Let Me Love You

Let Me Love You
Episode 77.


__ADS_3

Andin keluar rumah bersama dengan Bram. Untung saja hari ini Bram bangun kesiangan, kalau tidak dia tak tahu bagaimana harus menghadapi Toni yang datang tiba-tiba.


"Masuk lah Toni, kau ingin bertemu Arsa bukan?".


"Kebetulan kau ada di rumah Bram, aku ingin minta izin padamu untuk membawa Arsa, agah ku ingin melihat nya sebelum dia meninggal".


"Sekali saja dalam hidup nya, dia ingin bertemu dengan cucu nya, dan Andin tentunya".


"Begitu,,, tapi aku masih banyak urusan Toni, dan aku tak mungkin mengirim anak dan istri ku sendiri".


"Kalah kau bisa menunggu selama 2 atau 3 hari, mungkin aku bisa mengantar Andin dan Arsa".


"Baiklah Bram,, kau atur saja waktunya, aku akan tunggu kabar dari mu".


"Baiklah,, aku ada di hotel kalau kalian sudah siap berangkat".


"Andin, tolong berikan ini untuk Arsa, bilang padanya kalau ayahnya yang mengirim nya".


Andin menerima bungkusan yang di brikan oleh Toni. Pakaian dan mainan yang di bawanya untuk Arsa memang sangat banyak. Andin meletakkan kembali di sudut ruangan.


"Sayang, kau yakin kita akan ikut Toni ke Inggris?".


"Andin, ayah Toni sedang sakit, dia hanya ingin melihat Arsa".


"Tak masalah kalau kita bisa membantu orang bukan?".


"Tapi, Toni bisa berpikir lain tentang hal ini".


"Dia sama sekali sudah bukan urusan kita lagi".


"Tenang saja, kau aman bersamaku".


Andin menurut saja ketika Bram sudah menjanjikan perlindungan kepadanya dan putranya. Apalagi kepergian mereka kali ini demi membantu Adam yang tengah sakit. Dulu, Andin pernah menjadi bagian dari mereka, jadi Bram menghormati hal tersebut.


Ketika waktunya tiba, Bram akhirnya memenuhi undangan Toni dan membawa Andin serta Arsa ke Inggris. Perjalanan mereka lancar sampai tujuan. Di bandara, Toni bersikeras untuk meminta Bram dan Andin tinggal di rumahnya. Padahal Bram sudah sepakat dengan Andin untuk menginap di hotel.


"Kau pulang saja Toni, nanti malam aku akan bawa Arsa ke rumah mu".


"Kami tinggal di hotel saja, itu jauh lebih baik untuk kita semua".


"Baik lah kalau begitu Bram, aku tunggu kalian di rumah nanti malam".


Toni lebih dulu meninggalkan air port, di susul Bram dan Andin. Bram tak ingin privasinya terganggu bila dia menginap di rumah Toni. Bram segera mengajak keluarga nya menuju hotel yang sudah di pesan nya.

__ADS_1


"Aku ingat betul, jalan ini dekat dengan rumah Vaness bukan, sayang??".


"Kau benar Andin, nanti kalau ada waktu kita bisa mampir ke sana".


"Vaness pasti senang melihat kita di sini".


"Ya,, dia gadis yang baik sebenarnya".


"Lalu,, apa rencana mu dengan Toni?".


"Kau akan lihat nanti, dia harus tahun kalau sekarang kau sudah jadi istri ku".


"Itu artinya tak mungkin lagi untuk bisa memiliki mu".


"Andin,, aku tahu pasti rencana pria itu".


"Dia tak akan berhenti sampai bisa mendapatkan mu kembali".


"Aku sudah menutup hati ku untuk Toni, Bram".


"Apapun usaha Toni tak akan mampu memisahkan kita berdua".


"Aku mencintai mu Bram, dan itu sudah cukup bagi ku untuk menutup hati bagi lelaki lain".


Bram menggenggam tangan Andin dan mencium kening nya. Cinta nya pada wanita di hadapan nya inilah yang memberinya kekuatan untuk menghadapi Toni. Apapun yang akan terjadi nanti, Bram sudah siap mempertahan kan keluarganya.


