
Diseberang puskesmas sudah terlihat jelas
lampu puskesmas menyala semua.
" Ayo Rendi bantu aku" kata Wadi
Wawan yang sedari tadi sudah ketakutan
Tanpa diminta bantuan pun wawan buru- buru ikut mengangkat Yoga.
Air mata Aini tak pernah berhenti mengalir
Kesedihan Yang dirasakan Aini begitu teramat
dalam Padahal baru kali ini Aini berani menerima Cinta seorang laki- laki walaupun cinta yang Aini rasakan harus Ditahan demi kelangsungan Sekolah dan nama baiknya.
Aini juga Ingin orang tua Yoga bangga pada
Yoga kekasih tertundanya itu darah Yoga terus saja bercucuran dari hidungnya yang mancung itu ,, Aini pun slalu berusaha membersihkan darah yoga dengan shal miliknya sendiri.
Setelah sampai di pintu puskesmas para perawat dan pak dokter pun berupaya terus
Memberi pertolongan Aini tak ingin jauh dari Yoga walau sedetik
"Dek keluar dulu ya , biar diobati temenya"
Kata Pak dokter " tolong selamatkan teman saya ya pak dokter" kata Aini
Air mata Aini terus saja mengalir dan Aini tak mau jauh - jauh dari Yoga meski pak dokter telah memintanya Setelah selesai diobati dan diperban ditempat yang luka pak dokter membiarkan Aini Memeluk Yoga kekasih nya itu
Sementara teman- teman Yoga dan Aini di ruang tunggu.
Setelah satu jam setelah selesai diobati Yoga pun sadar, orang yang pertama Yoga lihat adalah Aini.
Pelan pelan suara Yoga terdengar menyapa Aini
" Sayang sapa matanya kenapa bengkak...??" Sapa yoga
"huk... Huk. .. Huk" tangis Aini pun semangkin keras saja sampai terdengar keruang tunggu teman- teman Aini dan Yoga jadi salah paham dan menganggap Yoga telah meninggal dunia.
"Astaghfirullahalazim, kenapa lagi ya allah" keluh Wadi
Rendi dan Wawan lari karena takut dipenjarakan
Sedangkan Wadi dan Ardita berlari masuk kedalam melihat dan Memastikan keadaan Yoga
Sampai diruang rawat Wadi terkejut melihat
Yoga masih hidup dan sudah sadar
Aini memeluk Yoga walau dalam keadaan posisi setengah telungkup ke badan Yoga dan Aini pun mencium tangan Yoga
"Aku sangat mencintai mu Yoga jangan tinggalkan aku sayang" kata Aini
Dan Yoga juga membalas pelukan Aini
Walau dalam keadaan terbaring di atas kasur puskesmas Yoga mendekatkan bibirnya kekening Aini dan mencium Kening Aini dengan begitu lembutnya Aini memejamkan matanya
Terjadi lagi pemandangan yang romantis
Didepan mata Wadi dan ardita "Aini kita menikah saja ya" kata Yoga pada
Aini, Aini tak mejawab perkataan Yoga Aini hanya memeluk Yoga "aku tak tau harus berkata apa Yoga tapi yang ku tau aku tak ingin kehilangan mu Yoga saat melihat mu terluka Seperti ini hati ku sangat hancur Yoga
__ADS_1
perasaan separti ini belum pernah aku rasakan sebelumnya" Yoga kembali mencium kening Aini
" kita harus berani Aini kata Yoga
Demi cinta kita sayang" kata Yoga pada Aini
"hem ehem hem" terdengar suara pak dokter yang ingin memeriksa keadaan Yoga
Aini pun bangkit dan duduk kembali ketempat
Duduknya semula yaitu disamping Yoga
" Makan obatnya ya dek 3 x sehari jagan lupa kamu harus cepat sembuh kasian tuh teman kamu dari tadi nangis terus khawatir sama kamu" Kata pak dokter
