KURZE ZEIT : Waktu Singkat

KURZE ZEIT : Waktu Singkat
7. Mimpi


__ADS_3

Lucie menuruni anak tangga dengan cepat, ia menuju ke halaman belakang rumahnya. Lucie cepat-cepat memakai sweater, jaket, lalu mengalungkan syalnya ke lehernya. Ia membuka pintu, tak disangka saat pintu telah terbuka lebar, orang itu telah berdiri di hadapannya.


"Ingin bertemu denganku?"


Tubuhnya menegang, tidak! tidak malam ini!


Kakinya perlahan bergerak mundur ke belakang, sekarang ia merasa sangat terancam, entah kenapa alam bawah sadarnya baru berteriak. Tutup pintunya! cepat! tangannya memegang gagang pintu secepat yang ia bisa lalu berusaha menutup pintu.


Namun salah satu kakinya menghadang pintu yang berusaha Lucie tutup.


"Itu tidak akan membantumu menemukan sebuah jawaban" ucapnya.


"Aku tidak akan melakukan apapun padamu asalkan kamu mau bertemu denganku di taman Rote Rose" dia mulai mengancam Lucie.


"Tidak ada hal yang penting untuk dibicarakan, tolong biarkan aku pergi" sesaat setelah permohonannya, dia berbisik "Pejamkan matamu"


Lucie memejamkan matanya, "sekarang, bukalah matamu" ucapnya.


Saat Lucie membuka matanya, dia menghilang.


...❄️❄️❄️❄️❄️...


"Ada apa kak? tidak bisa tidur atau mimpi buruk?" Ben muncul dari belakangnya sambil membawa secangkir air.


"Mimpi buruk" ucapnya.


Lucie mengamati adiknya "bagaimana denganmu?"


"Tidak bisa tidur" Ben menepuk pundak kakaknya sambil berkata "kak aku harus tidur sekarang, selamat malam"


"Baiklah, selamat malam" balasnya.


Lucie masuk ke dalam kamar, saat menutup pintu, angin berhembus menembus dinding kamarnya, menyentuh kulitnya yang sensitif membuat tubuhnya menjadi menggigil. Lucie menemukan jendela kamarnya masih terbuka lebar, ia menyalakan lampunya lalu menutup jendela.


Lucie berbaring di ranjang sambil memanjatkan doa, setelah itu ia mematikan lampu.


"Berdoa? supaya tidak mimpi buruk atau supaya bisa tidur?"


Matanya terbuka lebar, ia merasa ada seseorang di belakangnya. Bayangannya menjadi lebih jelas dibawah lampu tidurnya, ia bertanya-tanya apakah orang itu adalah pencuri, atau dia adalah pria yang bertemu dengannya beberapa menit yang lalu.


"Siapa kamu?"

__ADS_1


"Orang yang sama saat bertemu denganmu beberapa menit yang lalu, sangat terhormat untukku bisa masuk ke ruangan mu"


"Apa? Terhormat katamu?!" Lucie bangun dari ranjangnya, ia menoleh ke belakang, matanya menemukan mata pria itu mengamatinya intens, wajahnya yang tampan, pakaiannya serba hitam. Ia terdiam, berusaha tenang sambil mencari cara untuk menyingkirkan pria ini.


"Tidurlah, lagipula aku tidak mengungkit perkataan ku sebelumnya"


"Pergilah jika begitu" balasnya, tangannya mencengkram erat selimutnya.


Pria itu mendekati telinga Lucie, dia berbisik "Tidurlah" perintahnya.


Orang itu menyentuh tangannya lalu menggenggamnya erat "bagaimana bisa aku tanpamu, kamu adalah hatiku" balasnya.


"Terima kasih, bahkan jika aku menghilang aku yakin suatu saat kita akan bertemu lagi"


"Kamu bilang aku harus yakin, tapi sekarang kamu membuatku semakin ragu," rasanya sedih, ia melihat dari belakang, sosok pria yang berdiri didepannya perlahan menjauh "Aku harus mencari cara lain, bagaimanapun caranya kamu tidak boleh menyerah" gumamnya.


Beberapa orang berada di halaman depan rumahnya, salah satunya keluar dari mobil sambil membawa peti mati, Anton masuk ke dalam rumah bersama dengan para petugas inspeksi dari kepolisian setempat.


" Aku ingin berbicara dengan nona Lucie " kata petugas polisi, sesaat petugas itu menatap mata Anton kemudian memalingkan wajahnya.


" Saya akan bertanya padanya nanti, kalau dia bersedia saya akan mengabari anda kembali pak " Anton melihat ke Julian ' kamu pasti juga merasakan hal yang sama denganku ' ia bertelepati dengan Julian.


" Pak silahkan dilanjutkan pencarian buktinya dan saya berharap pelakunya segera ditangkap. Saya permisi keluar " setelah selesai memeriksa di lokasi rumahnya Lucie, ia dan Julian segera keluar dari sana.


Anton melihat Nikolas, ia berjalan melewatinya "Tidak ada apa-apa" ucapnya, Nikolas menyentuh pundak Julian


" Katakan sesuatu Juan. "


" Tidak mau " tolak Julian.


