
Toni terbangun dari tidurnya. Di lihatnya wajah Natalie yang tertidur lelap di samping tempat tidur nya. Ibu angkat nya ini selalu ada untuk dirinya. Bahkan di saat kondisi tersulit dalam hidup nya sekalipun. Dia tak pernah meninggalkan Toni sendirian.
"Mom,, bangun lah....tidur lah di ranjang, atau kau bisa sakit nanti".
"Kau sudah bangun dear,, tidur mu nyenyak semalam?".
"Berkat kau mom,,terima kasih banyak".
"Istirahat lah sekarang,, atau kau bisa sakit nanti".
"Aku akan ke bawah sebentar".
"Memesan makanan dan mencari tahu tentang Andin".
"Barang kali manajer hotel bersedia memberi
tahu alamat Andin yang baru".
"Hati-hati dear, semoga berhasil".
Toni melangkah keluar kamar, meninggalkan Natalie sendirian. Dia bergegas melangkah ke lobi hotel. Kebetulan, Rey baru saja masuk ke dalam hotel. Toni segera memanggil manajer hotel tersebut.
"Selamat pagi pak Manajer, kebetulan sekali kita bertemu di sini".
"Selamat pagi pak,, ada yang bisa saya bantu??".
"Tentu saja pak Toni,, kita bisa duduk di sini sebentar, kalau anda tidak keberatan".
"Baiklah ....mari pak Toni, silahkan".
Kedua lelaki tersebut, duduk berhadapan di sofa tamu. Rey tahu betul apa maksud Toni mencari dirinya. Sudah pasti, ini tentang Andin lagi. Dan dia harus berbohong kepada Toni lagi kali ini.
"Untuk kali ini, saya mohon kepada anda pak Rey, tolong beritahu di mana alamat Andin sekarang".
"Pegawai anda bilang, kemarin anda ke rumahnya untuk acara pemberian nama anak Andin".
"Sebelumnya saya minta maaf pak Toni, tapi suami Andin melarang kami memberitahukan alamat baru nya pada siapa pun".
"Suami,,maksud anda...Andin sudah menikah lagi sekarang??".
"Saya kira anda sudah tahu ini".
"Maksud anda, dia sudah menikah dengan Bram sekarang??".
"Benar sekali pak Toni, jadi saya minta maaf sekali".
"Saya harus menghormati Andin dan suaminya".
"Dan itu termasuk juga menjaga privasi mereka".
"Maaf sekali kalau tidak bisa membantu anda".
__ADS_1
"Saya permisi, masih banyak pekerjaan di dalam".
Rey beranjak meninggalkan Toni yang masih termangu di sofa. Wajah nya seketika pucat pasi. Berita yang baru saja di terimanya, terlihat sangat mengguncang jiwanya. Lama sekali, sampai Toni mendapatkan kesadaran nya kembali.
"Andin menikah dengan Bram??".
"Berarti,,aku sudah sangat terlambat kali ini".
"Bodoh nya aku,, melepaskan wanita seperti Andin".
"Kau sudah kehilangan segalanya Toni".
"Putra ku dan wanita yang ku cintai, sekarang sudah benar-benar pergi dari ku".
Toni masih saja sibuk berbicara sendiri. Dia berperang dengan batin nya. Rasanya sulit
menerima kenyataan yang sebenarnya. Andin sudah kembali kepada Bram lagi. Dan kali ini, Toni yakin tak ada celah lagi untuk memisahkan mereka.
Sementara itu, pasangan pengantin yang tengah berbahagia itu, baru saja terbangun dari tidurnya. Padahal matahari sudah berada di atas kepala mereka, namun Andin dan Bram masih berada di atas ranjang kamar mereka.
"Ah....perut ku lapar sekali sayang!!".
"Kita bahkan melewatkan waktu sarapan".
"Tapi mas, aku belum memasak, entah kenapa badan ku rasanya lemas sekali".
"Ya sudah,, kita cari makan di luar saja".
"Atau,,,kau mau ke rumah kakak Sam, sekalian kita jemput Arsa".
"Kita harus memberi mereka kepercayaan".
"Kalau kita kesana, kak Rena bisa tersinggung
dan mengira kita keberatan memberi Arsa untuk di bawa ke rumah nya".
"Ah...kau benar sayang,,kenapa tak terpikir oleh ku".
