LOVE YOU ISTRI KU

LOVE YOU ISTRI KU
TANAH


__ADS_3

Pagi.


Dira masuk kedalam rumah kontrakan ibu, melalui pintu belakang dengan menggunakan kunci doplikat dari Tio.


Rumah yang sederhna, memiliki satu kamar yang terletak diantara ruang dapur dan ruang tamu.


Dira masuk ke kamar tersebut, seisi kamar terlihat berantakan.


Dirapun merapikannya.


Barang-barang ia susun rapi dan kain-kain bersih ia lipat. Saat dirinya akan memasukkan pakain ibu kedalam lemari… terasa ujung kaki Dira menyentuh sesuatu yang ada dibawah lemari.


Dirapun tiarap untuk melihat kebawah lemari dan memastikan apa sebenarnya yang disentuh oleh ujung jari kakinya barusan.


Terlihat sebuah map, Dira langsung mengambil kemudian membukanya.


“Dokumen penjualan tanah” gumam Dira.


Ia mulai memeriksa dan mempelajari dokumen-dokumen tersebut.


Teringat cerita pak Jaya tadi malam tentang perusahaan yang ingin membeli tanah warga.


Kekhawatiran Dira benar adanya, ternyata Bahri sudah melengkapi seluruh dokumen untuk menjual tanah ayah Dira kepada salahsatu agen pembelian tanah dari perusahaan bersangkutan.


Dira mulai memikirkan sesuatu.


Ia menelfon temannya, Nazril dan Diandra untuk mendukung tindakannya berkaitan dengan penjualan tanah oleh Bahri.


Diandar, Nazril dan Dira mempersiapkan beberapa langkah untuk berjalannya rencana mereka.


Tidak membuang waktu, Dira langsung memberantakkan kembali kamar ibu, barang dan kain-kainnya ia serakkan seperti semula.


Dira memfoto semua dokumen yang ada didalam map Bahri, mulai dari surat tanah, surat wasiat berkaitan kepemilikan tanah dan lampiran-lampiran lainnya. Kemudian foto tersebut ia kirim ke Nazril.


Disana, Nazril dan Diandra membuat doplikat semua berkas yang dikirim Dira.


Berkas-berkas versi palsu sudah jadi dan langsung dikirim ke Dira.


Dira segera ketempat percetakan untuk mencetaknya kemudian kembali ke kontrakan ibu untuk memasukkan dokumen-dokumen palsu tersebut kedalam map Bahri .


Dan semua dokumen asli Bahri, Dira pindahkan kedalam map milik Dira sendiri.


Di Rumah Pak Jaya (malam)


“rencana Dira pulang kesini, untuk menjenguk ibu di rumah sakit, tetapi rasanya tidak mungkin” jelas Dira kepad pak Jaya dan bu Henti.


“kenapa nak?” tanya bu Henti.


“ada beberapa pekerjaan yang harus Dira selesaikan malam ini” jawab Dira.


Tanpa memberitahu apa pekerjaan yang ingin ia selesaikan, Dira membawa Tio pergi bersamanya.


Pak Jaya tetap menpercayakannya karena ia tahu bahwa Dira sudah dewasa dan anaknya tersebut sangat Cerdas.


Dari rumah, Doa pak Jaya dan bu Henti menyertai langkah Dira dan Tio malam ini.


Dira dan Tio tiba di kontrakan ibu.


Dira mengecek kembali isi map Bahri yang tadi sudah ia ganti dengan dokumen-dokumen palsu .


Dan memastikan bawhwa map miliknya juga sudah lengkap dengan dokumen-dokumen asli.


“untuk apa Kak?” tanya Tio


“sebelum Bahri menjualnya, kita yang menjual duluan”


“Kak, itu satu-satunya harta peninggalan ayah Kakak”


“juga akan habis oleh Bahri. Lebih baik kita yang menghabiskannya”


Dira berdiri, “Tio, janji sayang, ini rahasia kita”


“kak,”


“Toi takut?”

__ADS_1


Tio mengangguk.


“kita harus jadi pemberani sayang!” Dira menyusut kepala Tio.


Kemudian mereka pergi menuju lokasi tanah yang akan dijual Bahri.


Tio sangat takut karena suasana dipertanahan tersebut sangat gelap.


Tio memegang erat ujung baju Dira, “gelap kak”


“masih ada cahaya bulan Tio, kita masih bisa melihat keadaan sekitar” jawab Dira.


“Tio takut kak”


Dira menggandeng tangan Tio, “ada kak Dira yang memegang tangan Tio”


Dibawah cahaya bulan samar-samar, Dira dan Tio menatap seluruh tanah yang lebar 50 meter dan panjangnya juga 50 meter. Tanah ayah Dira.