" Ayolah.. apa yang kalian sembunyikan dariku " Nikolas merangkul pundak Julian dan Anton, Anton menurunkan tangannya dari pundaknya.


"Jangan bebani dirimu ayah, aku akan senang jika bisa membantumu" ayahnya melihat wajah anaknya "apapun, termasuk hal ini?"


"Ya tidak masalah"


Saat menjelang sore hari, Nikolas menuju ke ruangan tempat ayahnya biasa bekerja. Dengan tangan cekatan, dia berhasil menemukan dokumen jenazah itu dengan cepat dan juga peti matinya. Setelah dia melihat isi dokumennya, wajahnya langsung memucat, dia cepat-cepat membuka peti mati itu, betapa terkejutnya dia melihat mayat yang ternyata adalah ayahnya Lucie berada di dalam peti mati dengan kondisi tubuh banyak luka tembakan dan juga sayatan yang sangat dalam.


Nikolas terdiam sambil mengepalkan tangannya "Ayah, apa yang baru saja kau lakukan?" dia semakin penasaran. Orang yang sangat tidak ingin dia temui muncul dari belakangnya, dia menoleh.


"Pergilah, aku tidak ingin diganggu oleh siapapun," dia berbalik menghadap ke meja, lalu memasukkan dokumen itu ke dalam tempat semula "sekarang atau sampai kapanpun jangan ganggu aku"

__ADS_1


"Apa kau takut? lagipula dia juga akan segera mengetahuinya"


"Tidak, tapi aku tahu kamu telah memberitahunya," Nikolas mendekatinya, dia berbisik "inilah mengapa aku sangat tidak menyukaimu."


"Apa untungnya aku memberitahunya? Hei aku tau saat ini dia sedang bersembunyi," Daniel mengetuk-ngetuk mejanya lalu berbalik menghadapnya, "tidak ada yang tau siapa saksi mata yang sebenarnya, tapi aku yakin dia sedang mencarinya di setiap sudut kota."


"Hanya saran dariku, terserah kamu mau menerimanya atau tidak, segera bawa dia pergi sejauh mungkin atau mau ke tempatku? disana ada temanku yang akan melindunginya, dia memiliki rumah, dan apapun yang pastinya akan membuatnya bahagia dan nyaman tinggal disana," Daniel menyerahkan secarik kertas padanya "Dia tidak akan mungkin dapat menjangkaunya, kecuali jika gerakan mu terlihat aneh. Ini alamatnya dan nomor teleponnya, hubungi dia sesegera mungkin"


Daniel menepuk pundaknya, "Aku harus pergi, semoga beruntung"


"Aku tidak akan melakukannya" Nikolas berdiri menghadapnya.


"Semuanya terserah padamu" setelah puas berkata seperti itu padanya orang itu langsung pergi dari hadapannya. Tangannya menggaruk kepalanya beberapa kali, dia merasa frustasi dan juga kesal "Kenapa dia selalu ikut campur?"


.


.


Sonya termenung, dia meletakkan tanamannya dengan hati-hati lalu mengambil kameranya dengan antusias, dia mengambil foto tanamannya, menghapus hasil fotonya, kemudian menit berikutnya dia kembali menghapus foto tanamannya, dia mendengus kesal "bagaimana caranya dapat gambar yang bagus "


"Itu mudah, lakukan berkali-kali saja setelahnya kamu akan mendapat hasil yang memuaskan" ucapnya.


"Sudah kuduga jawabanmu akan seperti itu, sangat tidak membantu" wajahnya cemberut "Bagaimana jika kamu yang mengambil gambarnya? meringankan pekerjaan teman lebih baik daripada tidak membantu, ya tidak?" bisiknya menggoda.


"Apa imbalannya untukku?" dia berharap bayarannya seperti apa yang dia pikirkan saat ini.


"Akan aku kenalkan temanku padamu, dia orang yang menarik, aku yakin setelah kamu mengenalnya kamu akan tertarik padanya" Sonya menggodanya lagi, Lucie kembali berpikir tawaran Sonya seperti biasa tidak begitu menarik perhatiannya.


"Dia memiliki minat yang sama denganmu sepertinya tentang tanaman herbal" ucapnya.


"Kalau begitu kapan aku dapat bertemu dengannya?" tanya Lucie.


"Tentu saja, secepatnya"


Sepulang sekolah, Sonya berlari menyusul Lucie yang sudah berada jauh di depannya. Setelah berhasil menyusul Lucie, Sonya berkata "Dia ingin segera bertemu denganmu"


"Apa?!" Lucie terkejut mendengar pernyataan Sonya.


Sonya melihat raut wajah Lucie, mengamatinya dengan teliti seolah-olah menemukan sesuatu di wajahnya.


"Apa ada sesuatu di wajahku?" tangannya bergerak meraba-raba wajahnya.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan memberikan nomor ponselnya padamu. Sebelumnya aku telah memberinya nomor ponselmu jadi ada kemungkinan tidak lama lagi dia akan menghubungimu" bisik Sonya.


Lucie berteriak "Hei kamu bahkan belum meminta ijinku!"


__ADS_2