tangan, kemudian merapikan rambutnya. Anton berjalan menyusuri sepanjang sungai, dia memandang bayangan dirinya di dalam air "Tidak ada yang berubah dariku" batinnya.


Diam-diam ia mencuri pandang pada wajah cantik disampingnya, bibirnya melengkung ke atas membentuk senyuman, dirinya pun ikut tersenyum.


"Kamu tau, saat pertama kali kita bertemu, jujur aku bingung mau membahas apa" dia melirik ke arahnya lalu kembali melihat pemandangan di depan.


"Awalnya aku pikir kamu orang yang pendiam, jadi aku sempat berpikir kalau nanti kita akan dalam suasana canggung"


"Aku tau" ucapnya.


"Kamu sudah tau dari awal?"


Anton mengangguk " Ya aku tau, bahkan sebelum itu terjadi "


"Sebelum maksudmu?" wanita itu menutup mulutnya "jangan bilang sebelum kita bertemu" dia memandang Anton, merasa dilihat Anton memalingkan wajahnya ke arah lain.


Wanita itu terkekeh "Sejak saat itu aku mulai tertarik untuk menjadi temanmu"


Tidak jauh dari tempatnya berpijak, terlihat jembatan yang membentang, disana banyak orang mengambil foto, dan tidak hanya itu ada juga yang berbincang bersama teman dan bahkan sekedar menikmati pemandangan. Anton berdiri disana, terpesona hanya dengan memandangnya, ia tersenyum, tangannya perlahan mendekati tangannya. Ia menggenggam tangannya erat, wanita itu berbalik menghadapnya, dia tersenyum, melihat senyumannya dari dekat membuatnya tidak bisa memalingkan matanya. Ponselnya tiba-tiba berdering, saat melihat ke samping bayangannya telah menghilang.


Pesan masuk


Kamu ada waktu luang? nanti temani aku cari pakaian buat acara besok ya?


Anton hanya melihat pesannya lalu ia mematikan ponselnya. Ia segera pergi dari sana. Sampai di depan rumah, dia masuk ke dalam, pandangannya mengarah ke sosok pria yang dia benci kemudian beralih ke teman-temannya. Tidak berniat bergabung, dia hanya berjalan melewatinya.

__ADS_1


"Bagaimana kalian bisa berteman dengannya?"


Anton berhenti di depan pintu kamar.


"Saat itu kalau tidak salah, kami mahasiswa baru di jurusan sastra perancis, awalnya kami tidak begitu saling dekat, tapi ketika ada penerimaan anggota baru di berbagai komunitas anehnya di kelas kami hanya kami bertiga yang tidak tertarik bergabung ke komunitas manapun"


"Pembagian tugas kelompok juga, kami hampir selalu satu kelompok, rasanya kami seperti saling terikat jadi inilah yang membuat kami menjadi teman" ucap salah satu temannya.


"Oh begitu awalnya kalian bertemu, sejujurnya saya sangat terkejut saat mendengar cerita kalian karena semasa dia kecil dia tidak begitu menyukai punya teman, saya tidak mengerti alasannya apa"


Anton diam-diam mendengarnya lalu ia masuk ke dalam kamar.


Anton berbalik ke belakang "jangan pernah coba-coba ikut campur urusan pribadiku"


Raut wajahnya sesaat tertegun kemudian berubah sumringah "aku kesini hanya mau memberimu kabar gembira"


"Aku tahu" raut wajahnya dingin.


"Syukurlah kalau kamu sudah tahu, jadi aku tidak perlu repot-repot memberitahumu"


"Tolong keluar dari kamarku sekarang" Anton tidak mau melihat orang itu, ia tidak pernah menganggap orang yang dipanggilnya 'ayah' itu sebagai sosok ayahnya, setelah ibunya pergi meninggalkannya untuk selamanya orang itu tidak memperdulikannya, tidak sekalipun. Ia memalingkan wajahnya ke belakang hanya untuk mengecek apa orang itu sudah benar-benar keluar, mengetahui orang itu sudah keluar ia menghela nafas lega. Ia memejamkan matanya lalu menjatuhkan tubuhnya ke kasur.


"Sudah kuduga, banyak juga yang datang"


Nikolas berdiri disampingnya.


Julian melirik ke arahnya "apa pestanya sampai malam??" tanyanya.


Nikolas mendengus "seharusnya aku tidak mengajakmu kesini"


"Wah Nikolas Julian kalian datang juga, aku pikir kalian tidak akan datang" enam pasang mata serempak menoleh ke sosok wanita yang berada dihadapan mereka yang tidak lain adalah Loraine.