Bram dan Andin sudah cukup lama beristìrahat di hotel. Malam ini keduanya berangkat ke rumah Natalie dan Adam, demi memenuhi undangan dari Toni. Arsaka juga tampaknya anak yang kuat, sejak dari Yogya, dia bahkan tidak rewel sama sekali. Di Inggris pun dia bisa menyesuaikan dengan kondisi cuaca yang jauh berbeda dengan di Yogya.


"Kau sudah siap Andin?".


"Iya,, ayo kita berangkat sekarang, aku tak mau lama-lama di sana nanti".


"Semua ini hanya karena kau yang minta, kalau tidak, aku tak ingin lagi kembali ke sini".


"Sudah,,,buang jauh-jauh rasa benci mu, yakin lah pada ku, aku akan selalu membahagiakan mu".


"Aku percaya padamu Bram, terima kasih untuk semua nya".


"Jangan melow, kita berangkat sekarang, sebelum aku berubah pikiran".


Bram dan Andin menuju kediaman Natalie. Hanya setengah jam saja dari hotel nya. Keduanya tiba di rumah megah tersebut dengan di sambut oleh Toni dan Natalie.


"Oh....dear,, mom senang sekali kau mau berkunjung ke sini".

__ADS_1


"Boleh mom gendong Arsaka??".


Andin mengarahkan pandangan nya ke mata Bram.Dia seperti meminta persetujuan kepada suaminya. Bram tersenyum dan mengangguk. Baru setelab itu, Andin menyerahkan Arsaka kepada Natalie untuk di bawa ke kamar Adam.


"Silahkan duduk, kalian mau minum apa?".


"Apa saja Toni, terima kasih banyak".


Toni memanggil pelayan untuk menyajikan minuman kepada Andin dan Bram. Setelah itu dia langsung duduk di sofa bersama kedua nya.


"Bram, aku ingin membicarakan tentang kemungkinan kalau Andin dan Arsaka kembali kepada ku lagi".


"Justru inilah yang ingin aku luruskan Toni, Andin dan Arsa, bukan lagi menjadi bagian dari hidup mu saat ini".


"Mereka berdua bukan lah barang yang sewaktu kau inginkan bisa kau ambil kembali, tetapi saat kau tak butuh, kau buang begitu saja".


"Aku sudah cukup bersabar selama ini menghadapi kecurangan mu".


"Ku tegaskan padamu Toni, Arsa dan Andin adalah milik ku, dan selamanya mereka akan bersama ku".


"Kecuali kematian, tak ada yang bisa memisahkan kami!!".


"Ku harap sampai sini kau paham dengan posisi mu".


"Tolong hormati keputusan ku dan Andin, demi kebaikan kita bersama".


Toni terdiam mendengar ultimatum dari Bram.Dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi mulai sekarang. Mereka sudah bersatu kembali. Toni bahkan melihat binar bahagia terpancar dari mata Andin. Dia merasa sama sekali tak berhak merampas kebahagiaan tersebut.


"Baik lah....aku hargai keputusan mu Bram".


"Aku merelakan Andin karena aku yakin kau bisa membahagiakan nya".


"Namun, bila sekali saja kau buat Andin meneteskan air mata, aku akan langsung mengambilnya kembali dari mu, itu janji ku Bram".


"Tentu saja Toni, aku tahu itu".


Toni bersimpuh di kaki Andin dan meminta maaf pada nya. Segalanya sudah selesai sekarang. Toni sudah merelakan Andin bersatu dengan Bram. Andin dan Bram pun mengizinkan Toni menemui Arsa kapan pun dia mau.


Ketiganya beranjak menuju ke kamar Adam untuk menjenguknya. Keadaan nya sudah lebih baik setelah bertemu dengan cucu nya. Mereka berdua juga sepakat untuk menghormati keinginan Andin dan Bram.


Langit malam di Inggris dipenuhi dengan bintang-bintang yang gemerlapan. Pemandangan nya sangat indah, seindah perdamaian yang tercipta di rumah Natalie. Andin menggenggam erat tangan Bram. Dia tahu kalau tangan itu tak akan pernah melepaskan dirinya. Apapunnyang terjadi, jemari mereka akan saling bertaut dan tak mungkin terpisahkan lagi.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2