LOVE YOU ISTRI KU

LOVE YOU ISTRI KU
RUMAH SUDAH DIJUAL BAHRI


__ADS_3

Diruang Belajar (malam).


Dira dan Rish sedang mempelajari mata kuliah masing-masing.


Handphone Rish berbunyi…. “Iya ma,”


Mama memberitahu bahwa ibu Dira sedang dirawat di rumah sakit.


Rish menatap Dira yang lagi serius belajar kemudian ia memeluk istrinya tersebut.


Dira mendongakkan wajahnya ke Rish, “apa?”


“mama yang nelfon barusan” jelas Rish.


“gimana kabar mama”


“sehat. Dira,”


“iya,”


“ibu dirawat”


Dira langsung memutar badannya menghadap ke Rish, “satu minggu terakhir, ibu tidak pernah menjawab telfonnya”


“ibu kurang sehat, dua hari lalu, paman Bahri membawa ibu ke rumah sakit”


“siapa yang jaga Ibu?”


Rish menggeleng, dirinya tidak tahu.


Dira langsung naik keatsa untuk beristirahat di kamarnya.


Ia mencoba menelfon ibu tetapi nomor ibu tidak aktif.


Beberapakali ingin menelfon Bahri, tetapi ia ragu karena ia memang sudah terlanjur tidak percaya lagi kepada Bahri.


Pagi.


Rish dan Dira meninggalkan rumah untuk ke kampus.


Setelah mengikuti semua mata kuliahnya, Rish langsung pulang.


Rish mengetahui bahwa hari ini, Dira hanya mengikuti dua mata kulaiah saja, tentu Dira pulang lebih awal darinya.


Setibanya Rish di rumah, ternyata Dira belum juga pulang bahkan hingga setengah jam, Dira belum juga muncul.


“sudah setengah dua” gumam Rish.


Rish mencoba menelfonnya tetapi tidak diangkat.


Rish menghubungi Diandra dan ternyata Dira pulang ke kota mereka untuk menjenguk ibunya.


“kalaobegitu, tadi dia tidak ke kampus?” tanya Rish.


“ke kampus hanya untuk menemui SiPen kelasnya, untuk minta izin dan memberi tahu bahwa ibunya sedang dirawat” jelas Diandra.


Rish begitu sedih, ia mengetahui Dira pulang justru dari orang lain.


Memerlukan waktu lima jam menumpangi kendaraan darat, akhirnya Dira sampai ke kotanya.


Dan travel yang menghantarnya berhenti tepat di depan rumah mereka.


Bergegas Dira keluar, melangkah menuju tempat yang biasa ibu tinggalkan kunci.


Seorang lelaki sepraroh baya keluar dari dalam rumah.


Dira sangat kaget dan ia mendekati lelaki tersebut... “Pak. Maaf, saya fikir ibu meninggalkan kunci disini” Dira sambil menunjuk ke serumpunan pohon bunga.


“kamu siapa?” tanya bapak tersebut.


“saya Dira, anak ibu Cahaya”


“ibu Cahaya siapa?’


“tentu saja pemilik rumah ini” jawab Dira.


Bapak tersebut memanggil istrinya.


“pemilik rumah ini, istri saya” bapak tersebut menunjuk ke istrinya.


“tidak masuk akal” tanggap Dira.


“masuk dulu naka” istri bapak tersebut tidak ragu membawa Dira masuk.


Dira mulai memperhatikan suasana dalam rumahnya, letak barang-barang dan kehadiran beberapa barang baru, terlihat sedikit merubah pemandangan didalam rumah mereka.


Ibu yang katanya sipemilik rumah, membawa Dira duduk diruang tamu.


Terdiam beberapa menit.


“siapa kamu sebenarnya?” tanya bapak tersebut.


Dira tidak menjawabnya.


“saya Ibu Saniah dan ini suami saya, Pak Lukman”


Dira menatap sepasang suami istri ini dengan tatapan marah.


“kita mempunyai dua anak, anak pertama kita sudah menikah dan ikut suami di Jakarta, adiknya laki-laki, kuliah di Jakarta tinggal bersama mereka” jelas ibu Saniah.


“tiga bulan lalu, saya membeli rumah ini dan baru kami tempati dua minggu lalu”.


Mendengar penjelasan dari pak Lukman barusan, seketika kepala Dira berasa mau pecah. Kemarahan yang luar biasa membuncah dalam benaknya. Wajahnya memerah.


“kamu siapa nak?” tanya ibu Saniah.


