
Wang Xuemin membopong Xiao Lian dan merebahkannya di kasur. Kemudian, Wang Xuemin keluar kamar dan mengambil sesuatu.
Ternyata, dia mengambil daun Giz yang ditumbuk hingga halus. Masyarakat sekitar percaya, bahwa daun Giz ini memiliki khasiat untuk menyembuhkan luka hanya dalam sekejap mata.
Wang Xuemin mengambil secubit dan mengoleskannya di luka Xiao Lian. Dia mengoleskannya dengan hati-hati, karena tidak ingin menyakiti luka Xiao Lian.
“Awh...." Xiao Lian merasakan sedikit sakit.
“Tahan ya!" pinta Wang Xuemin.
Xiao Lian menuruti permintaan Wang Xuemin.
“Nah sudah selesai," ucap Wang Xuemin.
“Terima kasih." Xiao Lian berterima kasih kepada Wang Xuemin.
“Iya. Tidak masalah," ucap Wang Xuemin sembari tersenyum tipis.
“Aku harus segera berlatih. Guru Feng pasti sudah menunggu." Xiao Lian hendak berdiri dari tempat tidur.
Namun, Wang Xuemin menahan Xiao Lian.
“Guru Feng menyuruhmu untuk beristirahat dulu. Kau bisa mulai latihan lagi besok," ujar Wang Xuemin.
__ADS_1
“Tapi, aku sudah bisa berdiri. Lihat! Aku baik-baik saja," Xiao Lian tidak mendengarkan permintaan Wang Xuemin.
“Sudah aku bilang jangan latihan dulu!" Wang Xuemin menahan tubuh Xiao Lian.
Mata mereka saling bertatapan. Jantung Xiao Lian dan Wang Xuemin sama-sama berdebar tak karuan.
“Baiklah. Aku akan beristirahat," ujar Xiao Lian tersipu malu.
Wang Xuemin tersenyum tipis dan kemudian berjalan keluar kamar. Dia ingin membiarkan Xiao Lian beristirahat dengan tenang.
Sementara itu, Wang Xuemin dan Feng Li sedang berbincang-bincang sembari minum teh.
“Minumlah teh dulu!" suruh Feng Li.
Feng Li menuangkan teh di dua gelas. Yang satu dia berikan kepada Wang Xuemin, sementara yang satunya untuk dirinya sendiri.
Wang Xuemin mengambil cangkir berisi teh itu dan mulai menegukny perlahan.
“Pyuh... Lega...." Wang Xuemin telah selesai meminum teh teraebut.
“Sebenarnya kamu ini siapa? Bagaimana kau bisa tahu jurus Teratai Biru?" Feng Li meluncurkan berbagai pertanyaan kepada Wang Xuemin.
__ADS_1
“Oh jurus itu aku belajar dari kedua orang tuaku. Saat aku masih kecil, aku selalu ikut ayah dan ibu untuk berlatih jurus," jelas Wang Xuemin.
“Jadi maksudmu, kedua orang tuamu belajar jurus sendiri? Tanpa seorang ahli?" tanya Feng Li lagi.
“Bisa dibilang begitu. Kedua orang tuaku memiliki sebuah kitab beladiri yang istimewa. Kalau tidak salah ingat, namanya adalah Kitab Surgawi," ujar Wang Xuemin.
“Apaa?!" Feng Li terkejut.
“Memang, ada apa Guru?" tanya Wang Xuemin.
“Apa kau tidak tahu? Kitab Surgawi adalah kitab panduan bela diri yang ditulis langsung oleh Dewa Langit. Menurut legenda, kitab ini hanya terdapat tiga buah di dunia ini," ujar Feng Li.
“Benarkah? Sayangnya, aku tidak tau itu," ucap Wang Xuemin.
“Lalu, dimana kitab itu sekarang?" tanya Feng Li.
“Entah. Kedua orang tuaku mengatakan bahwa kitabnya telah dikubur di suatu tempat yang tidak akan bisa dijangkau oleh manusia biasa," ujar Wang Xuemin.
“Jadi begitu ceritanya. Seandainya aku bisa melihat atau bahkan membaca langsung kitab itu." Feng Li kecewa.
“Aku benar,-benar minta maaf," Wang Xuemin menunduk, merasa bersalah.
“Tak apa-apa. Lagi pula keputusan orang tuamu itu memang sangat baik. Mereka tidak ingin agar Kitab Suci Surgawi ini jatuh ke tangan yang salah," ujar Feng Li.
__ADS_1
“Baik Guru," Wang Xuemin menganggukan kepalanya.
Sementara itu, Feng Li tersenyum tipis kepada Wang Xuemin.