Malam itu juga Yoga dan Aini serta wadi juga Ardita kembali ke villa dan setelah sampi di villa mereka kembali kekamar masing- masing
Kamar Yoga tepat di depan kamar Wadi
Kamar Aini dan ardita disamping kamar Yoga
Jam sudah menunjukkan jam satu malam
Yoga tak bisa tidur hanya duduk sambil
Melamun kearah jendela kamarnya di benak Yoga hanya ingin menikahi Aini. Sedangkan umur Yoga masih 17 tahun
Sementara Aini terbangun dari tidurnya karena melihat ayah memukul yoga dengan kayu hingga meninggal dari dalam mimpinya
" Apakah tandanya ini ya Allah" ucap Aini
Aini pun haus lalu keluar dari kamarnya mengambil minum ke dapur
sementara Yoga juga ingin minum
Yoga juga keluar dari kamar dan kedapur mengambil minum
Wadi melihat Yoga mendekati Aini dan berusaha mencium Aini sedangkan Aini menolak ciuman Yoga
Yoga aku mimpi buruk kata Aini pada Yoga
Kamu mimpi apa sayang kata Yoga pada Aini
" Yoga aku mimpi kamu meninggal dunia
Yang lebih parahnya dalam mimpi itu kamu
Dibunuh ayah
Astarhpirullah yoga terkejut.
sudahlah mungkin itu cuma mimpi
Saja kata Yoga
" Aini percayalah orang tua mu dan orang tua ku ,Pasti merestui hubungan kita ini
Smentara Wadi mengintip mereka berdua dari
Balik tirai dapur
"Lalu kamu kenapa kamu enggak tidur ... ? Kata Aini kepada Yoga
Sayang aku ingin kita menikah saja, aku akan pulang kebogor mengatakan ini semua kepada kedua orang tua ku,,
__ADS_1
Wadi yang menguping terkejud mendengar
Pembicaraan antara Yoga dan Aini
Apasih yang ada di pikiran mereka , kok udah
Kepingin nikah aja kan masih sekolah
Dasar buciin grutu wadi pelan
Yoga terus saja membujuk Aini agar mau
Menikah dengan dirinya
Aku ingin hidup bersama mu sayang siang malam kita bersama saling bercinta
Tapi kita kan masih kecil Yoga ,kita masih
Sekolah dan aku juga tak berani mengatakan
Ini pada ayah , kata Aini
Kalau kamu takut biar aku yang mengatakan
Kepada orang tua mu sayang
Lagi lagi yoga mencium tangan Aini
" ni anak makin berani saja kata Wadi pelan
Pakek acara mau nikah segala lagi.
Air mata Aini mengalir lagi
" kamu jangan menangis lagi sayang, kata yoga pada Aini. " cinta kita suci ini anugra dari Yang maha kuasa
" Lihat mata ku sayang apa ada keraguan disana aku tak kan pernah menyerah aku
Akan mencintai mu sampai titik darah pengabisan untuk memperjuangkan cinta kita
Kata" Yoga pada Aini.
" Kamu jangan sembarang bicara sayang Kamu tau gak tadi itu aja kamu yang di
Hajar Rendi dan Wawan aku yang hampir
Mati nyawa ini rasanya udah di ujung tenggorokan rasanya sakit sekali itu namanya kamu memang benar cinta pada ku sayang"
Perlahan Yoga mendekatkan bibirnya kearah
Aini hem ehemm kata Wadi adegan yang
akan di lakukan Yoga ke Aini pun terhenti
padahal sedikiiit lagi kena tu bibir yoga ke
Pipi Aini.
" Sudah tidurlah Aini besok pagi kita harus pulang karena besok lusa kita udah sekolah Aini" kata Wadi.
Sementara Aini yang berjalan menuju kamar
tidurnya Wadi menarik tangan Yoga
__ADS_1
"Tunggu sebentar teman tadi tak sengaja
Mendengar pebicaraan kalian Kamu seriusya ingin menikah dengan Aini Bro kamu tau kan Aini itu anak semata wayang ayahnya pendapat ku percuma juga