Let Me Love You

Let Me Love You
Bab 66.


__ADS_3

Pesawat Toni dan Natalie sudah mendarat dengan selamat di Yogya. Setelah drama penundaan selama 1 jam, mereka akhirnya sampai juga. Toni memilih hotel yang sama dengan tempat kerja Andin. Dia berharap saat itu adalah giliran nya bekerja.


Setibanya di lobby, wajah-wajah baru yang di temui Toni. Tidak ada Andin ataupun teman nya. Toni mencari-cari sekeliling, berharap bisa bertemu dengan Andin.


"Ada lagi yang bisa di bantu pak??".


"Itu mbak....karyawan hotel yang bernama Andin, apa sedang tidak masuk??".


"O...bapak mencari mabuk Andin,, dia sudah keluar lama pak".


"Sekarang kan dia sudah melahirkan, mungkin nanti kalau cutinya habis baru dia masuk kembali".


"Lalu teman nya yang satu lagi,, Tari namanya".


"Mbak Tari juga sedang cuti pak, Minggu depan hari pernikahan nya".


"Kalau bapak mengenalnya, seharusnya tahu tentang hal ini kan?".


"Kebetulan saya baru saja kembali dari Inggris".


"Biar nanti saya telpon mereka, terima kasih".


Toni mengajak ibunya ke kamar hotel yang sudah mereka pesan. Dia harus segera istirahat. Kasihan sekali ibunya dari tadi lebih banyak berdiri daripada duduk.


"Ini kamar mu mom, selamat istirahat".


"Nanti aku akan memanggilmu untuk makan malam".


"Kau juga harus istirahat, semoga kita segera bertemu Andin besok".


"Aku akan menghubunginya nanti mom".


Toni meninggalkan kamar Natalie dan menuju ke kamarnya sendiri. Dia menekan kontak Andin di ponselnya. Setelah beberapa saat, operator telepon menjawab kalau no tersebut sudah tidak aktif.


Tak hilang akal, Toni menelpon Tari, sahabat Andin yang selama ini menemaninya. Untung saja kali ini Tari menjawab panggilan dari Toni.


"Halo Tari, ini aku Toni, tolong jangan tutup dulu telpon nya".


"Toni yang waktu itu menginap di hotel??".


"Maaf pak, saya sedang cuti, jadi tidak bisa membantu anda".


"Hmm....Tari, saya ingin menanyakan alamat Andin?".


"Andin sedang cuti melahirkan pak, mungkin dia masih berada di rumah sakit".


"Bapak lihat saja rumah kontrakan nya, dia sudah pulang atau belum".


"Apa kontak nya ganti, karena ponselnya tidak aktif??".


"Namanya melahirkan pak, nggak ngurus handphone juga kali".


"Maaf pak, saya masih banyak urusan".

__ADS_1


"Terimakasih banyak Tari".


Tari sangat marah dengan kelakuan Toni, jadi dia tak mungkin akan jujur pada pria tersebut. Biar saja dia menunggu sampai pegal di kontrakan Andin, wanita itu tak akan pernah


kembali lagi ke sana.


Bram dan Andin sudah memutuskan untuk hidup bersama lagi. Selain merahasiakan alamat rumah nya, mereka juga merahasiakan kontak ponselnya. Hanya orang terdekatnya saja yang tahu, dan itu termasuk Tari. Tapi dia tak akan mungkin bersikap bodoh dengan mengatakan yang sebenarnya pada Toni.


Setelah menelpon Tari, Toni bergegas keluar hotel dan menuju ke rumah kontrakan milik Andin. Dia berharap kalau Andin sudah pulang dari rumah sakit dan membawa serta bayi nya. Toni tak akan ragu lagi. Dia akan mengakui bayi itu sebagai anaknya.


Satu hal yang di rasakan Toni, hidup jauh dari Andin merupakan bencana terbesar baginya.


Semua keputusan yang di ambilnya selama ini ternyata salah. Seharusnya dia jujur akan keadaan nya dan melihat sikap Andin kepadanya. Bukan nya malah meninggalkan dirinya sendirian di saat sedang hamil.


Sampai di depan rumah Andin, Toni melihat tulisan kalau rumah tersebut di kontrakan. Berarti kemungkinan besar, Andin akan pindah sepulangnya dari rumah sakit. Toni mengetuk pintu rumah tersebut, dan keluar lah si pemilik rumah.


"Selamat siang,, apa bapak mencari rumah kontrakan?".


