Let Me Love You

Let Me Love You
Bab 73.


__ADS_3

Sepeninggal Toni dan ibunya, Andin terlihat lebih lega. Ada rasa kasihan menyusup di relung hatinya. Hanya rasa kasihan, karena sekarang hatinya tidak lagi tertutup ataupun mencintai Toni. Barangkali kalau saat itu dirinya jujur, Andin justru mendampingi Toni sampai akhir. Tapi Toni memilih keputusan yang salah, dia malah meninggalkan Andin sendirian tanpa kata.


"Menurut mu apa yang harus ku putuskan sayang??".


"Apa kau setuju kalau Arsaka bertemu dengan Toni, atau sebaliknya".


"Semua keputusan ada di tangan mu Bram, kau ayah nya, aku rasa kau jauh lebih tahu apa yang terbaik untuk Arsa".


"Kenapa kau memilihku mengambil keputusan ini?".


"Karena aku percaya pada mu, kami berada di bawah kekuasaan mu sekarang".


"Semua hal harus melewati diri mu karena kau suami ku sekarang".


"Tapi, ku sarankan Bram, kalau kita ingin hidup tenang, jangan lagi menoleh ke belakang".


"Sudah cukup,,,,saatnya kita berjalan ke depan sekarang".


"Tuhan sudah memberinya kesempatan waktu itu, tapi dia bersikap bodoh dan salah mengambil langkah".


"Itu di luar kewenangan kita bukan Bram?".


"Kau benar Andin,,, aku mengerti sekarang".


Dari arah luar, kak Rena baru saja sampai. Raut wajahnya tampak cemas dan ketakutan.


Dia segera berlari masuk dan menemui Andin serta Arsa.


"Andin,,maafkan aku, mana aku tahu kalau dia Toni dan ibunya".


"Kau ke toilet, dan dia mendekati ku tadi".


"Bagaimana....apa mereka sudah pergi?".


"Jangan khawatir kak, situasi aman terkendali".


"Hah......kau ini Bram,, masih sempat bercanda juga rupanya".


"Apa yang mereka katakan,, keponakan ku ini aman kan??".


"Ayo sini sayang,,aunty Rena tak rela kalau mereka merebut mu dari kami".


"Tenang kak,, ayahnya kan super Hero,, tak perlu khawatir kalau ada musuh di dekatnya".


"Lalu kemana Sam,, apa dia tak ikut pulang??".


"Dia masih ada kerjaan di kantor kak".


"Ah.....dasar,,, orang itu sama saja, cuek sekali".


"Kakak di sini saja, aku harus kembali ke kantor sebentar, kak Sam akan menjemput kemari nanti".


"Sekalian menemani Andin".


"Sudah ku duga pasti akan seperti ini".

__ADS_1


Bram mencium pipi Andin sebelum pergi. Sementara itu Arsa sudah terlelap di pangkuan kak Rena. Anak itu sungguh menggemaskan kalau sedang tertidur. Wajahnya seperti malaikat.


"Sini kak, biar aku tidur kan, atau Kakak akan capek".


"Jangan....jangan,,,biarkan seperti ini".


"Entah kenapa aku suka sekali dengan anak mu ini Andin".


"Dia mengingatkan ku pada putra ku yang mereka renggut dari ku waktu itu".


"Melihat wajah nya, hati ku merasa damai".


"Aku baru tahu cerita ini kak,, Bram tak pernah mengatakan apapun".


"Saat itu kalian belum mengenal,, dan Sam belum seperti ini".


"Putraku korban dari permusuhan kedua kelompok".


"Kami tak sempat menyelamat kan nya".


"Kau tak keberatan kan dengan sikap ku kepada Arsa".


"Tidak kak, aku justru senang anak ku di terima dengan baik oleh keluarga Bram".


"Mengingat diri ku yang hanya seorang yatim piatu".


"Kau tak boleh bicara begitu Andin, kau adik ku mulai sekarang, jangan bilang tak punya keluarga lagi".


Andin merasa sangat bahagia dengan sikap Rena yang tulus kepadanya. Mereka asyik mengobrol sampai tak sadar kalau hari sudah sore. Kak Sam menjemput mereka sekalian Bram pulang.


"Atau kita bisa pulang sekarang".


"Iya pa,, ini juga sudah siap,,aunty pulang dulu ya sayang".


"Andin,, aku pamit dulu, lain waktu kita bertemu lagi".


"Iya kak Rena".