Kemudian Dira mempehatikan tanah disamping tanah ayah, yaitu tanah milik pak Burhan.


Menurut penjelasan pak Jaya semalam, ‘sebelah tanah ayahmu, milik pak Burhan, lebarnya 100 meter dan panjangnya sekitar 150 meter”


Dira dibantu Tio, mulai mengukur tanah milik pak Burhan dan memberi tanda diukuran lebar 50 meter dan panjang 50 meter, tujuannya untuk mungubah posis tanah yang tertera di dokumen Bahri.


Posisi tanah ayah yang akan dijual Bahri, ia pindahkan ke tanah pak Burhan.


Setelah mengukur dan memasang tanda disetiap sudut sebagai tanda sempadan, Dira dan Tio pulang ke kontrakan ibu Cahaya.


Sebelumnya ,Tio singgah di toko ponsel untuk membeli nomor handphone baru.


Sampai di kontrakan ibunya, Dira langsung memasang kartu baru disalah satu handphonenya.


“Tio, besok pagi, Tio tolong fotokan lokasi yang kita ukur tadi. Beberapa tanda sudah kita pasang dimasing-masing sudut”


“iya kak”


“berani?”


“Berani kak!” Tio mantap.


Setelah itu, tidak lupa ia menyelipkan surat kuasa didalam map miliknya. Surat kuasa yang menjelaskan bahwa Atas Nama Bahri telah memberi kuasa untuk transaksi selanjutnya kepada kerabatnya Atas Nama Wardi.


Wardi adalah salah seorang buruh yang berasal dari daerah tertentu.


Malam ini, Diandra sudah mengirim Wardi ke kota Dira, dan dipastikan, besok pagi Wardi akan menemui Dira.


Tentunya semua data Wardi sudah dimanipulasi oleh Nazril.


Pagi.


Sebelumberangkat ke sekolah, Tio memberikan hasil dokumentasi tanah pak Burhan kepada Dira.


Dira langsung meletakannya didalam map Bahri, map yang telah lengkap dengan dokumen-dokumen palsunya.


Kemudian Dira pergi untuk menemui Wardi dengan membawa seluruh dokumen aslinya. Setelah memberi beberapa arahan kepada Wardi, Dira segera menghantarkan Wardi untuk menemui agen pembeli tanah dari perusahaan yang menginginkan tanah tersebut yang pasti agen ini bukanlah agen yang sudah ditemui oleh Bahri sebelumnya.


“Ayok, kita menuju lokasi, tadi malam saya sudah janji kemereka untuk datang.” Ajak Dira.


“ingat! mereka tahu anda datang sendirian” tegas Dira.


Wardipun menemui pembeli tanah tersebut dan memperkenalkan diri, ia mengaku bahwa dirinya perwakilan dari Bahri.


“Pak Bahri tidak bisa datang, kakaknya sedang dirawat dirumah sakit” terang Wardi.


“sebelumnya pak Bahri tidak memberitahu saya jika ia ingin menyerahkan tanah ini kepada saya” Dono (salahsatu diantara dua agen yang datang).


“bukannya tadi malam asisten beliau sudah menghubungi Bapak?” kata Wardi. Dan asisten yang dimaksud Wardi adalah Dira.


“iya, asistennya sudah menghubungi kami, tetapi kami tidak bisa dengan mudah membeli tanah tanpa ada jaminan jelas”


Wardi menyerahkan selembar suarat, “ini surat kuasa atas nama pak Bahri. Saya rasa cukup untuk dijadikan jaminan. Silahkan dicek”


Kedua agen inipun mengeceknya.


Surat kuasa…. tertera Atas Nama Bahri, menyerahkan proses transaksi penjualan tanah kepada Atas Nama Wardi.

__ADS_1


Dua orang agen inipun percaya bahwa surat kuasa tersebut asli.


Iya asli, asli kerjaan Dira dan Nazril.


Berkali-kali si agen ini mecoba menghubungi Bahri, tetapi tidak bisa karena Nazril sudah membuat gangngguan jaringan dibeberapa nomor milik Bahari untuk beberapa waktu.


Pihak agen memeriksa isi map atas nama Bahri tersebut.


“kalau saya tidak salah, sebelumnya salahsatu rekan kami pernah membicarakan tanah ini kepada pak Bahri dan persis inilah lokasinya dan mereka sepakat harganya Rp. 10.000.000 permeter persegi. Kenapa sekarang harganya menjadi 700 juta total dari 50 M2. Kalau begitu harganya lebih dari Rp.10.000.000/M2” Kata Dono.


