
Sesampainya di dalam restoran, Toni mengedarkan pandanganku seluruh ruangan.
Matanya tertuju kepada sosok wanita di sudut restoran. Dia melangkah maju menghampiri meja Andin dan Bram.
"Apa kabar Andin,, setelah sekian lama, akhirnya aku bisa menemukan mu".
Andin dan Bram menoleh ke arah sumber suara. Keduanya terkejut mendapati Toni berdiri di samping nya. Tanpa di persilahkan, laki-laki itu menarik kursi dan duduk bersama kedua nya.
"Kalian tak keberatan kan, aku bergabung di sini??".
"Silahkan Toni,, lagipula kami sudah hampir selesai".
"Kau boleh makan di sini dengan tenang".
"Ayo sayang,, kita pergi dari sini".
Bram meraih tangan Andin, hendak membawanya meninggalkan restoran. Namun, tangan Toni lebih dulu mencengkeram jemari Andin. Tentu saja hal itu menyulut emosi Bram.
"Lepaskan tangan mu, aku tak mengijinkan siapa pun menyentuh istri ku".
Andin menarik tangan nya dan menjauhi Toni. Dia berdiri tepat di belakang tubuh Bram.
"Maaf Bram kalau aku sudah kurang ajar".
"Aku masih saja lupa kalau Andin sudah bukan istri ku lagi".
"Aku hanya ingin bicara sebentar dengan nya".
"Ini tentang anak kami berdua".
"Maaf Toni,, dia bukan anak mu".
"Anak itu milik ku dan Bram, kau tidak berhak menyebutnya ataupun bertemu dengan nya".
"Justru itu yang ingin aku bicarakan padamu Andin".
"Aku punya hak atas anak itu".
"Dan aku bisa membuktikan semuanya lewat tes DNA".
"Dengar Toni,, aku tak akan mengijinkan mu, walau hanya sekedar bertemu dengan anak ku".
"Kalau kau lupa, biar aku ingatkan bagaimana kau mencampak kan aku waktu itu".
"Kalau pun kau sekarang menuntut hak mu, berarti kau memang benar-benar tak tahu malu".
Andin sudah terlihat sangat marah menghadapi Toni. Bram segera memegang kedua tangan istri nya tersebut, bermaksud untuk menenangkan dirinya.
"Sayang,, tenangkan diri mu, tak ada gunanya kau berdebat dengan orang ini".
"Sebaiknya kita pergi dari sini".
"Tunggu Bram,, kau tak usah ikut campur urusan ku dengan Andin".
"Ada baiknya kalau kau pergi dari sini".
"Jadi, aku dan Andin bisa leluasa bicara".
Bram menatap tajam wajah Toni. Dia juga sepertinya tersulut emosi dengan ucapan nya. Namun, saat dirinya hendak membalas kata-kata Toni, Andin lebih dulu menyahut.
"Bram tidak akan kemana-mana".
"Dia suami ku sekarang,, jadi kalau kau ingin dia pergi, aku akan ikut bersamanya".
"Bagus,,,,rupanya memang begini sifat asli mu".
"Berpindah dari satu lelaki ke lelaki lain nya dengan mudahnya".
__ADS_1
"Mungkin memang kau berbakat menjadi wanita penggoda".
"Plak....!!!!!!
Satu tamparan mendarat di pipi Toni. Andin sudah tak dapat lagi menguasai dirinya. Dia kemudian menarik Bram, pergi meninggalkan restoran. Air matanya sudah tampak tak bisa lagi di bendung nya. Andin yang sudah hampir pulih, harus kembali menelan kesedihan karena ulah Toni.
Sampai di dalam mobil, Andin menumpahkan tangis nya di bahu Bram. Sampai hati laki-laki yang dulu mencintai dirinya itu, mengatakan hal yang buruk padanya.
"Sudah sayang,,,kau tak pantas menangis karena ulah nya".
"Kita akan membalasnya nanti".
"Toni sudah menghina diri mu, dan aku tak akan tinggal diam".
"Kita lihat saja, apa yang bisa ku perbuat kepadanya nanti".
"Hapus air matamu, wajah cantik mu ini tak boleh lagi di hiasi air mata".
"Serah kan semuanya pada ku, biar aku yang mengurus Toni".
"Bram,, jangan biarkan dia mengambil anak ku".
"Arsaka hanya milik mu, bukan Toni".
"Aku tak rela kalau dia sampai mengambilnya".
"Tenang sayang,,kau percaya padaku kan??".
"Putra kita tak akan kemana-mana".