"Hati-hati di jalan".


Mobil Sam meninggalkan pelataran rumah Andin. Mereka berdua kemudian masuk ke dalam rumah. Sementara, jauh dari rumah Andin tampak sebuah mobil yang sedari tadi terparkir di sana. Tak lain itu adalah mobil Toni. Dia ingin sekali.selalu dekat dengan Andin dan putranya. Walaupun hanya bisa melihat dari kejauhan, dia sudah merasa lega.


"Bagaimana hari mu sayang, apa semua lancar di kantor".


"Seperti biasa,, tapi aku harus semangat demi kalian bukan??".


"Terima kasih sayang, kau memang suami idaman".


"Andin,,ada yang ingin aku katakan pada mu".


"Tunggu,,,aku sedang menyiapkan air untuk mu mandi".


"Ok,,,aku tunggu".


Andin menyuruh Bram mandi setelah selesai menyiapkan air panas. Mereka kemudian lanjut makan malam. Arsaka sudah lebih dulu tidur setelah bermain sebentar dengan ayah nya.

__ADS_1


Di luar rumah gerimis turun perlahan, membuat suasana malam menjadi syahdu. Tadinya Toni enggan kembali ke hotel, tapi Natalie tak berhenti menelpon dirinya, jadi dia cepat-cepat pergi dari rumah Andin. Hampir larut malam, ketika Toni tiba kembali di hotel.


"Dear,,kau tak boleh seperti ini terus".


"Besok pagi kita harus segera pulang ke Inggris, dad masuk rumah sakit".


"Lupakan dulu Andin, yang penting kau sudah tahu di mana dia tinggal".


"Kenapa mom baru bicara sekarang,,aku akan pesan penerbangan malam ini juga".


"Terlambat dear,,besok pagi, jam pertama, aku sudah memesan nya".


"Istirahat lah sekarang, besok kita harus pergi pagi-pagi sekali".


"Mom sudah pesan kan makan malam untuk mu".


Pikiran Toni jadi bercabang karena memikirkan Andin dan ayah nya yang sakit. Tapi bagaimanapun juga, ayahnya jauh lebih penting saat ini. Urusan Andin, dia bisa menundanya, sekalian berdiskusi dengan pengacara nya di Inggris, agar bisa mendapatkan hak asuh untuk putra nya.


Bram masih belum tidur. Dia belum selesai menyusun laporan keuangan untuk Mega proyeknya nanti. Salah satu mall terbesar di kota Yogya. Letaknya di pusat kota. Baik Bram maupun Sam, sudah lama merancang proyek ini. Sebentar lagi semuanya akan segera terwujud.


Andin terbangun. Di lihatnya suaminya tak berada di kamar. Dia kemudian turun ke bawah dan membuat minuman. Setelah itu, Andin menyusul ke tempat kerja Bram.


"Apa yang kau kerjakan, sehingga melupakan ku".


"Hai .....sayang,, kau terbangun,, maaf.....sedikit lagi selesai".


"Ini kopi mu, minum lah".


"Aku dan kak Sam sedang ada proyek besar, sudah hampir 90 persen".


"Kau lihat ini,, pusat perbelanjaan terbesar di Yogya".


"Tinggal beberapa laporan dan acara pembukaan saja".


"Sekarang kau sudah berubah Bram,, aku bangga padamu".


"Kemari lah sayang.....ini semua untuk mu dan putra kita".


"Aku ingin putra ku tahu kalau ayahnya sudah menyiapkan investasi besar untuk dirinya nanti".


"Dia tahu dan percaya pada ayahnya, kau jangan khawatir".


Bram menarik tangan Andin dan mendudukkan di pangkuan nya. Di ciumi nya rambut hingga tengkuknya. Aroma yang khas, yang bisa menenangkan jiwanya. Itulah sebab nya selama bertahun-tahun ini dia selalu berjuang untuk mendapatkan wanita ini".


"Sayang,, apa aku sudah cerita pada mu??".


"Apa,,, aku belum mendengar sesuatu pun".


"Vanessa ada di Yogya, kakak Sam mengundangnya di acara pembukaan mall".


"Apa kau keberatan??".


"Bagiku tidak masalah, selama bapak yang satu ini tidak genit dan centil di sana nanti".


Bram meringis kesakitan saat lengan nya di cubit oleh Andin. Dia membalas dengan mencium bibir istrinya. Gerimis di luar rumah membuat aktivitas keduanya semakin menambah kehangatan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2