
Semakin kesini, keadaan Rumah tangga Rish dan Dira memang sudah sangat berbeda dengan sebelumnya.
Sebelum mereka saling suka dan saling cinta.
Dan kini, saat cinta itu datang…. tiadalagi yang namanya sindiran, celaan, atau emosian.
Hari-hari merekapun dipenuhi dengan kasih sayang dan keseruan.
Di Rumah \~ Siang (hari libur).
Sedikit membosankan, sejak dua jam tadi mereka belajar.
Berkenaan dengan dilangsungkan salah satu gelar kejuaraan bulu tangkis yang setiap hari ditayangkan dibeberpa stasiun televisi, membuat Rish dan Dira ketularan demam buklu tangkis.
Rish mengikatkan tali rafia diantara dinding ditengah rumah mereka. Untuk dijadikan net.
Sementara Dira, membuat garis-garis lapangan dengan pinsil warna non permanen.
Net tali rafia sudah melintang, garis lapangan sudah jadi.
Mereka mulai bersiap untuk bertanding.
Dira, dengan seragam olahraga.
Baju kaos putih, celana trening hitam.
Mantap membawa raketnya dan saat memasuki lapangan, ia mengku bahwa namanya adalah , Greysayang Polii.
Begitu juga Rish, ia juga tak mau kalah.
Dengan kaos berwarna merah dan trening hitamnya.
Memikul raket, memasuki lapangan.
seketika namanyapun berganti menjadi Atan Ginting.
Teriakan mereka mulai heboh, seolah berada diarea pertandingan sesungguhnya.
Eh! sebelum pertandingan dimulai, ada pengumumman ni, dari komentator buat para penonton semua;
🗣 ‘saudara - saudara, sama-sama kita saksikan! pertandingan yang sangat sengit hari ini!. Babak final, Greysayang P akan melawan Atan G!!’ teriak Dira
🗣 ‘jadilah penonton budiman. Jangan saling hujat!!!’ sambung Rish
Pertandingan dimulai .,,. 🤜🏻🤛🏼
🏸 🏸
👏🏻👏🏻👏🏻🤲🤲
Dira membagikan bolanya,
bola menyeberang,
melalui atas net tali rafia, menuju arah lawan,
disambut oleh raket Rish dan bola tersebut kembali lagi ke Dira….
Dira langsung menyemesnya!
”hah!!!” Rish kesal bola mati di lapangannya.
Pertandingan terus berjalan,.. .
Suara mereka tidak henti-hentinya mengiringi pertandingan tersebut!!!.
“bola sedang dikuasi Greysayang” komentar Dira.
Rish tidak mau kalah, juga mengomentari permainannya sendiri, “Atan G tidak menyerah saudara-saudara. Dia berusaha menguasai permainan dari lawannya..,”
“ya... ya... saudara-saudara... Greysayang... lagi-lagi bola mati dipihak lawan!!!” teriak Dira mengheboh.
Tiga puluh menit telah berlangsung. Pertandingan berasa semakin seru.
Pertandingan yang sedang mempertontonkan dua orang pemain yang saling berlawan.
Yangmana dua orang ini juga berlagak sebagai penonton yang mengheboh, wasit yang tidak adil, dan komentator menyebalkan.
Tiba-tiba, salahsatu pemain meminta istiraha atau break.
Merekapun beristirahat diarea masing-masing.
Rish mulai mengguling-gulingkan tubuhnya menuju kearan net yang melintang,
Dira tertarik dan mengikuti kelakuan Rish.
__ADS_1
Menggulingkan badan menuju kearah yang dituju Rish, ….. hingga keduanya bertemu dibawah net.
Saling berhadapan, saling senyum bahkan tertawa.
Dira mengelap keringat yang bercucuran di dahi dan plipis Rish…. .
Rish merangkul tubuh Dira,
Setengah menit kemudian, Dira menelungkupkan tubuhnya diatas tubuh Rish.
Tak perlu membayangkan yang aneh-aneh, mereka hanya berbagi ciuman untuk beberapa kali. 😇😇😇
“ngalah dong” rayu Rish yang memang jauh ketinggalan angka dari Dira…. 20:15
Dira menggeleng.
Dira menepuk dahinya, “Oh Dira lupa cerita ke Rish”
“cerita apa?”
“waktu SD, Dira pernah juara satu dilomba bulu tangkis”
“Wow… tingkat apa?”
“RT,” jawab Dira dengan bangga.
Rish tertawa.
Dira langsung menutup mulut Rish… “apanya yang lucu Rish?”
“Ibu Dokter pernah menang? tingkat RT?”
Dira mengangguk serius.
Rish makin bersemangat menertawakannya.
“Rish”
“pantesan Rish kalah. Atlit RT yang Ris lawan” kata Rihs sambil tertawa.
Dira tidak terima, ia langsung membangunkan Rish.
“ayo kita sambung! jangan harap Rish bisa menang!!!”
“ayok!” tantang Rish.
Hanya perlu waktu sepuluh menit, pertandingan pun berakhir.
Pertandingan dimenagkan oleh Greysayang Polii.
