
Setelah pertemuan nya dengan Andin, Toni bergerak cepat. Dia segera menghubungi pengacara nya untuk mengajukan gugatan hak asuh atas putranya. Siang itu, Toni menemui pengacara di kamar hotelnya.
"Pak Toni, saya paham dengan keinginan anda, tapi ada banyak hal yang harus di pertimbangkan, bila anda mengajukan gugatan hak asuh".
"Maksud anda,,,saya kurang paham!!".
"Terlepas dari hasil tes DNA nanti, mohon maaf pak Toni, tapi kondisi fisik anda akan menjadi pertimbangan yang berat".
"Dan satu poin lagi, anda masih belum beristri, itu juga menentukan poin penting untuk keputusan hakim nanti".
"Asal kau bisa mendapatkan hak asuh putra ku, aku akan membayar berapa pun yang kau minta".
"Ini bukan masalah uang pak Toni".
"Tapi, saya akan mencoba mengusahakan nya".
"Saya akan pelajari dulu kasusnya, baru bisa membuat tuntutan".
"Nanti, saya akan mengabari anda lagi pak Toni,, permisi".
Toni mengantar pengacara nya sampai ke pintu. Benar juga yang di katakan nya. Dia bahkan lupa kalau dirinya sekarang sudah cacat. Hanya,,keinginan nya begitu besar untuk bisa mendapatkan Andin dan putranya kembali.
"Tenanglah dear,,mom yakin...Andin pasti bisa kau miliki kembali".
"Kalau perlu, kau bisa meminta bantuan dari Vaness".
"Mungkin saja dia bisa bekerjasama dengan mu".
"Kau benar mom, apa salahnya mencoba".
"Kalau hanya menjadi calon ibu untuk putra ku, aku yakin...Vaness pasti bersedia".
"Aku akan menelpon nya mom".
Toni mencari kontak Vanessa di ponselnya. Dia berharap gadis itu bersedia membantunya. Di sisi lain, Andin sudah jauh lebih tenang daripada kemarin. Kekhawatiran nya perlahan menghilang. Putranya sudah mempunyai dokumen resmi yang menyatakan kalau Arsaka adalah putra Bram.
Pengacara kak Sam sudah mengurus semuanya. Andin dan Bram sudah menemuinya semalam. Meskipun hasil DNA membuktikan kalau Toni adalah ayah biologis Arsaka, tapi Andin tetap mempunyai hak sepenuhnya atas diri putranya. Dan itu di perkuat oleh pernyataan Bram sebagai ayah kandungnya yang sah. Bisa di pastikan kalau Toni pasti akan kalah.
"Ayo sayang,,,aku akan mengantar mu ke rumah kak Rena".
"Kau bisa jalan-jalan dengan nya dan anak-anak".
"Aku dan kak Sam akan menemui pengacara kita".
"Kau tak perlu khawatir lagi, Toni tak akan bisa mengambil Arsaka dari kita".
"Aku percaya padamu Bram".
"Terima kasih banyak, kau begitu mencintai ku dan Arsaka selama ini".
"Sudah sayang....jangan bersedih lagi".
"Bersenang-senang lah hari ini".
__ADS_1
Bram menggandeng tangan istri nya memasuki mobil. Mereka berangkat ke rumah kak Sam. Sampai di sana, kak Rena sudah bersiap dengan menggendong putra nya.
"Lihat Andin,,putra mu sangat merindukan mu".
"Dia kelihatan senang sekali melihat mu".
"Aku juga merindukan mu, sayang!!".
"Kemari ....putra mama yang tampan".
Bocah itu terlihat kegirangan melihat kedua orang tuanya. Arsaka tertawa senang menyambut kehadiran Andin.
"Kau tahu Andin,,aku merasa jadi ibu baru".
"Seru sekali bermain dengan anak ini".
"Sam juga sangat menyayanginya, apalagi kedua putri ku".
"Andin,,kenapa kalian tidak tinggal di sini saja".
"Aku akan sangat senang bisa bersama Arsa setiap hari".
"Kami akan sering ke sini kak, lagi pula kakak bisa membawa Arsaka kapan saja".
"Sekarang,,kalian bersenang-senang lah".
"Have fun...sayang!!!".
Andin tersenyum menyambut ciuman dari Bram di kening nya. Laki-laki itu kemudian pergi bersama kak Sam ke kantor pengacara. Sementara Andin dan Rena mengajak anak-anak jalan ke mall.
lebih dulu, saking senang nya.
