
Setelah selesai makan, Feng Li menunjukkan kamar untuk Xiao Lian beristirahat.
“Lian, untuk sementara waktu, kamu tidur di sini dulu ya," ucap Feng Li.
“Baik Guru. Sekali lagi, terima kasih," Xiao Lian berterima kasih kepada Feng Li sambil tersenyum.
Feng Li juga ikut tersenyum.
“Lalu, aku tidur di mana?" tanya Wang Xuemin.
“Karena tidak ada kamar lagi, maka kalian berdua tidur di kamar ini ya," ujar Feng Li.
“Apaa?!" Xiao Lian dan Wang Xuemin terkejut.
“Tidak tidak tidak. Tidak mungkin aku tidur seranjang dengan seorang pria. Tidak mau, aku menolak," Xiao Lian menolak.
“Aku juga tidak mau tidur seranjang dengan perempuan," ucap Wang Xuemin.
“Itu adalah hal yang mudah. Xiao Lian tidur di atas dan Wang Xuemin tidur di bawah," ucap Feng Li.
“Jadi maksudnya aku harus tidur di bawah gitu?" tanya Wang Xuemin.
“Bisa dibilang begitu," ujar Feng Li.
“Itu tetap saja...
“Baiklah. Asalkan Wang Xuemin tidak melakukan hal-hal yang aneh kepadaku, aku mau," ujar Xiao Lian.
“Eh sejak kapan aku...
“Ah sudahlah, ini sudah malam. Aku mau tidur dulu, da dah," Xiao Lian memotong pembicaraan Wang Xuemin.
__ADS_1
Kemudian, Xiao Lian masuk ke dalam kamarnya.
“Aku juga mau tidur," Feng Li berjalan meninggalkan Wang Xuemin dan masuk ke dalam kamar.
“Hei! Jangan tinggalkan aku sendirian!" Wang Xuemin teriak-teriak sendiri.
Akhirnya, Wang Xuemin pasrah dan menuruti aturan yang memberatkannya itu. Dia tidur di bawah, sementara Xiao Lian tidur di atas ranjang. Wang Xuemin mulai menutup matanya.
“Wang Xuemin!" seseorang memanggil nama Wang Xuemin.
Wang Xuemin membuka matanya perlahan. Terlihat, seorang wanita dan pria paruh baya sedang duduk sembari menatap wajah Wang Xuemin.
“Ibu? Ayah?" Wang Xuemin terkejut dan langsung merubah posisinya menjadi duduk.
“Anakku sekarang sudah besar ya," Ibu Wang Xuemin membelai rambut Wang Xuemin.
Kedua orang tua Wang Xuemin adalah salah satu dari jutaan orang yang telah menjadi korban kekejaman Jia Li. Mereka dihabisi oleh pendekar suruhan Jia Li.
“Aku baik-baik saja yah," ucap Wang Xuemin sambil menahan tangis haru.
“Lihatlah dia! Sekarang dia sudah menjadi pria yang kuat," ucap Hua Ran, Ibu Wang Xuemin.
Tiba-tiba, perlahan air mata mulai mengalir deras dari sudut mata Wang Xuemin. Dia masih tidak percaya dengan hal yang dilihatnya saat ini.
“Nak. Kenapa kamu menangis?" tanya Hua Ran.
Wang Xuemin tidak bisa menjawab pertanyaan ibunya itu. Dia langsung memeluk erat kedua orang tuanya.
“Ibu... Ayah... Aku sangat merindukan kalian. Sejak kepergian kalian, aku merasa sangat kesepian hiks," ucap Wang Xuemin sambil menangis sesegukan.
“Jangan menangis lagi. Anak ibu kan anak yang kuat," Hua Ran berusaha untuk menyemangati Wang Xuemin.
__ADS_1
Wang Xuemin tidak mempedulikan hal itu. Dia masih terus menangis tanpa henti.
Tiba-tiba, tubuh kedua orang tua Wang Xuemin mulai menghilang.
“Aku rasa, ini adalah saatnya," ucap Hua Ran sambil menatap wajah Wang Nam.
“Kau benar," ucap Wang Nam.
“Ibu... Ayah... Kalian mau pergi kemana?" tanya Wang Xuemin.
“Ibu dan ayah harus kembali ke atas lagi," ujar Wang Nam.
“Nak, ingat pesan ibu. Sesibuk apapun kamu, jangan lupa makan," ucap Hua Ran dan kemudian menghilang.
“IBU... AYAH...." teriak Wang Xuemin.
“Argghh!" Wang Xuemin terbangun.
Dia diam sebentar dan kemudian melihat ke segala arah.
“Jadi itu semua hanya mimpi," batin Wang Xuemin.
Tak lama setelah itu, Xiao Lian masuk ke dalam kamar. Xiao Lian baru selesai mandi dan masih menggunakan handuk.
Alhasil, Wang Xuemin tak sengaja melihat tubuh indah Xiao Lian.
“Heeee! Dasar pria mesum!" Xiao Lian mengambil bantal dan melemparkannya ke wajah Wang Xuemin.
“Eh tunggu...
Sebelum Wang Xuemin menyelesaikan kalimatnya, sebuah bantal sudah terlanjur mendarat di wajahnya.
__ADS_1
“Aduh sakit!" ucap Wang Xuemin.