
"HAPPY READING!!'
Jangan Lupa like And Vote nya ya !!
...----------------...
"T-tante gimana hikss keadaan kak Denish"
"Anisaa kak Denish gimana hikss jawabbbb" Lisa menjadi Histeris.
"D-denish Keritis " bukan Rani yang mengucap tapi Anisa karena Rani tidak sanggup mengatakan itu apalagi di hadapan orang yang anak nya cintai jujur hati Rani juga terasa perih melihat anaknya terbaring lemas di rumah sakit.
"A-apa K-kak Denishh" Lisa melemas dengan sigap Jonathan menangkap tubuh sang anak yang merosot "I-ini ngak mingkin hiksss kak Denishh" Lisa meronta di pelukan Jonathan "Dadd ini ngak mungkin kann dadd" Lisa melemah tapi tidak dengan tangisan nya.
"Stt sayang tenang kita berdoa supaya dia baik-baik saja" ucap Jonathan dia tidak sanggup melihat anak nya terus menangis dia hanya ingin melihat Lisa tersenyum dan bahagia tanpa memikirkan kejam nya dunia ini kepada nya.
CEKLEKKK
Bunyi pintu yang dibuka disana menampakan Dokter laki laki ber jas putih berdiri tegap dengan gagah muka nya sangat tampan putih dan juga tinggi tapi raut wajah nya terlihat murung.
"Darrel!" ucap Kevin menyipitkan mata nya Laki laki itu yang merasa terpanggil langsung menoleh "K-kevin??" tebak Laki laki itu yang bernama Darrel "Apa kabar" tanya Kevin, Darrel tersenyum tipis "Baik!".
Darrel segera melihat Mommy nya yang sedang mengusap rambut seorang gadis yang tidak dia ketahui itu siapa "Mom" lirih Denish
mereka semua langsung mengalihkan pandangan ke arah Darrel "Gimana Kondisi Denish iel" ucap Rani sambil menangis.
Darrel menunduk dia memang Dokter disana di rumah sakit milik nya sendiri di usia nya yang baru 25 tahun dia termaksud Dokter muda yang disegani dan di sukai banyak orang.
"Maafin Darrel mom Darrel belum bisa jadi yang terbaik untuk Denish".
"Apaa maksud Dokter!" ucap Lisa tiba tiba dengan mata yang masih memerah "Kemungkinan Denish hidup sangat kecil bahkan hanya 15%" ucap Darrel melemah dia merasa tidak berguna menjadi Dokter
apalagi dia yang menangani adik nya sendiri adik kandung nya yang sedang terbaring kritis berjuang antara hidup dan mati.
"Hikss Darrel" Rani melemas rasanya tidak ada tenaga lagi mengetahui anak nya tidak berdaya andai dia bisa menggantikan posisi Denish dia dengan senang hati menerima nya karena tidak sanggup melihat anak nya menderita apalagi melihat perempuan yang dicintai anak nya.
"A-apa boleh saya hikss masuk?" tanya Lisa pada Darrel "Silahkan semoga kehadiran kamu bisa membuat Denish cepat sadar dan stabil" Ucap Darrel
...----------------...
Lisa masuk keruangan tempat Denish dirawat hanya ada bunyi mesin monitor yang dan sebuah layar yang menampilkan detak jantung Denish
Lisa mematung tempat di depan ranjang rumah sakit Denish.
Pahlawan nya yang selalu melindungi nya saat ini terbaring lemah dan tak berdaya air mata nya mengalir deras "Kak Denish Hikss" Dia langsung berdiri di sampin Denish tapi Lisa tidak berani memeluk nya karena takut tambah menyakitkan Denish.
__ADS_1
Dia sangat kasihan melihat perban yang ada di kepala Denish dan juga sebuah alat di leher nya
"Kak Denish hikss bangunn" Lisa dengan berhati hati menggenggam tangan Denish ''Kak kakak katanya hikss janji mau jagain aku hikss"
"Dimana janji kakak? Kakak udah hikss bikin aku nangis padahal hikss kakak ngelarang aku buat nangis" tangisan Lisa bertambah kencang
"T-tasya" ucap Denish yang tiba tiba membuka mata nya
Lisa terdiam sejenak dia langsung menatap Denish "K-kak hikss kak denishhh" Lisa langsung memeluk Denish dengan sangat hati hati tidak menekan luka denish. "Aku harus Panggil Dokter" Lisa beranjak pergi tapi di tahan oleh Denish
"K-kamu mau j-janji sama K-kakak" tanya Denish dengan terbata bata "Janji hikss apa kak,Tasya akan turutin asal kakak bisa sembuh hikss" Lisa menggenggam tangan Denish , Denish tersenyum tipis.
