Let Me Love You

Let Me Love You
Bab 65.


__ADS_3

Sudah genap 3 hari Andin menginap di rumah sakit. Hari ini dokter mengijinkan mereka berdua pulang. Pagi-pagi Andin sudah siap, tinggal menunggu bayinya di antar oleh perawat saja. Mereka berdua sudah tidak sabar untuk segera pulang ke apartemen.


Tak berapa lama, perawat datang membawa


bayi Andin dan Bram. Dia lalu mengantar mereka turun sampai pelataran rumah sakit. Tak lupa Andin dan Bram mengucapkan terima kasih atas perawatan nya selama ini.


Saat sudah di dalam mobil, Andin tak henti memandangi putranya. Dia terlihat sangat bahagia.


"Kau lihat, dia sama sekali tak bangun walaupun ada di dalam mobil".


"Itu bagus, berarti dia akan suka tidur sama seperti ku nanti".


"Bagus kan,,kau jadi bisa bersantai lebih lama".


"Semoga seperti ini terus, dia jadi anak yang manis".


"Tentu saja, dia akan sangat manis dan tampan seperti ku".


"Kau jangan protes nanti,kalau dia di gila i cewek-cewek".


"Jangan macam-macam Bram, dia masih bayi".


Keduanya masih tetap bercanda di dalam perjalanan. Andin yang seharusnya sedih, berubah gembira setiap saat. Bram selalu saja bisa menghibur dirinya.


Sementara di Inggris, Toni sudah tak sabar menunggu kabar dari Andin. Sepertinya orang yang di sewanya, tidak becus dalam bekerja.


Berungkali Toni menelpon dirinya, tapi tak kunjung di jawab. Terpaksa Toni sendiri yang harus turun tangan.


Pagi itu dia sudah merapikan baju-bajunya. Saat Natalie masuk ke kamarnya, dia terkejut melihat putranya sudah membawa koper.


"Kau mau kemana Toni,, kenapa tidak bilang pada mom?".


"Aku harus ke Indonesia mom".


"Dari kemarin perasaan ku tidak enak".


"Mungkin ada sesuatu dengan Andin, bulan ini jadwalnya melahirkan".


"Apa kau yakin, bukankah kalian sudah bercerai".


"Aku masih mencintai nya mom, hanya fisik ku ini yang menjadi penghalang".


"Tunggu, mom akan menemani mu".


"Aku juga ingin melihat seperti apa cucu ku".


Natalie bergegas ke kamarnya untuk mengemas koper nya. Untunglah Toni segera sadar sebelum terlanjur menikah dengan Rossi. Natalie berdoa semoga nanti nya Toni bisa rujuk kembali dengan Andin.


Setelah keduanya siap, mereka menuju bandara dan siap terbang ke Indonesia.


Sementara, di Yogya, Bram membawa mobilnya memasuki pelataran rumah yang luas. Pemandangan alam pedesaan sangat asri di lihat dari rumahnya. Udara nya pun masih segar karena belum terkena polusi udara. Andin justru penasaran dengan rumah yang di masuki nya tersebut.


"Kenapa kita justru kemari,,rumah siapa ini Bram".


"Ini rumah kita Andin, aku membelikan nya khusus untuk mu".


"Ayo masuklah,,,kau bisa merubahnya nanti kalau kau tak menyukainya".


"Sini,,biar aku yang gendong".


Andin memasuki rumah bernuansa Jawa klasik. Seluruh ornamen yang ada di rumah itu terbuat dari kayu jati. Bagian luarnya saja sudah sedemikian indah.


Bram memberikan kunci rumah kepada Andin. Dia segera membuka pintunya. Ruangan di bagian dalam tak kalah indahnya.

__ADS_1


Berbagai peralatan elektronik canggih ada di dalam. Sungguh rumah yang indah dan mewah.


"Apa kau suka dengan rumah ini??".


"Aku tak ingin anak kita tumbuh di apartemen".


"Tertutup dan tak bisa melihat dunia luar".


"Di sini jauh lebih luas,,kalian berdua akan nyaman dan betah pasti nya".


"Iya Bram, kau benar".


"Terimakasih banyak untuk semua ini".


"Aku tak tahu lagi mesti bilang apa".


"Itu hadiah untuk mu karena sudah mengijinkan ku memiliki kalian lagi".


"Aku sangat bahagia kau memberi ku seorang putra".


"O,,,ya...maafkan aku Andin, karena tidak ada penyambutan di rumah ini".


"Aku ingin hanya orang tertentu saja yang mengetahui rumah ini".