"Hei Lora.. kamu pasti menunggu Anton" Nikolas melirik ke Julian "kalau bukan karena menunggunya, kami pasti sudah sampai dari tadi"


Anton melihat Nikolas "Kamu memilih pakaianmu hampir setengah jam" kemudian ia melihat Loraine tersenyum padanya, Anton memalingkan wajahnya "jangan melihatku seperti itu"


"Meski kamu memaksa aku tetap tidak bisa, apa mungkin kamu menabur semacam sihir padaku?" tangannya bergerak merangkul lengannya, lalu ia menarik tangannya. Anton melepaskan tangannya dari lengannya, ia menoleh ke belakang "apa yang kalian tunggu?"

__ADS_1


Nikolas dan Julian saling memandang.


Mereka bertiga masuk ke dalam aula, Nikolas memilih pergi berbincang dengan orang-orang, Julian mengarah ke tempat minuman sementara dirinya mengamati sosok yang berdiri tidak jauh darinya.


Wanita itu berbincang dengan orang-orang di sekitarnya, dari cara bibirnya bergerak, dia berbicara dengan hati-hati, sesekali nampak bibirnya membentuk senyuman, matanya berbinar seperti mengatakan jiwanya lagi bersemangat. Perlahan mata wanita itu berpaling ke arahnya, Anton hanya melihatnya.


"Ayah senang melihat kamu datang"


Anton melihat ayahnya "dimana orangnya?"


"Dia itu calon ibumu, harusnya kamu memanggilnya ibu"


Ia memalingkan wajahnya, kembali melihat ke arah lain.


"Siapa yang kamu lihat?" ayahnya ikut melihat ke arah yang sama dengannya.


"Oh apa dia pacarmu?"


"Bukan, hanya orang yang aku kenal" Anton berjalan melewati ayahnya, ia keluar dari aula. Menjauh dari banyak orang, ia memilih tempat yang sepi, mulai bosan ia mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya.


"Saat kamu merokok kemungkinan kamu lagi tidak tenang atau.. ada sesuatu yang mengganggumu"


Anton menghembuskan nafas, ia tersenyum kecil "Ivana lee.." ia memalingkan wajahnya ke samping, wanita itu berjalan mendekatinya.


"Aku tidak menduga kalau kamu akan datang"


Anton menghembuskan nafasnya "Aku juga tidak menduganya" ia melirik kearah Ivana "kalau kamu, apa yang membuatmu datang?"


"Aku ikut kesini hanya karena ayah memintaku menemaninya" Ivana duduk di samping Anton, dia mengamatinya "ada apa?"


Anton menoleh ke arahnya "apa yang ingin kamu tau dariku?" ia kembali menghisap asap rokok "yang pertama atau kedua?"


"Keduanya" tangannya menjauhkan rokoknya dari mulutnya.


Anton melihat Ivana "Pertama, kembalikan kalungku. Aku tau kamu yang mengambilnya" ia melepaskan tangannya "kedua, berhenti menyamar sebagai murid dan.."


Anton memalingkan wajahnya, ia berdiri "makasih sudah menolongnya" lalu ia bergegas pergi kembali ke dalam. Ivana tertegun, dia menoleh ke belakang melihat Anton, namun dia menghilang.

__ADS_1


Anton masuk ke dalam, ia berhenti di depan pintu, bayangan ada sosok wanita menabraknya tiba-tiba muncul di pikirannya. Anton terdiam, ia berpikir apa yang baru saja ia rasakan, apa itu? Anton masih belum mengerti. Tiba-tiba ada orang menabraknya, ia memalingkan wajahnya ke belakang "maafkan saya" pandangannya tertuju pada sosok wanita yang kini berada dihadapannya, wanita ini langsung menundukkan kepalanya "saya benar-benar minta maaf" masih dengan kepala tertunduk ke bawah, Anton melihat ke sekelilingnya, banyak pasang mata mengarah ke mereka berdua dan beberapa diantaranya berbisik, melihat situasinya ia semakin tidak enak "nona tolong angkat kepalamu" bisiknya.


Wanita dihadapannya mengangkat kepalanya ke atas, hingga tatapan mata mereka bertemu, ekspresi wajahnya berubah, dia terlihat sangat terkejut melebihi ekspektasi Anton, dia memejamkan matanya lalu matanya kembali terbuka "Mr. Anton?" kedua mata wanita ini melebar.


__ADS_2