Let Me Love You

Let Me Love You
Bab 67


__ADS_3

Toni sudah hampir putus asa karena menunggu manager hotel tak kunjung datang. Sejak pagi dia memang sengaja menunggunya untuk menanyakan alamat Andin. Namun, sudah dua jam berlalu, tak kunjung nampak tanda-tanda dia datang ke hotel.


"Apa manager hotel terbiasa datang terlambat seperti ini??”.


"Tidak pak, biasanya beliau tepat waktu".


"Mungkin ada keperluan yang mendesak, jadi beliau menunda berangkat ke hotel".


"Dari tadi saya juga sudah menelpon beliau pak, tapi tidak di angkat sama sekali".


"Ya sudah,,, nanti saja saya kembali kemari".


Hari ini tentu saja manager tidak akan ke hotel. Dia di undang ke acara yang di gelar oleh Andin dan Bram. Mereka mengadakan acara pemberian nama bagi putra mereka berdua. Selain pak manager, hadir pula mbak Tari dan suaminya, serta saudara dan kakak Bram tentunya.


Sejak pagi Andin sudah sibuk merias dirinya.


Walaupun dia sudah kelihatan cantik tanpa harus memakai make up, tapi dia tetap tidak percaya diri. Andin tak beranjak dari cermin sedikitpun sebelum riasan nya selesai.


"Kau sudah cantik Andin,, ayo kita keluar".


"Sebentar lagi tamu-tamu akan datang".


"Kita harus menyambut mereka bukan??".


"Bram,, apa aku kelihatan gendut??".


"Siapa bilang,,tubuhmu sama seperti waktu tidak hamil dulu".


"Sudahlah.....kau langsing dan cantik,,, kau sempurna di mata ku".


Andin tersenyum lega. Setidaknya ada yang memberinya semangat, walaupun mungkin tubuh Andin memang kelihatan lebih berisi.


Hanya sedikit pujian saja, bisa menjadi mood booster bagi ibu baru seperti Andin.


Bram meraih tangan Andin dan menggandengnya sampai ke depan. Dari tadi Arsaka sudah di bawa ke depan oleh kakak iparnya. Mereka berebutan untuk menggendong bayi itu, lantaran saking gemasnya.


Arsaka memang sangat tampan. Parasnya sama persis dengan Andin. Kulitnya putih dengan rambut yang agak pirang. Anak itu juga jarang menangis dan mau di gendong oleh siapa saja. Wajar kalau dia menjadi selebriti dadakan hari ini.


Di ruang tamu, teman dekat serta kerabat dan saudara Bram sudah hadir. Mereka kelihatan terpana melihat kecantikan Andin yang makin tampak bersinar. Kata orang tua dulu, wanita sehabis melahirkan memang aura nya bersinar. Mereka juga seperti terlahir kembali.


Kecantikan nya lebih bersinar karena bentuk tubuhnya yang sudah kembali seperti sebelum hamil.


Masih menggenggam tangan Andin, Bram menyalami satu persatu tamu nya di pagi itu.

__ADS_1


Mbak Tari datang dengan calon suaminya. Dia juga terlihat bahagia. Wajahnya sumringah ketika memeluk dan mencium Andin.


"Aku bahagia melihat mu hari ini Andin".


"Kau cantik sekali,, pantas saja kalau bapak satu ini tak mau melepaskan tangan mu sedetik pun".


"Terimakasih banyak mbak, aku senang kita bisa bertemu lagi".


"Kangen sekali rasanya, lama tak berjumpa mbak Tari".


"Sekarang kan sudah ada pengganti ku Andin, jadi....aku tak yakin kalau kau sempat mengingat diri ku".


"Bapak ini pasti tak membiarkan pikiran mu di penuhi dengan bayangan orang lain".


"Mbak Tari seperti bisa menebak isi hati ku".


"Tentu saja, aku tak akan mengijinkan Andin merindukan siapa pun, sekali pun itu diri mu mbak!!".


Semua yang ada di ruangan itu tertawa mendengar gurauan dari Bram. Semua orang,


terlebih keluarga Bram, paham betul dengan isi hati nya. Mati-matian dia memperjuangkan Andin sampai saat ini. Dan jalan yang di lalui nya sungguh tidak lah mudah. Sungguh sulit menaklukkan hati Andin. Makanya, kali ini dia enggan melepaskan genggaman tangan nya dari wanita pujaan yang ada di sisi nya.