“Dira, anak ibu Cahaya. Rumah ini peninggalan almarhum ayah. Saya mendapat kabar bahwa ibu sakit makanya saya pulang ke rumah ini, ternyata,..?”


Ibu saniah menatap suaminya.


“Dira, sejauh ini kami belum pernah mendengar nama ibu Cahaya” terang pak Lukman.


“siapa yang telah menjual rumah ini ke Bapak?” tanya Dira.


“Bahri” jawab pak Lukman.


Mata Dira memerah! emosinya hampir tidak terkendali.


Ia langsung berdiri, langkahnya menuju pintu keluar.


Ibu Saniah menahanya, “Dira bisa beristirahat disini nak”

__ADS_1


Dira menggeleng, “ini bukan rumah saya lagi Bu, saya mau ke rumah sakit”


“Dira, jika perlu bantuan, kamu bisa datang kesini lagi nak” pak Lukman iba menyaksikan reaksi Dira.


Pak Lukman dan istri percaya bahwa cerita Dira benar, karena saat mereka membeli rumah tersebut, terlihat Bahri begitu terburu-buru menyelesaikan proses transaksi.


“jika anak kita ada diposisi dia, apa yang mereka lakukan?” pak Lukman kepada istrinya.


“anak kita tidak sekuat gadis itu Pak” jawab ibu Saniah sambil menatap langkah Dira menuju salah satu rumah yang tidak jauh dari rumah mereka.


“Assalamu’alaikum”


Tia mebuka pintu, “waalaikumsalam,”


“kak Dira....!” Tia langsung memeluk Dira.


Mendengar teriakan Tia, Henti (Ibu Tia) menuju ke pintu depan .... “Dira,”


Dira langsung memeluk Bu Henti... “Ibu,” tangis Dira.


Ibu Henti membawa Dira ke kamar Tissa, kakaknya Tia.


Tio masuk, “ada apa Bu?”


Melihat Dira duduk disamping ibunya, Tio sangat girang, “Ka Dira!”


“Tio, kamu sudah SMP sayang” Dira melihat Tio dengan seragam SMP nya.


“iya kak” Tio menyalami Dira.


“kalogitu, Tissa udah SMA ya Bu?” tanya Dira.


Ibu Henti mengangguk.


Ibu Henti memerintahkan Tia dan Tio untuk keluar dari kamar tersebut.


Ibu Henti mulai menceritakan kelakuan Bahri, “Dira, sepeninggalan Dira, ada banyak yang Bahri lakukan nak,”


“dia juga menjual rumah ayah” Dira sambil tersedan.


“darimana Dira tahu?”


“tadi Dira pulang kerumah Ibu,” jawab Dira.


Bu Henti langsung membawa Dira dalam pelukannya.


Diantara warga yang tinggal dilingkungan rumah Dira, hanya keluarga ibu Henti yang mengetahui tentang keadaan keluarga Dira sebenarnya, baik yang berhubungan dengan Bahri maupun mengenai pernikahan Dira dengan Rish.


Pak Jaya datang dan mengetahui dari Tio bahwa Dira ada dikamar Tissa bersama ibu.


Pak Jaya masuk ke kamar tersebut, “Dira,”


Dira langsung mendekati pak Jaya dan memeluknya. Selama ini, Dira sudah menganggap pak Jaya seperti ayah sendiri bahkan ia akrap memanggil pak Jaya, “ayah,”


“iya nak”


“ayah, rumah kami ayah” adu Dira.


Pak Jaya tidak tega mendengar tangisan Dira, segera ia melepaskan Dira dari pelukannya kemudian pergi keluar dari kamar tersebut.


Sejak Dira menjadi yatim, pak Jaya sudah menganggap Dira sebagai anak sendiri.


Pak jaya memiliki kasih yang luar biasa kepada anak-anaknya termasuk Dira.


Dan masa kecil Dira, banyak ia habiskan untuk bermain dan belajar di rumah keluarga pak Jaya.


Pak Jaya duduk di kursi dekat jendela dapur. Perlahan kenangan masa kecil Dira menyelinap di bayangannya.


Saat SD ‘Ayah, besok perpisahan Dira, ayah datang ya,’


‘Ayah harus memburuh nak. Ayah janji, pas pulang, Ayah akan jemput Dira’


Tetapi ia tidak tega dan akhirnya ia dan istri beserta ibu Cahaya datang menghadiri perpisahan Dira dan mendengarkan secara langsung pengunguman juara umum satu atas nama Dira.


