
Kehidupan ini berjalan dengan normal
Hal-hal yang nampak beberapa diantaranya menakjubkan
Seolah-olah semuanya akan kekal abadi
Terlihat nyata namun terkadang tidak sesuai dengan ekspetasi
Realitanya bahagia itu menyenangkan
Mereka berkumpul, berbicara lalu tertawa bersama
" Apa yang kakak baca?, " Ben bersandar di depan pintunya " Bukan apa-apa, " balasnya cepat, Lucie menutup bukunya " apa yang kau lakukan disini? " tanyanya.
" Aku dari tadi mengetuk pintu kamar kakak, tapi tidak ada jawaban jadi aku langsung masuk saja " kata adiknya..
" Oh oke, jadi ada apa kemari? " tanyanya.
" Kak, aku mau tanya apa kakak punya teman laki-laki? " tanya Ben, Lucie teringat perkataan Ben semalam kalau dia mengaku pernah melihat sosok pria berdiri di depan rumah, tapi akhir-akhir ini ia tidak dekat dengan seorang pria apalagi punya teman pria yang akrab, ia menatap mata Ben lalu menggelengkan kepalanya.
Rian berbicara padanya, tapi melihat tidak ada respon dari Lucie membuatnya penasaran apa yang sedang dia pikirkan, dia melambaikan tangannya di depan wajahnya tapi Lucie masih melamun.
"Halo?? Lucie?"
Rian melambaikan tangannya beberapa kali di depan wajahnya, masih merasa tidak di perhatikan dia mencubit kedua pipinya. Lucie mengaduh kesakitan "Aaa.. sakit tahu!"
"Ya inilah yang aku lakukan, Lusi apa yang sedang kau pikirkan?"
"Tidak ada, entahlah aku merasakan sesuatu seperti" Lucie kembali terdiam selama beberapa detik kemudian dia berkata "tidak tau apa firasatku benar tapi aku rasa aku telah dikuntit" bisiknya.
"Itu terdengar aneh, selain itu apa yang kau rasakan?" Rian perlahan mendekatinya, dia baru saja tersadar "tunggu tunggu.. kamu bilang apa barusan? dikuntit?" dia duduk didepannya.
"Ya sepertinya, karena adikku tidak sengaja berpapasan dengan penguntit itu" kedua tangannya menopang dagunya, Lucie melihat Rian "menurutmu apa yang diinginkan penguntit itu dariku?" tanyanya.
Rian mendekatkan wajahnya, matanya menatap matanya serius "Apa kamu pernah melakukan sesuatu yang jahat, jadi.. dia ingin membalas dendam padamu."
Lucie menyipitkan matanya "Apa aku terlihat seperti penjahat?"
__ADS_1
"Maaf Aku tidak bermaksud begitu, jangan marah hehehe " Rian memohon ampun, Lucie memikirkan apa yang barusan Rian katakan "Aku tidak marah, tapi mungkin kamu benar."
Ia teringat kembali kenangan masa kecilnya dulu, Lucie terkekeh "Aku pernah bertengkar dengan salah satu murid di sekolah dulu."
"Nah itu bisa menjadi alasan mengapa dia punya dendam padamu" bisik Rian.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Becca datang menghampirinya, Rian dan Lucie sama-sama terdiam.
"Aku rasa aku butuh istirahat" Lucie mengangguk.
"Sepertinya aku juga" Rian menyandarkan kepalanya ke meja, dia memejamkan matanya.
Antonie memakai jasnya sambil merapikan pakaiannya, ia berjalan menuju ke perpustakaan pribadinya, bersama dengan adiknya, Henry. Dia semakin mempercepat langkahnya, hingga akhirnya dia sampai di depan pintu masuk perpustakaannya. Seluruh otot tubuhnya menegang, dia menelan salivanya segera sebelum masuk ke dalam.
Tangannya mulai mengetuk pintu masuk, "Aku datang" karena tidak ada jawaban, dia langsung membuka pintu itu lalu menutupnya kembali.
"Kedatanganmu akan sangat membantuku, ahh ya.. apa aku masih bisa mengajukan permohonan?"
"Ya kau dapat memintanya, tapi apa yang bisa aku dapatkan sebagai imbalannya?"
" Lindungi dia, kapanpun dimana pun dia berada kau harus selalu didekatnya. Aku pun akan melakukan sebaliknya "
" Baik, aku menunggu janjimu "
Seseorang mengetuk pintu dengan ketukan keras " Ijinkan aku masuk, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu "
" Seberapa penting? "
" Sangat penting " pintu terbuka, sosok pria itu masuk ke dalam dengan cepat.