"Anak-anak sangat suka kalau ku bawa main ke sini".
"Aku yakin, Arsa pasti juga demikian".
"Aku jarang mbak, waktu ku hanya habis untuk bekerja".
"Aku tak seberuntung mbak Rena".
"Mungkin kau jauh lebih beruntung Andin, Bram begitu menyayangi mu".
"Sekarang, aku sangat yakin kalau Bram tak mungkin membiarkan mu bekerja bukan??".
"Iya mbak, aku baru menyadari cinta nya sekarang".
"Kau jangan khawatir, kalau ada apa-apa, kau bisa cerita padaku".
"Anggap aku ini kakak mu".
"Jadi, sekarang kau tak merasa tak punya keluarga lagi".
"Ada aku, Bram dan suami ku yang akan selalu ada untuk kalian".
__ADS_1
"Terimakasih kak Rena".
"Lihat.....Cici bahkan sudah pintar menggendong Arsa sekarang".
Rena tersenyum lega menyaksikan wajah bahagia Andin. Dia bahkan turut bermain bersama Arsa dan kedua putri nya. Saking senang nya, mereka tak menyadari kalau ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan Andin dan putra nya.
Kebetulan Toni sedang menemani Natalie berbelanja. Tak sengaja dia melihat Andin memasuki mall tadi. Toni lalu diam-diam mengikutinya. Air matanya tak terasa menetes, tatkala melihat wajah putranya untuk pertama kalinya. Walaupun hanya dari kejauhan, Toni harus puas bisa mengobati rasa penasaran nya.
"Kak,, tolong jaga Arsa sebentar, aku ke toilet dulu".
"Iya,, kemari kan, biar aku menggendong nya".
Setelah menyerahkan Arsa, Andin bergegas pergi ke toilet. Letaknya cukup jauh dari arena permainan. Dia segera masuk ke bagian wanita. Setelah selesai, dia hendak keluar dari toilet, saat sebuah tangan membekap mulutnya dan menyeret Andin masuk kembali ke dalam toilet wanita.
"Jangan berteriak Andin, ini aku Toni".
"Aku hanya ingin berbicara sebentar dengan mu".
"Aku akan melepaskan tangan ku, jangan teriak, dan mari kita bicara sebentar".
Andin yang semula berteriak meronta-ronta, jadi terdiam mendengar suara di belakang nya. Dia mencoba bersikap tenang. Dia khawatir kalau ini adalah bagian dari rencana Toni mendapatkan putra nya.
"Apa yang ingin kau bicarakan Toni,,ini bukan tempat yang tepat".
"Sebentar saja,, biarkan aku menemui putra ku".
"Tidak,,aku tak ingin kau melihatnya".
"Ku mohon Andin, sebentar saja".
"Pembicaraan ini selesai Toni, aku permisi".
Andin segera berlari meninggalkan Toni. Dia bergegas kembali ke arena permainan. Sesampainya di sana,Andin sangar terkejut ketika melihat Natalie menggendong Arsaka. Dia terlihat asyik mengobrol dengan kak Rena.
Tanpa pikir panjang, Andin segera merebut putranya dari tangan Natalie. Di kemudian mengambil tas dan buru-buru turun dari arena permainan, meninggalkan Rena dan Natalie yang masih bengong melihatnya.
Toni berusaha mengejar Andin, tapi Natalie mencegah dirinya. Rena masih saja belum mengerti dengan kejadian barusan.
"Tunggu,,,kalian ini...apa sudah mengenal Andin??".
"Kenapa dia terlihat sangat marah??".
"Maaf nyonya, kami buri-buru!!".
"Ayo mom, kita harus pergi dari sini".
Toni menarik tangan Natalie dan mengikuti langkah Andin turun ke bawah. Sementara Rena, dia sibuk menelpon Bram, dan menceritakan kejadian yang baru saja di alaminya.
"Dimana Andin sekarang kak,, aku yakin dia itu Toni dan ibunya".
"Tolong cari Andin sampai ketemu kak, aku akan mencari nya ke rumah".
"Ok Bram,,,,nanti kakak telpon lagi".
__ADS_1
Bram terlihat cemas. Dia menelpon penjaga rumahnya agar memberitahu kalau Andin pulang. Sementara, Bram langsung bergegas pulang ke rumah.
...****************...