Waktu SMP, ‘ayah, minggu depan Dira perpisahan, Ayah sama ibu datang ya’


Lagi-lagi pak Jaya dan istri datang.


Bahkan saat SMA, untuk kesekian kali, pak Jaya dan istri menyaksikan wajah bahagia Dira.


Di hadapan para wali Murid beserta guru yang menghadiri perpisahan tersebut, dengan bangga Dira berkata, ‘terimakasih Aya, Ayah selalu datang disetiap perpisahan Dira. Ayah, ini untuk ayah’ Dira sambil mengangkat piala yang ia terima sebagai penghargaan atas prestasinya sebagai lulusan terbaik.


Pak Jaya menyapu tiap tetes airmatanya.


Masih lagi terngiang, suara Dira saat memanggilnya ‘ayah’, dengan penuh kegirangan.


Hari ini suara anak itu tidak lagi sama, sudah terdengar sarat akan beban oleh pengkhianatan keluarganya sendiri.


Tidak lama, ibu Saniah berdiri dibelakang pak Jaya, seolah menepikan bayangan masa kecil Dira ditangisan pak Jaya sore ini... “Dira sangat merindukan ayahnya, kenapa Ayah meninggalkan dia disana?”


“kenapa seorang ayah selalu berada di balakang putrinya?. Hari ini saya akan menjawab, ….. karena seorang ayah tidak akan mampu menyaksikan air mata diwajah putrinya. Bahkan dibeberapa waktu, ayah tega meninggalkan putri mereka sejauh mungkin karena ayah, seorang pengecut. Ia tidak berani mendengar tangisan anak-anaknya. Dan yang lebih menyakitkan, air mata putri saya jatuh, suara tangisannya menyakiti emosi saya... saya tidak bisa berbuat apa-apa untuknya”. mata pak Jaya masih berkaca.


“bukankah dulu, Ayah yang selalu membawanya pergi dan pulang dengan motor becak ayah?” ingat bu Henti.


“disana mereka harus berdesakan dengan peralatan buruh ayah” kenang pak Jaya.


“anak kita kuat-kuat ayah”


“Dira anak kita, anak kita yang paling kuat” pak Jaya menyatakan kebanggaannya terhadap Dira yang tidak lain adalah anak dari almarhum sahabatnya.


Dan sejak sang sahabat meninggal, dengan penuh ketulusan ia meluangkan kasih sayangnya buat putri almarhum sahabatnya tersebut.


Dira masih beristirahat di kamar Tissa.


Ia membuka handphonenya, terlihat beberapa panggilan tidak terjawab dari Rish.


Dan ada beberapa pesan whatsaap masuk.


Dari Rish.


‘Dira,’


‘Dira,’


‘Rish tidak pernah melarang Dira pulang,’


‘Rih sadar, meski suami Dira, tetap saja Rish bukanlah orang penting dalam hidup Dira’


‘dan itu tidak penting. Yang paling penting, Dira salah satu terpenting dalam hidup Rish, hari ini dan tak tau sampai kapan’


‘Dira hati-hati. Sampaikan salam Rish buat ibu’

__ADS_1


Dira menangis membaca pesan tersebut.


Ia segera menelfon Rish dan langsung diangkat oleh Rish.


“Rish”


Rish hanya diam.


“Rish,”


“Iya,”


Mendengar suara Rish, Dira langsung menangis.


Rish dengan penuh kekhawatiran, “Dira, kenapa sayang. Dira. Ibu kenapa?”


Dira terus menangis.


Tidak ada kata yang mampu ia sampaikan bahkan tidak satupun tanya dari Rish yang bisa ia jawab.


“Dira, Rish tidak marah,”


Diantara tangisan Dira, Rish terus berbicara.


“Dira, apapun keadaan kita sekarang, Rish akan tetap mempertahankan kita. Dira tidak perlu takut. Sayang, Dira perempuan kuat, kekuatan Dira membuat Rish senantias berusaha menjadi lebih baik walaupun belum sebaik yang Dira harapakn”


“Rish,” hanya itu yang terucap dari Dira.


“iya, Rish dengar”


“Dira, tolong katakan pad Rish, apa yang terjadi sebenarnya?”


“Rish”


Dira benar-benar tidak bisa menggunakan kata lain selain kata ‘Rish’.


Hampir setengah jam, akhirnya Dira mulai bisa menghentikan tangisnya… “Rish, udah dulu ya, Dira mau istirahat. Insya Allah, pas ketemu ibu, akan Dira sampaikan salam dari Rish”


“Dira jaga diri ya”


“Buat Rish” suara Dira terdengar parau.