"Tak akan ku biarkan siapa pun mengusiknya".
"Aku janji padamu!!!".
Andin dan Bram tiba di rumah mereka. Tanpa sepengetahuan keduanya, orang suruhan Toni sudah membuntuti dari belakang. Sekarang, Toni dengan mudah bisa mengetahui alamat rumah Andin yang baru.
"Bagus,, tinggalkan rumah itu segera, jangan sampai mereka tahu".
"Baik boss!!".
Tak berapa lama, sebuah mobil memasuki pelataran rumah milik Bram. Rupanya keluarga kak Sam datang mengantar Arsaka.
Saat mereka masuk, di lihatnya Andin masih menangis di pelukan Bram.
"Ada apa ini Andin,, kau baik-baik saja bukan??".
"Kau apakan istri mu Bram??".
"Kami baru saja bertemu Toni kak".
"Dia ingin meminta hak asuh Arsaka, itu makanya Andin jadi seperti ini".
"Kurang ajar....!!!!".
"Beraninya dia bilang seperti itu,, dasar.....!!!
lelaki tak tahu diri!!".
"Sudah Andin, hapus air matamu,, atau anak mu akan ketakutan nanti".
"Biar Bram dan Sam yang mengurus segalanya".
"Kau tenang saja,, Toni atau siapa pun, tak akan bisa mengambil Arsa kita".
"Terima kasih kak Rena,, kalian sangat baik pada kami".
"Atau.....biar Arsaka bersama kami dulu sampai kau tenang".
__ADS_1
"Ku lihat keadaan mu sungguh kacau".
"Arsaka di rawat dengan baik di rumah ku".
"Sementara kau menenangkan diri mu dulu".
"Aku setuju sayang,, biar sementara Arsaka di rumah Kakak Rena".
"Berjaga-jaga kalau Toni tahu rumah kita dan nekat kemari".
"Terserah kalian saja,, aku tahu keputusan kalian itu yang terbaik".
"Entah bagaimana aku berterima kasih padamu dan kak Sam".
"Jangan seperti itu sayang,, kau juga adik ku bukan??".
"Aku tak akan biarkan siapa pun menyakiti mu".
"Ayo pa,,, kita bawa Arsaka pulang kembali".
"Bram,, kau jaga Andin dengan baik, temani dia, jangan sampai kau tinggalkan sendirian".
"Iya kak Rena, terima kasih banyak atas bantuan nya".
Sementara itu, Toni sudah kembali memasuki kamar hotelnya. Dia tersenyum senang karena sudah mendapatkan alamat Andin.
Sebentar lagi, Andin dan putranya pasti akan kembali padanya. Kalau cara halus tidak mempan, Toni akan menempuh jalur hukum supaya bisa mendapatkan kembali keduanya.
"Ada apa dear, senyum mu cerah sekali kali ini".
"Apa kau berhasil bertemu dengan Andin??".
"Tentu saja mom,, sedikit lagi aku pasti bisa mendapatkan keduanya kembali".
"Seperti dulu, saat aku mengambilnya dari Bram".
"Kali ini pun, aku pasti bisa melakukan nya".
"Jadi, kau sudah berhasil melihat putra mu??".
"Seperti apa dia Toni, apakah tampan seperti mu??".
"Aku belum bertemu dengan putra ku mom".
"Andin tidak membawanya ke restoran".
"Entah di mana mereka meninggalkan putra ku".
"Keduanya malah bersenang-senang di restoran".
"Bersabarlah mom,, sebentar lagi kita akan kembali berkumpul".
"Kita bisa hidup bahagia lagi di Inggris".
"Mom percaya dear, semoga kita bisa segera bersama-sama lagi".
Toni dan Natalie masih terus berharap akan bertemu dan berkumpul kembali dengan menantu dan cucu nya. Sementara, di rumah mereka, Andin masih saja cemas dengan kedatangan Toni. Dia takut kalau Toni berhasil merebut putranya.
"Jangan cemas Andin,,aku sudah tahu siapa Toni sekarang".
"Kalau dulu dia memang bisa mengambil mu dari ku, tapi sekarang, menyentuh mu pun tak akan ku biarkan".
"Selama aku masih hidup,, kau dan Arsaka akan selalu di sisi ku, itu janji ku padamu".
Mendengar ucapan dari Bram, Andin sedikit lega. Dari dulu ternyata cinta Bram hanya untuk dirinya. Andin tidak menyadari itu sampai hari ini.Bahwa ternyata Andin adalah cinta sejati Bram.
...****************...
__ADS_1