Let Me Love You

Let Me Love You
Bab 72.


__ADS_3

Rena segera turun menuju ke parkiran. Dia harus menyusul Andin ke rumah nya. Kalau yang di katakan Bram benar, bisa jadi Toni dan ibunya tadi mengikuti langkah Andin.


"Ayo anak-anak, cepat masuk ke mobil".


"Kita harus menyusul Arsa secepatnya".


"Tunggu ma,, aku segera naik".


Mobil yang di kendarai oleh Rena meninggalkan pelataran mall. Dia yakin kalau Andin saat ini pasti pulang menuju rumah nya. Entah kenapa kali ini perasaan nya sangat cemas. Dia takut kalau terjadi sesuatu pada Andin dan Arsaka.


Di tempat lain, Andin memang pulang ke rumahnya menggunakan taxi. Tingkah Toni di rasa sudah sangat keterlaluan tadi. Apalagi ketika melihat Natalie menggendong Arsa, Andin semakin bertambah cemas. Dia berusaha menghubungi ponsel Bram, tapi sedari tadi belum juga tersambung.


"Ayo sayang......angkat telepon nya!!!".


"Kami sedang membutuhkan mu sekarang".


"Halo......Bram,,, tolong aku,, Toni mengikuti ku di belakang".


"Aku sudah tahu Andin, kau tenang saja, aku dan kak Sam sudah hampir sampai di rumah".


"Tenangkan diri mu, kalau Toni berani macam-macam, aku sendiri yang akan menghabisinya".


"Pulang lah,, aku tunggu kau di rumah".


Andin mematikan ponselnya. Dia lega karena Bram sudah berada di rumah. Kalau Toni sampai nekat mengambil Arsa, setidaknya dia tidak sendirian.


"Terus ikuti mobil merah di depan pak".


"Baik pak".


"Dear,, jadi mama menggendong putra mu tadi??".


"Itu anak Andin bukan??".


"Ya Tuhan.....dia sungguh menggemaskan".


"Akhirnya,, aku bisa menimang cucu ku".


"Syukurlah mom sempat menimangnya, aku sendiri malah belum melihatnya".


"Sejak tadi aku hanya memperhatikan dari kejauhan".


"Dia mirip dengan mu waktu kecil, dear!!".


"Kita hampir sampai mom, di depan itu rumah Andin".


"Kau sudah tahu??".


"Iya mom,, orang ku yang memberitahu, kita turun di sini saja".


Andin sudah turun dari taxi, dan Bram sudah menunggunya di depan rumah. Bram meraih Arsa dan menggendong di pundaknya, sementara Andin berdiri di sampingnya. Keduanya sengaja menunggu Toni masuk ke halaman. Kali ini Bram tidak akan membiarkan Andin lari, dia akan menghadapinya dan menyelesaikan semuanya hari ini juga.


Benar saja dugaan Bram. Toni dan Natalie berjalan memasuki pagar rumah besar yang sengaja di buka. Mereka heran saat melihat Bram dan Andin sudah berdiri di halaman menyambut kedatangan nya.


"Mari...silahkan Toni,, selamat datang di rumah kami".

__ADS_1


"Silahkan masuk,, kita bicar di dalam,, aku yakin pembicaraan kita akan sangat panjang".


Toni dan Natalie melangkah memasuki rumah yang sangat sejuk dan asri. Interior di dalam rumah, khas sekali dengan citarasa Andin. Sama seperti dulu saat masih menjadi istrinya.


Ibu dan anak tersebut masuk dan duduk di sofa ruang tamu, sementara Andin sudah ke dalam mengambilkan minuman. Si kecil Arsa nampak terlelap di pangkuan Bram. Sementara, sedari tadi Toni terus menatap wajah malaikat kecil tersebut.


"Bram,,boleh aku menggendongnya sebentar??".


"Maaf Toni, tapi dia sedang tertidur, kasihan kalau sampai terbangun".


"Dia sudah terbiasa begini sejak bayi, selalu tidur di pangkuan ku".


"Tapi,,Toni ayahnya bukan, berilah kesempatan baginya untuk menggendong putranya".


"Anda salah nyonya, Bram adalah ayahnya, bukan Toni, putra anda ini".


"Dear,,,sebegitu benci kah kau pada kami, hingga tega melakukan ini??".


"Silahkan di minum nyonya".


"Dan untuk pertanyaan anda itu, seharusnya tanyakan dulu pada hati nurani kalian".


"Siapa yang tega meninggalkan istrinya di rumah sakit tanpa sepatah kata pun".