Karena sangat mengerti suasana hati Dira, terpaksa Rish mengurung niat untuk bertanya apa penyebab Dira menangis sebegitunya.


Sedikit tenang yang Dira rasakan, setelah suara tangisannya didengarkan oleh Rish.


Dan beberapa kata penguat yang Rish ucapkan padanya, membuat ia benar-benar sadar bahwa dirinya adalah istri Rish sesungguhnya. Terlepas dari ilegal atau apalah namanya. Yang pasti, saat ia ingat bahwa Rish adalah suaminya, hati Dira menjadi lebih kuat.


Dira keluar menuju dapur. Ia berdiri dihadapan ibu Henti dan pak Jaya, “Ayah, Dira sudah dwasa Ayah,”


Pak Jaya dan Bu Henti menatap wajah Dira.


“Ayah tidak perlu khawatir, Dira sudah dewasa Ayah.”


Pak Jaya mengangguk... “iya, anak Ayah sudah sangat dewasa”.


Setelah Shalat Maghrib, ibu Henti memberitahu bahwa Bahri dan istrinya yang menemani ibu Dira di rumah sakit.


“apa Dira tidak ke rumah sakit?” tanya Bu Henti sambil melepaskan mukenahnya.


“besok saja Bu, malam ini, Dira masih belum siap bertemu Bahri” jawab Dira.


“ibu dengar, keadaan ibu kamu mulai membaik. Dira istirahat saja dulu disini” bu Henti mencium kepala Dira.


Malam ini, suasana di rumah pak Jaya sedikit berbeda.


Kehadiran Dira menambah keriangan di keluarga tersebut.


Mereka terlihat begitu bahagia menyaksikan tingkah si bungsu, Tia.


Sepertinya Tia sangat berusaha untuk mendapatkan perhatian dari kak Diranya. Berbagai tingkah lucu, ia pertontonkan dihadapan Dira dan keluarga.


Tia memang sangat manja kepada Dira bahkan dulu, waktu ia tahu bahwa Dira akan menikah bersama Rish, seketika ia minta diganti menjadi anak Dira, ‘Tia tidak mau lagi jadi adik tapi mau jadi anak kak Dira’


Semua tertawa saat Tio mungungkit balik kata-kata Tia tersebut.


Tia mulai kesal, ia merasa malu sendiri, karena malam ini, Dira mengetahui bahwa dirinya mau menjadi anak Dira.


Dira langsung menangkapnya.


“oooo jadi dulu Tia mau jadi anak kakak?” Dira mencium dan memeluk erat tubuh mungil Tia.


“iya Kak! dia tidak mau lagi jadi adik Kak Dira” jawab Tissa.


“lihatlah, manjanya nggak jelas gitu!” Tio sambil menarik kaki Tia.


“Tio, jangan sakiti anak kak Dira” bela Dira.


Tia semakin erat merangkul pinggang Dira.


“lbu, sekarang anak Dira udah SD” Dira sambil mencium kepala Tia.


“iya nak. Dira tidak tahu aja, makin besar makin manja tu anak Dira,” bu Henti ikutan mengejek Tia.


“Tia juga sayang sama kak Dira” Tia sambil mencium pipi Dira.


“ada ya? anak manggil ibunya kakak?” ejek ibu lagi.


Ayah begitu bahagia menyaksikan keceriaan diwajah-wajah keluarganya.


Setelah bermain bersam adik-adiknya, Dira pergi keruang tamu yang disan sudah ada pak Jaya menunggunya.


Ada banyak yang mereka bicarakan diruang tamu malam ini. Dan salahsatunya, Pak Jaya menceritakan bahwa saat ini ada sebuah perusahaan sedang membujuk warga.


Perusahaan tersebut menginginkan tanah-tanah milik warga yang terletak diujung komplek mereka.


“tanah Almarhum ayah Dira juga ada di sana Ayah” Dira mulai khawatir.


“Ayah dengar, tanah ayah Dira merupakan posisi paling penting…. diperkirakan, pertengahan bangunan jatohnya tepat di tanah ayah kamu” jelas pak Jaya.


“apa yang ingin mereka bangun?”


“pabrik pengolah salah satu produk makanan”


“bukankah lokasinya masih sangat dekat dengan pemukiman warga, Ayah?”


“yang pasti mereka sudah mendpatkan izin”


Dira tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Fikirannya mulai kusut, memikirkan nasib ibu jika Bahri melepaskan tanah tersebut kepada pihak perusahaan.

__ADS_1


__ADS_2