“kalau begitu, Bapak hubungi saja rekan Bapak itu, kenapa harganya berubah?” tanggap Wardi.


Agen ini sadar, bahwa untuk mendapatkan tanah di daerah tersebut sangat sulit, karena warga terlihat berat melepaskan tanah mereka. Dan pihak perusahaan akan memberi bonus besar jika para agen berhasil mendapatkan lokasi tanah dengan jumalah yang mereka perlukan. Ditambah lagi letak tanah Dira adalah lokasi penting yang mereka perlukan.


Oleh karena itu, tanah Dira menempati harga khusus yang mereka persiapkan.


Tetapi kenyataannya, Dira telah menempatkan harga lebih tinggi dari yang mereka targetkan.


Karena tidak mau memperpanjang urusan, kedua agen ini langsung menyepakatinya.


Dan tentu mendapatkan tanah tersebut adalah bonus terbesar yang mereka dapatkan dari bos mereka meski harganya lebih tinggi dari yang sudah mereka targetkan sebelumnya.


“kita akan menutupi kerugian ini dengan memainkan harga tanah milik warga lain” bisik Rian, teman Dono.


“jika saudara tidak menyetujui semua yang sudah dipersiapkan pak Bahri, kami bisa menghubungi agen lain” ancam Wardi.


“baik. Saya akan membayarnya” Dono dengan penuh keyakinan.


“untuk pembayaran, pihak kami menerima uang kes. Karena uang ini akan distor langsung ke rekening pribadi pak Bahri, Atas Nama saya” kata Wardi.


Menunggu kira-kira setengah jam, akhirnya pembeli tersebut menyerhkan uang sebesar Rp. 700.000.000 kepada Wardi.


Wardi segera membawa uang tersebut kepada Dira. Tentu dengan sangat berhati-hati.


Dira memberi bayaran kepada Wardi sesuai kesepakatan sebelumnya.


“ingat mas, pulanglah ke kampung mas untuk sementara waktu. Walaupun beberapa data mas sudah dimanipulasi, tetap saja mereka dari perusahaan besar, mereka tidak akan tinggal diam apalagi Bahri”


“jika terjadi sesuat kepada saya?”


“hubungi Nazril, biar saya dan Nazril menanganinya”


Dengan wajah sumrinagh, Wardi pulang membawa uang Rp.100.000.000, dari Dira.


Dira memberikan sejumlah uang yang lumayan besar kepad bu Henti dan meminta bu Henti menjaga ibunya.


Dia juga meminta keluarga bu Henti dan keluarga ibu Saniah untuk tidak mengatakan kepada siapa-siapa bahwa dirinya ada pulang dalam waktu tiga hari ini.


Disaat Dira bersiap untuk pulang, Tio memberitahu bahwa ibu kak Dira sudah pulang ke kontrakan.


Bersama Tio dan ibu Henti, Dira ke kontrakan ibu Dira. Tetapi Dira hanya melihat ibu dari jauh.


Ibu Henti sengaja membawa ibu Dira berjalan diarea halaman kontrakan tersebut.


Dari jauh, Dira melihat ibu,….. langkah ibu terlihat lemah dan wajahnya terlihat masih pucat.


Ibu Henti sangat mengerti perasaan Dira yang hanya bisa melihat wajah ibunya dari kejauhan.


Tiba-tiba Bahri keluar dari pintu kontrakan ibu Dira.


Dira bergeas meninggalkan lokasi.


“eh ada pak Bahri” sapa bu Henti.


Tio sedikit gugup dan langsung pamit pulang.


“Tio, jika masih ada rasa takut, usahakan mejauh dari Bahri dan apapun yang berhubungan dengan kerjaan kita malam ini” pesan Dira saat mereka mengukur tanah dua malam lalu.


Bahri membawa mapnya. Ia sudah memastikan isi map tersebut sudah benar-benar lengkap karena sebelumnya ia sudah mempersiapakannya.


Sebelumnya, proses transaksi tertunda karena dirinya harus fokus melobi Ramli untuk mendapatkan uang lebih dengan mengkambing hitamkan biaya perawatan ibu Dira dirumah sakit. Dan hasilnya ia mendapatkan keuntungan 10 juta, (kelebihan dari biaya perawatan ibu Dira).


Angka yang sangat jauh dari yang Dira dapatkan melalui isi mapnya ini.


Dira menaiki kendaraan untuknya pulang ke sebuah kota yang disana ada Rish sedang menunggunya dengan kerinduan luarbiasa.

__ADS_1


Didalam perjalanan, sesekali airmatanya membasahi wajah, menangisi diri yang belum bisa mendekati raga ibu.


__ADS_2