Rish (berlakon sebagai ketua penyelenggara turnamen), menyerahkan hadiah kepada pemenang.
Dira menundukkan kepala untuk dikalungkan tali rafia di lehernya 🎗 kemuduan menerima sebuah botol kosong sebagai mendali 🏆 sebagai hadiah atas kemenangannya.
Sorak dan tepuk tangan penonton luar biasa…. 👏🏻👏🏻👏🏻… 👏🏻👏🏻
Luar biasa, ngalu dua si manusia ini. 🤦🏿♀️
Rish memeluk Dira dan mengucapkan selamat…, “selamat ya Bu Dokter”
“terimakasih Pak” Dira mencium tangan Rish.
Selesai menghapus garis lapangan, Rish menaiki kursi untuk melepaskan net atau tali rafia yang bergantung diantara dua dinding tadi.
Dira berbaring dengan leher masih dilingkari oleh kalung rafia dan memeluk erat botol kosongnya.
“masak gitu aja capek” ejek Rish.
“gendong dong” pinta Dira.
Selesai melepas tali dari dua dinding, Rish turun dari kursi.
Dira langsung naik diatas kursi tersebut dan meloncat mendekap dibelakang Rish.
Rish pun menggendongnya sambil membawa kursi untuk dikembalikan keruang makan.
Tingkah Dira yang manja, mebuat Rish merasa dirinya sudah benar-benar dewasa dan senantiasa memberikan kenyamanan buat Dira.
“Rish, hari ini kita makan diluar ya” pujuk Dira.
“ayo, turun dulu” Rish sambil meletakkan kursi dihadapan meja makan.
“janji dulu, kita makan diluar malam ini” Dira sambil turun dari gendongan Rish.
“kenapa makan diluar? bukannya ikan kita masih banyak di kulkas??”
__ADS_1
“lagi malas masak”
“biar Rish yang mask”
“sama aja Rish, kalo Rish yang masak, Dira juga nggak bisa istirahat, ntar Rish banyak nanya”
“kali ini nggak”
“yakin?” Dira ragu.
Rish langsung mengangkat Dira dan membawa ke kamarnya.
“Dira istirahat ya, biar Rish yang masak” Rish sambil membaringkan tubuh Dira diatas tempat tidur.
Dira merengkuh leher Rish dan mengecup kening suaminya tersebut, “terimakasih Be”
Rish senyum dan mencium plipis istrinya.
Kemudian ia pergi keruang dapur untuk memasak.
Bulum ada sepuluh menit…
“Diraaaa”
“Diraaa”
Mendengarnya, Dira langsung menutup kuping dengan bantal, “kan!! gak bisa dipercaya!” gerutu Dira dibalik bantal.
Ternyata Rish sudah ada disampingnya dan berusaha mengangkat bantal yang mendekap diwajah Dira.
Dira berusaha keras mempertahankan bantal tersebut.
“Dira, liat dulu”
“kan Rish,” Dira mengangkat bantal.
Rish berdiri disamping tempat tidur dengan memegang tempat masak nasi.
Dira menarik nafas.”kenapa dibawa ke kamar Rish?”
“coba Dira liat, udah pas airnya?”
“mengira itu aja gak bisa be?”
“susah sayang”
“berapa gelas tadi?”
“dua” jawab Rish.
Dira melihat air didalam tempat masak nasi tersebut….”Astaghfirullah hal’aazhiim,”
ternyata airnya hampir penuh, “kenapa tidak dipenuknan?”
“oh, penuh ya sayang” Rish polos.
“iya be, biar kita makan bubur malam ini”
“maksudnya apa sih?”
Dira langsung membawa panci nasi tersebut ke dapur dan membuangkan sebagian airnya kemudian memasukkan panci kedalam Rice cookernya.
Rish, .,,, ‘🤭’
“perkara sepelekan be, dan be tidak bisa” 😒…
“sayang istirahatlah, Rish bisa kok” pujuk Rish.
Dira menuju tangga.
“sayang, istirahatnya di kamar Rish aja.” teriak Rish.
“mau mandi.” Dira sambil menaiki tangga untuk kembali ke kamarnya.
“sepele, bahkan pekara sepele inipun lelaki tidak bisa melakukannya. Kenapa dulu, gue begitu gampang menyepelekan perempuan padahal ada banyak hal sebagai lelaki, gue nggak ngerti. Dan perempuan, mereka seolah dipaksa untuk mengerti tentang semua hal termasuk saat mereka disepelekan oleh laki-laki, mereka juga dipaksa untuk memahaminya, bahwa lelaki memang lebih hebat dari mereka.” keluh Rih.
Setelah selesai shalat ’Isyak, mereka makan malam.
“tau gini, mending makan diluar” gerutu Dira.
“ya,,,, kalo Rish masak, ntar ngerepotin Dira lagi, Dirakan mau istirahat,” Rish membela diri.
,…..heeemmm 😏😏
Ternyata Rish hanya memasak nasi.
__ADS_1
Sambal dan sayurnya, ia beli di kedai makan.
🍛🍲🥗🍛