" Ada yang ingin aku katakan, ini tentang Lucie "
Mendengar namanya membuatnya teringat kemarin malam saat dia mengantarnya pulang ke rumah, begitu turun dari mobil dia berbalik menghadapnya, bibirnya bergerak mengucapkan kata-kata yang tidak begitu jelas didengar kemudian dia tersenyum. Anton terus mengawasinya dari dalam mobil sampai dia masuk ke dalam rumah.
Antoine mengangkat wajahnya, dengan tenang dia berkata " apa itu? "
Rian melepas topinya, dia mendekat ke Antoine dengan cepat " Sepertinya dia bukanlah orang yang kau cari "
__ADS_1
...🍷🍷🍷🍷🍷...
Melihat itu jantung Lucie berpacu dengan cepat, ia menghela nafas setelah acara tv itu selesai " Aku pikir itu tadi nyata " ucapnya.
" Apa yang nyata? dia hanyalah seorang aktris, dia berpura-pura di depan banyak orang dengan wajah cantiknya, penampilan yang sempurna, itu jelas tidak nyata " ujar Ben.
" Maksudku perasaannya terlihat nyata, tapi kamu ada benarnya juga itu kan hanya akting " Lucie terkekeh, ia duduk di sebelah Ben, ia bersandar di pundaknya " Sepertinya aku berhalusinasi tadi " bisiknya.
" Sepertinya kakak harus istirahat "
" Kau benar, aku harus istirahat " perlahan Ben mengelus rambutnya dengan lembut
" Selamat malam "
Ben menutup pintu kamar Lucie, ia pun berkata " selamat malam "
Lucie hendak menutup jendelanya, namun tiba-tiba sekelebat bayangan muncul di luar sana. Bayangan itu perlahan berubah wujud menjadi manusia, merasa ketakutan Lucie dengan cepat menutup jendelanya, mematikan lampu, lalu ia menutup dirinya dengan selimut.
" Apapun yang terjadi aku akan selalu berada didekatnya "
Bayangan itu melesat cepat ke dalam rumah Lucie, lalu masuk ke dalam kamar Lucie, dia duduk di kursi sambil mengamati wajahnya. Jari-jarinya menyentuh wajah wanita yang saat ini telah terlelap tidur, dia berbisik " Aku akan selalu berada di dekatmu, mengawasimu dari jauh "
Dia melihat wajah Lucie sekali lagi sebelum dia benar-benar pergi, setelah rasa khawatirnya sedikit berkurang dia menghilang dengan cepat.
Tidak ada yang tau apa yang terjadi diantara mereka semalam, namun hal itu secara tidak sengaja diketahui oleh Lucie. Semalam selama bayangan itu muncul di kamarnya, Lucie tidak dalam kondisi tertidur pulas jadi selama itu ia mendengar bayangan itu berbicara dan ia menduga bahwa bayangan itu adalah bukan manusia biasa.
Lucie perlahan membuka matanya " Siapa dia? "
Besok paginya, dia masuk ke dalam kelas, melihat belum ada siapapun disana, dia segera menuju bangku paling belakang. Menguap beberapa kali, ditambah kelopak matanya terasa berat untuk dibuka, mengingat masih ada waktu setengah jam sebelum kelas dimulai, dia merasa lega setidaknya dia bisa memejamkan matanya walaupun sebentar, baginya waktu setengah jam saja sudah cukup.
Anton masuk ke dalam ruangannya, hari ini ia datang lebih awal dari jadwal mengajarnya, melihat banyak tumpukan kertas di atas mejanya ia segera merapikannya, kemudian memindahkannya ke loker. Selesai merapikan ruangannya, ia keluar dari ruangannya menuju ke setiap kelas, hanya untuk memastikan tidak ada siapapun disana.
"Aku tidak menyangka kamu kembali" Anton menoleh ke belakang, seorang pria menatapnya kemudian terkekeh "aku hanya tidak percaya kamu benar-benar keluar dari komunitas"
"Tidak ada bagusnya juga ikut komunitas itu, tidak.. aku memang sudah tidak tertarik jadi untuk apa aku melanjutkannya?"
"Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan?" Anton menatapnya tajam, pria dihadapannya hanya tersenyum kemudian menghilang dengan cepat.
__ADS_1