"Ayo....silahkan,,cicipi hidangan nya".


"Ini acara santai, anggap saja rumah sendiri".


"Tenang Bram,,,soal makanan...jangan tanya".


"Kami pasti menghabiskan nya nanti".


"Biar kami bermain dengan si kecil tampan ini dulu".


"Untuk saat ini, dia jauh lebih menarik daripada kalian berdua".


Mbak Tari menggendong Arsaka dan mengajaknya bermain. Anak itu sangat pintar dan cepat akrab dengan semua orang. Dia juga tidak gampang menangis. Andin benar-benar beruntung mendapatkan putra seperti Arsaka.


Semua orang terlarut dalam obrolan mereka masing-masing. Semuanya terlihat bergembira dan asyik bercanda. Sampai sore hari, acara baru selesai. Semua orang sudah meninggalkan rumah baru Bram dan Andin.


Yang tersisa tinggal keluarga kakak Sam saja. Mereka seakan tak ada puas nya bermain dengan bayi Andin.


"Bram,,bagaimana kalau kakak membawa nya pulang sehari saja??".


"Rasanya kakak sudah jatuh cinta dengan anak mu ini".

__ADS_1


"Kakak janji, besok pagi akan membawanya kembali ke sini".


"Bagaimana Andin, Bram...kalian setuju kan??".


Bram menatap wajah Andin. Dia mencoba mencari jawaban lewat mata istrinya. Bagaimanapun, keputusan penuh ada di tangan Andin. Meski dia sangat percaya dengan kakak Sam dan istrinya.


Andin melihat kesungguhan di mata Rena, istri kakak Sam. Kasih sayang yang di berikan untuk Arsaka sangat tulus. Mungkin karena kedua anaknya perempuan, jadi dia merasa sangat mencintai putra Andin tersebut.


"Kakak boleh membawanya,, biar aku siapkan dulu perlengkapan Arsaka".


"Benarkah,,,oh...terima kasih sekali Andin".


"Kakak janji, Arsaka akan baik-baik saja di rumah kami".


"Sementara itu,, kalian berdua bisa menghabiskan waktu berbulan madu berdua".


"Ya....Rena benar....kalau perlu, kau bisa langsung memberi adik untuk Arsaka".


"Kau masih sanggup kan Bram??".


Bram tersenyum mendengar kelakar dari kakaknya. Sementara Andin segera masuk ke kamar dengan raut muka memerah menahan malu. Tak berapa lama, Andin memberikan tas berisi perlengkapan untuk bayi nya. Kakak Sam menerima tas tersebut dan langsung berpamitan. Rena menggendong erat Arsaka ke dalam pelukan nya. Mereka meninggalkan rumah Andin dan Bram dengan senyum sumringah.


Andin melepas kepergian buah hatinya sampai ke pagar depan. Untuk pertama kalinya, dia harus berjauhan dengan bayi yang baru saja di lahir kan nya. Andin tak kuasa menahan haru.


"Kalau kau keberatan, kenapa kau tidak mencegahnya tadi??".


"Tidak Bram,, aku percaya dengan kakak mu".


"Mereka hanya ingin bermain dengan keponakan nya, lalu apa salahnya??".


"Kakak mu adalah satu-satunya orang yang sangat berarti di hidup mu bukan??".


"Maka, aku juga akan mengajarkan putra kita supaya menghormati dan menyayangi beliau, sama seperti yang selama ini kau lakukan".


"Biarkan putra ku menjadi bagian dari keluarga yang penuh kasih sayang ini".


"Aku tak ingin dia merasakan hal yang sama, seperti yang aku rasakan selama ini".


"Dia akan tumbuh dengan keluarga yang menyayangi dan mencintai nya".


"Itu yang akan aku tanamkan pada diri Arsaka".


Bram menatap wajah Andin. Dia mengusap butiran bening yang menetes di pipinya. Dia tahu sekali, seperti apa kisah hidup Andin.

__ADS_1


Bram memeluknya erat. Dia tak akan membiarkan kesedihan menghampiri wanita yang sangat di cintai nya ini. Apapun itu, Bram akan terus berada di sisi wanita pujaan nya.


...****************...


__ADS_2