"Itu supaya kau nyaman membesarkan anak kita nanti".


"Kau tidak keberatan bukan??".


"Tentu saja Bram, kau benar sekali".


"Hanya teman dekat saja yang boleh berkunjung ke sini".


"Aku juga suka lingkungan sini".


"Tenang dan nyaman".


"Aku sudah menyiapkan semuanya".


"Kau lihat, jagoan kita akan betah tidur di kamar ini".


"Kalau kau butuh pengasuh, aku bisa mencarikan untuk mu".


"Tapi yang jelas kau harus di rumah saja".


"Aku tak mau orang lain yang melihatnya tumbuh besar".


"Setidaknya ibunya selalu mendampinginya".


"Aku juga tidak butuh pengasuh Bram, biar aku sendiri yang mengurusnya".


"Itu bagus,,, biar aku yang bekerja untuk kalian".


Andin meletakkan bayinya di dalam boks. Dia masih tertidur lelap. Dia lalu menyusul Bram ke kamar untuk membereskan pakaian nya.


"Dia masih tidur??".


"Iya Bram, sementara itu biar aku bereskan ini".


"Kau istirahatlah, biar aku saja yang melakukan nya".


"Bagaimana aku harus berterimakasih pada mu Bram?".


"Aku yang harus berterima kasih pada mu".

__ADS_1


"Kau mau maafkan aku dan mengabulkan semua impian ku".


"Jangan pikirkan apapun lagi Andin".


"Aku yang akan membuat mu bahagia".


"Sama seperti waktu dulu".


"Kau tahu,,aku sudah lama mempersiapkan ini".


"Dan baru sekarang bisa terwujud".


"Kita bertiga tinggal di rumah ini".


"Itu sudah cukup bagi ku, aku tak mau apapun lagi".


"Apapun yang terjadi nanti, tolong jangan tinggalkan aku Andin".


"Atau aku akan langsung mati saat itu juga".


Andin menutup mulut Bram dengan telunjuknya. Bram meraih tangan mulus itu dan langsung mencium nya. Keduanya saling memandang, hampir berciuman ketika suara tangisan si kecil terdengar nyaring.


Bram salah tingkah. Dia langsung berdiri dan keluar kamar untuk mengambil bayi nya. Andin sendiri masih berusaha menahan degup jantungnya yang tak karuan.


"Sepertinya dia lapar, biar aku panaskan dulu susunya".


"Kau disini saja papa, biar aku yang ambilkan".


Bram tersenyum senang, panggilan papa dari mulut Andin terdengar sangat merdu. Entah kenapa dirinya merasa melayang, mendengar panggilan dari Andin tersebut. Semoga saja Andin segera menerimanya dan melupakan Toni.


Andin kembali dari dapur dengan membawa botol ASI. Dia menyerahkan pada Bram yang tengah menggendong putranya.


"Kenapa kau senyum-senyum begitu Bram??".


"Tidak,, anak ku ini sungguh pintar, dia tertawa saat kau menyebut ku papa".


"Dia mungkin senang mendengar kau memanggil ku seperti itu".


"Memang harus seperti itu kan??".


"Atau kau mau dia memanggil mu Bram nanti?!".


"Hmm.....kedengaran nya itu sangat buruk, papa...jauh lebih baik ma".


Keduanya tersenyum. Babak baru kehidupan Bram dan Andin baru saja di mulai. Kali ini Bram berjanji tidak akan melepaskan Andin.


Tidak juga kepada Toni yang dulu berhasil menipunya. Bram sudah menutup semua akses bagi Toni untuk bisa menemukan Andin dan putranya.


Sementara, pesawat Toni sudah mendarat di Jakarta. Mereka transit sebentar dan akan melanjutkan penerbangan ke Yogya.


"Tunggu di sini dear, biar mom yang cari makan sebentar".


"Jangan mom, kita bisa ke ruang VIP untuk makan".


"Ayo mom, aku sudah tidak sabar untuk segera menemui Andin".


"Nanti, jujurlah pada Andin".


"Katakan keadaan mu yang sebenarnya".


"Kalau dia mencintai mu, dia pasti menerima diri mu".


"Iya mom,, aku akan mencobanya".

__ADS_1


Sambil menunggu keberangkatan pesawat, Toni dan Natalie makan siang sebentar. Perjalanan tinggal sebentar lagi. Toni sudah berniat untuk memperbaiki semuanya. Apalagi Andin mengandung anak nya. Toni tak akan lagi mau melepaskan nya.


...****************...


__ADS_2