"Maaf Bu, saya mencari orang yang dulu mengontrak di sini".


"Maksud bapak, Bu Andin dan Bu Tari??".


"Mereka sudah pindah dari sana pak, saya nggk tahu ngontrak di mana?".


"Apa Andin sudah melahirkan saat keluar dari sini??".


"Sepertinya belum waktu itu, tapi.....ada yang mengambil barang-barang nya".


"Mungkin itu orang suruhan Bu Andin".


"Baik pak".


"Terimakasih banyak Bu".


"Sama-sama pak".


Tubuh Toni lemas seketika. Terlambat sudah sekarang. Dia kehilangan jejak Andin. Satu-satunya jalan hanya lah menanyakan alamat rumah Andin dengan manager hotel. Semoga saja dia bersedia memberitahukan kepada Toni alamat rumah Andin yang baru.


Toni kembali ke hotel dengan wajah lesu. Pupus sudah harapan nya kali ini. Bayangan untuk bisa bersatu kembali dengan Andin, sirna seketika. Dia termenung di mobilnya, saat jalan kembali ke hotel.


Sementara Di jalan yang sama, mobil keduanya berpapasan. Baik Toni maupun Andin dan Bram, tidak saling melihat satu sama lain. Andin sendiri sibuk mengajak bermain putranya yang tengah terjaga sehabis di imunisasi tadi.


"Kasihan sekali dia pa, mungkin anak mu ini kesakitan setelah di suntik tadi".


"Jangan berlebihan ma, anak laki-laki itu tidak boleh cengeng".


"Hanya satu suntikan saja, papa yakin dia akan baik-baik saja".


"Dia anak yang kuat seperti papa nya ini".


"Bram,, kau masih belum menemukan nama untuk dia??".


"Bukan kah dua hari lagi acara nya??".

__ADS_1


"Kau tenang saja,, aku sudah menemukan nama yang cocok untuknya".


"Aku akan memberinya nama Arsaka Bagaskara".


"Bagaimana menurut mu, kau menyukai nya??".


"Itu bagus,, aku setuju dengan nama itu".


Acara pemberian nama bagi putra Andin dan Bram akan di adakan dua hari lagi. Mereka hanya mengundang kerabat dekat saja, serta teman-teman dekat Andin dan Bram.


Acara nya sendiri sudah di persiapkan oleh WO. Mereka hanya tinggal bersantai menunggu hari H. Bram tak mau Andin sampai kelelahan atau pun stres, makanya Bram sendiri yang mencari WO. Andin hanya harus fokus pada bayinya saja.


Sesampainya di rumah, Bram membawa tas bayi milik Andin. Sementara istrinya itu menggendong Arsaka di tangan nya.


"Ayo,,, cepat masuk....tidurkan dia, supaya kau bisa segera istirahat".


"Luka mu masih belum sembuh bukan??".


"Sini,, biar aku yang gendong ke kamar".


Dengan hati-hati Andin berjalan mengikuti Bram ke kamarnya. Dia memang kadang masih sering merasakan nyeri di bagian perutnya. Maka dari itu, dokter melarangnya untuk beraktivitas yang terlalu berat.


"Kau duduk saja Andin, biar aku siapkan makan siang untuk mu".


"Jangan Bram,,aku belum lapar, nanti biar aku ambil sendiri".


"Apa kau mau kembali ke kantor??".


"Tidak,, aku masih belum aktif sampai kau sembuh benar".


"Kau tenang saja, aku bisa bekerja dari rumah".


"Aku tak tahu lagi harus berkata apa Bram".


"Kami berdua sangat berterima kasih pada mu".


"Kau ini istri ku kan, jadi tak perlu seperti ini".


"Aku mencintai mu dan putra kita".


"Cukup itu saja yang harus kau pikirkan".


"Yang lain nya jangan kau permasalahkan".


"Selama ada aku, kalian tidak akan ku biarkan mengeluh".


"Sebisa mungkin aku akan membuat keluarga ku ini bahagia".


"Semua yang kudapatkan ini sudah lebih dari cukup".


"Aku hanya ingin kalian berdua,,, tak ada lagi yang lain nya".


Andin melihat kesungguhan dan cinta yang begitu besar di mata Bram. Mungkin dulu adalah kesalahan nya. Meninggalkan Bram bersama Toni. Tapi, kesalahan itu sudah di perbaiki sendiri oleh Tuhan sekarang. Keduanya bersatu kembali.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2