"K-kamu harus t-tetap bahag-gia"Denish mengusap pelan tapi lembut rambut panjang Lisa "Aku akan hikss bahagia salama itu sama kakak" ucap Lisa "Maaf" , "Maaf untuk apa hikss kak kaka ngak perlu hikss minta maaf" ucap Lisa
Tiba tiba nafas Denish berhembus dengan cepat bahkan dadanya sampai naik turun seperti habis maraton "KAKK KAKAK HIKSS KENAPAAA" Lisa panik dia beranjak beridiri ingin memanggil Dokter
"J-jan-gan" ucap Denish kini suara nya melemah
"Kak kaka hiks haruss bertahan kakak sayang kan hikss sama Tasya hikss Tasya sayang kakak Tasya ngak mau hikss kakak pergii" ucap Lisa sesenggukan
"K-kak kak C-cinta S-sama kamu" ucap Denish yang membuat Lisa terdiam
"L-lisa A-anastaya"ucap Denish
" Hikss sekarang Tasya udah ketemu hikss sama keluarga kandung Lisa"ucap Lisa karena dia mendengar nama yang di ucapkan Denish
Denish tersenyum tipis kematian yang sangat diharapkan oleh nya pergi dengan mendapatkan cinta gadis kecil nya
Tanpa sepengetahuan mereka sedari tadi ada yang mendengar pembicaraan mereka berdua dari balik pintu yang tidak tertutup sempurna karena Lisa yang tidak fokus akan kondisi Denish.
"HIKSS KAKK KAKAK HARUS HIKS BERTAHANN" Lisa melihat layar dimana detak jantung Denish semakin melemah "Kak hikss Lisa sayang hikss lisa cinta sama kakak Pliase kak terus ada di samping hikss Lisa"Lisa sudah berderaian air mata
" DIMANA HIKSS JANJI KAKAK, DIMANA OMONGAN HIKSS KAKAK YANG KATANYA HIKSS MAU JADI PAHLAWAN AKU!"Lisa menangis dengan kencang sampai sesenggukan
"P-promise? K-kakak j-jug-a S-ayang Sama k-kamu" ucap Denish. "Yes I'am Promise" Lisa menyerka air mata nya
"T-tolong S-setelah i-ini jangan m-menang-is" ucap Denish dada nya bergerak naik turun seolah sangat sulit mendapatkan pasokan Oksigen disana
"KAKK HIKSS PLIASE KAK PLIASEEE HIKSS.."
"Jangan hikss pergi" Lisa melemah dia tak sanggup melihat kondisi Denish yang setiap menit makin parah
"Permisi"ucap Darrel yang tiba tiba masuk dengan 5 Suster di belakang nya dia masuk karena dengan teriakan Lisa " Kamu boleh keluar"perintah Darrel karena dia ingin segera memeriksa adik nya
Lisa keluar dari Ruangan Denish tapi dia tidak lupa mengecup dan menggenggam tangan Denish "Kalo hikss ini pertemuan hikss terakhir kita Tasya minta maaf hiks atas semua nya hikss Terimakasih untuk semua nya hikss" ucap Lisa karena dia tidak tahu kedepan nya akan terjadi seperti apa
__ADS_1
Denish tersenyum tipis tak sadar dia meneteskan air mata di sudut mata nya untuk berbicara dia sudah tak sanggup lagi dia merasa ajal nya sudah di depan mata
"Tasya hikss titip cinta hikss kita di ke-abadian hikss" Lisa sudah histeris dia di bantu suster untuk keluar dari ruangan itu Darrel yang melihat semua nya berusaha keras menahan air mata nya dia lemah untuk sekarang dia hanya memiliki satu saudara yaitu Denish adiknya sendir
...----------------...
Darrel segera memeriksa Denish dengan cepat dirinya tidak boleh gegabah dia harus tenang dia menyerahkan semua kepada tuhan
"Sakit kak" ucap Denish terhadap Darrel "Kamu kuat sayang" Darrel tersenyum hangat pada Denish baru kali ini dia mendengar seorang Denish mengeluh selama ini Denish belum pernah Mengeluh Denish adalah tipe orang yang bekerja keras
"D-denish sayang kalian"
Tutttt Tuttttt Tuttttt
"SUSTER CEPAT SIAPKAN ALAT PEMOMPA JANTUNG" Ucap Darrel yang panik semua suster yang disana menbantu menyiapkan alat alat nya
Darrel segera memompa jantung Denish dengan kedua alat di kedua tangan nya
Tapi usaha nya sia-sia
Air mata yang menetes di sudut mata Denish menetes bersamaan dengan bunyi monitor yang terdapat garis lurus
"Selamat tinggak Gadisku aku beruntung mati dengan membawa cinta mu, Akan aku bawa cinta ini ke keabadian akan aku bawa cinta ini kehadapan sang kuasa Aku mencintai mu" ~Denish Alvian Dinarga
"NO WAKE UP BOYYY"
...----------------...
**Sampai sini dulu ya!
dengan ini Hutang author lunas karena sebelum author lanjutkan cerita ini di akun sebelum nya baru sampai ke episode ini
Tetep Stay terus ya
jujur author gak pandai buat bikin kata kata sad atau adegan yang Sad
Maaf Feel nya kurang dapet
tetal stau terus!
#STAYATHOME
#PHYSICALDISTACING
#CUCITANGANDIAIRYANGMENGALIR**
__ADS_1
See u Next Capther