Legenda Ratu Naga

Legenda Ratu Naga
Ch . 17 - Belati 3


__ADS_3

Jendral Liu Fang bertubi-tubi melesatkan pisau kecilnya kearah Quo Cang, berusaha untuk melukai lawannya, hingga sampai meningkatkan kekuatan lesatan pisaunya tersebut berkali-kali dan Quo Cang sibuk pula menangkis pisau-pisau tersebut dengan tongkatnya, memutar-mutarkan tongkatnya hingga menjadi sebuah pusaran angin yang bisa menghancurkan apa saja yang mendekatinya.


Melihat dengan pisau kecilnya yang tidak dapat melukai tubuh Quo Cang, Jendral Liu Fang mengentikan serangannya tersebut dan mengalihkan ke pedang yang berada di belakang punggungnya tersebut yang mulai mengalirkan energinya ke pedang tersebut sehingga terbentuklah kilatan api dipermukaan pedang tersebut.


Tidak lain dengan Quo Cang yang hampir kehabisan tenaga untuk menangkap serangan pisau dari lawannya dengan membuat pusaran angin dengan tongkatnya dan yang pasti menguras tenaganya.


"Sialll.. serangan pisaunya membuat ku lelah.."Quo Cang berdecak kesal di dalam hati.


Quo Cang mengubah posisi bertahannya menjadi Mulai menyerang karena lawannya menghentikan serangannya, dan itu kesempatannya untuk menyerang dan melukai lawannya.


Sehingga tak disangka bisa menebak gerakannya dan menangkis tongkatnya yang teraliri energi penuh sehingga terjadi benturan kekuatan yang dahsyat dan membuat gelombang energi yang cukup besar di antara keduanya, hingga sama-sama terpukul mundur dan Quo Cang mengeluarkan darah segar di tepi mulutnya, tapi tidak dengan Jendral Liu Fang.


"Cih hanya segitu kemampuanmu...? kau tidak mendengar sepak terjang ku selama ini di persilatan..?" keluarkan tenagamu kalau masih ada..!!"sambil memasang kuda-kuda.


mendengar ucapan orang yang berada di hadapannya itu,Quo Cang merasa terbakar emosinya dan mulai mengumpulkan tenaga dalamnya dan mengeluarkan sesuatu yang tidak akan bisa di hentikan oleh lawannya.

__ADS_1


"Kaauuu...."dengan geramnya Quo Cang mengangkat tongkatnya yang di ujung tongkat tersebut terdapat batu besar yang bulat, batu tersebut mengeluarkan angin yang berputar-putar di sekeliling batu tersebut yang sangat tajam seperti silet bila terkena apapun, dan mengarahkan ke lawannya yang berada di hadapannya itu, lalu memantulkan ketanah serta langsung mengeluarkan banyak gelombang angin yang seperti cakram-cakram yang tajam mengarah ke lawannya Jendral Liu Fang.


tidak kalah dengan lawannya, Jendral Liu Fang memainkan pedangnya dengan berbagai gerakan hingga terbentuk energi murni yang besar yang dapat meledakkan sesuatu dan langsung menangkis serta menghancurkan cakram-cakram yang mendekatinya.


Jendral Liu Fang sedikit mundur ke belakang karena saking banyaknya cakram-cakram yang mendekatinya, hingga tanpa sadar beberapa cakram-cakram tersebut melukainya.


"Aaaakkk.."Jendral Liu Fang terpukul mundur.


Dan tanpa dia sadari pangeran Goryeo sudah berada di depannya menangkis sisa cakram tersebut dengan belatinya yang mengeluarkan lingkaran api besar seperti lingkaran penuh yang bisa melelehkan apapun yang mengenainya.


Quo Cang sangat Kaget hingga tak sempat menghindarinya , Quo Cang tergeletak jatuh ke tanah dengan tak bernyawa akibat dahsyatnya lingkaran api yang di arahkan oleh pangeran Goryeo tersebut.


dua Pendekar dan sebagian anak buahnya yang melihat kejadian itu merasa kaget dengan mudahnya Quo Cang ketuanya tersebut tergeletak mati tak bernyawa.


Satu Pendekar dan sebagian anak buahnya yang lain telah terbunuh juga oleh Pendekar dan prajurit kerajaan, jadi dua Pendekar tersebut merasa sedikit bimbang melihat kekuatan pangeran tersebut yang meningkat pesat dari sebelumnya.

__ADS_1


Sebelumnya dia sudah merasakan kekuatan pangeran tersebut tidaklah sekuat itu, dengan dirinya dan rekannya tersebut tidak mungkin keluar sebagai pemenang saat ini bila bertarung dengan Pangeran yang sekarang memiliki kekuatan yang jauh lebih besar darinya.


dua pendekar tersebut jadi semakin bimbang, dan terlintas di benak mereka untuk menyelamatkan nyawanya masing-masing.


Tanpa sadar dua pendekar tersebut sedikit lengah dan hampir melukainya karena serangan lawannya yang berada di depan, Sambil menangkis serangan lawannya si Pendekar kerajaan dan Pendekar yang sempat di rekrut oleh ketuanya tersebut, dia mulai mempercepat gerakannya mendesak lawannya dan mencari celah untuk kabur.


Melihat aksi kedua Pendekar tersebut beberapa anak buahnya Quo Cang sadar dan ikut untuk melarikan diri, sebagian kelompok yang tertinggal di pulau Riji Tersebut ternyata sudah berlabuh di pelabuhan kecil di perbatasan tersebut.


Termasuk kelompok besar aliran merah lainnya yang berasal dari wilayah gochu yang bersebelahan dengan kerajaan Yeonguok yang telah menyetujui untuk membantu kelompoknya mengambil alih daerah perbatasan yang berdekatan dengan pulau Guntur Bumi tersebut, dengan imbalan harta yang telah di janjikan oleh kelompok Guntur Bumi sepekan lalu yang tentunya sangat menggiurkan bagi kelompok-kelompok aliran merah di manapun, walaupun nyawa tantangannya.


Kelompok Guntur Bumi adalah kelompok yang senang merampok, sehingga tanpa di sadarinya telah mengumpulkan banyak harta dan berlian yang bisa di tawarkan ke kelompok lain untuk melancarkan urusannya, seperti salah satu urusannya kali ini.


Dari kejauhan kelompok yang baru datang tersebut melihat dua Pendekarnya dan anak buahnya yang lain sedang berlari menuju ke pelabuhan tempat dirinya yang sekarang sedang mematung memperhatikan apa yang sedang terjadi.


"Itu si Lu Kay dan Wuo Chu..?" sambil mempertajam penglihatannya.

__ADS_1


"Mana Quo Cang..?"


__ADS_2