"Kalau begitu, ayo kita mandi...lalu setelah itu cari makan".
Tatapan mata Bram, Andin tahu benar kemana arah pembicaraan suaminya. Kalau hanya mandi bersama, Andin maklum. Namun Andin tak yakin dengan isi pikiran dari Bram. Tentu mereka berdua tak hanya mandi bersama. Akan ada kegiatan plus lain nya di kamar mandi.
Bram sudah lebih dulu bangun dari ranjang. Di tariknya tangan Andin dengan lembut. Andin benar-benar tak kuasa menolak keinginan Bram. Laki-laki itu tahu betul bagaimana menyenangkan hati istrinya.
Sekitar satu jam,acara mandi bersama selesai. Bram dan Andin bergegas menuju restoran favorit mereka dulu.Keduanya tengah duduk menunggu pesanan.
"Kenapa Bram,,ada yang aneh dengan baju ku??".
"Dari tadi kau terus menatap ku".
"Aku sedang menikmati kecantikan mu".
__ADS_1
"Kau tak berubah, walaupun sudah melahirkan putra ku".
"Terimakasih sayang, kau bersedia menerimaku kembali".
"Seharusnya aku yang mengatakan itu Bram".
"Terimakasih karena mau menerimaku dan anak ku".
"Di saat ayah kandungnya sendiri tak perduli dengan kehadiran nya".
"Jangan katakan itu lagi Andin".
"Kita sudah sepakat kalau Arsa adalah putra ku".
"Jangan sebut lagi nama orang yang seharusnya kalian lupakan".
"Cukup aku yang akan menjadi ayah Arsa satu-satu nya".
Andin tak bisa lagi berkata-kata. Memang benar yang orang katakan selama ini. Akan ada pelangi selepas hujan deras. Dan itu terbukti pada hidup Andin sekarang. Setelah cukup lama dia mengalami penderitaan akibat di campakkan oleh Toni. Sekarang,
Andin kembali kepada lelaki yang selama ini tetap setia menunggunya.
Toni bangkit dari duduknya. Dengan lesu, dia berjalan ke kamar. Harapan nya hancur sudah. Karena kebodohan nya, dia kehilangan miliknya yang paling berharga. Menangis pun tak akan bisa mengembalikan semuanya sekarang. Andin sudah kembali ke tempat seharusnya di mana dia berada. Dulu, dia berbohong pada Andin supaya bisa mendapatkan dirinya. Sekarang, bahkan Tuhan sendiri yang menyatukan mereka.
"Bagaimana dear,, kau mendapat alamat Andin??".
"Mom sudah siap,,ayo kita jemput mereka sekarang".
"Sudah terlambat mom,,,Andin sudah bersatu lagi dengan Bram".
"Dan kau akan menyerah begitu saja??".
"Memang kenapa kalau mereka sudah bersatu,, bukan kah anak itu adalah anak mu".
"Come on Toni,, berpikirlah sedikit".
"Tak mungkin Andin akan meninggalkan anak itu, kalau kau berhasil mendapatkan nya".
"Berjuanglah sekali lagi,,setidaknya lakukan itu untuk anak mu".
"Mungkin saja hubungan kalian masih bisa di perbaiki".
Toni masih terdiam ketika ponselnya berbunyi nyaring. Orang suruhan nya menelpon dan mengabarkan kalau sudah menemukan Andin. Dia sedang makan siang, tak jauh dari lokasi hotel. Tanpa pikir panjang lagi, Toni bergegas keluar dari kamarnya.
Tujuan nya satu-satu nya adalah menemui Andin. Ini kesempatan baginya untuk menjelaskan semuanya. Terserah akhirnya nanti, yang penting Toni sudah berusaha. Lagipula, dia ingin sekali bertemu dengan putra nya.
Toni memacu mobilnya dengan kencang. Restoran itu di tempuhnya hanya dalam waktu 10 menit saja.
"Di mana mereka??".
"Mereka masih di dalam pak, anda lurus saja, meja kedua di sebelah kanan".
__ADS_1
Toni tak sabar untuk melangkah ke dalam restoran. Pertemuan kali ini adalah yang pertama setelah perceraian keduanya. Dia sudah sangat rindu pada pujaan hati nya tersebut. Ingin rasanya memeluk Andin dan mencium nya mesra.
...****************...