"Anda sebagai wanita tentu nya jauh lebih paham kalau tentang hati nurani".


"Tapi,,,nyatanya anda pun sama saja".


"Tapi,,sudahlah...saya sudah memaafkan kalian".


"Saya sudah bahagia bersama Bram sekarang".


Toni tertunduk lesu mendengar ucapan Andin. Memang, dirinya lah yang salah waktu itu. Dan baru kali ini dia menyesali segalanya.


Perbuatan yang bodoh karena meninggalkan wanita sebaik Andin.


"Andin, apa kali ini kau masih mau mendengar penjelasan dari ku".


"Aku rasa sudah cukup Toni, tak usah membuang waktu untuk hal yang tidak ada gunanya".


"Terimalah kalau jalan hidup kita sudah berbeda".


"Biarkan aku hidup tenang bersama Bram dan putra kami".


"Carilah wanita baik untuk kau nikahi, dan berbahagialah dengan mereka".


"Cukup sudah, jangan usik hidup kami".


"Nah...Toni, nyonya,,kalian sudah dengar sendiri kan jawaban dari istri saya".


"Jadi,, tolong hargai kami,, dan tinggalkan rumah ini sekarang".


"Selamat siang".


Bram dan Andin hendak berbalik, masuk ke dalam rumah. Namun langkah mereka terhenti oleh teriakan dari Toni.

__ADS_1


"Tunggu Andin,,, kau harus lihat ini,, baru kau bisa putuskan siapa yang tidak punya hati nurani!!".


Andin dan Bram menoleh bersamaan, saat Toni melepas satu persatu kaki palsunya di hadapan keduanya. Keduanya tercengang melihat keadaan Toni yang sebenarnya. Dia ternyata cacat. Kecelakaan itu rupanya merenggut kedua kakinya. Bram dan Andin bahkan sampai tak bisa berkata-kata.


"Inilah alasan ku meninggalkan mu waktu itu".


"Aku tak ingin kau malu, punya suami yang cacat seperti ku".


"Itulah sebab nya aku langsung pergi tanpa menemui mu".


"Butuh waktu lama bagi ku, sampai mom kembali menguatkan ku".


"Hingga akhirnya setuju di pasang kaki palsu seperti ini".


"Maafkan aku Andin, untuk semua penderitaan yang terjadi di hidup mu".


"Aku lah yang salah Andin,, seharusnya saat itu aku jujur padamu".


"Tapi aku terlalu takut kalau kau akan malu punya suami seperti ku".


Entah kenapa air mata Andin menetes di pipi nya. Kenyataan pahit yang baru saja di terima oleh nya, sungguh di luar ekspektasinya.Bram memeluknya dan menguatkan hati istri nya tersebut.


"Maaf Toni,,aku turut prihatin dengan kondisi mu saat ini".


"Mungkin memang harus seperti ini jalan nya bagi kita berdua".


"Aku menghargai usaha Bram selama ini menemani ku dalam masa terpuruk setelah kau meninggalkan ku".


"Aku tetap pada keputusan ku,, aku memilih Bram".


"Dan ini semua tak akan mengubah apapun juga".


"Aku tahu Andin, aku hanya meminta izin untuk bisa bertemu dengan putra ku setiap saat".


"Aku janji tidak akan mengganggu hubungan kalian berdua".


"Aku hanya ingin putra ku tahu kalau aku selalu ada untuk nya".


"Keputusan itu hanya bisa di jawab oleh Bram".


"Dia ayahnya Toni,, dia berhak memutuskan apapun untuk hidup Arsaka".


"Baiklah Bram,, bagaimana keputusan mu??".


Bram terdiam. Dia tampak kebingungan memutuskan jawaban bagi pertanyaan Toni. Akan sangat salah kalau Bram sampai memisahkan ayah dari anaknya. Tapi Toni sangat licik, kalau di beri kesempatan, dia pasti bisa memanfaatkan situasi. Bram makin bingung jadinya.


"Beri aku waktu Toni,, aku perlu memikirkan keputusan ku".


"Tinggalkan nomer handphone mu, aku akan menghubungi mu nanti".


"Baiklah Bram, ini kartu nama ku, secepatnya..ku tunggu kabar dari mu".


"Aku sudah tidak sabar bermain dengan putra ku".


"Kami permisi dulu, terima kasih untuk waktu kalian".

__ADS_1


Natalie dan Toni pun keluar dari rumah Andin. Mereka kembali ke hotel, sementara Andin dan Bram masuk ke dalam.


...****************...


__ADS_2